Memandang Politik

Memandang  Politik

Dr.  Amam Fakhrur
(Kolomnis hukum dan politik) 

Di suatu desa saat  menggelar hajatan pemilihan Kepala Desa, suhu politik di desa itu cenderung naik dan meninggi, pada awalnya belum ada tanda-tanda ekses negatif.Masing-masing calon Kepala Desa bersama timnya berusaha lahir batin,bahkan “orang pintar”pun didatangkan,demi memperoleh kemenangan. Meskipun usai pemungutan dan  penghitungan suara masih berlangsung kondusif, namun usai penghitungan suara, bisa  muncul sejumlah  insiden yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Pada pemilihan Presdien,  kepala daerah baik bupati/walikota atau pemilihan gubernur, dari sejak awal tahapan telah berlangsung  berlangsung seru. Masing-masing tim pasangan calon, merancang strategi dan taktik. Mesin partai digerakkan, materi debat disusun sedemikian baik. Saksi-saksi dipersiapkan, pendanaan operasional ditebalkan. Semua itu agar pasangan calon yang diusung memenangkan kontestasi  pemilihan.  

Hajatan politik seperti narasi di atas adalah proses  politik dalam pengertian kekuasaan  yang memang selalu menarik dan mendapat porsi besar dalam perbincangan. Porsi besarnya  mengalahkan perbincangan soal seni, budaya, arkeologi, pendidikan dan sebagainya. Porsi besar perbincangan itu dapat dilihat di media cetak dan elektronik, obrolan  di warung kopi, di tempat kerja, dan  di berbagai group media sosial. 

Mungkin topik politik sering mendapat porsi besar dalam perbincangan  di masyarakat adalah selain karena  kultur masyarakat cenderung mengikuti opini orang lain, juga karena masyarakat dalam memandang siapa yang patut berkuasa. Bisa beraneka ragam sudut pandang dan senyatanya masyarakat  harus memilih dan berpihak. 

Selain itu yang menambah sisi  menariknya perhatian publik  adalah  ketika hajatan politik seringkali tak terkendali dan hajatan politik dapat  berekses kepada aspek-aspek lain. Tak sedikit pemungutan dan penghitungan usai dan kemudian ditetapkan siapa pemenangnya, ternyata masih menyisakan persoalan, terjadi ketidakpuasan dengan sejumlah anggapan sebagai sebabnya.

 Bisa jadi dalam sengitnya kompetisi berbagai cara dilakukan agar agar unggul, sehingga ada yang menengarai telah terjadinya money politic (politik uang), pendanaan diperoleh dari korupsi, terjadinya perbuatan yang tidak menyenangkan, yang membawa konsekwensi hukum. Juga sampai ada ekses pengrusakan rumah, lempar batu antar pendukung pasangan calon, sehingga ada warga yang harus dirawat di rumah sakit dan bahkan sampai membawa korban jiwa. Polarisasi di masyarakatpun terjadi.

Sebenarnya ruang lingkup politik tidaklah berhenti kepada soal kekuasaan. Sebagaimana sering ditulis dalam buku-buku teks politik, politik bisa ditilik dari dua hal. Yang pertama politik dalam pengertian pragmatis, yaitu usaha yang dilakukan seseorang atau partai politik semata-mata untuk meraih kekuasaaan dan tak terteruskan  bagaimana kelanjutan setelah berkuasa,yang penting mendapatkan kekuasaan. Yang kedua adalah usaha untuk meraih kekuasaan lalu bagaimana mengusahakan kesejahteraan untuk masyarakat.

Sebenarnya soal hasrat untuk berkuasa adalah  merupakan fitrah tendensius manusia. Adanya hajatan peralihan kekuasaan  dan pembentukan segala instrumennya adalah potret nyata akan tendensi tersebut. Hanya kemudian seringkali yang menonjol adalah dalam memperoleh kekuasaan dengan cara yang tidak sepatutnya,menghalalkan segala cara, menyebar fitnah,menggaduhkan suasana,pembunuhan karakter dan  bagaimana mewujudkan kesejahteraan rakyat setelah mendapatkan kekuasaan cenderung dinomorsekiankan.

