Postingan

Jalur Nasab dan Jalur Nasib dalam Suksesi Kepemimpinan NU

Gambar
Jalur Nasab dan Jalur Nasib dalam Suksesi Kepemimpinan NU Oleh: Firman Syah Ali  Surabaya - Jelang Muktamar ke-35 NU pada tanggal 1-5 Agustus 2026 mendatang, bermunculan banyak Bakal Calon Ketum (Bacaketum) PBNU, sebutkan diantaranya Petahana KH Yahya Cholil Staquf, Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Menteri Haji dan Umroh KH Moch Irfan Yusuf, Menteri Koordinator PM KH A Muhaimin Iskandar, mantan politikus KH Muh Yusuf Chudori, mantan struktural NU KH Abdussalam Shohib, mantan Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudz, mantan Ketum PB PMII Hery Heriyanto Azumi dan banyak lagi lainnya.  Diantara pengamat politik yang sering sosialisasi nama-nama Bacaketum PBNU tersebut antara lain Sholeh Baasyari, KH Ulil Abshar Abdalla, Islah Bahwari, Dahlan Iskan dan banyak lagi yang tiap hari berseliweran di media sosial maupun di portal media online. Memang, setiap menjelang momentum suksesi kepemimpinan NU, satu pertanyaan selalu mengemuka, a...

Pembubaran Program Korup dalam Perspektif Hannah Arendt

Gambar
Pembubaran Program Korup dalam Perspektif Hannah Arendt Oleh : Firman Syah Ali Surabaya - Media sosial konoha akhir-akhir ini diributkan oleh pro kontra pembubaran beberapa institusi dan program yang dinilai rawan mega korupsi. Dalam diskusi tersebut, humor politik Gusdur tentang lumbung dan tikus menjadi topik yang paling diperdebatkan. Penulis ikut berdiskusi di beberapa WhatsApp Group (WAG). ​Dalam diskursus tata kelola negara, muncul sebuah dilema yang seringkali dianggap tabu, apakah kita harus mempertahankan institusi atau program pemerintah yang telah terinfeksi korupsi sistemik, ataukah kita harus membubarkannya untuk membangun sesuatu yang baru? ​Untuk menjawab pertanyaan ini, kita tidak bisa hanya menggunakan logika manajemen operasional. Kita membutuhkan pisau analisis filsafat politik untuk memahami akar dari kerusakan tersebut. Di sinilah pemikiran Hannah Arendt menjadi relevan dan krusial. ​Hannah Arendt (1906–1975) adalah seorang filsuf politik dan teoritikus...

PERLU LEBIH SERIUS BERAMAR MA'RUF-NAHY MUNKAR

Gambar
PERLU LEBIH SERIUS BERAMAR MA'RUF-NAHY MUNKAR Oleh: Agus Salim, Ketua Umum PB PII 1989-1992     Jakarta - Amar ma'ruf Nahy munkar merupakan istilah yang banyak diungkapkan dalam Al Qur-an. Diucapkan dalam satu tarikan nafas. Istilah tersebut selalu penting untuk kemaslahatan kehidupan masyarakat sampai kapanpun, apalagi dalam masyarakat seperti Indonesia ini. Istilah tersebut terdiri dari dua ungkapan, yakni _Amar ma'ruf_ dan _Nahy munkar_.      Amar ma'ruf berfokus pada penyampaian ajaran dan nilai-nilai kebaikan dalam Islam, dalam rangka meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan pencerahan kepada umat agar diamalkan dengan sebaik-baiknya, misalnya tentang peningkatan ibadah, keutamaan menuntut ilmu, keutamaan momen-momen tertentu (Ramadhan, 4 bulan haram, dll). Tentu saja itu sangat penting.    Nahy munkar, sebagai upaya untuk mencegah, mengerem, dan meminimalisir sekecil-kecilnya segala bentuk kondisi kemunkaran, baik melalui lisan, tulis...

