Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa
Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa
Oleh Sudono Syueb, Bidang Kominfo DDII Jatim
Surabaya - Perilaku politik Ken Arok dicirikan oleh gaya kepemimpinan yang makiavelis, oportunistik, penuh manipulasi, namun sangat lihai dalam membangun legitimasi demi merebut dan mempertahankan kekuasaan. Pola perilakunya menjadi cikal bakal siklus politik pengkhianatan dan balas dendam di tanah Jawa.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai perilaku politik Ken Arok berdasarkan catatan sejarah dan analisis sosial-politik:
1) Menghalalkan Segala Cara (Makiavelis)
Ken Arok menempatkan kekuasaan di atas etika dan moralitas demi mencapai tujuannya.
Kudeta Berdarah: Menggunakan keris buatan Mpu Gandring untuk membunuh Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung, secara rahasia.
Kambing Hitam: Meminjamkan kerisnya kepada Kebo Ijo agar masyarakat mengira Kebo Ijo adalah pembunuhnya, kemudian mengeksekusi Kebo Ijo sebagai pahlawan palsu.
2) Memanfaatkan Konflik Internal (Oportunisme Strategis)
Ken Arok sangat cerdik membaca situasi sosial dan geopolitik untuk memperbesar kekuasaan negaranya.
- Merangkul Kaum Brahmana: Ketika Raja Kertajaya dari Kediri berselisih dengan kaum agama (Brahmana), Ken Arok menampung para pendeta tersebut di Tumapel.
- Aliansi Politik: Dukungan kaum Brahmana ini memberi Ken Arok kekuatan moral dan sekutu kuat untuk mendeklarasikan kemerdekaan Tumapel dari Kediri.
3) Membangun Legitimasi Mistik dan Agama
Untuk meyakinkan masyarakat jelata bahwa ia layak menjadi raja, ia menggunakan pendekatan kultural.
- Keturunan Dewa: Menurut analisis di Perpustakaan Kementerian Luar Negeri, Ken Arok menggunakan konsep Dewa Raja dengan mengeklaim dirinya sebagai titisan Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa.
- Legitimasi Ken Dedes: Menikahi Ken Dedes yang dipercaya sebagai Nareswari (wanita utama), di mana siapa pun yang menikahinya akan menurunkan raja-raja besar.
4) Transformasi Karakter Politik
Karier politik Ken Arok melompat dari sektor informal (kriminal) menuju struktural formal.
- Pendekatan Akar Rumput: Berawal dari pemimpin kelompok bandit jalanan, ia memahami cara menggalang massa bawah sebelum masuk ke birokrasi Tumapel sebagai pengawal.
- Pendiri Wangsa Baru: Setelah menang atas Kediri di Pertempuran Ganter (1222 M), ia mendirikan Wangsa Rajasa yang menurunkan raja-raja Singasari hingga Majapahit.
Karakteristik Perilaku Politik Ken Arok
- Karakteristik Manifestasi Tindakan
- Manipulatif: Menggunakan orang lain (Kebo Ijo) untuk menyembunyikan kejahatan politiknya.
- Lihai & Cerdik: Menghimpun kekuatan kaum tertindas (Brahmana) untuk melakukan pemberontakan besar.
- Visioner: Mampu mengubah status Tumapel dari sekadar kadipaten bawahan menjadi kekaisaran baru.
Pola politik Ken Arok membentuk sejarah Jawa sekaligus bercermin pada dinamika politik masa kini.
1. Dampak Jangka Panjang: Siklus Balas Dendam (Kutukan Keris)
Perilaku politik Ken Arok yang menghalalkan pembunuhan rahasia menciptakan pola suksesi berdarah berantai di Kerajaan Singasari. Setiap transisi kekuasaan tidak dilakukan melalui konsensus, melainkan eliminasi fisik.
Anusapati (Anak Tiri Ken Arok): Mengetahui bahwa Ken Arok membunuh ayah kandungnya (Tunggul Ametung), Anusapati menyuruh seorang pengalasan (budak) untuk menikam Ken Arok saat makan malam menggunakan keris Mpu Gandring.
Tohjaya (Anak Kandung Ken Arok): Membalas dendam kematian ayahnya dengan menusuk Anusapati saat mereka sedang asyik bermain sabung ayam.
Ranggawuni (Anak Anusapati): Bersama Mahesa Cempaka, mereka meluncurkan pemberontakan militer untuk menggulingkan Tohjaya hingga Tohjaya tewas dalam pelarian.
Siklus ini membuktikan bahwa legitimasi yang dibangun di atas pengkhianatan akan melahirkan ketidakstabilan kronis, di mana hukum tabur-tuai berlaku dalam suksesi kekuasaan.
2. Perbandingan Perilaku Politik Ken Arok vs Politik Modern
- Gaya politik Ken Arok sangat relevan dengan teori politik realisme barat (Machiavellian) dan masih sering tercermin dalam panggung politik modern melalui analogi berikut:
- Aspek Politik Pola Ken Arok Manifestasi Politik Modern
- Kambing Hitam: Mengkambinghitamkan Kebo Ijo demi mencuci tangan dari pembunuhan. Menggunakan influencer, media, atau tokoh tingkat bawah untuk meredam skandal elit politik (proxy war).
