AIR UJIAN PEJUANG KEBENARAN
AIR
UJIAN PEJUANG KEBENARAN
1.
Air
Ujian
Allah mengisahkan secara
gamblang perilaku pasukan yang mau berlaga di medan perang: 1. Ada kelompok
pasukan yang mencari “air kehidupan”; 2. Ada kelompok pasukan yang
berjuang untuk menegakkan kebenaran, berjuang di Jalan Allah, berjuang di Jalan
Tuhan. Allah menggambarkan dua sikap pasukan saat melihat “air kehidupan” yang
melimpah di sungai sebagai “air ujian”, bukan “batu ujian”. Batu
ujian terjadi manakala ujiannya berbentuk kekerasan, luka, kesedihan, atau
kekalahan, bahkan memang betul-betul batu sungguhan yang menghantam, seperti
saat Perang Uhud.
Saat berhadapan
dengan air, tentu semua pasukan perlu asupan air untuk menghilangkan kehausan. Ada
pasukan yang minum sepuas-puasnya, meminum sebanyak-banyaknya, melahap air
dengan serakah. Tampak hedonisme kehidupan duniawi seterang-terangnya. Jika
perilaku yang ditampilkan seperti ini, kataAllah, “Bukan sebagai kelompok
pejuang.” Ada juga pasukan yang saat menemukan “air kehidupan”, hanya minum ala
kadarnya, sekedar menyambung hidup. Minum air bukan tujuan akhir, bukan tujuan
utama, sekedar untuk hidup, tujuan utamanya adalah menegakkan kebenaran,
menegakkan Jalan Tuhan. Air hanya sebagai perantara belaka untuk sekedar
menyambung hidup agar hidup bisa dalam jalan yang benar dan ada di Jalan Tuhan.
Pasukan jenis ini adalah disebut Allah sebagai pasukan pejuang yang hanya
berjuang demi kebenaran, berjuang di Jalan Tuhan.
Implikasi dari
sikap batin dua jenis pasukan ini, endingnya berbeda saat berhadapan
dengan musuh, apalagi musuhnya lebih banyak, lebih lengkap persenjataan dan ketersediaan
logistiknya. Yang berorientasi duniawi, kemewahan, pangkat, dan keuntungan
pribadi, keluarga atau kroni, akan berkata, “Tidak mungkin mengalahkan
pasukan besar dengan kekuatan terbatas seperti ini.” Sedang pasukan yang
ikhlas berjuang penuh optimisme, punya keyakinan, “Banyak kelompok pasukan
kecil mampu mempecudangi pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya.” Firman
Allah tersebut adalah QS. Al-Baqarah/2: 249:
فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوْتُ بِالْجُنُوْدِ قَالَ
اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْكُمْ بِنَهَرٍۚ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْۚ وَمَنْ
لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِنَّهٗ مِنِّيْٓ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً ۢبِيَدِهٖ ۚ فَشَرِبُوْا
مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۗ فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
مَعَهٗۙ قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ ۗ قَالَ الَّذِيْنَ
يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ ۙ كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ
فِئَةً كَثِيْرَةً ۢبِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
“Air Sungai” adalah
metafora belaka, jika “air” dijadikan simbol “sumber kehidupan” bagi makhluk
hidup, termasuk manusia, di mana manusia sendiri kandungan air dalam
tubuhnya mencapai sekitar 55% hingga 78% dari total berat badan, atau
rata-rata 60-70% pada orang dewasa. Proporsi ini bervariasi berdasarkan usia
dan jenis kelamin: bayi memiliki kadar air tertinggi (~80%), sementara lansia
lebih rendah (~50%). (AI)-- maka manusia tanpa air, tidak bisa hidup. Air
sangat vital dan menjadi kebutuhan pokok bagi kelangsungan hidup manusia. Maka
manusia perlu sekali kepada air agar bisa bertahan hidup. Problemnya: Apakah
manusia harus meneguk sebanyak-banyaknya air sehingga “kelempoken”
(Jawa), sehingga tidak mampu membawa badannya sendiri, bahkan tenggelam di air
seperti Fir’aun karena terlalu banyak “minum” air? Ataukah minum sesuai
kebutuhan badan sehigga tubuh manusia cukup nutrisinya?
Ada yang serakah, hidupnya hedonis, sehingga
meneguk air kehidupan sebanyak-banyak, andai diminum, tidak habis tujuh
keturunan. Ada yang minum secukupnya, yang penting bisa hidup, yang dibutuhkan hidup
Adalah ketentraman, sandang papan cukup, dekat dengan Tuhan, sudah
membahagiakan; bukan kemewahan, gemericik perhiasan, kesenangan duniawi, dan
fatamorgana duniawi lainnya.
Memang, manusia
perlu air, jangan sampai dehidrasi, namun kalau kebanyakan minum, menjadi “kelempoken”
kata orang Jawa, badan malah menjadi lemah, lemas, sulit bergerak, kurang
lincah, karena perut penuh air. Minum hanya dianjurkan 2 liter dalam
sehari-semalam, bila kebanyakan juga kurang baik badi badan. Minum secukupnya
saja! Manusia biasa saja tidak dianjurkan terlalu banyak minum, apalagi
prajurit, tentu banyak syarat dan pantangan yang harus dihindari oleh prajurit.
Manakala dilanggar, maka “kekuatan”-nya akah hilang, “kesaktiannya” akan musnah.
Ibarat pemuka masyarakat, manakala melakukan maksiat, maka “marwah”-nya hilang.
Begitulah, bila prajurit kehilangan “senjatanya”, maka hilanglah
keistimewaannnya.
Berjuang tentu
banyak tantangan dan cobaan, apalagi bila musuh memiliki jumlah pasukan yang
lebih besar dan jumlah cadangan logistik yang sangat besar juga, tentu bisa
mengecilkan nyali pejuang untuk mengalahkan pasukan lawan.
Dalam teori klasik
dan moderen, jumlah pasukan tidak menentukan kemenangan peperangan. Kualitas
pasukan yang menentukan kemenangan peperangan.
Dalam perang Badar,
jumlah pasukan muslim, kalah jauh dibandingkan dengan kekuatan pasukan Qurasiy,
bahkan al-Qur’an sendiri menyebut pasukan muslim sebagai “adzillah” (lemah,
“hina”, “rendah” [menurut pandangan pembesar musyrik]), baik dari segi jumlah,
logistik, dan psikis (QS. Ali Imran/3: 123). Namun berkat pemimpinnya kuat
dalam membangun mental pasukan, membangun persiapan, dan taktik perang yang
hebat, dari posisi lemah, berubah menjadi pasukan yang kuat, gagah, dan
perkasa. Terbukti dari duel 1 (satu) lawan 1 (satu) antara prajurit muslim dan
jusyrik, prajurit muslim selalu mengalahkan prajurit musyrik Quraisy.
Endingnya, pasukan muslim pada perang Badar dengan jumlah yang sedikit, mampu
mengalahkan pasukan Quraisy yang lebih besar. Bayangkan, dari masyarakat yang
“terusir” dari negerinya sendiri, Makkah al-Mukarramah, mampu membangun pasukan
istimewa sekitar 313-317 tentara, lalu mampu mengalahkan pasukan Quraish yang
jumlahnya ± 1000 tentara, dengan segala kelebihan kuantitas, logistik,
kendaraan tempur, dan semangat korsa yang tinggi.
Dalam menaklukkan
Andalusia melalui “Jabal Thariq”, Thariq ibn Ziyad hanya membawa 10.000
(sepuluh ribu) pasukan, mampu menaklukkan wilayah Andalusia, Semenanjung
Iberia.
Saat Belanda
menjajah Nusantara, pasukan Belanda tak sebanyak laskar pasukan
kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara, namun kualitas pasukan dan
persenjataan pasukan, menjadi penentu kemenangan, termasuk kualitas untuk
berbuat licik dan mengadu domba antar bumi putera.
