Postingan

Negara lndonesia Sekarang, Bak Malin Kundang

Negara lndonesia Sekarang, Bak Malin Kundang Oleh Sudono Syueb, Alumni Fisipol UGM Akhir-akhir ini ada yang mengatakan secara satir bahwa negara atau pemerinrah lndonesia ini sebagai *Malin Kundang* karena dianggap telah *durhaka dan melupakan rakyatnya*, yang sejatinya bertindak sebagai *ibu* yang melahirkan dan membesarkan mereka. Istilah ini merupakan sebuah satir politik dan kritik sosial masyarakat terhadap kesenjangan hubungan antara penguasa dan rakyat. Berikut adalah alasan mengapa analogi ini digunakan: • Rakyat adalah *Ibu* yang Melahirkan Kekuasaan Dalam sistem demokrasi, kekuasaan negara lahir dari rahim rakyat melalui pemilu dan pajak yang mereka bayarkan. Rakyat adalah pemberi mandat, layaknya seorang ibu yang merawat dan membesarkan anaknya (pemerintah/negara). • Melupakan Asal-usul Setelah Sukses Layaknya kisah legenda Malin Kundang dari Sumatra Barat yang melupakan ibunya setelah kaya raya, oknum pejabat atau negara sering kali dianggap melupakan janji-janji mereka ke...

Rocky Gerung Sign Kanan Belok Kiri

Gambar
Rocky Gerung Sign Kanan Belok Kiri Oleh Sudono Syueb, Alumni Fisipol UGM Sidoarjo - Pengangkatan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 2 Oktober 2026 memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan. Opini kontra ini umumnya menyoroti potensi hilangnya independensi kaum intelektual, risiko pelemahan oposisi (kooptasi kritik), serta inkonsistensi sikap politik di mata publik.  Berikut adalah argumen-argumen utama yang mendasari opini kontra terhadap masuknya Rocky Gerung ke dalam struktur Wantimpres: 1. Ancaman Kematian Oposisi dan Kooptasi Kritik Selama bertahun-tahun, Rocky Gerung dikenal sebagai simbol pemikir bebas dan kritikus independen di luar sistem pemerintah. Ketika figur kritis seperti dirinya masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, publik melihatnya sebagai bentuk penjinakan suara kritis (co-optation). Masuknya Rocky kekuasaan dikhawatirkan akan melemahkan kontrol sosial dari civil s...

Reshuffle Kabinet ke-7: Deklarasi lndependensi Politik Prabowo

Gambar
Reshuffle Kabinet ke-7: Deklarasi lndependensi Politik Prabowo  Oleh Sudono Syueb, Alumni Fisipol UGM Sidoarjo - Perombakan atau reshuffle besar-besaran Kabinet Merah Putih yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto, terutama dengan menggeser figur-figur kunci yang identik dengan era Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi), memiliki beberapa makna simbolik politik yang kuat menurut pandangan para analis politik: 1. Deklarasi Kemandirian Politik (Prabowo-Sentris) Secara simbolik, secara politii langkah ini bisa dibaca sebagai penegasan bahwa era transisi telah selesai dan era kepemimpinan mandiri Prabowo telah dimulai. Pergantian figur sentral seperti Pratikno (mantan Menko PMK) dan Jenderal Listyo Sigit Prabowo (mantan Kapolri) menandai bahwa Prabowo ingin keluar dari bayang-bayang politik Jokowi. Istana kini digerakkan sepenuhnya di bawah kontrol langsung dan visi politik personal Prabowo. 2. Peralihan dari "Pemerintahan Warisan" Menjadi "Pemerintahan Sendiri...

Tragedi Gegirisi Kemanusiaan dan Politik pada 30 September 1965

Gambar
Tragedi Gegirisi Kemanusiaan dan Politik pada 30 September 1965 Oleh Sudono Syueb, Biro Kominfo DDII Jatim Sidoarjo - Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) merupakan salah satu tragedi kemanusiaan dan politik paling kelam dalam sejarah modern Indonesia. Peristiwa penculikan dan pembunuhan para perwira tinggi TNI Angkatan Darat secara keji pada malam pergantian tanggal 30 September ke 1 Oktober 1965 meninggalkan luka mendalam yang dampaknya masih terasa lintas generasi.  Dalam melihat kompleksitas peristiwa ini, opini publik dan catatan sejarah umumnya terbagi ke dalam dua sudut pandang utama: 1. Sudut Pandang Pengkhianatan Ideologi dan Kekejaman Militer Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, tindakan yang dilakukan oleh elemen Gerakan 30 September dinilai sebagai bentuk kebiadaban dan pengkhianatan nyata terhadap negara serta dasar negara Pancasila.  Gugurnya Pahlawan Revolusi: Penculikan para jenderal di kediaman mereka, yang diikuti dengan eksekusi dan pem...

