Bukan pro Kontra tapi Anomali

Bukan pro Kontra tapi Anomali

_Arif Wibowo_

Ada yang menarik di lini masa saya saat Hari Natal tahun lalu, yakni ketika seorang ustadz muda yang bernas pemikiran keislamannya memberikan ucapan Natal kepada kolega-kolega Kristennya.

Dan tentu saja, ada komentar-komentar protes yang mengikutinya. Dengan tenang beliau menjawab, memberikan ucapan selamat Natal itu ikhtilaf dan beliau ikut yang membolehkan.

Dari penelusuran saya sebagai awam memang memberikan ucapan selamat kepada Hari Raya agama lain itu ikhtilaf, yang jelas terlarang adalah ikut serta dalam kegiataan hari raya agama lain tersebut. Bagi saya sendiri, yang memilih tidak mengucapkan selamat pada hari raya agama lain, ya  menghormati pilihan itu, jadi tidak ikut nimbrung protes di kolom komentarnya.

Saya malah menemui hal yang lebih eskrim dari ucapan selamat itu, tapi keikutsertaan dalam perayaan Natal yang setelah saya mendengar kisah panjangnya, saya jadi bisa memahami bahkan angkat topi.

Adalah Pak Lomo, nama yang saya sowani sekitar 20 tahun lalu. Beliau adalah kepala Satpol PP kota Surakarta di era walikota Hartomo, saat saya masih jadi warga Solo dan diminta memimpin demo penutupan diskotik yang ada di tengah perkampungan warga.

Perawakan pak Lomo gempal meski tidak terlalu tinggi. Ada kumis tebal melintang ala werkudoro. Tak heran kalau orang kampung menjulukinya mirip Setyaki yang sering disebut juga Bima Kunting (kerdil). 

Pasca pensiun, Pak Lomo mengabdikan dirinya sebagai kepala desa di tempat kelahirannya, desa Catur, Sambi, Boyolali. Desa Pak Lomo termasuk desa yang menjadi target kristenisasi, banyak warganya yang terkonversi jadi Kristen dan sebuah gereja telah berdiri, meski tidak separah desa sebelahnya yang merupakan basis PKI.

Pengkristenan warga bermula dari datangnya warga baru yang beragama Kristen di desa Catur. Warga baru tersebut piawai dalam bergaul, enthengan (mudah tergerak menolong) dan dermawan. Sikapnya memang bisa dijadikan panutan karena lembut dan andhap asor. Intensitas pergaulan dengan warga baru tersebut mengesankan warga dan mulailah terjadi konversi agama meski pelan tapi pasti. Padahal desa tersebut di masa pendudukan Belanda merupakan basis perlawanan terhadap Belanda. 

Fenomena ini meresahkan pak Lomo yang ketika memasuki masa pensiun, beliau memutuskan kembali ke desa, ikut dalam pemilihan lurah. Bagi pak Lomo, Islam bagi desa Catur adalah identitas yang tidak boleh hilang, sebab desa itu didirikan oleh Ki Ageng Wonotoro, seorang ulama besar keturunan Majapahit. 

Pada saat Perang Diponegoro, desa tersebut dipilih Kyai Mojo untuk didirikan pesantren. Saat saya ke sana, puing-puing pesantren itu masih ada. Tidak bisa berlanjut karena tidak ada kyai yang menjadi penerus. Yang tersisa kala itu, kata pak Lomo hanyalah Madrasah Ibtidaiyah yang sudah kondisi sekarat, hidup segan mati tak malu.

Sebagai keturunan langsung Ki Agen Wonotoro, menski kata Pak Lomo dirinya itu lebih berwatak preman, senggol bacok, namun Islam adalah harta yang tak pernah bisa ditukar dengan apapun.

Tantangan pertama usai terpilih jadi kepala desa, datang dari gereja yang sudah berdiri di kampungnya. Tahun itu, kata pak Lomo, Perayaan Natal di Kabupaten Boyolali dipusatkan di desa Catur, jadi perayaannya digelar megah. Bukan hanya dari Boyolali, beberapa tokoh gereja dari Solo juga ikut hadir, selain umat Kristen dari desa-desa lain di Kabupaten Boyolali. 

Awalnya saya gamang mas, tutur pak Lomo. Namun, saat didaulat memberikan sambutan di atas mimbar, watak preman saya muncul lagi, lanjut beliau sambil tertawa. 

