Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Egi Sujana Mengalami Confuse...

Gambar
 Egi Sujana Mengalami Confuse... A. Darojul Ali, M.H. Dia berargumentasi, " Pergilah ke Fir'aun sesungguhnya dia telah melampaui batas " " Dan dan katakan pada Fir'aun dengan kata-kata yang lembut ". Argumentasi surat Taha ini yang melatarbelakangi Egy Sujana ke rumah Jokowi. Sebuah sowan yang menurut saya telah merendahkan, menampar gerakan dan eksistensi penggerak /muharrik sendiri. Meskipun dibungkus silaturrahim, tapi peristiwa ini bisa dilihat dari suasana batin masalah yang dihadapi. Confuse/ bingung atau kebingungan menghadapi masalah hukum, antara dirinya sakit dan harus pergi ke Malaysia sementara dirinya tersangka dan dilarang bepergian keluar negeri. Ini bisa memberi tanda-tanda lemas RRT, tapi tidak yang dialami ketiga orang itu, dan pengacaranya. Bahkan Egi Sujana pun memberi semangat agar terus melawan Jokowi. Apa yang dialami ES suatu pilihan yang kurang tepat, apakah karena kasus hukum tersangka jadi sandera ES untuk tetap eksis. ...

Equilibrium Berbangsa dan Bernegara

Gambar
  Equilibrium Berbangsa dan Bernegara Bukhori at-Tunisi (Alumni Ponpes YTP Kertosono) Kekuasaan terbentuk atas kesepakatan. [1] Kalau tidak ada kesepakatan, maka tidak akan ada kekuasaan. Kesepakatan antara yang berkuasa dan yang dikuasai, menjadi dasar terbentuknya kekuasaan. Kekuasaan akan hancur, hilang eksistensinya bila “kontrak sosialnya” hancur, meminjam istilah John Lock. Ken Arok berkuasa atas dasar penaklukkan. Menaklukkan Tunggul Ametung dengan membunuh. Atas dasar balas dendam, Anak Tunggul Ametung membunuh turunan Ken Arok untuk menjadi penguasa, begitu seterusnya, persoalan suksesi tidak pernah selesai. Ketika yang dituju di puncak piramida kehidupan adalah kekuasaan, maka akan selalu terjadi gesekan dan perang, ujungnya adalah kehancuran dan kebinasaan. Banyak kekuasaan di dunia ini, hanya tinggal puing-puingnya   sejarah, bahkan hanya menjadi legenda dan mitos. Orang Melayu menyebut, ”Menang jadi Arang, kalah jadi abu ”. Dua-duanya sama...

Hisab Awal Bulan Sya’ban 1447 H

Gambar
 Hisab Awal Bulan Sya’ban  1447 H Ali Hamdi, M. HI (Ketua PA Tuban) Tuban, Kamis 15 Januari 2026 Markas Tanjung Kodok Paciran - Lamongan  Basik Data EPHIMERIS HISAB RUKYAT Lintang Lokasi : - 6^ 52’ Lintang Selatan Bujur Lokasi : 112^ 21’ Bujur Timur Bujur Daerah : 105 Ijtimak akhir bulan Rojab 1447 H Terjadi : Ijtimak di Indonesia Bagian Barat terjadi hari Senin Legi tanggal 19 Januari 2026   pada jam =  2 : 53: 48,09  WIB (Ijtimak Qobla Subuh)  Data  Hilal ,Hari Senin Tanggal 19 Januari 2026 Matahari Tenggelam dilokasi rukyat pada hari itu Jam : 17 : 55: 47.51 WIB Tinggi Hilal Hakiki :   6^ 44’ 56,03” (Di Atas Ufuq) Tinggi Hilal Mar’i :      6^ 18’ 26,26” (Di Atas Ufuq) Lama Hilal diatas Ufuq :   0 Jam : 25 Menit 13,75 Detik (Di Atas Ufuq) Umur Bulan  :    15 Jam 1 Menit 59,42 Detik (Di Atas Ufuq) Hilal Tenggelam :  =   Jam 18 : 21 Menit 1,26 Detik (Di Atas Ufuq) Az...

Mengenang KH. Abdurrohim Nur, MA.

Gambar
 Mengenang KH. Abdurrohim Nur, MA. Kyai yang satu ini saya cukup kenal dalam BPPL ( Bengkel Penelitian dan Pengembangan dakwah ) di kota Kediri Jawa Timur. BPPL yang diwakili dari beberapa pimpinan daerah, cabang dan ranting sangat hangat dan dalam tema-tema pembahasan. Pada tahun 1985 tersebut peserta dihangatkan oleh kehadiran KH. Abdurrohim Nur MA, Ketua PWM Jawa Timur waktu itu, beliau ahli filsafat yang teguh. Para peserta BPPL sangat terhibur dan mengambil manfaat cukup banyak dari beliau. Acara yang digagas Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kediri waktu itu memberi penyegaran ilmu yang luarbiasa. Kami mewakili cabang Wates sangat muda di waktu itu, sementara ada teman-teman peserta yang sudah bapak-bapak, mahasiswa, dan kami masih duduk di Pesantren YTP kelas 2 Aliyah. Sentuhan KH. Abdurrohim Nur setelah sekian tahun saya bawa ke diskusi-diskusi dan khutbah di Jakarta, sungguh sangat menyentuh jamaah, dengan judul FUNGSI MANUSIA. Dengan uraian yang dipoles dengan fils...

Bukan pro Kontra tapi Anomali

Bukan pro Kontra tapi Anomali _Arif Wibowo_ Ada yang menarik di lini masa saya saat Hari Natal tahun lalu, yakni ketika seorang ustadz muda yang bernas pemikiran keislamannya memberikan ucapan Natal kepada kolega-kolega Kristennya. Dan tentu saja, ada komentar-komentar protes yang mengikutinya. Dengan tenang beliau menjawab, memberikan ucapan selamat Natal itu ikhtilaf dan beliau ikut yang membolehkan. Dari penelusuran saya sebagai awam memang memberikan ucapan selamat kepada Hari Raya agama lain itu ikhtilaf, yang jelas terlarang adalah ikut serta dalam kegiataan hari raya agama lain tersebut. Bagi saya sendiri, yang memilih tidak mengucapkan selamat pada hari raya agama lain, ya  menghormati pilihan itu, jadi tidak ikut nimbrung protes di kolom komentarnya. Saya malah menemui hal yang lebih eskrim dari ucapan selamat itu, tapi keikutsertaan dalam perayaan Natal yang setelah saya mendengar kisah panjangnya, saya jadi bisa memahami bahkan angkat topi. Adalah Pak Lomo, nama yang say...