Menyaksikan Istana al-Mukarramah
Menyaksikan
Istana al-Mukarramah
Catatan: DR. Amam Fakhrur
(Penggiat sosial agama)
Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke cagar budaya historis, Istana Kesultanan Sintang, Kalimantan Barat, namanya Istana al-Mukarramah. Jarak dari pusat Kota Sintang ke istana tersebut hanya sekitar 6,5 km.
Dengan perjalanan darat melewati jembatan Sungai Kapuas. Sebenarnya melalui jalur penyeberangan sungai dengan armada speed boat juga bisa, namun saya tak memilihnya. Sekarang ini lokasinya terketak di Jalan Bintara, Kelurahan Kapuas Kiri Hilir. Meski dahulu di lokasi itu pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Sintang, namun sekarang ini suasana relatif sepi, tak seramai di pusat pemerintahan kota Sintang.
Saat di radius yang sudah dekat dekat komplek Istana al-Mukarramah, mata saya lurus memandang ke depan, ke arah selatan. Mata saya tertuju ke arah dua pertemuan sungai, yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Melawi. Sungai itu kelihatan luas, kelihatan satu dua spead boot berlalu lalang dengan kecepatan tinggi. Ada juga kapal tongkang yang bersandar setelah berlayar mengangkut bahan bangunan untuk suatu pengerjaan proyek. Dari kejauhan nampak jelas pembatas aliran air kedua sungai, yang tidak dapat bercampur. Saya tak mampu mengilmiahkannya mengapa aliran air itu tidak dapat bercampur.
Tepat menghadap di pertemuan dua sungai itu, Istana al-Mukarramah berdiri tegak. Memasuki gerbang istana, nampak tiga bagian simetris. Bangunan bagian utama terletak di tengah, agak menonjol ke depan. Sedang dua bagian bangunan lainnya masing-masing mengapit di sisi timur dan barat bangunan utama. Seperti bangunan istana lain di Kalimantan Barat, bangunan berbentuk panggung berbahan kayu belian.
Di depan istana nampak halaman yang cukup luas,
di tengah-tengahnya ada meriam dan situs batu peninggalan kerajaan Sintang.
Bangunan istana itu sungguh sangat
eksotis dan mengesankan. Bangunan nan megah untuk ukuran jamannnya. Adapun di
belakang bangunan istana, dari kejauhan terlihat ada pekuburan. “Itu adalah
makam dzurriyat (turunan) sultan
juga”, kata penjaga yang memandu saya dengan penuh keakraban. Menurut beberapa
literatur Kerajaan Sintang berdiri pada
abad ke-13, saat di Jawa hidup kerajaan Majapahit yang tersohor itu. Kerajaan
Sintang berubah menjadi kesultanan pada tahun 1672 M, seiring dengan
dikukuhkannya Sultan Nata.
Suasana masih pagi, pintu bangunan istana masih terkunci. Cuaca sedikit mendung, tak terasa sengatan sinar matahari. Selain saya yang datang berkunjung, ada mahasiswa yang tengah melakukan penelitian. Jangan membayangkan di istana itu ada abdi dalem seperti di Keraton Yogyakarta atau di Keraton Solo, tidak ada. Penjaga istana membuka pintu bangunan sayap kiri dan mempersilakan saya memasuki ruangan. Ada beberapa ruangan di dalamnya, tersimpan sejumlah koleksi benda-benda kuno yang mempunyai nilai sejarah tinggi. Koleksi suatu benda di saat masih sebagai kerajaan Hndu maupun koleksi setelah menjadi kesultanan .
Ada koleksi berupa seperangkat gamelan khas kebudayaan Jawa. Konon seperangkat gamelan tersebut adalah seserahan dari salah seorang Patih Majapahit yang bernama Loh Gender kepada Puteri Dara Juanti, sebagai tanda cintanya. Ada juga sebongkah tanah, yang berasal dari bumi Majapahit, tanah itu kelihatan berwana hitam dan membesi. Di bagian atas gantungan alat musik Gong terdapat patung burung berukuran kecil (ada yang menyebut burung Rajawali). Juga ada sejumlah benda penting peninggalan Kerajaan Sintang, seperti pedang, tameng, tombak, peralatan-peralatan berbahan logam dalam berbagai ukuran. Foto raja-raja Sintang dan silsilahnya tak lepas dari pandangan mata saya.
Yang juga membuat saya terkagum adalah saat memendangi sebuah teks berbahasa Arab. Teks itu rupanya naskah sejumlah ayat al-Qur’an, tulisan tangan asli pada masa pemerintahan Sultan Nata. Pada tulisan itu, huruf dan baris-barisnya tersusun sangat rapi dan jelas dibaca. Saking rapinya, saya sendiri tidak dapat langsung membedakan antara hasil karya tulisan tangan dan hasil cetakan.
Di penghujung plesir saya di Istana al-Mukarramah, saya menuju Masjid Jamik Sultan Nata, yang berada di sebelah barat istana, hanya terjarak oleh sebuah jalan. Bangunan masjid itu full terbuat dari kayu. Demikian juga atapnya, dari sirap kayu. Dinding masjid didominasi warna putih. Masjid ini dibangun pada tahun 1672 M, pada masa Sultan Nata naik tahta. Sultan Nata adalah raja ke–19 Kerajaan Sintang, dan sultan ke-3 kesultanan Sintang. Di dalam masjid berukuran 20m x 20m itu terdapat sembilan tiang penyangga (soko). Di teras belakang pojok sebelah kiri terdapat Bedug yang berusia ratusan tahun. Saya sempatkan mengambil air wudlu dan sholat dua rakaat tahiyyatul masjid (penghormatan masjid), di masjid itu.
Saya belum menemukan kesimpulan, mengapa istana itu dinamakan dengan nama istana “Al-Mukarramah”. Al-Mukarramah adalah berasal dari bahasa Arab, artinya “yang dimulyakan”. Nama yang tidak mengesankan heroik, tetapi mengisaratkan keteduhan dan kelembutan. Saya menduga penamaan itu adalah terkait dengan cita-cita luhur dari didirikannya kesultanan, yaitu terwujudnya keluhuran, keterhormatan di berbagai bidang kehidupan rakyat Sintang.
Selain itu, saya kira keberadaan kesultanan Sintang adalah salah satu episod penting dan mempunyai andil besar dalam proses islamisasi di wilayah tersebut. Dengan sejumlah warisan Islam di Istana al-Mukarramah, dapat dinilai bahwa di kesultanan tersebut, dahulu nilai-nilai Islam telah terintegrasi dalam sistem sosial dan politik. Wallahu a’lam
Komentar
Posting Komentar