Dua Fungsi Agama dalam Kehidupan

 


Teks Khutbah Jum’at

Untuk Masjid-Masjid di Lingkungan

PT. PAMAPERSADA NUSANTARA, Site KPC Sangatta

 

Khutbah              : Jum’at Ke-empat

Tanggal               : 28 Rabiul Awwal 1445H. / 13 Okt. 2023M.

Tema                  : “Dua Fungsi Agama dalam Kehidupan”

Disiapkan oleh     : K.H. Hamim Thohari, B.IRK (Hons), [Pembina Kerohanian Islam

                           Yayasan Insan Mulia PAMA, Site KPC Sangatta]

 

Khutbah Pertama

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ التَّنْزِيلِ، أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ: ﴿ وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ  وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾ [ الأنعام: 153] وَالصَّلَاةُ السَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْدِّينِ، أّمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ، أُوصِينِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ لِقَوْلِهِ تَعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ [آل عمران: 102]

 

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Dari atas mimbar jum’at ini, khatib berpesan untuk diri sendiri dan untuk para jama’ah sekalian, agar selalu bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan istiqomah dalam iman dan islam  hingga akhir hayat. Sebagaimana Allah, Swt. berpesan dalam firman-Nya: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali 'Imran: 102)

 

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Sebagian orang, bahkan dari kalangan ummat Islam sendiri, ada yang berpandangan bahwa agama itu harus dipisahkan dari urusan politik, ekonomi dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat duniawi. Bahkan mereka gencar mempromosikan pandangannya itu dengan segala cara dan berbagai bentuk propaganda. Tujuannya, agar agama, terutama agama Islam tidak punya peranan sedikit pun dalam kehidupan. Kalau pun ada hanya dalam masalah ibadah yang bersifat personal dan difahami secara sempit.

 

Padahal, setiap Muslim seharusnya berkeyakinan bahwa kebahagiaan dan kesuksesan dunia dan akhirat hanya bisa diraih melalui komitmen dalam beragama. Dengan beragama yang benar, manusia mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara petunjuk dan kesesatan dan antara keteraturan dan kekacauan dalam hidup. Oleh karena itu, bangsa kita menerjemahkan kata ad-diin dengan a-gama, dalam bahasa Sansekerta berarti “tidak kacau atau tidak berantakan.” Maka agama (ad-diin) adalah sistem yang dibutuhkan oleh manusia bahkan seluruh makhluq untuk mengatur kehidupan agar tertata dengan baik dan terjalin hubungan yang harmonis antara alam (seluruh makhluq, termasuk manusia) dengan Penciptanya, juga antara sesama makhluk, untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

 

Manfaat beragama tersebut, di antaranya telah disebutkan dalam firman Allah, Swt.: مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ /“Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan memberinya kehidupan yang baik dan Kami sungguh akan memberi mereka balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (An-Nahl: 97) Menurut para mufassir, perbuatan seseorang itu belum dianggap sebagai amal sholeh sebelum pelakunya beriman, yakni: menerima Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai nabinya. Dan, begitulah konsekuensi sebagai orang yang beragama Islam.

 

Maka fungsi dan kepentingan agama (ad-diin) dalam kehidupan dapat diringkas ke dalam dua perkara:

1.   Untuk menjawab tiga pertanyaan penting: Tentang dari mana kita, untuk apa hidup di dunia dan hendak ke mana setelah kehidupan ini?

2.   Sebagai sumber etika dan akhlaq mulia serta menjaga lima kebutuhan mendasar (dhoruuriyatul khoms) yang dibutuhkan oleh seluruh ummat manusia.

 

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Fungsi Pertama: Untuk menjawab tiga pertanyaan penting; tentang dari mana kita, untuk apa hidup di dunia dan hendak ke mana setelah kehidupan ini?