Inilah makna dari
firman Allah, bahwa jika pasukannya “shabar” (صبر), --menjadi kata “sabar” dalam
bahasa Indonesia yang memiliki makan: “Tabah, taham uji, tahan banting, teguh
pendirian,”-- maka 1 (satu) orang prajurit akan mampu mengalahkan 10 (sepuluh)
orang pasukan lawan, dan hukum lipatannya
terus begitu hingga hitungan seterusnya. Kata Allah dalam QS. Al-Anfal/8:
64-66:
يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللّٰهُ وَمَنِ
اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ࣖ يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِيْنَ
عَلَى الْقِتَالِۗ اِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ عِشْرُوْنَ صٰبِرُوْنَ يَغْلِبُوْا مِائَتَيْنِۚ
وَاِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ مِّائَةٌ يَّغْلِبُوْٓا اَلْفًا مِّنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا
بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ اَلْـٰٔنَ خَفَّفَ اللّٰهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ
اَنَّ فِيْكُمْ ضَعْفًاۗ فَاِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ مِّائَةٌ صَابِرَةٌ يَّغْلِبُوْا
مِائَتَيْنِۚ وَاِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ اَلْفٌ يَّغْلِبُوْٓا اَلْفَيْنِ بِاِذْنِ اللّٰهِ
ۗوَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
“Wahai Nabi (Muhammad), kobarkanlah semangat orang-orang
mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu,
niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh); dan jika ada seratus
orang (yang sabar) di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu
orang kafir karena mereka (orang-orang kafir itu) adalah kaum yang tidak
memahami.”
“Sekarang (saat turunnya ayat ini) Allah telah
meringankan kamu karena Dia mengetahui sesungguhnya ada kelemahan padamu. Jika
di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan
dua ratus (orang musuh) dan jika di antara kamu ada seribu orang (yang sabar),
niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Allah
beserta orang-orang yang sabar.”
Syarat mampu
mengalahkan pasukan musuh adalah “shabar” (ulet, tabah, tahan banting,
sabar cobaan, disiplin komando, dan tak tergiur bujuk rayu “syetan”). Dalam
ayat di atas, jika sabar, maka 1 orang prajurit, akan mampu mengalahkan 10
prajurit lawan. Dalam Perang Badar, 313 pasukan muslim mampu mengalahkan 1000
prajurit musuh, padahal jumlahnya 3 kali lipat.
Pada Perang Uhud,
nasib pasukan muslim berbeda akhir kesudahannya dengan Perang Badar, yang
dimenangkan pasukan kafir Makkah.
Namun sebelum dua
pasukan ini bertemu dalam medan laga, pasukan muslim yang awalnya berjumlah ±
1000 (seribu) orang prajurit, 300 (tiga ratus) orang melakukan disersi (lari
dari pasukan) dan kembali ke Madinah. Mereka adalah kelompok munafiq yang
dipimpin Abdullah ibn Ubay.
Dari peristiwa ini,
sejak dahulu kala, pihak pasukan yang membela kebenaran pun atau yang berjuang
di Jalan Allah, biasa kalau ada yang melakukan disersi, berkhianat, atau
mencari amannya sendiri.
Jika pun dalam
perjuangan memperjuangkan kemerdekaan rakyat Nusantara yang dimulai dari Aceh
hingga Papua (Irian Jaya), bila ada yang menjadi pengkhianat perjuangan, bahkan
bergabung dengan musuh (VoC, atau Belanda), dalam sejarah perjuangan bangsa
mana pun, sudah biasa, pengkhianat akan ada.
Jika zaman sekarang
ada kelompok yang memperjuangkan kebenaran, lalu ada anggota kelompok yang
membelot dan menjadi “bala tentara” musuh, sudah menjadi hal yang biasa,
kadang-kadang dan bahkan selalu ada. Ada saja kelompok atau tokoh yang
“menggunting dalam lipatan”.
