AIR UJIAN PEJUANG KEBENARAN

 

AIR UJIAN PEJUANG KEBENARAN


 Bukhori at-Tunisi
Alumni Pesantren YTP Kertosono


1.     Air Ujian

Allah mengisahkan secara gamblang perilaku pasukan yang mau berlaga di medan perang: 1. Ada kelompok pasukan yang mencari “air kehidupan”; 2. Ada kelompok pasukan yang berjuang untuk menegakkan kebenaran, berjuang di Jalan Allah, berjuang di Jalan Tuhan. Allah menggambarkan dua sikap pasukan saat melihat “air kehidupan” yang melimpah di sungai sebagai “air ujian”, bukan “batu ujian”. Batu ujian terjadi manakala ujiannya berbentuk kekerasan, luka, kesedihan, atau kekalahan, bahkan memang betul-betul batu sungguhan yang menghantam, seperti saat Perang Uhud.

Saat berhadapan dengan air, tentu semua pasukan perlu asupan air untuk menghilangkan kehausan. Ada pasukan yang minum sepuas-puasnya, meminum sebanyak-banyaknya, melahap air dengan serakah. Tampak hedonisme kehidupan duniawi seterang-terangnya. Jika perilaku yang ditampilkan seperti ini, kataAllah, “Bukan sebagai kelompok pejuang.” Ada juga pasukan yang saat menemukan “air kehidupan”, hanya minum ala kadarnya, sekedar menyambung hidup. Minum air bukan tujuan akhir, bukan tujuan utama, sekedar untuk hidup, tujuan utamanya adalah menegakkan kebenaran, menegakkan Jalan Tuhan. Air hanya sebagai perantara belaka untuk sekedar menyambung hidup agar hidup bisa dalam jalan yang benar dan ada di Jalan Tuhan. Pasukan jenis ini adalah disebut Allah sebagai pasukan pejuang yang hanya berjuang demi kebenaran, berjuang di Jalan Tuhan.

Implikasi dari sikap batin dua jenis pasukan ini, endingnya berbeda saat berhadapan dengan musuh, apalagi musuhnya lebih banyak, lebih lengkap persenjataan dan ketersediaan logistiknya. Yang berorientasi duniawi, kemewahan, pangkat, dan keuntungan pribadi, keluarga atau kroni, akan berkata, “Tidak mungkin mengalahkan pasukan besar dengan kekuatan terbatas seperti ini.” Sedang pasukan yang ikhlas berjuang penuh optimisme, punya keyakinan, “Banyak kelompok pasukan kecil mampu mempecudangi pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya.” Firman Allah tersebut adalah QS. Al-Baqarah/2: 249:

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوْتُ بِالْجُنُوْدِ قَالَ اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْكُمْ بِنَهَرٍۚ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْۚ وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِنَّهٗ مِنِّيْٓ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً ۢبِيَدِهٖ ۚ فَشَرِبُوْا مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۗ فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۙ قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ ۗ قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ ۙ كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢبِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

 Lalu, ketika Thalut keluar membawa bala tentara(-nya), dia berkata, “Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sebuah sungai. Maka, siapa yang meminum (airnya), sungguh tidak termasuk (golongan)-ku. Siapa yang tidak meminumnya, sungguh dia termasuk (golongan)-ku kecuali menciduk seciduk dengan tangan.” Akan tetapi, mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Thalut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, “Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.” Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Allah bersama orang-orang yang sabar.”

“Air Sungai” adalah metafora belaka, jika “air” dijadikan simbol “sumber kehidupan” bagi makhluk hidup, termasuk manusia, di mana manusia sendiri kandungan air dalam tubuhnya mencapai sekitar 55% hingga 78% dari total berat badan, atau rata-rata 60-70% pada orang dewasa. Proporsi ini bervariasi berdasarkan usia dan jenis kelamin: bayi memiliki kadar air tertinggi (~80%), sementara lansia lebih rendah (~50%). (AI)-- maka manusia tanpa air, tidak bisa hidup. Air sangat vital dan menjadi kebutuhan pokok bagi kelangsungan hidup manusia. Maka manusia perlu sekali kepada air agar bisa bertahan hidup. Problemnya: Apakah manusia harus meneguk sebanyak-banyaknya air sehingga “kelempoken” (Jawa), sehingga tidak mampu membawa badannya sendiri, bahkan tenggelam di air seperti Fir’aun karena terlalu banyak “minum” air? Ataukah minum sesuai kebutuhan badan sehigga tubuh manusia cukup nutrisinya?

Ada yang serakah, hidupnya hedonis, sehingga meneguk air kehidupan sebanyak-banyak, andai diminum, tidak habis tujuh keturunan. Ada yang minum secukupnya, yang penting bisa hidup, yang dibutuhkan hidup Adalah ketentraman, sandang papan cukup, dekat dengan Tuhan, sudah membahagiakan; bukan kemewahan, gemericik perhiasan, kesenangan duniawi, dan fatamorgana duniawi lainnya.

Memang, manusia perlu air, jangan sampai dehidrasi, namun kalau kebanyakan minum, menjadi “kelempoken” kata orang Jawa, badan malah menjadi lemah, lemas, sulit bergerak, kurang lincah, karena perut penuh air. Minum hanya dianjurkan 2 liter dalam sehari-semalam, bila kebanyakan juga kurang baik badi badan. Minum secukupnya saja! Manusia biasa saja tidak dianjurkan terlalu banyak minum, apalagi prajurit, tentu banyak syarat dan pantangan yang harus dihindari oleh prajurit. Manakala dilanggar, maka “kekuatan”-nya akah hilang, “kesaktiannya” akan musnah. Ibarat pemuka masyarakat, manakala melakukan maksiat, maka “marwah”-nya hilang. Begitulah, bila prajurit kehilangan “senjatanya”, maka hilanglah keistimewaannnya.

Berjuang tentu banyak tantangan dan cobaan, apalagi bila musuh memiliki jumlah pasukan yang lebih besar dan jumlah cadangan logistik yang sangat besar juga, tentu bisa mengecilkan nyali pejuang untuk mengalahkan pasukan lawan.

Dalam teori klasik dan moderen, jumlah pasukan tidak menentukan kemenangan peperangan. Kualitas pasukan yang menentukan kemenangan peperangan.

Dalam perang Badar, jumlah pasukan muslim, kalah jauh dibandingkan dengan kekuatan pasukan Qurasiy, bahkan al-Qur’an sendiri menyebut pasukan muslim sebagai “adzillah” (lemah, “hina”, “rendah” [menurut pandangan pembesar musyrik]), baik dari segi jumlah, logistik, dan psikis (QS. Ali Imran/3: 123). Namun berkat pemimpinnya kuat dalam membangun mental pasukan, membangun persiapan, dan taktik perang yang hebat, dari posisi lemah, berubah menjadi pasukan yang kuat, gagah, dan perkasa. Terbukti dari duel 1 (satu) lawan 1 (satu) antara prajurit muslim dan jusyrik, prajurit muslim selalu mengalahkan prajurit musyrik Quraisy. Endingnya, pasukan muslim pada perang Badar dengan jumlah yang sedikit, mampu mengalahkan pasukan Quraisy yang lebih besar. Bayangkan, dari masyarakat yang “terusir” dari negerinya sendiri, Makkah al-Mukarramah, mampu membangun pasukan istimewa sekitar 313-317 tentara, lalu mampu mengalahkan pasukan Quraish yang jumlahnya ± 1000 tentara, dengan segala kelebihan kuantitas, logistik, kendaraan tempur, dan semangat korsa yang tinggi.

Dalam menaklukkan Andalusia melalui “Jabal Thariq”, Thariq ibn Ziyad hanya membawa 10.000 (sepuluh ribu) pasukan, mampu menaklukkan wilayah Andalusia, Semenanjung Iberia.

Saat Belanda menjajah Nusantara, pasukan Belanda tak sebanyak laskar pasukan kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara, namun kualitas pasukan dan persenjataan pasukan, menjadi penentu kemenangan, termasuk kualitas untuk berbuat licik dan mengadu domba antar bumi putera.

Inilah makna dari firman Allah, bahwa jika pasukannya “shabar” (صبر), --menjadi kata “sabar” dalam bahasa Indonesia yang memiliki makan: “Tabah, taham uji, tahan banting, teguh pendirian,”-- maka 1 (satu) orang prajurit akan mampu mengalahkan 10 (sepuluh) orang pasukan lawan, dan  hukum lipatannya terus begitu hingga hitungan seterusnya. Kata Allah dalam QS. Al-Anfal/8: 64-66:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللّٰهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ࣖ يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَى الْقِتَالِۗ اِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ عِشْرُوْنَ صٰبِرُوْنَ يَغْلِبُوْا مِائَتَيْنِۚ وَاِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ مِّائَةٌ يَّغْلِبُوْٓا اَلْفًا مِّنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ اَلْـٰٔنَ خَفَّفَ اللّٰهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ اَنَّ فِيْكُمْ ضَعْفًاۗ فَاِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ مِّائَةٌ صَابِرَةٌ يَّغْلِبُوْا مِائَتَيْنِۚ وَاِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ اَلْفٌ يَّغْلِبُوْٓا اَلْفَيْنِ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

 Wahai Nabi (Muhammad), cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagi engkau dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.”

“Wahai Nabi (Muhammad), kobarkanlah semangat orang-orang mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh); dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir karena mereka (orang-orang kafir itu) adalah kaum yang tidak memahami.”

“Sekarang (saat turunnya ayat ini) Allah telah meringankan kamu karena Dia mengetahui sesungguhnya ada kelemahan padamu. Jika di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh) dan jika di antara kamu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Syarat mampu mengalahkan pasukan musuh adalah “shabar” (ulet, tabah, tahan banting, sabar cobaan, disiplin komando, dan tak tergiur bujuk rayu “syetan”). Dalam ayat di atas, jika sabar, maka 1 orang prajurit, akan mampu mengalahkan 10 prajurit lawan. Dalam Perang Badar, 313 pasukan muslim mampu mengalahkan 1000 prajurit musuh, padahal jumlahnya 3 kali lipat.

Pada Perang Uhud, nasib pasukan muslim berbeda akhir kesudahannya dengan Perang Badar, yang dimenangkan pasukan kafir Makkah.

Namun sebelum dua pasukan ini bertemu dalam medan laga, pasukan muslim yang awalnya berjumlah ± 1000 (seribu) orang prajurit, 300 (tiga ratus) orang melakukan disersi (lari dari pasukan) dan kembali ke Madinah. Mereka adalah kelompok munafiq yang dipimpin Abdullah ibn Ubay.

Dari peristiwa ini, sejak dahulu kala, pihak pasukan yang membela kebenaran pun atau yang berjuang di Jalan Allah, biasa kalau ada yang melakukan disersi, berkhianat, atau mencari amannya sendiri.

Jika pun dalam perjuangan memperjuangkan kemerdekaan rakyat Nusantara yang dimulai dari Aceh hingga Papua (Irian Jaya), bila ada yang menjadi pengkhianat perjuangan, bahkan bergabung dengan musuh (VoC, atau Belanda), dalam sejarah perjuangan bangsa mana pun, sudah biasa, pengkhianat akan ada.

Jika zaman sekarang ada kelompok yang memperjuangkan kebenaran, lalu ada anggota kelompok yang membelot dan menjadi “bala tentara” musuh, sudah menjadi hal yang biasa, kadang-kadang dan bahkan selalu ada. Ada saja kelompok atau tokoh yang “menggunting dalam lipatan”.

Dalam pertempuran Uhud, kondisi pasukan muslim dibagi menjadi 2 fase. Fase pertama dimenangkan pihak muslim; sedang fase kedua, dimenangkan pihak kafir Makkah. Penanda antara 2 fase ini adalah posisi pasukan pemanah muslim di Bukit Uhud, yang ditetapkan Nabi saw. untuk selalu berada di atas bukit dalam situasi dan kondisi apapun. Ingat! Saat itu senajata masih sangat tradisional: Pedang, tombak, dan panah. Sehingga dalam penempatan posisi pasukan, sangat berpengaruh ke dalam posisi menang atau kalah. Dan, posisi paling setrategis pada Perang Uhud adalah penguasaan atas bukit Uhud agar mudah melontarkan senjata tradisional ke pihak musuh.

Nabi memberi komando kepada pasukan pemanah muslim yang berjumlah 50 orang, harus berada di atas bukit Uhud untuk menghujani pasukan Qurasiy dengan panah. Karena pasukan muslim ada di atas bukit Uhud, pasukan muslim mampu menguasai medan perang, sehingga dengan mudah menghujani para musuh dengan anak panah, yang membuat pasukan kafir Quraisy lari tunggang langgang meninggalkan medan perang, harta benda yang dibawa sebagai pasokan logistik prajurit juga ditinggalkan, makanan, perhiasan, unta, kuda, dan senjata yang dibawa, ditinggalkan begitu saja.

Melihat pasukan musuh kocar-kacir, lari tunggang-langgang, dengan meninggalkan harta benda, persenjataan, dan logistik mereka, pasukan pemanah sebagian tergiur dengan rampasan perang yang ada di depan mata mereka. Turunlah sebagian besar pasukan pemanah untuk mengumpulkan dan mengambil “ghanimah” (rampasan perang) yang ditinggalkan musuh, tinggal kepala pasukan pemanah yaitu Hamzah ibn Abdul Muthalib. Sahabat Hamzah sudah memberi peringatan dan mencegah pasukan pemanah turun ke bawah untuk mengambil ghanimah, namun mereka tidak menghiraukan perintah Komandan Hamzah.

Khalid ibn Walid mengetahui pasukan pemanah turun, Khalid lalu membawa pasukannya lewat belakang bukit Uhud untuk merebut posisi pasukan pemanah muslim. Saat tiba di tempat pasukan pemanah muslim, Hamzah dan beberapa sahabat Nabi lainnya tidak mampu menahan serbuan pasukan Khalid, akhirnya pasukan muslim balik dipukul mundur oleh pasukan Khalid ibn Walid.

Karena kejadian tersebut, pasukan muslim akhirnya kalah perang. Hamzah paman Nabi, meninggal sebagai syahid, dan Nabi pun terluka, sehingga gigi serinya pecah kena lemparan batu. Gambaran jelas tentang perang Uhud mengapa pasukan muslim kalah, dijelaskan oleh Allah dalam QS. Ali Imran/3: 152-153:

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّٰهُ وَعْدَهٗٓ اِذْ تَحُسُّوْنَهُمْ بِاِذْنِهٖ ۚ حَتّٰىٓ اِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِى الْاَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَآ اَرٰىكُمْ مَّا تُحِبُّوْنَ ۗ مِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الْاٰخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۚ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ ۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ ۞ اِذْ تُصْعِدُوْنَ وَلَا تَلْوٗنَ عَلٰٓى اَحَدٍ وَّالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ فِيْٓ اُخْرٰىكُمْ فَاَثَابَكُمْ غَمًّا ۢبِغَمٍّ لِّكَيْلَا تَحْزَنُوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا مَآ اَصَابَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Sungguh, Allah benar-benar telah memenuhi janji-Nya kepadamu ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu (dalam keadaan) lemah, berselisih dalam urusan itu, dan mengabaikan (perintah Rasul) setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada (pula) orang yang menghendaki akhirat. Kemudian, Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu. Sungguh, Dia benar-benar telah memaafkan kamu. Allah mempunyai karunia (yang diberikan) kepada orang-orang mukmin.”