- Oportunisme Koalisi :Menampung kaum Brahmana yang sakit hati pada Raja Kertajaya. Menampung faksi atau partai politik yang kecewa dari koalisi lama untuk membangun poros kekuatan baru.
- Pencitraan Legitimasi: Mengeklaim diri sebagai titisan dewa dan menikahi Nareswari. Menggunakan fabrikasi rekam jejak, survei bayaran, atau manipulasi narasi di media sosial demi personal branding.
- Kudeta Merangkak :Masuk sistem sebagai pengawal, lalu mengeliminasi penguasa dari dalam. Praktik infiltrasi partai, pembajakan kepengurusan internal secara inkonstitusional, atau pelemahan institusi dari dalam.
Inti dari perilaku politik Ken Arok adalah "politik tanpa moral" yang menempatkan hasil akhir di atas segalanya. Dalam dunia modern, sistem demokrasi konstitusional dirancang justru untuk membatasi tipe perilaku oportunistik seperti ini agar kekuasaan tidak berpindah lewat ujung keris (atau kekerasan), melainkan lewat kotak suara.
Struktur sosial masyarakat Tumapel (yang kemudian menjadi Singasari) pada masa Ken Arok abad ke-13 menganut sistem hierarki yang kaku, dipengaruhi oleh sinkretisme Hindu-Buddha serta hukum adat Jawa kuno.
Masyarakat terbagi menjadi beberapa lapisan vertikal yang menentukan hak, kewajiban, dan mobilitas sosial seseorang:
1) Golongan Penguasa dan Elit (Brahmana dan Ksatria)
Ini adalah lapisan tertinggi yang mengendalikan jalannya pemerintahan, hukum, dan ritual keagamaan.
a) Raja dan Keluarga Istana: Memegang kekuasaan absolut. Di era Ken Arok, konsep Dewa Raja sangat kuat; raja dianggap sebagai manifestasi kedewaan di bumi untuk melegitimasi kekuasaannya
b) Para Akuwu dan Pejabat Birokrasi: Penguasa daerah (seperti Tunggul Ametung sebelum dikudeta) yang mengontrol wilayah otonom dan menyetorkan upeti ke pusat.
c) Kaum Brahmana (Pendeta): Golongan religius yang memiliki pengaruh politik sangat besar. Mereka adalah penasihat raja, pembuat hukum, dan pemegang otoritas ritual. Ken Arok bisa naik takhta karena berhasil mendapat dukungan penuh dari faksi Brahmana yang memboikot Raja Kertajaya dari Kediri.
2) Golongan Masyarakat Merdeka (Waisya dan Sudra)
Lapisan ini merupakan mayoritas penduduk yang menggerakkan roda ekonomi kerajaan melalui sektor agraris dan perdagangan.
- Petani dan Peternak (Krama): Pengelola lahan pertanian (sawah dan ladang). Hubungan mereka dengan penguasa berbasis pada sistem upeti atau pajak hasil bumi (Ggwan).
- Pengrajin dan Seniman (Undagi): Kelompok keahlian khusus seperti pembuat senjata/keris (seperti Mpu Gandring), pembuat candi, dan penenun. Mereka mendapat posisi terhormat karena karyanya dibutuhkan oleh istana.
- Pedagang (Bakul): Penghubung ekonomi antar-wilayah. Pada masa Singasari, perdagangan sungai (melalui Sungai Brantas) mulai berkembang pesat menuju pelabuhan pantai utara.
3) Golongan Bawah dan Kaum Marginal (Candala dan Mleccha)
Kelompok yang berada di luar struktur kasta formal atau dianggap memiliki status sosial paling rendah.
- Para Bandit dan Kriminal: Kelompok marginal yang hidup di pinggiran hutan dan jalur dagang lepas. Menariknya, Ken Arok berasal dari lapisan ini sebelum ia melakukan mobilitas sosial vertikal yang radikal melalui jalur militer dan perkawinan politik.
- Budak (Hamba / Pengalasan): Orang-orang yang kehilangan kemerdekaannya karena utang, kalah perang, atau hukuman pidana. Mereka bekerja tanpa upah untuk melayani kaum elit (seperti budak yang diperintah Anusapati untuk mengeksekusi Ken Arok).
Karakteristik Unik Struktur Sosial Tumapel
- Mobilitas Sosial yang Ekstrem: Meskipun sistem kasta Hindu membatasi perpindahan status, figur Ken Arok membuktikan bahwa kekuatan militer, kecerdikan politik, dan legitimasi agama dapat mendobrak sekat kasta tersebut (dari kasta bawah melompat langsung menjadi Raja).
- Polarisasi Pusat-Daerah: Struktur sosial sangat berpusat pada kraton (Puri). Semakin jauh masyarakat tinggal dari pusat kota/kadipaten, semakin longgar ikatan kastanya, dan mereka lebih diatur oleh hukum adat desa (Wanua).
Komentar
Posting Komentar