Dalam pertempuran
Uhud, kondisi pasukan muslim dibagi menjadi 2 fase. Fase pertama dimenangkan
pihak muslim; sedang fase kedua, dimenangkan pihak kafir Makkah. Penanda antara
2 fase ini adalah posisi pasukan pemanah muslim di Bukit Uhud, yang ditetapkan
Nabi saw. untuk selalu berada di atas bukit dalam situasi dan kondisi apapun.
Ingat! Saat itu senajata masih sangat tradisional: Pedang, tombak, dan panah.
Sehingga dalam penempatan posisi pasukan, sangat berpengaruh ke dalam posisi
menang atau kalah. Dan, posisi paling setrategis pada Perang Uhud adalah penguasaan
atas bukit Uhud agar mudah melontarkan senjata tradisional ke pihak musuh.
Nabi memberi
komando kepada pasukan pemanah muslim yang berjumlah 50 orang, harus berada di
atas bukit Uhud untuk menghujani pasukan Qurasiy dengan panah. Karena pasukan
muslim ada di atas bukit Uhud, pasukan muslim mampu menguasai medan perang, sehingga
dengan mudah menghujani para musuh dengan anak panah, yang membuat pasukan
kafir Quraisy lari tunggang langgang meninggalkan medan perang, harta benda
yang dibawa sebagai pasokan logistik prajurit juga ditinggalkan, makanan,
perhiasan, unta, kuda, dan senjata yang dibawa, ditinggalkan begitu saja.
Melihat pasukan
musuh kocar-kacir, lari tunggang-langgang, dengan meninggalkan harta benda,
persenjataan, dan logistik mereka, pasukan pemanah sebagian tergiur dengan
rampasan perang yang ada di depan mata mereka. Turunlah sebagian besar pasukan
pemanah untuk mengumpulkan dan mengambil “ghanimah” (rampasan perang)
yang ditinggalkan musuh, tinggal kepala pasukan pemanah yaitu Hamzah ibn Abdul
Muthalib. Sahabat Hamzah sudah memberi peringatan dan mencegah pasukan pemanah
turun ke bawah untuk mengambil ghanimah, namun mereka tidak menghiraukan
perintah Komandan Hamzah.
Khalid ibn Walid
mengetahui pasukan pemanah turun, Khalid lalu membawa pasukannya lewat belakang
bukit Uhud untuk merebut posisi pasukan pemanah muslim. Saat tiba di tempat
pasukan pemanah muslim, Hamzah dan beberapa sahabat Nabi lainnya tidak mampu
menahan serbuan pasukan Khalid, akhirnya pasukan muslim balik dipukul mundur
oleh pasukan Khalid ibn Walid.
Karena kejadian
tersebut, pasukan muslim akhirnya kalah perang. Hamzah paman Nabi, meninggal
sebagai syahid, dan Nabi pun terluka, sehingga gigi serinya pecah kena lemparan
batu. Gambaran jelas tentang perang Uhud mengapa pasukan muslim kalah,
dijelaskan oleh Allah dalam QS. Ali Imran/3: 152-153:
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّٰهُ وَعْدَهٗٓ اِذْ تَحُسُّوْنَهُمْ
بِاِذْنِهٖ ۚ حَتّٰىٓ اِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِى الْاَمْرِ وَعَصَيْتُمْ
مِّنْۢ بَعْدِ مَآ اَرٰىكُمْ مَّا تُحِبُّوْنَ ۗ مِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الدُّنْيَا
وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الْاٰخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ
ۚ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ ۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ ۞ اِذْ تُصْعِدُوْنَ
وَلَا تَلْوٗنَ عَلٰٓى اَحَدٍ وَّالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ فِيْٓ اُخْرٰىكُمْ فَاَثَابَكُمْ
غَمًّا ۢبِغَمٍّ لِّكَيْلَا تَحْزَنُوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا مَآ اَصَابَكُمْ
ۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Sungguh, Allah benar-benar telah memenuhi janji-Nya kepadamu
ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu (dalam
keadaan) lemah, berselisih dalam urusan itu, dan mengabaikan (perintah Rasul)
setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada
orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada (pula) orang yang
menghendaki akhirat. Kemudian, Allah memalingkan kamu dari mereka untuk
mengujimu. Sungguh, Dia benar-benar telah memaafkan kamu. Allah mempunyai karunia
(yang diberikan) kepada orang-orang mukmin.”