 

Sepanjang sejarah, manusia selalu mencari-cari jawaban tentang tiga pertanyaan tersebut. Namun, dengan menggunakan akal semata-mata, jawabannya tidak pernah ditemukan dengan benar dan memuaskan. Maka manusia tetap membutuhkan bimbingan agama. Tentang “dari mana asal usul kita?” Allah melalui wahyu-Nya memberitahukan: يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ / “Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 21)

 

Tentang “untuk apa kita hidup di dunia ini?” Wahyu menjawab: “وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ / “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (adz-Dzariyat: 56) dan tentang ke mana kita akan pergi setelah hidup di dunia, wahyu menjawab: “قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ / “Katakanlah: ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari-nya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), Tuhan yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia akan Memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (al-Jumuah: 8)

 

Dengan mengetahui jawaban dari tiga pertanyaan tersebut, maka manusia akan sadar bahwa dirinya hanyalah makhluq lemah yang diciptakan oleh Allah, Tuhan yang Mahakuasa. Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah selama hidup di dunia dan selanjutnya akan kembali kepada-Nya di alam akhirat. Di sana manusia akan ditunjukkan hasil usahanya di dunia, apakah akan membawanya kepada kebahagiaan abadi di dalam surga atau penderitaan selamanya di dalam neraka.

 

Dengan mengenal Tuhan, manusia akan menjadi pribadi yang khusyu’; hatinya tenteram, tunduk dan taat kepada Allah serta senantiasa yakin (sewaktu-waktu) akan berjumpa dengan Allah dan kembali kepada-Nya untuk menerima balasan dari perbuatan-nya. الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ “(orang-orang yang khusyu’ itu adalah) mereka yang yakin akan bertemu dengan Tuhan mereka dan (yakin) bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (al-Baqarah: 46)

 

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Hanya dengan beragama yang benar manusia akan mengenal Allah, Tuhan yang Haq (yang Mahabenar), juga akan mengenal misi kehidupannya, yakni untuk menjalankan pengabdian kepada Allah dengan berbagai amal ketaatan dan kebajikan. Maka di mana pun dan kapan pun, seorang muslim yang benar akan selalu bersikap taqwa kepada Allah. Tidak berkepribadian ganda (split personality), seperti ketika di masjid sebagai Kyai atau santri namun ketika di pasar atau di parleman berubah menjadi belantik sapi atau preman coboy.

 

Hal itu terjadi karena pandangan yang memisahkan agama dari pasar (ekonomi) dan agama dari politik. Padahal agama Islam, melaui lisan Nabinya, memerintahkan agar seorang muslim harus bertakwa di mana pun dan kapan pun: اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ / “Bertakwalah kepada Allah di mana pun dan kapan pun!” (Hr. Turmudzi) Artinya, sikap takwa yang dibangun oleh agama yang benar itu tidak bisa dipisahkan dari segala aktifitas kehidupan kita.

 

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Fungsi Kedua: Sebagai sumber etika dan akhlak mulia serta untuk menjaga lima kebutuhan mendasar (dhoruuriyatul khoms) yang dibutuhkan oleh manusia.

 

Setiap manusia membutuhkan perlakuan baik dari sesamanya. Sedangkan  perlakuan baik itu terbentuk oleh ajaran agama. Maka Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata: حُسْنُ الْخُلُقِ هُوَ الدِّينُ كُلُّهُ وَهُوَ مِنْ حَقَائِقِ الْإيمَانِ وَشَرَائِعِ الْإِسْلَامِ / “Kebaikan akhlaq itu adalah agama sepenuhnya, ia merupakan realisasi dari iman dan syariat Islam…” Selanjutnya beliau mengatakan: “Antara aqidah dan akhlaq memiliki hubungan yang kuat (satu sama lainnya) tidak bisa dipisahkan.” Senada dengan itu, Abu Atahiyah menyatakan dalam sebait syairnya: لَيْسَ دُنْيَا بِغَيْرِ دِينٍ وَلَيْسَ * الدِّينُ إِلَّا مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ / “Tidak ada (artinya) dunia ini tanpa agama, dan tiada agama kecuali (dengan) kemuliaan akhlaq.” Dan, semua itu menegaskan sabda Rasulullah, saw.: أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا / “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaqnya.”  (Hr. Turmudzi)

 

Selain agama sebagai sumber dan dasar pembentukan akhlaq mulia, agama Islam dengan syariatnya yang lurus, bertujuan untuk menjaga lima kebutuhan mendasar ummat manusia atau yang disebut “maqaashid asy-syari’ah li-hifzhi dhoruuriyatul khoms.” (Tujuan syariat untuk menjaga lima kebutuhan manusia yang paling mendasar) Tentang hal itu, Imam asy-Syatibiy dalam al-Muwaafaqat, berkata: “Para ulama’ telah bersepakat, bahkan dari berbagai aliran, bahwa syariat itu dibuat demi menjaga dhoruuriyatul khoms (lima kebutuhan ummat manusia yang paling mendasar), yaitu (untuk menjaga): Agama, jiwa, keturunan, harta dan akal…”

