Postingan

IBU

Gambar
IBU Oleh: Indah Hanifah binti Hanif Adzhar Alumni PP الروضة العلمية (YTP) Kertosono Nganjuk Ibu.. Inilah anakmu Berdiri di hadapanmu Memohon kasihmu Sepenuh jiwamu Ibu.. Aku tahu betapa besar kasihmu Segala upaya kau curahkan padaku Ketika aku tak berdaya Kau penuhi segala rasa Ibu.. Ketika aku tak tak tahu apa-apa Kau mengajariku kata-kata Ketika aku mulai terbata-bata Kau tetap sabar merangkaikan kata-kata Ibu.. Kini aku telah mampu bicara Kini aku mulai bisa berkarya Namun aku belum bisa membalas jasa Hanya ini yang mampu kuberikan Do'aku yang selalu kupanjatkan:  رب اغفرلي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا۔۔ Dibaca pada perlombaan oleh anakku (Akmal Mudzakkir) saat masih duduk di TK Ash-Shiddiqiyah Tanggulangin 2006

Hisab Awal Bulan Jumadil Awwal 1448 H

Gambar
Hisab Awal Bulan Jumadil Awwal 1448 H Ali Hamdi, M. HI Ketua PA Tuban Tuban, Kamis 8 Oktober 2026 Markas Tanjung Kodok Paciran - Lamongan  Basik Data EPHIMERIS HISAB RUKYAT Lintang Lokasi : - 6^ 52’ Lintang Selatan Bujur Lokasi : 112^ 21’ Bujur Timur Bujur Daerah : 105 Ijtimak akhir bulan Rabiul Akhir 1448 H Terjadi : Ijtimak di Indonesia Bagian Barat terjadi hari Sabtu Kliwon tanggal 10 Oktober 2026   pada jam = 22 : 51: 43,38 WIB (Ijtimak Tengah Malam) di Lokasi Rukyat Data Pelaksanaan Rukyat Hilal ,Hari Sabtu Tanggal 11 Oktober 2026 Matahari Tenggelam dilokasi rukyat pada hari itu Jam : 17 : 24: 50,98 WIB Tinggi Hilal Hakiki : 6^ 42’ 45,05” (Di Atas Ufuq) Tinggi Hilal Mar’i : 6^ 16’ 9,08” (Di Atas Ufuq) Lama Hilal diatas Ufuq : 0 Jam 25 Menit 4,61 Detik (Di Atas Ufuq) Umur Bulan : 16 Jam 16 Menit 34,36 Detik (Di Atas Ufuq) Hilal Tenggelam : = Jam 17 , 49 Menit, 55,59 Detik (Diatas Ufuq) Azimut / arah Matahari : -7 ^ 16’ 32,64” di Selatan Garis Katulisti...

Negara lndonesia Sekarang, Bak Malin Kundang

Gambar
Negara lndonesia Sekarang, Bak Malin Kundang Oleh Sudono Syueb, Alumni Fisipol UGM Akhir-akhir ini ada yang mengatakan secara satir bahwa negara atau pemerinrah lndonesia ini sebagai *Malin Kundang* karena dianggap telah *durhaka dan melupakan rakyatnya*, yang sejatinya bertindak sebagai *ibu* yang melahirkan dan membesarkan mereka. Istilah ini merupakan sebuah satir politik dan kritik sosial masyarakat terhadap kesenjangan hubungan antara penguasa dan rakyat. Berikut adalah alasan mengapa analogi ini digunakan: • Rakyat adalah *Ibu* yang Melahirkan Kekuasaan Dalam sistem demokrasi, kekuasaan negara lahir dari rahim rakyat melalui pemilu dan pajak yang mereka bayarkan. Rakyat adalah pemberi mandat, layaknya seorang ibu yang merawat dan membesarkan anaknya (pemerintah/negara). • Melupakan Asal-usul Setelah Sukses Layaknya kisah legenda Malin Kundang dari Sumatra Barat yang melupakan ibunya setelah kaya raya, oknum pejabat atau negara sering kali dianggap melupakan janji-jan...

Rocky Gerung Sign Kanan Belok Kiri

Gambar
Rocky Gerung Sign Kanan Belok Kiri Oleh Sudono Syueb, Alumni Fisipol UGM Sidoarjo - Pengangkatan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 2 Oktober 2026 memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan. Opini kontra ini umumnya menyoroti potensi hilangnya independensi kaum intelektual, risiko pelemahan oposisi (kooptasi kritik), serta inkonsistensi sikap politik di mata publik.  Berikut adalah argumen-argumen utama yang mendasari opini kontra terhadap masuknya Rocky Gerung ke dalam struktur Wantimpres: 1. Ancaman Kematian Oposisi dan Kooptasi Kritik Selama bertahun-tahun, Rocky Gerung dikenal sebagai simbol pemikir bebas dan kritikus independen di luar sistem pemerintah. Ketika figur kritis seperti dirinya masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, publik melihatnya sebagai bentuk penjinakan suara kritis (co-optation). Masuknya Rocky kekuasaan dikhawatirkan akan melemahkan kontrol sosial dari civil s...

Reshuffle Kabinet ke-7: Deklarasi lndependensi Politik Prabowo

Gambar
Reshuffle Kabinet ke-7: Deklarasi lndependensi Politik Prabowo  Oleh Sudono Syueb, Alumni Fisipol UGM Sidoarjo - Perombakan atau reshuffle besar-besaran Kabinet Merah Putih yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto, terutama dengan menggeser figur-figur kunci yang identik dengan era Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi), memiliki beberapa makna simbolik politik yang kuat menurut pandangan para analis politik: 1. Deklarasi Kemandirian Politik (Prabowo-Sentris) Secara simbolik, secara politii langkah ini bisa dibaca sebagai penegasan bahwa era transisi telah selesai dan era kepemimpinan mandiri Prabowo telah dimulai. Pergantian figur sentral seperti Pratikno (mantan Menko PMK) dan Jenderal Listyo Sigit Prabowo (mantan Kapolri) menandai bahwa Prabowo ingin keluar dari bayang-bayang politik Jokowi. Istana kini digerakkan sepenuhnya di bawah kontrol langsung dan visi politik personal Prabowo. 2. Peralihan dari "Pemerintahan Warisan" Menjadi "Pemerintahan Sendiri...

Tragedi Gegirisi Kemanusiaan dan Politik pada 30 September 1965

Gambar
Tragedi Gegirisi Kemanusiaan dan Politik pada 30 September 1965 Oleh Sudono Syueb, Biro Kominfo DDII Jatim Sidoarjo - Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) merupakan salah satu tragedi kemanusiaan dan politik paling kelam dalam sejarah modern Indonesia. Peristiwa penculikan dan pembunuhan para perwira tinggi TNI Angkatan Darat secara keji pada malam pergantian tanggal 30 September ke 1 Oktober 1965 meninggalkan luka mendalam yang dampaknya masih terasa lintas generasi.  Dalam melihat kompleksitas peristiwa ini, opini publik dan catatan sejarah umumnya terbagi ke dalam dua sudut pandang utama: 1. Sudut Pandang Pengkhianatan Ideologi dan Kekejaman Militer Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, tindakan yang dilakukan oleh elemen Gerakan 30 September dinilai sebagai bentuk kebiadaban dan pengkhianatan nyata terhadap negara serta dasar negara Pancasila.  Gugurnya Pahlawan Revolusi: Penculikan para jenderal di kediaman mereka, yang diikuti dengan eksekusi dan pem...

Melihat Ulang Asal-Usul Wali Songo: Kosmopolitanisme Islam dan Kebangsaan

Gambar
Melihat Ulang Asal-Usul Wali Songo: Kosmopolitanisme Islam dan Kebangsaan  Oleh: Sudono Syueb, KBPII dan Pengurus Dewan Da'wah Jatim  Sidoarjo - Perdebatan mengenai asal-usul Wali Songo seolah tidak pernah kehabisan bahan bakar. Setiap kali ada temuan atau sudut pandang baru—apakah mereka murni keturunan Hadramaut (Yaman), memiliki darah Champa (Vietnam), bergaris keturunan Tiongkok, atau Persia—ruang publik kita langsung riuh.  Namun, di tengah hiruk-pikuk klaim sejarah tersebut, kita sering kali melupakan esensi yang jauh lebih besar: asal-usul Wali Songo adalah potret autentik dari kosmopolitanisme Islam yang berhasil melebur dengan lokalitas Nusantara. Melihat Wali Songo hanya dari satu garis keturunan tunggal adalah penyempitan sejarah. Secara objektif, jejak genealogis dan kultural sembilan wali ini menunjukkan bahwa mereka adalah produk dari jaringan ulama dan bangsawan transnasional.  Migrasi dan Asimilasi Mereka melakukan migrasi, berasimilasi, d...