“(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada siapa pun, sedangkan Rasul (Muhammad) memanggilmu dari belakang. Oleh karena itu, Allah menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan agar kamu tidak bersedih hati (lagi) terhadap apa yang luput dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Mengapa pasukan pemanah terkecoh dengan rampasan perang? Kata Allah, “Karena mereka terpedaya rayuan “syetan”, kata Allah dalam QS. Ali Imran/3: 155:

اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۙ اِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطٰنُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوْا ۚ وَلَقَدْ عَفَا اللّٰهُ عَنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ ࣖ

“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu pada hari ketika dua pasukan bertemu,sesungguhnya mereka hanyalah digelincirkan oleh setan disebabkan sebagian kesalahan (dosa) yang telah mereka perbuat. Allah benar-benar telah memaafkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”

“Syetan” di sini jangan diberi makna syetan secara lahiriah dari bangsa Jin sebagai Iblis, namun harus dibaca sebagai sifat “kesyetanan” manusia yang terpukau oleh gemerlap duniawi bila mengenakan pakaian kemewahan, terbayang: “Betapa mulianya dengan harta kekayaan sebesar itu?” ini seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Nas/114: 4-6.

Jadi, pasukan pemanah terpedaya oleh gemerlap duniawi, terbayang di imajinasi mereka, jika mereka mengenakan semua kemewahan itu pasca perang, memakai perhiasan emas, pakaiwan mewah, kendaraan unta atau kuda yang bagus dan mahal, persediaan makanan yang melimpah. Mereka terkecoh hedonisme duniawi, yang berakibat kekalahan. Mengalahkan musuh tidak harus dengan senjata, dengan hadiah pun musuh bisa takluk. Karena itu, dalam kisah raja-raja dan kerajaan, pemberian hadiah emas, atau uang perak, dan perhiasan lainnya sudah menjadi kebiasaan untuk menghindari peperangan, penaklukkan, atau pembumi hangusan. Satu syarat: Bayar upeti (dalam bentuk apa pun, termasuk emas di dalamnya) sebagai tanda persahabatan.

Pada Perang Diponegoro (1825 M- 1830 M) yang dalam sejarah Belanda disebut dengan “Perang Jawa”, ada juga “pengkhianat” yang mau bekerjasama dengan Belanda dan mundur dari pasukan diponegoro, sebutlah Sentot Ali Basha. Setelah berdamai dengan Belanda dengan kompensasi diperbolehkan memiliki pasukan sendiri dengan persenjataannya, diberi gaji oleh VoC, dan dijanjikan akan diangkat jadi sultan di tanah seberang –Sumatera--, akhirnya juga Sentot Prawirodirjo dan pasukannya dikirim ke Sumatera Barat untuk berhadapan dengan saudaranya sendiri yang se-iman dan se-agama dalam Perang Paderi. Sentot dan pasukannya diadu dengan saudaranya sendiri. Mitip sekarang, dulu sama-sama berjuang melawan kepalsuan, sekarang “disuruh-suruh” melawan temannya sendiri. Naif. 

2.     Berjuang, bukan disersi

 Jika dalam perjuangan mencari kebenaran, ada yang melakukan disersi (lari dari pasukan), maka dalam sejarah sering terjadi, tidak usah kaget dan heran, jika pun pasukan solid dan tidak ada yang disersi, syukuri dan tawadlu’, namun jangan lengah untuk selalu siaga (rabithu).

Dalam sejarah perjuangan para nabi dan pejuang profetik, kisahnya selalu melawan penyimpangan moral, penindasan, ketidakadilan, ingkar ajaran Tuhan oleh kekuasaan kelompok, kaum, atau pun negara (raja), atau pun yang merusak tatanan sosial, baik moral, ekonomi, budaya, dan ruhani.

Yang melawan kekuasaan, ada Nabi Ibrahim melawan Namrud, Musa melawan Fir’aun, Dawud melawan Jalut. Ada yang melawan feodalisme klan seperti Nabi Muhammad. Dan yang paling heroik adalah kisah perjuangan Nabi Musa menghadapi tirani Fir’aun sebagai penguasa Mesir sehingga diabadaikan dalam al-Qur’an dan Nabi yang paling banyak disebut namanya.

Kalau sekarang ada yang mengaku terinspirasi kisah heroik Nabi Musa melawan Fir’aun, karena Musa begitu heroik dalam melawam kekuasaan tiranik Fir’aun yang di dalam al-Qur’an (QS. Al-Baqarah/2: 49) disebutkan melakukan pemusnahan etnik Yahudi (genosida) dengan membunuh para lelaki dan membiarkan hidup para wanita, agar kekuasaannya tetap tegak dan langgeng.