 

Secara singkat maqashid syariah (tujuan syariat Islam untuk menjaga lima kebutuhan manusia yang paling mendasar) itu dapat diuraikan sebagai berikut:

1.   Hifzhud Diin (Penjagaan terhadap agama). Agama adalah perkara utama yang dibutuhkan oleh ummat manusia. Maka Syariat Islam menjaga kebebasan beragama, tidak ada paksaan dalam beragama. Akan tetapi, ketika orang sudah memeluk Islam, lalu murtad maka harus ditegakkan had (hukuman)-nya demi menjaga kesucian Islam.  

2.   Hifzhun Nafs (Penjagaan terhadap Jiwa). Nyawa manusia adalah perkara yang mesti dijaga dan dilindungi, maka syariat Islam melarang pembunuhan tanpa kebenaran.

3.   Hifzun Nasl (Penjagaan terhadap Keturunan). Manusia adalah khalifah Allah di muka bumi, maka keberlangsungan hidupnya harus dijaga dengan memperturunkan anak keturunannya secara benar dan halal. Maka manusia wajib menjaga kehormatan sehingga Islam mensyariatkan pernikahan dan mengharamkan perzinaan, serta melarang perilaku seksual yang menyimpang.

4.   Hifzhul Maal (Penjagaan terhadap Harta). Harta di dalam Islam dianggap sebagai tiang kehidupan, oleh karena itu harta benda harus dijaga dan dilindungi. Maka syariat Islam melarang perbuatan memperoleh harta dengan cara yang tidak benar, seperti tindak pencurian, korupsi, memakan harta anak yatim, harta yang diperoleh dari hasil riba dan cara-cara zhalim lainnya.

5.   Hifzul Aql (Penjagaan terhadap Akal). Akal adalah anugerah Allah yang paling berharga. Tanpa akal, kata al-Ghozali, manusia tidak beda dengan binatang. Di antara cara Islam menjaga akal adalah dengan mengharamkan segala perbuatan yang bisa merusak akal; seperti mengkonsumsi minuman keras, narkoba dan zat-zat ediktif lainnya. Bahkan kegemaran menonton pornografi juga termasuk yang dilarang dalam syariat Islam karena dampaknya terhadap akal lebih buruk dari pada minuman keras.

 

Lima penjagaan tersebut bisa disimpulkan dalam firman Allah, Swt: قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ﴾ / “Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan ( mengharamkan ) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (al-A’raf: 33)

 

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Kaum muslimin semestinya menjadi pelopor dalam penjagaan terhadap lima perkara tersebut. Sebab mereka memahami bahwa segala pelanggaran terhadap kehormatan dhoruriyatul khams tersebut merupakan perbuatan keji dan termasuk dosa besar. Di tengah kerusakan yang melanda dunia, keadaan lingkungan di mana ummat Islam tinggal, masih jauh lebih baik dari pada belahan dunia yang lain. Itu karena ummat Islam dianggap kaum beragama yang masih kuat berpegang kepada moralitas dan ajaran agamanya. Demikian itu telah disinyalir oleh Rasulullah, saw. dalam sabdanya: لَا تَزالُ طائِفَةٌ مِن أُمَّتي ظاهِرِينَ علَى الحَقِّ، لا يَضُرُّهُمْ مَن خَذَلَهُمْ، حتَّى يَأْتِيَ أمْرُ اللهِ / “Akan selalu ada segolongan dari ummatku yang berpegang kepada kebenaran, tidak merasa terancam dengan perilaku orang yang memusuhi mereka (dan hal itu terus dilakukannya) sampai datang keputusan Allah.” (Hr. Muslim)

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ  []

 

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، والصَّلَاةُ والسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ * فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا االلهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ* فَقَالَ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ التَّنْزِيلِ: -- أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ -- ﴿ قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾ [سورة الأنعام: 161] وَقَالَ تَعاَلَى: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا﴾ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ:

 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لَنَا شُؤُونَنَا كُلَّهَا وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، لَا إلَهَ اِلَّا أَنْتَ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا، رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ، اللَّهُمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ!

 

وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِيْفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ – أَقِمِ الصَّلَاةَ!

 

[][][][][]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

DO'AKU HARAPANKU

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa