Tuhan Akan Mendekap Hambanya yang Senantiasa Berusaha
Tuhan Akan Mendekap Hambanya yang Senantiasa Berusaha
Catatan A.Fakhrur.
Pada tahun 2005 novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata sangatlah populer. Terlebih kemudian tahun 2008, novel tersebut diadaptasi di layar lebar. Tentu sangat membumi.
Novel dan film yang sangat menginspirasi. Di tahun - tahun tersebut, tak sedikit kelompok - kelompok perjuangan prestasi dan sosial, menamai dirinya dengan nama laskar pelangi.
Saat itu tak terbayangkan saya dapat menginjakkan kaki di lokasi syuting film laskar pelangi. Baik di
SD Muhammadiyah Gantong, SD tempat sekolah 10 anak laskar pelangi.Atau di pantai Tanjung Tinggi, lokasi syuting destinasi tempat bermain mereka. Berwisata ke sana..? Seolah musykil, saya akan sampai ke sana. Selain soal radius geografis, juga selama ini saya lebih menikmati wisata sejarah.
Tetapi sesuatu yang semula tidak terbayangkan, justeru menjadi kenyataan. Bermula dari sebuah perintah kunjungan di kota Tanjung Pandan, Belitung. Baru saat mendarat di bandara. H.A.S Hanandjoeddin , suara hati menyatakan " sudah di Tanjung Pandan, rugi kalau tidak meluncur ke lokasi syuting film laskar pelangi tersebut"
Di sore Kamis, 19 Mei 2026,
saya menuju ke Pantai Tanjung Tinggi. Milih sore hari, konon suasana lumayan ramai berburu momen sunseti. Tak jauh dari pusat kota, perjalanan sekitar setengah jam. Benar adanya, banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
Banyak bongkahan batu berukuran gede di tepi pantai.Kunaiki bongkahan - bongkahan bebatuan tersebut. Dari kejauhan kelihatan bebatuan yang tinggi. " Oh .., di situ 10 anak Laskar Pelangi duduk melingkar, menerima breifing dari ibu guru Muslimah", kataku sambil mengingat salah satu bagian tayangan di film.
Air laut sangat jernih. Warnanya hijau. Sore itu wisatawan ada yang mancing, ada yang sekedar duduk - duduk menikmati indahnya alam. Sebagian lainnya ngevlog dengan menggunakan drone. Saya sih juga ngevlog , ngevlog amatir, dengan kamera video pada handphone. Matahari tenggelam. Saya meninggalkan pantai Tanjung Tinggi dengan segala eksotisnya.
Tidaklah lengkap kalau tidak ke replika SD Muhammadiyah Gantong. Esok harinya kuputuskan untuk menuju ke sana. Menuju ke lokasi, dengan berkendara mobil dari pusat kota butuh waktu sekitar satu setengah jam. Beradius sekitar 68 km. Jalan lumayan lebar dan sangat mulus. Kiri kanan jalan dipenuhi pepohonan yang hijau. Kali ini saya ditemani tiga kawan.
Belum terlalu siang kami sudah sampai di lokasi .Dari parkiran mobil terlihat bangunan sekolah sangat sederhana. Berdinding kayu beratap seng.
Di depan sekolah terdapat papan nama berwarna hijau. Bertuliskan : SD MUHAMMADIYAH GANTONG. Di depannya bendera merah putih dikibarkan. Segera saya memasuki salah satu ruang klas. Total ada dua ruang klas plus satu ruang ( mungkin ruang guru).
Di bagian depan ruang klas terdapat papan tulis berbahan kayu. Ada sejumlah kursi dan meja berbahan kayu . Pada dinding ditempeli lukisan 10 siswa laskar pelangi. Juga ada lukisan Bu guru Muslimah saat bercengkerama.
Pikiranku terhubung dengan profil 10 anak Laskar Pelangi sebagaimana dalam film. Mereka adalah Ikal , Lintang, Sahara ,Mahar, A Kiong, Syahdan, Borek atau Samson, Kucai, dan Trapani Harun .
Tangan saya menunjuk lukisan. " Oh..., ini Harun", kataku. Ia yang berjasa dalam menyelamatkan sekolah yang nyaris ditutup oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Siswa yang mendaftar hanya berjumlah 9! . Minimal 10 siswa, kalau nggak mencapai 10 siswa, sekolah akan ditutup. Saat jelang _in jure time_ Harun daftar, menggenapkan menjadi 10 pendaftar. Sekolah selamat dan nggak jadi ditutup.
Fikiran saya juga terhubung dengan cerita di film tentang sosok ibu guru Muslimah
yang dengan tekun dan sabar mengajar. Mengajar dengan hati dan penuh keikhlasan. Ia yang menjuluki siswa - siswinya dengan julukan Laskar Pelangi. Kelompok serdadu yang ragam kelebihannya. Warna warni, indah bak pelangi. Saya hanya menunjuk lukisan ibu guru Muslimah yang dalam film diperankan oleh Cut Mini.
Jelang siang aku tinggalkan komplek replika SD Muhammadiyah Gantong.Bergegas menuju bandara H.A.S. Hanandjoeddin, untuk terbang menuju kota Pangkal Pinang .
Mengonfirmasi lokasi dan infrastruktur fisik novel dan film Laskar Pelangi, semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa keterbatasan sarana bdan ekonomi tidak seharusnya menyurutkan langkah untuk meraih prestasi dan kesuksesan. Pendidikan adalah sebagai salah satu jalan keluar dari ketertinggalan dan keterbelakangan.
10 anak Laskar Pelangi telah berhasil dan berprestasi, karena kesungguhan dan kegigihannyai. Ya...., " Tuhan akan mendekap kepada hambanya yang senantiasa berusaha". ( AF, P.Pinang, 22/5/2026).
.
Komentar
Posting Komentar