Arafah, Tempat Hamba Mengenali Jati Diri (Kenangan Abadi)

Arafah, Tempat Hamba Mengenali Jati Diri (Kenangan Abadi)

Oleh Sudono Syueb, Alumni pertama MIM Dengok, Paciran, Lamongan

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hari itu langit menurunkan tenda-Nya di atas Padang Arafah.  
Hari itu bumi berhenti berputar sejenak,  
untuk mendengar jutaan rintihan yang sama:  
_“Labbaikallahumma labbaik…”_
*****

Berhenti, Wahai Hati yang Lelah

Wukuf itu berhenti.  
Berhenti berlari mengejar dunia yang tak pernah tercukupi.  
Berhenti membela diri di hadapan luka yang  tersembunyi.  
Berhenti berpura-pura kuat, padahal hatinya retak tak terperi.

Di Arafah, Allah tidak bertanya:  
“Berapa hartamu?”  
“Apa pangkatmu?”  
Tapi Dia bertanya:  
“Sudahkah kau kembali kepada-Ku?”

Maka berhentilah, sahabatku.  
Berhenti sejenak di tengah bisingnya dunia.  
Duduklah di atas hamparan 
padang Arafah.  
Tutup matamu.  
Dan bisikkan:  
“Ya Allah… aku lelah. Aku mau pulang.”
*****

Di Sini, Semua Sama

Lihatlah.  
Tidak ada mahkota di kepala.  
Tidak ada sepatu mengkilap di kaki.  
Tidak ada pembatas antara raja dan rakyat.  
Semua memakai kain putih.  
Semua berdiri di tanah yang sama.  
Semua menangis dengan air mata yang sama asinnya.

Inilah Arafah…  
Latihan kecil sebelum hari besar itu datang.  
Hari ketika gelar, jabatan, dan harta  
akan rontok seperti daun kering di musim gugur
Melayang gontai
Tak bernyali.

Maka untuk apa kita sombong?  
Untuk apa kita saling merendahkan?  
Bukankah kelak kita akan berdiri sendiri,  
hanya membawa amal dan aib yang kita sembunyikan?
*****

Tangis yang Mencuci Hati

Arafah bukan tempat meminta rumah dan mobil.  
Arafah adalah tempat manusia menanggalkan topeng.  
Di sana yang keluar dari lisan bukan daftar keinginan,  
tapi pengakuan:  
“Ya Allah, aku hamba yang sering lalai.  
Aku hamba yang sering ingkar.  
Tapi aku tidak punya tempat pulang selain pada Engkau.”

Dan tahukah kau, sahabatku?  
Allah paling dekat dengan hamba-Nya  
saat hamba itu menangis dan merasa tak punya siapa-siapa lagi.

Maka menangislah.  
Biar air matamu menjadi hujan  
yang memadamkan api dosa di hatimu.  
Biar isakmu menjadi zikir  
yang menembus langit ketujuh.
*****

Kembali kepada Asal

Arafah adalah legenda.  
Di tempat inilah Adam dan Hawa bertemu kembali  
setelah ratusan tahun terpisah karena satu kesalahan.

Dan di tempat inilah kita diingatkan:  
Bahwa kita pun pernah terpisah dari Allah  
karena lalai, 
karena dosa, karena cinta dunia.

Tapi Allah tidak pernah menutup pintu rahmatNya.  
Dia berseru setiap hari:  
“Kembalilah, wahai hamba-hambaKu.  
Pintu-Ku terbuka lebar untuk kalian masuki.”

Arafah adalah pulang.  
Pulang dari pengembaraan panjang mengejar dunia.  
Pulang ke pelukan Rabb yang tidak pernah lelah menunggu.
*****

Akhirnya
Jika Raga Tak Sampai, Hati Harus Sampai

Mungkin hari itu ragamu tidak berada di Arafah.  
Mungkin kau hanya duduk di kamar sempitmu,  
dengan sajadah lusuh dan hati yang keruh.

Tapi dengarlah…  
Allah tidak melihat jarak.  
Allah melihat kejujuran hatimu.

Maka wukufkan hatimu malam itu.  
Berhenti dari dendam.  
Berhenti dari sombong.  
Berhenti dari berpura-pura baik.

Angkat tanganmu.  
Tutup matamu.  
Dan katakan dengan suara yang bergetar:  
“Ya Allah, aku datang.  
Dengan dosa yang menggunung.  
Dengan hati yang hancur.  
Tapi dengan harap yang tak pernah padam…  
bahwa Engkau Maha Pengampun.”

*اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ عَفَوْتَ عَنْهُمْ، وَرَضِيْتَ عَنْهُمْ، وَغَفَرْتَ لَهُمْ*  
Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang Engkau maafkan,  
Engkau ridhai, dan Engkau ampuni.

*اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا مِنْ عَرَفَاتِكَ، وَلَا مِنْ رَحْمَتِكَ، وَلَا مِنْ قُرْبِكَ*  
Ya Allah, jangan halangi kami dari Arafah-Mu,  
dari rahmat-Mu, dan dari dekat dengan-Mu.

*وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ*

Sidoarjo, 15 Mei 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

الحاكم (الصادر الحكم بين أهل الرأي و أهل التقليدي

Hisab Awal Bulan Sya’ban 1447 H