وَاِذْ نَجَّيْنٰكُمْ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُوْنَ اَبْنَاۤءَكُمْ وَيَسْتَحْيُوْنَ نِسَاۤءَكُمْ ۗ وَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ

 “(Ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Pada yang demikian terdapat cobaan yang sangat besar dari Tuhanmu.” 

Fir’aun disebut dalam al-Qur’an perbuatannya sudah melampaui batas, melanggar aturan sosial dan agama, dengan memperbudak bangsa Israil, membunuh bayi laki-laki keturunan Israil, dan mengaku sebagai tuhan. Musa sebagai utusan Ilahi disuruh mendatangi fir’aun untuk mengingatkan kekeliruan kebijakan dan kesombongan dirinya yang mengaku sebagai tuhan, karena kekuasaanya yang mutlak dan tidak ada yang berani melawannya. Semua kekuasaan digenggamnya, baik eksekuti, yudikatif, maupun legislatif, tinggal menyuruh para pembesarnya untuk mengeksekusi, menghukum, atau membuat aturan yang memperkuat kekuasaannya. Segala kekuasaan ada di tangannya, yang lain adalah tangan kanannya.

Yang paling terkenal adalah titah Tuhan kepada Musa dalam Qs. Al-Nazi’at/79: 17-26:

اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ فَقُلْ هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰىۙ وَاَهْدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخْشٰىۚ فَاَرٰىهُ الْاٰيَةَ الْكُبْرٰىۖ فَكَذَّبَ وَعَصٰىۖ ثُمَّ اَدْبَرَ يَسْعٰىۖ فَحَشَرَ فَنَادٰىۖ فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ فَاَخَذَهُ اللّٰهُ نَكَالَ الْاٰخِرَةِ وَالْاُوْلٰىۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى ۗ ࣖ

 17.  “Pergilah engkau kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas.

18.  Lalu, katakanlah (kepada Fir‘aun), ‘Adakah keinginanmu untuk menyucikan diri (dari kesesatan)

19.  dan aku akan menunjukimu ke (jalan) Tuhanmu agar engkau takut (kepada-Nya)?’”

20.  Lalu, dia (Musa) memperlihatkan mukjizat yang besar kepadanya.

21.  Akan tetapi, dia (Fir‘aun) mendustakan (kerasulan) dan mendurhakai (Allah).

22.  Kemudian, dia berpaling seraya berusaha (menantang Musa).

23.  Maka, dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), lalu berseru (memanggil kaumnya).

24.  Dia berkata, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.”

25.  Maka, Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan (siksaan) di dunia.

26.  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah). 

Dalam QS. Al-Nazi’at ini, Allah menyebut Fir’aun telah berbuat “thagha” (طغى), kelewat batas, di luar batas kewajaran. Musa disuruh Allah untuk mengingatkan Fir’aun biar sadar. Siapa tau mau memperbaiki diri dan kembali ke Jalan Tuhan.

Suruhan Allah kepada Musa dan Harun untuk menemui Fir’aun, biar dia sadar bahwa dirinya bukan Tuhan, namun manusia biasa yang hanya karena saat ini memegang kekuasaan sebagai raja, dia dirajakan rakyat, ditakuti, dan dihormati. Bukti bahwa Fir’aun bukan Tuhan, namun manusia biasa, adalah ketika Musa mengatakan bahwa Tuhannya Musa dan Harun adalah Tuhan bapak moyangnya Fir’aun juga. QS. Al-Syu’ara’/26: 23-26:

قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ قَالَ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَاۗ اِنْ كُنْتُمْ مُّوْقِنِيْنَ قَالَ لِمَنْ حَوْلَهٗٓ اَلَا تَسْتَمِعُوْنَ قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ اٰبَاۤىِٕكُمُ الْاَوَّلِيْنَ 

23.  Fir‘aun berkata, “Siapa Tuhan semesta alam itu?”

24.  Dia (Musa) menjawab, “Tuhan (pencipta dan pemelihara) langit, bumi, dan segala yang ada di antaranya jika kamu orang-orang yang yakin.”

