Negara lndonesia Sekarang, Bak Malin Kundang
Negara lndonesia Sekarang, Bak Malin Kundang
Oleh Sudono Syueb, Alumni Fisipol UGM
Akhir-akhir ini ada yang mengatakan secara satir bahwa negara atau pemerinrah lndonesia ini sebagai *Malin Kundang* karena dianggap telah *durhaka dan melupakan rakyatnya*, yang sejatinya bertindak sebagai *ibu* yang melahirkan dan membesarkan mereka.
Istilah ini merupakan sebuah satir politik dan kritik sosial masyarakat terhadap kesenjangan hubungan antara penguasa dan rakyat. Berikut adalah alasan mengapa analogi ini digunakan:
• Rakyat adalah *Ibu* yang Melahirkan Kekuasaan
Dalam sistem demokrasi, kekuasaan negara lahir dari rahim rakyat melalui pemilu dan pajak yang mereka bayarkan. Rakyat adalah pemberi mandat, layaknya seorang ibu yang merawat dan membesarkan anaknya (pemerintah/negara).
• Melupakan Asal-usul Setelah Sukses
Layaknya kisah legenda Malin Kundang dari Sumatra Barat yang melupakan ibunya setelah kaya raya, oknum pejabat atau negara sering kali dianggap melupakan janji-janji mereka kepada rakyat setelah berhasil menduduki kursi kekuasaan atau memperoleh kekayaan.
• Merendahkan dan Menindas Rakyat
Alih-alih menyejahterakan, negara terkadang mengeluarkan kebijakan yang justru mencekik atau menyengsara rakyat kecil yang dahulu memilih mereka. Hal ini mirip dengan sikap Malin Kundang yang malu dan mendorong ibunya yang miskin saat bertemu kembali.
• Plesetan *Maling Kondang*
Dalam beberapa kritik sastra dan opini publik, istilah ini juga sering dipelesetkan menjadi *Maling Kondang* (pencuri yang terkenal), merujuk pada maraknya fenomena korupsi di mana pejabat negara justru mencuri uang rakyatnya sendiri demi kekayaan pribadi.
Esensi dari sebutan ini adalah pengingat bahwa kekuasaan tidak bersifat abadi. Negara yang *durhaka* kepada rakyatnya lambat laun akan kehilangan legitimasi dan kepercayaan, layaknya akhir tragis nasib Malin Kundang.
Komentar
Posting Komentar