Melihat Ulang Asal-Usul Wali Songo: Kosmopolitanisme Islam dan Kebangsaan

Gambar
Melihat Ulang Asal-Usul Wali Songo: Kosmopolitanisme Islam dan Kebangsaan  Oleh: Sudono Syueb, KBPII dan Pengurus Dewan Da'wah Jatim  Sidoarjo - Perdebatan mengenai asal-usul Wali Songo seolah tidak pernah kehabisan bahan bakar. Setiap kali ada temuan atau sudut pandang baru—apakah mereka murni keturunan Hadramaut (Yaman), memiliki darah Champa (Vietnam), bergaris keturunan Tiongkok, atau Persia—ruang publik kita langsung riuh.  Namun, di tengah hiruk-pikuk klaim sejarah tersebut, kita sering kali melupakan esensi yang jauh lebih besar: asal-usul Wali Songo adalah potret autentik dari kosmopolitanisme Islam yang berhasil melebur dengan lokalitas Nusantara. Melihat Wali Songo hanya dari satu garis keturunan tunggal adalah penyempitan sejarah. Secara objektif, jejak genealogis dan kultural sembilan wali ini menunjukkan bahwa mereka adalah produk dari jaringan ulama dan bangsawan transnasional.  Migrasi dan Asimilasi Mereka melakukan migrasi, berasimilasi, d...

Kontribusi Pondok Pesantren dalam Pencerahan lntelektual, Merawat Moral Religius dan Kebangsaan

Gambar
Kontribusi Pondok Pesantren dalam Pencerahan lntelektual, Merawat Moral Religius dan Kebangsaan Oleh Sudono Syueb, pernah nyantri di YTP Kertosono Sidoarjo -- Selama ini publik mungkin abai bahwa Pondok Pesantren memiliki kontribusi yang sangat besar dalam membangun generasi muda yang tangguh, baik secara intelektual maupun moral. Sebagai salah satu pilar pendidikan Islam tertua di Indonesia, pesantren berhasil mengintegrasikan kecerdasan berpikir dengan keluhuran budi pekerti secara seimbang. Sistem pendidikan holistik ini mengisi ruang kosong yang sering kali tidak terjangkau oleh pendidikan formal konvensional.  Berikut adalah ulasan mengenai kontribusi nyata pondok pesantren dalam pembelajaran intelektual dan moral para santri: 1. Kontribusi pada Pembelajaran Intelektual: Menembus Batas Ilmu Agama dan Umum Dahulu, pesantren mungkin hanya diidentikkan dengan pembelajaran kitab kuning dan ilmu agama tradisional. Namun, dalam perkembangan modern, kontribusi intelektua...

SEMANGAT BERORGANISASI

Gambar
SEMANGAT BERORGANISASI Oleh: Indah Hanifah Hanif Alumni PP ArRoudlotul Ilmiyah (YTP) Kertosono Berorganisasi itu bukan selalu tentang jabatan, bukan pula tentang siapa yang paling aktif atau siapa yang paling banyak dikenal. Berorganisasi adalah tentang belajar bersama, berbuat bersama, dan memberikan manfaat sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Kadang dalam perjalanan berorganisasi, semangat kita naik turun. Ada saatnya kita merasa senang karena bisa berkumpul, berdiskusi, dan melakukan kegiatan bersama. Tetapi ada pula saatnya kita merasa lelah, kecewa, bahkan bertanya dalam hati, *“Untuk apa saya masih bertahan?”* Apalagi ketika apa yang kita lakukan tidak selalu dihargai. Kadang kita sudah berusaha, tetapi dianggap kurang. Sudah membantu, tetapi tidak terlihat. Bahkan terkadang niat baik kita disalahpahami. Di situlah sebenarnya kita belajar bahwa berorganisasi membutuhkan keikhlasan. Kita tidak mungkin selalu mendapatkan pujian. Tidak semua orang akan memahami per...