Sambutan pak Lomo kurang lebih seperti ini : 

“Terima kasih pada para sesepuh gereja dan umat Kristen yang telah mengundang saya dalam peringatan Natal bersama kali ini. Saya tentu harus mendatangi, karena posisi saya sebagai Kepala desa yang harus mengayomi semua warga. Nah karena warga saya cukup banyak yang Kristen, jadi sebagai bentuk pengayoman saya, saya menghadiri perayaan Natal ini.

Namun perlu bapak/ibu ketahui, sebagai muslim saya punya rumus sendiri untuk Yesus. Dalam kepercayaan saya Yesus itu adalah Nabi, yang kami sebut Isa a.s. Jadi bukan Tuhan seperti keyakinan panjenengan semua. Sebaga Nabi, Isa menyerukan orang untuk menyembah kepada Allah semata, dan kelahirannya melalui Maryam adalah sebagai mu’jizat seperti halnya beliau bisa bicara waktu masih bayi…. (Dan terus pak Lomo bercerita banyak tentang Nabi Isa, dan Nabi-nabi lain termasuk Nabi Muhammad).

Jadi, saya itu malah seperti ngisi pengajian di gereja, pungkas beliau. Karena melihat para hadirin wajahnya sudah tegang, pak Lomo menutup dengan sebuah penutup yang melegakan hadirin

“Itu kalau menurut saya sebaga muslim, kalau menurut panjenenga Yesus itu Tuhan ya sumonggo, wong kita berlainan agama. Jadi, silakan memulai perayaan Natal”

Keberanian Pak Lomo menjadi ustadz di gereja itupun jadi buah pembicaraan warga. Ada yang menyayangkan ada yang memuji. Namun sepertinya Pak Lomo tidak menggubrisnya. Setidaknya warga musholla menjadi tumbuh lagi kepercayaan dirinya. 

Akan tetapi, kembali umat Islam di desa Catur mempertanyakan keseriusan keislaman pak Lomo, sebab saat pemilihan ketua Baperdes (Badan Perwakilan Desa) dan beberapa pos yang cukup strategis oleh Pak Lomo pada orang-orang Kristen. 

Tidak hanya itu, kegiatan usaha pak Lomo sebagai pengusaha, sering mengajak orang-orang Kristen untuk ikut serta dalam proyeknya. Selalu runtang-runtung, ngobrol sampai larut malam dan entah apa yang dibicarakan.

Jawaban atas sikap pak Lomo tersebut mulai terlihat setelah dua tahun. Saat hari Iedul Fitri, pak Lomo menyiapkan beberapa bingkisan, terdiri dari seperangkat baju kok, sarung, kopiah, mukena, Al Qur’an dan terjemahan” dikemas dalam parcel cantik.

Dalam tiap-tiap parcel tersebut diberi kartu ucapan yang intinya menyatakan bahwa selama bergaul, pak Lomo dapat menangkap bahwa bapak-bapak tersebut adalah orang yang baik dan tulus. Jadi alangkah senangnya pak Lomo kalau bapak tersebut mau masuk Islam. Sebab karakter mereka lebih dekat dengan karakter seorang muslim. Parcel itu kemudian dibagikan kepada teman-teman Kristennya.

Sepertinya usaha Pak Lomo tidak sia-sia, prinsip bergaul yang menyatakan bahwa “wong jawa ki matine yen dipangku” ternyata memang betul. Beberapa orang kemudian balik kembali kepada agama Islam. Terhadap yang belum mau kembali ke Islam pak Lomo masih terus melanjutkan kerjasamanya. 

Usaha pak Lomo membuahkan hasil positif dari waktu ke waktu, tidak sia-sia, karena mereka yang kembali ke Islam terus bertambah. Bahkan tokoh yang dulunya merupakan aktor utama penyebaran Kristen itu kini sudah masuk Islam kata pak Lomo. Orangnya rajin ke masjid dan menjadi muadzin kampung. 

Pada saat saya sowan pak Lomo duapuluh tahun lalu, hanya tinggal 5 keluarga yang masih menganut agama Kristen. MIN Wonotoro pun sudah penuh lagi muridnya.  

Anomali dalam mengikuti perayaan Natal ala pak Lomo ini tentu menarik, sehingga keharaman menghadiri peringatan Natal, kalau bisa seberani pak Lomo, mungkin bisa mendapatkan dispensasi fatwa.  😄🫢

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Obituari Kanda Kaeladzi

الحاكم (الصادر الحكم بين أهل الرأي و أهل التقليدي

K.H. Ja'far Yasa': Kyai yang Bersahaja