Kemaruk llmu vs Ilmu Kamaruk
Kemaruk llmu vs Ilmu Kamaruk
Oleh Sudono Syueb, alumni pertama MIM 12 Dengok, Paciran, Lamongan
Sidoarjo - Kemaruk ilmu adalah sikap tidak pernah puas dalam belajar, selalu haus akan wawasan baru, dan terus berusaha menambah pengetahuan.
Dalam hal ini Prof. Dr. Yusril lhza Mahendra telah memberi teladan baik yaitu walaupun beliau sudah nenyandang Guru Besar tapi masih menuntut ilmu dan akan mempertahankan desertasinya pada ujian terbuka kandidat Doktor bidang Filsafat di Program Pascasarjana Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (FIB UI).
Dalam ajaran Islam, ini adalah sifat terpuji yang sangat dianjurkan, mengingat ilmu merupakan kunci kebaikan dan jalan menuju kemudahan.
Keistimewaan Kemaruk Ilmu
Rasulullah SAW bersabda mengenai dua hal yang tidak pernah ada puasnya: orang yang kemaruk terhadap dunia dan orang yang kemaruk terhadap ilmu.
Berbeda dengan kemaruk harta yang tercela, kemaruk ilmu sangat dianjurkan karena:
Mendatangkan pahala: Menuntut ilmu adalah kewajiban yang dimudahkan jalannya oleh Allah SWT.
Mencegah kesombongan: Semakin banyak ilmu yang dikuasai, seseorang akan semakin sadar betapa banyak hal yang belum diketahuinya, sehingga ia menjadi lebih rendah hati dan takut kepada Allah SWT.
6 Syarat Meraih Ilmu Menurut Imam Syafi'i
Agar "kemarukan" Anda terhadap ilmu membuahkan hasil yang berkah dan bermanfaat, Imam Syafi'i menyyaratkan enam hal penting berikut:
Pertama, Kecerdasan: Modal dasar berupa akal yang sehat untuk berpikir dan mencerna pelajaran.
Kedua Keinginan yang kuat (Hirsun): Hasrat dan semangat yang membara untuk terus belajar tanpa mengenal lelah.
Ketiga, Kesungguhan: Kerja keras, kedisiplinan, dan dedikasi penuh dalam proses belajar.
Keempat, Biaya (Bulghah): Kecukupan bekal, baik itu berupa materi, waktu, maupun sarana pendukung untuk mendukung proses pencarian ilmu.
Kelima, Dekat dengan guru: Selalu didampingi, dibimbing, dan mengambil sanad (ilmu) langsung dari guru yang kompeten.
Keenam, Waktu yang panjang: Menyadari bahwa ilmu tidak didapat secara instan melainkan membutuhkan proses belajar seumur hidup.
Sementara Ilmu Kemaruk adalah konsep yang merujuk pada ketamakan (hirsu) dan penyakit hati berupa keinginan berlebih tanpa rasa puas. Dalam istilah modern seperti Kemaruknomics, ini juga disorot sebagai mazhab negatif yang mengabaikan moral dan hukum demi keuntungan pribadi. Sebaliknya, serakah positif hanya dianjurkan saat menuntut ilmu.
Berikut adalah rincian konsep sifat kemaruk
Penyakit Hati: Keserakahan adalah hilangnya rasa syukur dan selalu merasa kurang, ibarat meminum air laut yang justru membuat semakin haus.
Keburukan: Dalam ajaran agama, kemaruk dianggap sebagai biang keladi keburukan (selain sombong dan dengki) yang bisa mendorong seseorang melakukan kecurangan, penipuan, hingga korupsi.
Dampak Negatif: Pelaku sifat kemaruk akan dicabut keberkahan hidupnya oleh Tuhan dan memicu hilangnya empati sosial.
Solusi Mengatasi: Cara membentengi diri dari sifat ini adalah dengan menanamkan sifat qanaah (merasa cukup), banyak bersyukur, dan melatih diri menahan hawa nafsu.
Komentar
Posting Komentar