Adaptasi Manajemen dan Strategi Genghis Khan di Era Disrupsi

Gambar
Adaptasi Manajemen dan Strategi Genghis Khan di Era Disrupsi Oleh : Firman Syah Ali*   Surabaya - Dalam sebuah sesi percakapan penulis dengan Ketua Umum Naqobah Anshab Auliya' Tis'ah (NAAT), Raden Maulana Sayyid Ilzamuddin Sholeh, disampaikan bahwa kakek Sayyid Jamaluddin Kubro menikahi bangsawan Mongol keturunan Genghis Khan. Dengan begitu tak terhindarkan lagi, baik Ketum NAAT maupun penulis sendiri, merupakan keturunan (dzurriyah) Genghis Khan.  NOMADEN Vs SEDANTER Genghis Khan adalah sosok pemuda yang tumbuh dan berkembang di kawasan stepa eurasia. Sebuah kawasan besar yang dihuni oleh suku-suku nomaden pastoralik (gerombolan gembala pengembara) yang hidup dalam VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, and Ambigous) karena kondisi alam yang ultra ekstrim dan kondisi sosio-kultural yang selalu dilanda perang maut antar suku dalam kompetisi penguasaan sumber daya alam, yaitu padang rumput hijau yang kondusif untuk sumber makanan ternak. Pola hidup seperti itu mirip se...

Selayang Pandang Pitono Nugroho, Pilot Baru ICMI ORWIL Jatim

Gambar
Selayang Pandang Pitono Nugroho, Pilot Baru ICMI ORWIL Jatim Oleh Sudono Syueb, Alumni Fisipol UGM Yogyakarta Sidoarjo - Pitono Adi Nugroho (lebih dikenal sebagai Pitono Nugroho) adalah Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur periode 2026–2031. Ia terpilih dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) ICMI Jawa Timur yang digelar pada Sabtu, 4 Juli 2026 di Gedung Plaza Airlangga, Kampus C Universitas Airlangga, Surabaya.     Rekam Jejak dan Profil Ringkas Pengurus Senior ICMI Jatim: Sebelum terpilih sebagai Ketua Umum, Pitono menjabat sebagai Sekretaris ICMI Orwil Jawa Timur periode 2021–2026 mendampingi kepemimpinan Ulul Albab. Latar Belakang Profesional: Ia merupakan seorang praktisi dan sosiolog yang aktif sebagai Direktur Social Investment Indonesia. Pendidikan: Ia merupakan alumni Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (Taplai/Lemhannas).  Visi dan Fokus Kepemimpinan (2026–2031) Di bawah kepemimpinannya, IC...

Menggerakkan Intelektual untuk Membangun Peradaban yang Transformatif

Gambar
Menggerakkan Intelektual untuk Membangun Peradaban yang Transformatif Oleh Akbar Muzakki, Pengurus ICMI Orwil Jatim dan Pengurus Dewan Da'wah Jatim Surabaya - Bertempat di aula Plaza Universitas Airlangga, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Jawa Timur menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) sekaligus Seminar Nasional dengan tema besar “Mengembalikan Peran Intelektual Sebagai Penuntun Peradaban yang Inklusif dan Transformatif”. Kegiatan ini dihadiri perwakilan cendekiawan, akademisi, praktisi, serta tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Timur. Sabtu(04/07/2026) Hadir secara langsung dalam kegiatan ini Ketua Umum ICMI sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Ir. Arif Satria, yang memberikan arahan strategis bagi pengurus dan seluruh kader ICMI di Jawa Timur Dalam sambutannya, Prof. Arif Satria menegaskan pentingnya sinergi antara dunia riset, keilmuan, dan pengabdian masyarakat. “Cendekiawan tidak bol...

Khalifah Umar Bin Khattab sebagai Bapak Makan Bergizi Gratis (MBG) di Dunia

Gambar
  Khalifah Umar Bin Khattab sebagai Bapak Makan Bergizi Gratis (MBG) di Dunia Oleh : Firman Syah Ali, mantan aktifis PMII Jawa Timur   Tajdid at-Turats--Surabaya - Khalifah Umar bin Khattab (634–644) terkenal dengan jargonnya “Tidak boleh ada satu pun warga, muslim maupun non-Muslim, yang tidur dalam keadaan lapar”. Tentu saja bukan sekedar jargon yang disampaikan dalam pidato-pidato dahsyat dan berapi-api di atas mimbar. Khalifah Umar bin Khattab bukan tipikal pemimpin omon-omon. Beliau memikul sendiri bahan-bahan makanan itu dan diantarkan ke warga yang membutuhkan. Beliau kontrol agar tidak terjadi korupsi.  Beliau juga membentuk Diwan pendaftaran penduduk untuk menjamin jatah makanan setiap bayi, yatim, lansia, dan penyandang disabilitas dari Baitul Mal. Saat krisis Am al-Ramadah (638), dapur umum Madinah memberi makan hingga 40.000 orang/hari, pasokan dikirim ke seluruh wilayah Khilafah. Tapi gerakan Khalifah Umar Bin Khattab waktu itu hanya di Kota Madin...