25.  Dia (Fir‘aun) berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Tidakkah kamu mendengar (apa yang dikatakannya)?”

26.  Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”

Musa ingin menyatakan, bahwa Tuhan yang sebenarnya adalah Tuhan yang mencipta langit, bumi, dan segala yang ada, termasuk Fir’aun itu sendiri. Fir’aun menganggap Musa ngigau, mengada-ada, melawan kekuasaan yang digenggamnya, karena tidak mengakui Fir’aun sebagai Tuhan, bahkan menyebut Tuhan Yang Maha Esa sebagai tuhan dengan ejekan, “Dia berkata kepada para pejabat yang ada di sekelilingnya, “Dengar apa yang dikatakan Musa”, namun dengan nada mengejek dan merendahkan.

Jika kamu Tuhan, maka bapak moyangmu yang melahirkan Fir’aun zaman Musa, juga menuhankan Tuhan Yang Maha Esa, dan bapak moyangmu adalah yang melahirkan Fir’aun yang dulu tidak tahu apa-apa, merangkak, berjalan, besar, dst., lalu sekarang mengaku Tuhan. Di mana logika warasnya. Tidak ada.

Jadi yang dibawa Musa dan Harun saat mendatangi Fir’aun adalah misa risalah kenabian dan misi dakwah untuk mengingatkan kesalahan penguasa dan menyampaikan kebenaran. Bukan minta dibebaskan dari hukuman Fir’aun, minta ampun, dan minta maaf, apalagi minta “sedekah” kepada Fir’aun.

Musa datang ke Fir’aun juga punya misi pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Raja Fir’aun. Bukan datang untuk membebaskan dirinya sendiri agar tidak dikejar-kejar Fir’aun dan balatentara-nya, di mana Musa pernah terlibat perkelahian sehingga menewaskan lawannya dari bangsa Qibty. Musa datang bukan minta maaf dan minta ampun agar terbebas dari “tuntutan” Fir’aun. Qs. Al-A’raf/7: 104-105: 

وَقَالَ مُوْسٰى يٰفِرْعَوْنُ اِنِّيْ رَسُوْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ حَقِيْقٌ عَلٰٓى اَنْ لَّآ اَقُوْلَ عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ قَدْ جِئْتُكُمْ بِبَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَرْسِلْ مَعِيَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ۗ

 “104.  Musa berkata, “Wahai Fir‘aun, sesungguhnya aku adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam.

105.  Wajib atasku tidak mengatakan (sesuatu) terhadap Allah, kecuali yang hak (benar). Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka, lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku.”

 3.     Menegakkan kebenaran

Musa bukan datang untuk minta maaf, apalagi minta uang “mahar” sebagai kompensasi politik agar tidak menuntut atas ketidakadilan dan perlakuan buruk kepada Suku Israil. Misi Musa dan Harun adalah menegakkan kebenaran dan misi pembebasan kemanusian dari penindasan dan kesewenang-wenangan. Musa dan Harun tidak datang untuk minta bebas dari kejaran balatentara Fir’aun dan para pembesarnya, apalagi kompensasi uang dari Fir’aun. Bahkan Musa tetap dikejar-kejar Fir’aun dan balatentaranya hingga lari ke laut Merah dan menyeberang ke Sinai untuk selamat dari kejaran Fir’aun dan balatentaranya.

Musa tidak pernah mengendorkan perjuangannya, dan tidak pernah mengatakan Fir’aun lebih baik akhlaknya dibandingkan dengan Musa dan Harun, hanya untuk dapat pengampunan Fir’aun dan oligarkinya.

Musa dan Harun mengatakan kebenaran di hadapan Fir’aun, bukan minta “welas asih” (belas kasih) dari penguasa. Biar jelas pokok perkaranya, mana yang benar dan mana yang salah. Inilah makna penting dari sabda Nabi saw., bahwa: 

أي الجهاد أفضل؟ قول الحق عند سلطان جائر

 Jihad yang paling afdlal adalah menyatakan kebenaran di hadapan penguasa yang lalim.