“(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada
siapa pun, sedangkan Rasul (Muhammad) memanggilmu dari belakang. Oleh karena
itu, Allah menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan agar kamu tidak
bersedih hati (lagi) terhadap apa yang luput dari kamu dan terhadap apa yang
menimpamu. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Mengapa pasukan
pemanah terkecoh dengan rampasan perang? Kata Allah, “Karena mereka terpedaya
rayuan “syetan”, kata Allah dalam QS. Ali Imran/3: 155:
اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى
الْجَمْعٰنِۙ اِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطٰنُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوْا ۚ وَلَقَدْ
عَفَا اللّٰهُ عَنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ ࣖ
“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu pada
hari ketika dua pasukan bertemu,sesungguhnya mereka hanyalah digelincirkan oleh
setan disebabkan sebagian kesalahan (dosa) yang telah mereka perbuat. Allah
benar-benar telah memaafkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyantun.”
“Syetan” di sini
jangan diberi makna syetan secara lahiriah dari bangsa Jin sebagai Iblis, namun
harus dibaca sebagai sifat “kesyetanan” manusia yang terpukau oleh gemerlap
duniawi bila mengenakan pakaian kemewahan, terbayang: “Betapa mulianya
dengan harta kekayaan sebesar itu?” ini seperti yang dijelaskan dalam QS.
Al-Nas/114: 4-6.
Jadi, pasukan
pemanah terpedaya oleh gemerlap duniawi, terbayang di imajinasi mereka, jika
mereka mengenakan semua kemewahan itu pasca perang, memakai perhiasan emas,
pakaiwan mewah, kendaraan unta atau kuda yang bagus dan mahal, persediaan
makanan yang melimpah. Mereka terkecoh hedonisme duniawi, yang berakibat
kekalahan. Mengalahkan musuh tidak harus dengan senjata, dengan hadiah pun
musuh bisa takluk. Karena itu, dalam kisah raja-raja dan kerajaan, pemberian
hadiah emas, atau uang perak, dan perhiasan lainnya sudah menjadi kebiasaan
untuk menghindari peperangan, penaklukkan, atau pembumi hangusan. Satu syarat:
Bayar upeti (dalam bentuk apa pun, termasuk emas di dalamnya) sebagai tanda
persahabatan.
Pada Perang Diponegoro (1825 M- 1830 M) yang dalam sejarah Belanda disebut dengan “Perang Jawa”, ada juga “pengkhianat” yang mau bekerjasama dengan Belanda dan mundur dari pasukan diponegoro, sebutlah Sentot Ali Basha. Setelah berdamai dengan Belanda dengan kompensasi diperbolehkan memiliki pasukan sendiri dengan persenjataannya, diberi gaji oleh VoC, dan dijanjikan akan diangkat jadi sultan di tanah seberang –Sumatera--, akhirnya juga Sentot Prawirodirjo dan pasukannya dikirim ke Sumatera Barat untuk berhadapan dengan saudaranya sendiri yang se-iman dan se-agama dalam Perang Paderi. Sentot dan pasukannya diadu dengan saudaranya sendiri. Mitip sekarang, dulu sama-sama berjuang melawan kepalsuan, sekarang “disuruh-suruh” melawan temannya sendiri. Naif.
