Postingan

PERLU LEBIH SERIUS BERAMAR MA'RUF-NAHY MUNKAR

Gambar
PERLU LEBIH SERIUS BERAMAR MA'RUF-NAHY MUNKAR Oleh: Agus Salim, Ketua Umum PB PII 1989-1992     Jakarta - Amar ma'ruf Nahy munkar merupakan istilah yang banyak diungkapkan dalam Al Qur-an. Diucapkan dalam satu tarikan nafas. Istilah tersebut selalu penting untuk kemaslahatan kehidupan masyarakat sampai kapanpun, apalagi dalam masyarakat seperti Indonesia ini. Istilah tersebut terdiri dari dua ungkapan, yakni _Amar ma'ruf_ dan _Nahy munkar_.      Amar ma'ruf berfokus pada penyampaian ajaran dan nilai-nilai kebaikan dalam Islam, dalam rangka meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan pencerahan kepada umat agar diamalkan dengan sebaik-baiknya, misalnya tentang peningkatan ibadah, keutamaan menuntut ilmu, keutamaan momen-momen tertentu (Ramadhan, 4 bulan haram, dll). Tentu saja itu sangat penting.    Nahy munkar, sebagai upaya untuk mencegah, mengerem, dan meminimalisir sekecil-kecilnya segala bentuk kondisi kemunkaran, baik melalui lisan, tulis...

Adaptasi Manajemen dan Strategi Genghis Khan di Era Disrupsi

Gambar
Adaptasi Manajemen dan Strategi Genghis Khan di Era Disrupsi Oleh : Firman Syah Ali*   Surabaya - Dalam sebuah sesi percakapan penulis dengan Ketua Umum Naqobah Anshab Auliya' Tis'ah (NAAT), Raden Maulana Sayyid Ilzamuddin Sholeh, disampaikan bahwa kakek Sayyid Jamaluddin Kubro menikahi bangsawan Mongol keturunan Genghis Khan. Dengan begitu tak terhindarkan lagi, baik Ketum NAAT maupun penulis sendiri, merupakan keturunan (dzurriyah) Genghis Khan.  NOMADEN Vs SEDANTER Genghis Khan adalah sosok pemuda yang tumbuh dan berkembang di kawasan stepa eurasia. Sebuah kawasan besar yang dihuni oleh suku-suku nomaden pastoralik (gerombolan gembala pengembara) yang hidup dalam VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, and Ambigous) karena kondisi alam yang ultra ekstrim dan kondisi sosio-kultural yang selalu dilanda perang maut antar suku dalam kompetisi penguasaan sumber daya alam, yaitu padang rumput hijau yang kondusif untuk sumber makanan ternak. Pola hidup seperti itu mirip se...

Selayang Pandang Pitono Nugroho, Pilot Baru ICMI ORWIL Jatim

Gambar
Selayang Pandang Pitono Nugroho, Pilot Baru ICMI ORWIL Jatim Oleh Sudono Syueb, Alumni Fisipol UGM Yogyakarta Sidoarjo - Pitono Adi Nugroho (lebih dikenal sebagai Pitono Nugroho) adalah Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur periode 2026–2031. Ia terpilih dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) ICMI Jawa Timur yang digelar pada Sabtu, 4 Juli 2026 di Gedung Plaza Airlangga, Kampus C Universitas Airlangga, Surabaya.     Rekam Jejak dan Profil Ringkas Pengurus Senior ICMI Jatim: Sebelum terpilih sebagai Ketua Umum, Pitono menjabat sebagai Sekretaris ICMI Orwil Jawa Timur periode 2021–2026 mendampingi kepemimpinan Ulul Albab. Latar Belakang Profesional: Ia merupakan seorang praktisi dan sosiolog yang aktif sebagai Direktur Social Investment Indonesia. Pendidikan: Ia merupakan alumni Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (Taplai/Lemhannas).  Visi dan Fokus Kepemimpinan (2026–2031) Di bawah kepemimpinannya, IC...

Menggerakkan Intelektual untuk Membangun Peradaban yang Transformatif

Gambar
Menggerakkan Intelektual untuk Membangun Peradaban yang Transformatif Oleh Akbar Muzakki, Pengurus ICMI Orwil Jatim dan Pengurus Dewan Da'wah Jatim Surabaya - Bertempat di aula Plaza Universitas Airlangga, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Jawa Timur menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) sekaligus Seminar Nasional dengan tema besar “Mengembalikan Peran Intelektual Sebagai Penuntun Peradaban yang Inklusif dan Transformatif”. Kegiatan ini dihadiri perwakilan cendekiawan, akademisi, praktisi, serta tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Timur. Sabtu(04/07/2026) Hadir secara langsung dalam kegiatan ini Ketua Umum ICMI sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Ir. Arif Satria, yang memberikan arahan strategis bagi pengurus dan seluruh kader ICMI di Jawa Timur Dalam sambutannya, Prof. Arif Satria menegaskan pentingnya sinergi antara dunia riset, keilmuan, dan pengabdian masyarakat. “Cendekiawan tidak bol...

Khalifah Umar Bin Khattab sebagai Bapak Makan Bergizi Gratis (MBG) di Dunia

Gambar
  Khalifah Umar Bin Khattab sebagai Bapak Makan Bergizi Gratis (MBG) di Dunia Oleh : Firman Syah Ali, mantan aktifis PMII Jawa Timur   Tajdid at-Turats--Surabaya - Khalifah Umar bin Khattab (634–644) terkenal dengan jargonnya “Tidak boleh ada satu pun warga, muslim maupun non-Muslim, yang tidur dalam keadaan lapar”. Tentu saja bukan sekedar jargon yang disampaikan dalam pidato-pidato dahsyat dan berapi-api di atas mimbar. Khalifah Umar bin Khattab bukan tipikal pemimpin omon-omon. Beliau memikul sendiri bahan-bahan makanan itu dan diantarkan ke warga yang membutuhkan. Beliau kontrol agar tidak terjadi korupsi.  Beliau juga membentuk Diwan pendaftaran penduduk untuk menjamin jatah makanan setiap bayi, yatim, lansia, dan penyandang disabilitas dari Baitul Mal. Saat krisis Am al-Ramadah (638), dapur umum Madinah memberi makan hingga 40.000 orang/hari, pasokan dikirim ke seluruh wilayah Khilafah. Tapi gerakan Khalifah Umar Bin Khattab waktu itu hanya di Kota Madin...

Dari lslam Persepsi Menuju lslam Konsepsi Sesuai Blue Print Allah dan Rasulullah

Gambar
Dari lslam Persepsi Menuju lslam Konsepsi Sesuai Blue Print Allah dan Rasulullah Oleh Sudono Syueb, Alumni Pertama MIM 12 Dengok, Paciran, Lamongan Sidoarjo - Mungkin selama ini lslam yang kita pahami adalah lslam Persepsi yang kita pelajari dari persepsi guru-guru kita yang mungkin belum sesuai dengan blue print lslam menurut Allah dan Radulullah. Untuk itu, Dr. Akhmad Kasban Sarkawi Randhim dalam bukunya Islam Persepsi: Syarah Rasmul Bayan bab  "Meluruskan Persepsi" berupaya merekonstruksi cara pandang umat yang telah terdistorsi oleh tantangan modernitas, sekularisme, maupun pemahaman agama yang ekstrem dan atau yang ala kadar. Dalam konteks Rasmul Bayan (bagan dakwah), meluruskan persepsi dilakukan melalui penataan ulang tiga elemen kognitif dan spiritual manusia: 1. Dekonstruksi Persepsi yang Salah Penulis memetakan beberapa kekeliruan cara pandang masyarakat modern terhadap Islam: Pertama, Persepsi Ritualistik-Sentris: Memandang Islam hanya sebatas salat, pu...

Yusril Ihza Mahendra: Di Persimpangan Jalan Antara Ilmuwan, Politisi, dan Negarawan

Gambar
Yusril Ihza Mahendra: Di Persimpangan Jalan Antara Ilmuwan, Politisi, dan Negarawan Murtadho HS Alumni YTP Kertosono  Nama Yusril Ihza Mahendra sudah tidak asing di panggung hukum dan politik Indonesia selama lebih dari 3 dekade. Dari ruang kuliah, ruang sidang MK, sampai ruang rapat kabinet, jejaknya selalu muncul.  Namun di titik ini, publik kembali bertanya: Yusril hari ini berdiri di persimpangan mana? Apakah sebagai ilmuwan hukum, politisi praktis, atau negarawan?  1.  Yusril Sang Ilmuwan: Guru Besar Hukum Tata Negara  Ini titik pijak paling dasar Yusril.  Gelar Guru Besar dan ratusan karya tulisnya menempatkannya sebagai salah satu ahli HTN paling produktif di Indonesia. Argumen-argumennya di Mahkamah Konstitusi sering jadi rujukan akademisi, advokat, bahkan hakim.  Ciri khas “ilmuwan Yusril”:  - Mementingkan kerangka berpikir konstitusional. Apapun isu politiknya, ia akan mengembalikan ke UUD 1945.  - Konsisten dengan mazha...