TENTANG SHALAT RAGHAIB
TENTANG SHALAT RAGHAIB
Oleh : Khoirul Faizin, Lc
(Alumni Ponpes YTP, Kertosono)
Masih seputar amalan di bulan Rajab. Terdapat satu amalan yang menjadi ikhtilaf diantara Umat Islam dari masa ke masa, yaitu "Shalat Raghaib".
Secara bahasa, "Raghaib" adalah bentuk jamak dari kata "Raghbah" yang bermakna sesuatu yang menyenangkan atau karunia yang banyak. Maka dapat dipahami, Shalat Raghaib adalah Shalat yang dilaksanakan untuk mengharap cinta Allah dan keberkahan dalam karunia-Nya.
Imam al-Ramli seorang 'Ulama rujukan terkemuka dalam mazhab Syafi'i, di dalam Fatawa beliau menyebutkan bahwa "Shalat Raghaib" ini baru ada sekitar pertengahan abad ke-4 H.
Dan jika dilacak pada abad ke-4 H, Hadits Populer tentang Shalat Raghaib ini wujud dalam Quth al-Qulub kitab karya Abu Thalib al-Makki (w. 386 H). Yang dijadikan rujukan utama Imam al-Ghazzali dalam menulis Ihya Ulum al-Din yang monumental itu.
Bagaimana tata cara Shalat Raghaib ini?
Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah 'Hadits' yang populer, shalat ini dilaksanakan di antara Maghrib dan ‘Atamah (Isya), pada malam Jum’at sebanyak 12 raka’at. Pada setiap raka’at membaca surat Al Fatihah satu kali dan surat Al Qadr tiga kali, serta surat Al Ikhlas dua belas kali. Shalat ini dipisah-pisah setiap dua raka’at dengan salam. Jika telah selesai dari shalat tersebut, maka ia bershalawat kepadaku tujuh puluh kali hingga seterusnya. Namun sayangnya riwayat hadits ini sama sekali tidak berdasar.
Ibnu al-Jauzi dalam al-Maudhu'at menyatakan Hadits ini disepakati sebagai riwayat palsu. Pun demikian dikatakan oleh ahli hadits terkemuka, al-Hafizh al-'Iraqi dan Imam al-Syaukani.
Bagaimana sikap Imam Mazhab yang 4 berkaitan dengan ini? Maka, Imam al-Ramli menyatakan, tidak ada sikap atau fatwa dari Keempat Ulama besar tersebut sebab Bid'ah ini baru muncul setelah mereka wafat.
Namun 'Ulama terkemuka setelahnya seperti Imam al-Nawawi, Imam 'Izz bin Abdissalam, Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah dan lainnya sepakat bahwa amalan shalat raghaib adalah Bid'ah yang harus ditinggalkan.
Maka cukuplah kita beribadah sesuai tuntunan dalil shahih yang ada. Dengan sendirinya, Cinta keberkahan dari-Nya akan kita dapatkan.
Wallahu a'lam bi al-Shawab
Komentar
Posting Komentar