2. Berjuang, bukan disersi
Dalam sejarah
perjuangan para nabi dan pejuang profetik, kisahnya selalu melawan penyimpangan
moral, penindasan, ketidakadilan, ingkar ajaran Tuhan oleh kekuasaan kelompok,
kaum, atau pun negara (raja), atau pun yang merusak tatanan sosial, baik moral,
ekonomi, budaya, dan ruhani.
Yang melawan
kekuasaan, ada Nabi Ibrahim melawan Namrud, Musa melawan Fir’aun, Dawud melawan
Jalut. Ada yang melawan feodalisme klan seperti Nabi Muhammad. Dan yang paling
heroik adalah kisah perjuangan Nabi Musa menghadapi tirani Fir’aun sebagai
penguasa Mesir sehingga diabadaikan dalam al-Qur’an dan Nabi yang paling banyak
disebut namanya.
Kalau sekarang ada
yang mengaku terinspirasi kisah heroik Nabi Musa melawan Fir’aun, karena Musa
begitu heroik dalam melawam kekuasaan tiranik Fir’aun yang di dalam al-Qur’an
(QS. Al-Baqarah/2: 49) disebutkan melakukan pemusnahan etnik Yahudi (genosida)
dengan membunuh para lelaki dan membiarkan hidup para wanita, agar kekuasaannya
tetap tegak dan langgeng.
وَاِذْ نَجَّيْنٰكُمْ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ
سُوْۤءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُوْنَ اَبْنَاۤءَكُمْ وَيَسْتَحْيُوْنَ نِسَاۤءَكُمْ ۗ
وَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ
Fir’aun disebut
dalam al-Qur’an perbuatannya sudah melampaui batas, melanggar aturan sosial dan
agama, dengan memperbudak bangsa Israil, membunuh bayi laki-laki keturunan
Israil, dan mengaku sebagai tuhan. Musa sebagai utusan Ilahi disuruh mendatangi
fir’aun untuk mengingatkan kekeliruan kebijakan dan kesombongan dirinya yang
mengaku sebagai tuhan, karena kekuasaanya yang mutlak dan tidak ada yang berani
melawannya. Semua kekuasaan digenggamnya, baik eksekuti, yudikatif, maupun
legislatif, tinggal menyuruh para pembesarnya untuk mengeksekusi, menghukum,
atau membuat aturan yang memperkuat kekuasaannya. Segala kekuasaan ada di
tangannya, yang lain adalah tangan kanannya.
Yang paling
terkenal adalah titah Tuhan kepada Musa dalam Qs. Al-Nazi’at/79: 17-26:
اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ فَقُلْ
هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰىۙ وَاَهْدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخْشٰىۚ فَاَرٰىهُ
الْاٰيَةَ الْكُبْرٰىۖ فَكَذَّبَ وَعَصٰىۖ ثُمَّ اَدْبَرَ يَسْعٰىۖ فَحَشَرَ فَنَادٰىۖ
فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ فَاَخَذَهُ اللّٰهُ نَكَالَ الْاٰخِرَةِ وَالْاُوْلٰىۗ
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى ۗ ࣖ
18. Lalu,
katakanlah (kepada Fir‘aun), ‘Adakah keinginanmu untuk menyucikan diri (dari
kesesatan)
19. dan aku akan
menunjukimu ke (jalan) Tuhanmu agar engkau takut (kepada-Nya)?’”
20. Lalu, dia
(Musa) memperlihatkan mukjizat yang besar kepadanya.
21. Akan tetapi,
dia (Fir‘aun) mendustakan (kerasulan) dan mendurhakai (Allah).
22. Kemudian, dia
berpaling seraya berusaha (menantang Musa).
23. Maka, dia
mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), lalu berseru (memanggil kaumnya).
24. Dia berkata,
“Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.”
25. Maka, Allah
menghukumnya dengan azab di akhirat dan (siksaan) di dunia.
26. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah).”
Dalam QS.
Al-Nazi’at ini, Allah menyebut Fir’aun telah berbuat “thagha” (طغى), kelewat
batas, di luar batas kewajaran. Musa disuruh Allah untuk mengingatkan Fir’aun
biar sadar. Siapa tau mau memperbaiki diri dan kembali ke Jalan Tuhan.