Sehingga setelah terjadinya peralihan kekuasaan, janji politik yang tertera di berbagai iklan dan spanduk seringkali dilupakan. Juga dinamika politik setelah peralihan kekuasaan bisa merambah  di ruang yang sebenarnya  mempunyai konsepmnya sendiri,aroma kepentingan kelompok menjadi mengemuka. Mungkin karena sisi negatif politik yang sering mengemuka inilah maka kemudian selain politik itu menarik, juga  politik dianggap   kotor

Padalah kalau melihat definisi politik cakupannya adalah luas. Ia tidak hanya  berhenti kepada kekuasaan, tetapi bagaimana kekuasaaan yang didapat dikelola dengan baik dengan tujuan untuk kesejahteraan dan kebaikan seluruh rakyat ( li mashlahatil ummah). Oleh karena kekuasaan adalah identik dengan pengaturan,pengurusan dan pengendalian, maka bagaimana   semuanya itu ditegakkan atas dasar  keluhuran,kemulyaan dan keberadapan.

Dalam konteks individu memang tidak ada larangan atau keharusan untuk berpolitik,tetapi dalam konteks bermasyarakat, berbangsa dan bernegara warga masyarakat tak terhindarkan dari politik. Pada asalnya politik itu tidak negatif, bahkan penuh kemuliaan. Yang membuat politik bisa menjadi negatif adalah pelaku politik, Kalau ada yang menyatakan  politik itu adalah barang yang paling kotor, lumpur-lumpur yang kotor, adalah lebih bernuansa  kritik atas kejadian empiris di jagat perpolitikan saat ini.

Untuk memudikkan prilaku politik ke jalur luncurnya, sepatutnya kita berkaca bagaimana Tuhan mencipta jagat raya ini. Tuhan menciptakan alam semesta demikian teratur, terkendali, dengan ukuran-ukuran (takdir)-Nya agar manusia dapat eksis. 

Diciptakannya langit, matahari, bulan, bumi dengan segala isinya, dan segala planet adalah penuh dengan ketertiban, keteraturan, keterkendalian dan mensejahterakan manusia dalam hidupnya. Keberadaan alam  dengan kekuasaan yang dimiliki-Nya, semuanya Ia peruntukkan bagi  manusia agar penuh kemakmuran. Tuhan  tidak pandang bulu, tidak pilih kasih dalam menyediakan kesejahteraan, semua manusia baik  yang iman maupun ingkar kepada-Nya  diberikan rizki. Ini pertanda bahwa Ia adil,  dan bersikap kasih sayang kepada semua hamba-Nya tanpa memandang latar belakang kepercayaan, suku, bangsa, organisasi dan kelompok.

Kalaulah Ia mau, rizki hanya berikan kepada hamba yang beriman  dan kelompok tertentu saja, tetapi hal itu  tidak Ia lakukannya, semua diperlakukan secara adil dan proporsional.  Politik harus tetap dalam ketertiban dan keteraturan dan bila berada dalam kekuasaan, berusaha untuk menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, tanpa memandang segala latar belakangnya. Untuk berpolitik manusia perlu meniru politik Tuhan.

Jelas berpolitik itu pada asalnya tidak negatif, akan tetapi kalau dalam  berpolitik tidak beretik, tidak menjunjung tinggi keluhuran, tidak merujuk kepada tujuan kesejahteraan bersama, maka logis juga kalau malaikat  mengemukakan kerisauannya  saat Tuhan berkehendak menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Malaikat  manyatakan kerisauannya, bahwa manusia akan bertikai dan akan terjadi pertumpahan darah. Namun Tuhan tetap menciptakan manusia, Ia lebih tahu apa  maksud  dari  segala penciptaan-Nya. Wallu a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

DO'AKU HARAPANKU

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa