LANGSUNG JATUH HATI
LANGSUNG JATUH HATI
Indah Hanifah Hanif
(Alumni Ponpes YTP, Kertosono)
Suatu ketika kira-kira pada tahun 1976 akhir, usiaku baru 10 tahunan, saat libur kenaikan kelas dari kelas 4 ke kelas 5, aku diajak oleh ayah (KH. Hanif Adzhar) ke suatu desa di Kertosono.. Aku tidak pernah tahu ternyata ayah adalah salah satu pengurus yayasan di pondok pesantren di kota tersebut.
Ayah hampir setiap bulan selalu berkunjung ke pesantren tersebut yang sekarang terkenal dengan sebutan Ponpes YTP (Yayasan Taman Pengetahuan).
Kala itu, seingatku hari Sabtu malam Ahad, kami menginap di sana di sebuah kamar kecil yang sederhana beralaskan tikar anyaman daun pandan yang memang disediakan untuk tamu karenanya dinamakan kamar tamu.
Keesokan harinya ketika urusan/pertemuan sudah selesai diajaklah aku pulang, tapi di luar dugaan ayah, aku menolak untuk pulang. Entah apa yang membuatku enggan pulang aku sendiri tidak tahu.
Ayahku terus merayuku untuk pulang, salah satu rayuannya, "Ayo pulang pamit dulu sama ibu dan ambil pakaian", tapi aku tetap tidak mau pulang, mungkin karena keramahan santri-santri yang kala itu masih dapat dihitung dengan jari, sangat perhatian dan menyayangiku meskipun bangunan dan kondisi pondok masih sangat sederhana. Bila hujan bocor di sana sini dan juga banjir, kalau sudah banjir sandal-sandal dan sepatu-sepatu berenang ke sana kemari, meskipun begitu aku sangat senang dan bahagia.
Karena aku enggan pulang meski dirayu sedemikan rupa, terpaksalah ayah pulang sendiri dan aku langsung tinggal dan menjadi santri termuda.
Setelah aku memutuskan untuk tinggal, jadilah ayahku mengunjungiku perdua pekan sekali. Karena setiap mengunjungiku hari Sabtu malam dan di pondok diadakan Mumarosah, acara rutin sebagai ajang pelatihan pidato bagi para santri, maka ayah juga diberi kesempatan untuk berpidato.
Aku bersyukur dan berterima kasih kepada para santri yang mau mendengarkan apa yang disampaikan oleh beliau, dan bahkan sebagian santri, sangat menanti-nantikan ayahku untuk berpidato atau pun sekedar memberikan sambutannya.
Ayah, aku anakmu berterimakasih karena engkau telah memperkenankanku untuk menuntut ilmu di pondok pesantrenku "ArRoudlotul Ilmiyah" yang sangat aku cintai.
Sejak saat itulah ternyata aku telah terpikat dan jatuh hati dengan segala kekurangan-kekurangannya.
Komentar
Posting Komentar