Memperkuat Karakter Perempuan Dalam Dakwah Kemanusiaan Berkemajuan

Memperkuat Karakter Perempuan Dalam Dakwah Kemanusiaan Berkemajuan

Oleh Hj. Nur Hasanah, M. Ag
Pernah nyantri di Ponpes Ar-Riudlotul llmiyah, Kertosono dan sekarang Pengurus Aisyiyah Daerah Sidoarjo, Jatim

Sidoarjo - Tajdid at-Turats-- Menurut saya, ada 7 karakter untuk Memperkuat Karakter Perempuan Dalam Dakwah Kemanusiaan Berkemajuan sebagai fondasi ideal bagi perempuan Muslim modern, khususnya di komunitas ibu-ibu Aisyiah,  untuk tampil sebagai penggerak perubahan peradaban yang berakar pada nilai-nilai luhur keislaman. Narasi ini dirancang berdasarkan dokumen ideologis Muhammadiyah dan 'Aisyiyah.

Berikut ini penjelasannya: 

1. Iman dan Taqwa (Fondasi Spiritual)

Pengayaan Narasi: Iman dan taqwa bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan jangkar utama bagi seluruh keputusan dan tindakan perempuan berkemajuan. Di tengah disrupsi zaman, keteguhan tauhid menjaga perempuan agar tidak mudah terombang-ambing oleh arus sekularisme maupun materialisme. Karakter ini mewujud dalam keyakinan yang kokoh pada kesempurnaan Allah, melahirkan ketenangan jiwa (sakinah), serta menumbuhkan keberanian untuk menegakkan kebenaran (amar ma'ruf nahi munkar).

2. Taat Beribadah (Konsistensi Relasi dengan Pencipta)

Pengayaan Narasi: Ketaatan beribadah adalah bukti nyata dari keimanan yang lurus. Perempuan berkemajuan memelihara hubungan vertikal secara konsisten melalui ibadah mahdhah (wajib dan sunnah), sekaligus menerjemahkannya ke dalam dimensi sosial (ibadah umum). Setiap sujud dan doa yang dipanjatkan menjadi sumber energi spiritual yang memancarkan energi positif ke lingkungan keluarga, tempat kerja, dan masyarakat luas.

3. Akhlaqul Karimah (Refleksi Kesalehan Sosial)

Pengayaan Narasi: Akhlak mulia adalah buah nyata dari kesempurnaan iman dan keheningan ibadah. Perempuan berkemajuan menampilkan wajah Islam yang ramah, santun, jujur, dan berintegritas tinggi. Di ruang publik, ia menjadi teladan (uswah hasanah) melalui tutur kata yang menyejukkan (qawlan kariman) dan kepedulian nyata terhadap sesama, menjauhkan diri dari fitnah, ghibah, dan kesombongan.

4. Tajdid (Semangat Pembaruan dan Berpikir Kritis)

Pengayaan Narasi: Semangat tajdid (pembaruan) adalah motor penggerak kemajuan. Perempuan berkemajuan tidak berpikiran kolot, melainkan berwawasan luas, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia mampu memberikan solusi segar atas problem zaman, aktif membaca literatur, serta berani keluar dari zona nyaman demi melahirkan kemaslahatan yang lebih besar bagi umat.

5. Wasathiyah (Moderat dan Berkeadilan)

Pengayaan Narasi: Sikap wasathiyah menempatkan perempuan berkemajuan sebagai penengah yang adil di tengah kutub ekstremisme (radikalisme dan liberalisme). Ia mengedepankan prinsip keseimbangan (tawazun), toleransi (tasamuh), dan keadilan ('iswahn). Karakter ini menjadikannya figur yang bijaksana dalam menyikapi perbedaan, mampu merajut perdamaian, dan menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama maupun golongan.

6. Amaliyah Shalihah (Karya Nyata yang Produktif)

Pengayaan Narasi: Perempuan berkemajuan tidak terjebak dalam kesalehan individual yang pasif, melainkan aktif melahirkan karya nyata bagi kemanusiaan. Amaliyah shalihah diwujudkan melalui kontribusi nyata di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan sosial. Keberadaannya senantiasa dirasakan sebagai solusi, baik sebagai ibu yang mencetak generasi emas, profesional yang berintegritas, maupun aktivis yang membela hak-hak kaum lemah.

7. Sikap Inklusif (Terbuka dan Kolaboratif)

Pengayaan Narasi: Sikap inklusif adalah kesiapan untuk membuka diri, menghargai keberagaman, dan bersinergi dengan berbagai elemen bangsa tanpa kehilangan jati diri keislamannya. Perempuan berkemajuan memandang perbedaan latar belakang budaya, suku, bahkan keyakinan sebagai ladang dakwah dan ruang kolaborasi kemanusiaan. Ia merangkul semua pihak demi mewujudkan tatanan dunia yang damai, adil, dan sejahtera. (Sidoarjo, 21 Juni 2026)

Editor: Sudono Syueb

Komentar