 Mengapa mengatakan kebenaran di hadapan penguasa tiran bernilai tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya, karena resikonya besar. Bila kebenaran diterima penguasa, maka pengaruhnya sangat besar kepada rakyat umum, namun bila sang penguasa menolak, taruhannya nyawa. Musa dan Harun tidak takut mempertaruhkan nyawanya demi membela kebenaran dan membela hak-hak rakyat kecil dan lemah.

 4.     Pembebasan kemanusiaan

 Musa dan Harun berdarah-darah dalam membela kebenaran dan membela rakyat Israil, bukan untuk memperoleh duit milyaran untuk membeli kendaraan mewah lalu dipamerkan ke khalayak umum, rakyat di saentero negeri.

Musa dan Harun datang ke Fir’aun bukan untuk menjilat pantat Fir’aun untuk memperoleh jabatan, kekuasan, atau pun harta kekayaan. Musa dan Fir’aun murni berjuang menegakkan kebenaran dan memperjuangkan pembebasan rakyat Israil dan penindasan Fir’aun dan kroninya.

Nabi Musa dan Nabi Harun setelah bertemu Fir’aun tidak lantas memuji-muji Fir’aun dan para pembesarnya, Musa dan Harun malah diajak “tanding” dengan para jagoan Istana dan para “taipan” untuk menguji kehebatan Musa dan Harun, bukan malah “deal-deal”-an dengan Fir’aun dan para penggedenya. Mengapa? Karena tidak ada “titik temu” untuk saling “undestanding”. Karena sama-sama tidak ada yang mengalah, maka terjadilah “adu tanding” antara kekuatan Musa dengan kekuatan Fir’aun, hingga kejar-kejaran sampai ke Laut Merah, di mana akhirnya Fir’aun tenggelam di laut tersebut.

Nabi Musa dan Nabi Harun setelah bertemu Fir’aun tidak lalu balik arah menyerang teman seperjuangan yang dulu membersamai untuk melawan Fir’aun, malah semakin solid perlawanannya pada kezhaliman Fir’aun yang akhirnya dapat dikalahkan.

 5.     Terluka

 Para pejuang kebenaran dan pejuang di Jalan Tuhan saat berhadapan musuh, resiko terluka karena peperangan hal biasa, karena musuh pun sama-sama menerima resiko terluka yang sama meski berjuang di Jalan Syetan, jalan kesesatan, jalan keburukan. Namun musuh memiliki keberanian karena ada “background” kehidupan, kemewahan, janji kebahagiaan, jabatan, dan lainnya.

Resiko terluka digambarkan dalam al-Qur’an dalam QS. Ali Imran/3: 140:

اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗ ۗوَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan Allah mengetahui orang-orang beriman (yang sejati) dan sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Allah tidak menyukai orang-orang zalim.”

 6.     Terbunuh

Lebih dari sekedar terluka, maka kematian, terbunuh, adalah resiko perjuangan. Dan, resiko yang sama juga dihadapi oleh pejuang kesesatan. Cuma bagi kelompok yang ragu, memang akan muncul rasa was-was dan kekhawatiran, namun bagi kelompok yang ikhlas berjuang, pasti punya keyakinan bahwa perjuangan memerlukan pengorbanan jiwa, raga, dan harta. Resiko apa pun siap dihadapi termasuk kematian, namun jika ditaqdirkan syahid, maka Surga tempatnya. Tidak ada rasa penyesalan, bahkan kebahagiaan. 

7.     Akhir perjuangan: Kemuliaan atau kelaliman

 Semua resiko itu akan dirasakan semua kelompok pejuang, baik pejuang kebenaran di Jalan Allah maupun perjuangan kesesatan di Jalan Syetan, namun saat perjuangan kebenaran tersebut berhasil, maka kemuliaan yang akan didapat, namun jika jalan kesesatan yang menang, maka kelaliman akan terjadi di mana-mana.

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Obituari Kanda Kaeladzi

الحاكم (الصادر الحكم بين أهل الرأي و أهل التقليدي

K.H. Ja'far Yasa': Kyai yang Bersahaja