Suruhan Allah
kepada Musa dan Harun untuk menemui Fir’aun, biar dia sadar bahwa dirinya bukan
Tuhan, namun manusia biasa yang hanya karena saat ini memegang kekuasaan
sebagai raja, dia dirajakan rakyat, ditakuti, dan dihormati. Bukti bahwa
Fir’aun bukan Tuhan, namun manusia biasa, adalah ketika Musa mengatakan bahwa
Tuhannya Musa dan Harun adalah Tuhan bapak moyangnya Fir’aun juga. QS.
Al-Syu’ara’/26: 23-26:
قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ قَالَ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَاۗ اِنْ كُنْتُمْ مُّوْقِنِيْنَ قَالَ لِمَنْ حَوْلَهٗٓ اَلَا تَسْتَمِعُوْنَ قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ اٰبَاۤىِٕكُمُ الْاَوَّلِيْنَ
“23. Fir‘aun berkata,
“Siapa Tuhan semesta alam itu?”
24. Dia (Musa)
menjawab, “Tuhan (pencipta dan pemelihara) langit, bumi, dan segala yang ada di
antaranya jika kamu orang-orang yang yakin.”
25. Dia (Fir‘aun)
berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Tidakkah kamu mendengar (apa yang
dikatakannya)?”
26. Dia (Musa)
berkata, “(Dia) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”
Musa ingin menyatakan,
bahwa Tuhan yang sebenarnya adalah Tuhan yang mencipta langit, bumi, dan segala
yang ada, termasuk Fir’aun itu sendiri. Fir’aun menganggap Musa ngigau,
mengada-ada, melawan kekuasaan yang digenggamnya, karena tidak mengakui Fir’aun
sebagai Tuhan, bahkan menyebut Tuhan Yang Maha Esa sebagai tuhan dengan ejekan,
“Dia berkata kepada para pejabat yang ada di sekelilingnya, “Dengar apa yang
dikatakan Musa”, namun dengan nada mengejek dan merendahkan.
Jika kamu Tuhan,
maka bapak moyangmu yang melahirkan Fir’aun zaman Musa, juga menuhankan Tuhan
Yang Maha Esa, dan bapak moyangmu adalah yang melahirkan Fir’aun yang dulu
tidak tahu apa-apa, merangkak, berjalan, besar, dst., lalu sekarang mengaku
Tuhan. Di mana logika warasnya. Tidak ada.
Jadi yang dibawa
Musa dan Harun saat mendatangi Fir’aun adalah misa risalah kenabian dan misi
dakwah untuk mengingatkan kesalahan penguasa dan menyampaikan kebenaran. Bukan
minta dibebaskan dari hukuman Fir’aun, minta ampun, dan minta maaf, apalagi
minta “sedekah” kepada Fir’aun.
Musa datang ke Fir’aun juga punya misi pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Raja Fir’aun. Bukan datang untuk membebaskan dirinya sendiri agar tidak dikejar-kejar Fir’aun dan balatentara-nya, di mana Musa pernah terlibat perkelahian sehingga menewaskan lawannya dari bangsa Qibty. Musa datang bukan minta maaf dan minta ampun agar terbebas dari “tuntutan” Fir’aun. Qs. Al-A’raf/7: 104-105:
وَقَالَ مُوْسٰى يٰفِرْعَوْنُ اِنِّيْ رَسُوْلٌ
مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ حَقِيْقٌ عَلٰٓى اَنْ لَّآ اَقُوْلَ عَلَى اللّٰهِ اِلَّا
الْحَقَّۗ قَدْ جِئْتُكُمْ بِبَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَرْسِلْ مَعِيَ بَنِيْٓ
اِسْرَاۤءِيْلَ ۗ
105. Wajib atasku
tidak mengatakan (sesuatu) terhadap Allah, kecuali yang hak (benar). Sungguh,
aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka,
lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku.”
Musa bukan datang untuk minta maaf, apalagi minta uang “mahar” sebagai kompensasi politik agar tidak menuntut atas ketidakadilan dan perlakuan buruk kepada Suku Israil. Misi Musa dan Harun adalah menegakkan kebenaran dan misi pembebasan kemanusian dari penindasan dan kesewenang-wenangan. Musa dan Harun tidak datang untuk minta bebas dari kejaran balatentara Fir’aun dan para pembesarnya, apalagi kompensasi uang dari Fir’aun. Bahkan Musa tetap dikejar-kejar Fir’aun dan balatentaranya hingga lari ke laut Merah dan menyeberang ke Sinai untuk selamat dari kejaran Fir’aun dan balatentaranya.
Musa tidak pernah
mengendorkan perjuangannya, dan tidak pernah mengatakan Fir’aun lebih baik
akhlaknya dibandingkan dengan Musa dan Harun, hanya untuk dapat pengampunan
Fir’aun dan oligarkinya.
Musa dan Harun mengatakan kebenaran di hadapan Fir’aun, bukan minta “welas asih” (belas kasih) dari penguasa. Biar jelas pokok perkaranya, mana yang benar dan mana yang salah. Inilah makna penting dari sabda Nabi saw., bahwa:
أي الجهاد أفضل؟ قول الحق عند سلطان جائر
Musa dan Harun
datang ke Fir’aun bukan untuk menjilat pantat Fir’aun untuk memperoleh jabatan,
kekuasan, atau pun harta kekayaan. Musa dan Fir’aun murni berjuang menegakkan
kebenaran dan memperjuangkan pembebasan rakyat Israil dan penindasan Fir’aun
dan kroninya.
Nabi Musa dan Nabi
Harun setelah bertemu Fir’aun tidak lantas memuji-muji Fir’aun dan para
pembesarnya, Musa dan Harun malah diajak “tanding” dengan para jagoan Istana
dan para “taipan” untuk menguji kehebatan Musa dan Harun, bukan malah
“deal-deal”-an dengan Fir’aun dan para penggedenya. Mengapa? Karena
tidak ada “titik temu” untuk saling “undestanding”. Karena sama-sama
tidak ada yang mengalah, maka terjadilah “adu tanding” antara kekuatan Musa
dengan kekuatan Fir’aun, hingga kejar-kejaran sampai ke Laut Merah, di mana
akhirnya Fir’aun tenggelam di laut tersebut.
Nabi Musa dan Nabi
Harun setelah bertemu Fir’aun tidak lalu balik arah menyerang teman
seperjuangan yang dulu membersamai untuk melawan Fir’aun, malah semakin solid
perlawanannya pada kezhaliman Fir’aun yang akhirnya dapat dikalahkan.
Resiko
terluka digambarkan dalam al-Qur’an dalam QS. Ali Imran/3: 140:
اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ
قَرْحٌ مِّثْلُهٗ ۗوَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ
اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ
الظّٰلِمِيْنَۙ
“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun
(pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Masa (kejayaan dan kehancuran)
itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan
Allah mengetahui orang-orang beriman (yang sejati) dan sebagian kamu
dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Allah tidak menyukai orang-orang zalim.”
Lebih dari sekedar terluka, maka kematian, terbunuh, adalah resiko perjuangan. Dan, resiko yang sama juga dihadapi oleh pejuang kesesatan. Cuma bagi kelompok yang ragu, memang akan muncul rasa was-was dan kekhawatiran, namun bagi kelompok yang ikhlas berjuang, pasti punya keyakinan bahwa perjuangan memerlukan pengorbanan jiwa, raga, dan harta. Resiko apa pun siap dihadapi termasuk kematian, namun jika ditaqdirkan syahid, maka Surga tempatnya. Tidak ada rasa penyesalan, bahkan kebahagiaan.
7. Akhir perjuangan: Kemuliaan atau kelaliman
Komentar
Posting Komentar