TAFSIR ذلك (QS. al-Baqarah/ 2: 2) Bagian 1
TAFSIR ذلك
(QS. al-Baqarah/ 2: 2)
Bagian 1
Bukhori at-Tunisi
(Alumni Ponpes YTP, Kertosono)
ذلك الكتب لا ريب فيه هدى للمتقين
(Inilah
al-Kitab, yang di dalamnya tidak ada keraguan sama sekali, menjadi petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa).
Kata “dzalika” (ذلك),
ada yang memaknai “ini” (هذا);
dan ada pula yang memberi makna “itu” (ذلك).
Tafsir ringkas yang paling popular di Indonesia, Tafsir Jalalain, karya dua
mufassir besar, Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin al-Suyuthi,
memberi makna kata “dzalika” (ذلك),
dengan makna “هذا” (ini).
Muhammad Abduh dan Rasyid Ridla dalam Tafsir al-Manar, tidak memberi makna kata
“dzalika” (ذلك), dengan
makna yang leterlek, namun menjelaskan tentang “al-Kitab” secara luas dan
mendalam. M. Yusuf Ali, memberi makna
kata “dzalika” (ذلك), dengan makna
“this”, ini (هذا).
Perbedaan pemberian makna tersebut karena perbedaan wacana tentang tujuan
penggunaan “isim isyarah” kata “dzalika” (ذلك)
itu sendiri. Dan Allah memberikan ruang luas untuk memilih makna dan tafsir
sesuai dengan kemampuan memikirkan, merenungkan, memaknai secara mendalam kata
tersebut.
Kata “dzalika” (ذلك) adalah bagian
dari “Isim Isyarah” (اسم الاشارة), “Kata
Tunjuk”, kata yang digunakan untuk menunjuk sesuatu. Isim Isyarah
dalam Ilmu Nahwu, dimasukkan katagori “isim ma’rifah” (اسم المعرفة),
isim (kata benda) yang “jelas” identitas, jenis, jumlah, sifat, dan lainnya
bagi pengucap (mutakallim); bukan “isim nakirah” (اسم النكرة),
isim yang masih “samar”, memerlukan penjelasan lebih lanjut.
Al-Qur’an ditunjuk dengan menggunakan “Isim Isyarah” (اسم الاشارة),
berarti al-Qur’an “ma’rifah”, “diketahui”, “dikenali”
secara popular, semua orang tahu, kenal, terutama bahasanya sehingga sifatnya define
(pasti), bukan sesuatu yang samar, remang-remang, tidak jelas, tidak
dikenal, dan lainnya, sehingga diikhtilafkan maksud dari kata-katanya. Al-Qur’an
adalah sesuatu yang jelas (bayan) dan dikenal secara luas (ma’rifah)
bahasa dan pengertiannya. Sehingga Allah sendiri menyebutnya sebagai Kitab yang
tidak diragukan kebenaran redaksi dan isinya (la raiba fihi).
Tuhan, menunjuk al-Qur’an dengan isim isyarah ذلك, dapat
dilihat dari dua aspek: Pertama, dari sisi Tuhan sebagai Dzat yang
berbeda dengan ciptaan-Nya (mukhalafah li al-hawadits), Dia menjadi Yang
Maha Jauh (al-Ba’id) dengan segala ciptaan-Nya. Karena Tuhan adalah Entitas
yang berbeda dengan ciptaanNYa. Oleh sebab itu, ketika Allah menunjuk kepada
“al-Kitab”, sebagai Tuhan, tentu menggunakan isim isyarah lil ba’id
(Kata Tunjuk jarak jauh) kepada “sesuatu” yang jauh dari diriNya. Ini petunjuk
bahwa Tuhan dan al-Kitab adalah dua “entitas” yang berbeda;
Kedua, Allah sebagai Dzat Yang Maha Dekat (al-Qarib). Meski ia “jauh”
dengan Tuhan karena aspek “mahiyah”-nya, namun al-Kitab adalah paling dekat dengan
Ilah-nya. Sebagaimana Tuhan dengan makhlukNya, misalnya manusia, Tuhan lebih dekat dengan urat nadi manusia itu sendiri (Huwa aqrabu min habl
al-warid), karena Tuhan adalah Dzat Yang Maha Dekat (qarib), Maha
Meliputi (al-Muhith) semua ciptaanNya. Tuhan tidak terikat “ruang” dan “waktu”,
karena Dia tidak bergerak (ghairu muharrik), tapi sebagai “Penggerak” (Muharrik).
Yang tidak bergerak, tidak memerlukan tempat dan waktu. Yang perlu tempat dan
waktu adalah yang bergerak, yaitu benda, materi, sesuatu yang “maujud”, yang
di-“ada”-kan, bukan yang “Ada” dengan sendirinya (Wujud), dan yang diciptakan.
Karena Dia begitu “dekat”, maka hampir tidak ada “jarak”, antara Dia dengan
makhlukNYa, walaupun bisa dibedakan, antara DiriNYa dan diri makhlukNya.
Al-Kitab adalah “kalam”-Nya (firman). Apa yang dikehendaki Allah tercermin
dalam kalam-Nya. Karena Allah dekat, maka untuk mengenali Allah, fahami KalamNya.
Kalam Allah, di sini Kitab al-Qur’an, sifatnya: mudah dikenali, diketahui, difahami,
dimengerti isinya.
Allah dalam QS. 2: 2 ini menggunakan kata ذلك yang berfungsi untuk menunjuk sesuatu yang “jauh”
(lil ba’id), karena Kitab al-Qur’an adalah kitab memiliki kandungan
makna dan hikmah yang sangat banyak dan mendalam. Semakin kita merenungkan isi
dan kandungannya, akan terkuak makna baru, pengertian baru, filosofi baru, ilmu
baru, yang sebelumnya belum terfikirkan. Ia harus dilihat sejauh mungkin
mata kepala dan mata batin memandang. Jangan dilihat sekilas saja, sambil lalu!
Allah dengan kata ذلك memerintahkan manusia untuk menelusuri lebih
jauh dan lebih dalam makna dan isi kandungannya, agar “khazanah”, kebenaran,
hikmah, manfaat, dan maslahah, dapat diperoleh manusia, khususnya orang-orang
beriman. Hindari fikiran “simulatif” bahwa hanya dengan “pegang” al-Qur’an,
sudah dapat “karamah” al-Qur’an. Sebagai “jalan pembuka”, ya; namun untuk
memperoleh “karamah” yang sesungguhnya, harus membaca, menelaah, mendalami,
merenungkan, dan meresapi secara mendalam Kitab al-Qur’an. Al-Qur’an memiliki
makna dan kandungan hikmah sangat banyak, semakin jauh ditelusuri makna dan
hikamh yang ada di dalamnya, semakin banyak makna dan hikmah baru yang didapat
dan ditemukan.
Karena itu, makna ذلك pada QS. Al-Baqarah,
ayat 2 ini, saya lebih memilih makna “itu” daripada “ini”, karena di sini tidak
hanya untuk menunjuk al-Kitab secara “fisik”, namun lebih kepada “non fisik”-nya,
kepada makna, nilai, filosofi, dan hikmah yang ada di dalam al-Qur’an. Bukan pada
bentuk formal al-Kitabnya, namun lebih kepada subtansi al-Kitabnya.

Komentar
Posting Komentar