KETIKA MUSIM PANEN TIBA
KETIKA MUSIM PANEN TIBA
Oleh: Murib Ilham
(Alumni UINSA)
Suasana sawah menjadi ramai, saat panen padi dimulai, para buruh tani berdatangan ke sawah menawarkan jasa untuk menuai padi, dengan ani ani di tangn mereka cekatan memotongn padi tangkai demi tangkai, terikknya sinar matari, gatalnya daun padi tidak menghalangi bekerja sepanjang hari, sesekali terlontar celotehan segar yang membuat tertawa siapapun yang mendengar,
untuk mengusir rasa lelah agar tetap semangat. bekerja dengan riang gembira akan menjadikan tenaga tetap bugar.
Padi padi yang telah diketam itu dijemur di sawah tidak langsung dibawa pulang ke rumah, selama padi masih basah, petani selalu berada di sawah, menunggui dari pagi, siang hingga malam hari agar tidak dimakan hewan atau dicuri orang
Seperti itu juga yang dilakukan emak sepeninggal bapak, semua pekerjaan bapak digantikan emak sendirian, untuk menghidupi ketiga anaknya yang masih kecil kecil usia SD.
termasuk kemit sawah (menjaga padi di sawah berhari hari tidak pulang siang malam)
Kala itu menjelang malam jum'at ngaji prei besuk sekolah juga prei, aku ingin menemani emak kemit di sawah.
Mak.... kataku
Apa .... jawab emak
Boleh aku ikut emak kemit... sambungku
Ndak takut?....anginnya juga dingin... emak mengingatkan aku
Ndak mak... sekali sekali tidur di sawah... jawabku
Aku memang masih anak anak umur tujuh tahun penakut lagi, anak bungsu dari tiga bersaudara, emak khawatir nanti rewel minta pulang.
Usai sholat ashar kami berangkat, mbontot makan malam, ikan panggang sambel bajak.
Sawah kami lumayan jauh, di dekat sebuah desa kecil di tengah persawahan, jarak dari rumah kesawah kurang lebih 5 Km. ditempuh dengan jalan kaki menyusuri pematang sawah mendaki gundukan tanah yang cukup tinggi ditumbuhi pohon kelapa yang rindang, melintasi sungai di atas titian bambu yang hanya tiga batang, ngeri takut kejebur dan...baru tembus jalan utama.
Memang emak dan aku lewat jalan pintas memperpendek jarak tempuh sebab jika mulai awal meliwati jalan utama jarak sawah kami semakin jauh 6 Km hingga 6.5 Km
Jalan utama ini bekas jalan kereta api di zaman Belanda dahulu, untuk mengangkut hasil bumi Indonesia ke pelabuhan Sedayu dan selanjutnya diangkut menggunakan kapal laut ke negeri Belanda, konon kereta api di wilayah ini belum sempat beroperasi secara normal baru diujicoba beberapa kali diganggu oleh penduduk pribumi sering terjadi kecelakan, pada ahirnya proyek dihentikan
Kondisi jalan bekas kereta api ini sangat memprihatinkan, hanya tersisa jalan setapak batu batu kecil bekas penyangga bantalan rel berserakan di mana mana, bergelombang, berlobang sangat dalam tergerus air hujan, tidak bisa dilalui kendaraan, hanya bisa untuk pejalan kaki.
Liku liku perjalanan kami menju sawah ahirnya sampai saat matahari mulai bersembunyi dibalik bumi digantikan rembulan yang sedang ndadari, kebetulan malam bulan purnama.
Cuung... sholat maghrib dulu, kata emak
Iya mak.... jawabku
Habis sholat baru makan...
biar enak ndak punya tanggungan ....emak menjelaskan.
Emak tahu aku kelelahan dan perutku keroncongan, habis jalan segitu jauh, kaki terasa keju capek sekali.
Bersambung
Komentar
Posting Komentar