Dua Perintah: Agar Adil dan Berbuat Ihsan
Teks Khutbah Jum’at
Untuk Masjid-Masjid di Lingkungan
PT. PAMAPERSADA NUSANTARA, Site KPC Sangatta
Khutbah : Jum’at Ketiga
Tanggal : 21 Rabiul Awwal 1445H. / 29 Sept. 2023M.
Tema : “Dua Perintah: Agar Adil dan Berbuat Ihsan”
Disiapkan oleh : K.H. Hamim Thohari, B.IRK (Hons), [Pembina Kerohanian Islam
Yayasan Insan Mulia PAMA, Site KPC Sangatta]
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْقَائِلُ فِي مُحْكَمِ التَّنْزِيلِ، أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ: ﴿ اِعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴾ (المائدة: 8) وَالصَّلَاةُ السَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْدِّينِ، أّمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ، أُوصِينِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ لِقَوْلِهِ تَعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah
Seperti lazimnya, setiap khutbah jum’at, khatib senantiasa mengingatkan agar jamaah semua bertaqwa kepada Allah. Maka pada hari ini, khatib kembali mengingatkan diri dan jamaah sekalian seperti yang diingatkan oleh Allah, Swt.: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. (QS. Ali 'Imran: 102)
Selanjutnya, hampir di setiap akhir khutbah jum’at ada ayat al-Qur’an yang selalu disebut, yakni: ﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴾ / “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (an-Nahl: 90)
Kenapa ayat ini selalu disebut? Adalah karena ada dua perintah penting, selain bertaqwa kepada Allah, yaitu agar setiap mukmin bersikap adil dan berbuat ihsan (kebajikan). Maka dalam khutbah kali ini khatib ingin menjelaskan makna dari dua perintah tersebut, yakni “Berlaku adil dan berbuat ihsan (kebajikan).
Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah
Pertama: Makna Bersikap Adil (al-‘Adlu)
Menurut Imam al-Ghozali dalam kitab Ihya’ Uluumiddiin berlaku adil dalam ayat tersebut gambarannya seperti seorang pedagang yang menjaga modalnya. Dengan bersikap adil akan menyelamatkan seseorang dari mengalami kebangkrutan dan kehabisan modal. Sedangkan modal utama seorang manusia adalah akal, hati dan badannya. Itu semua harus dijaga dan diperlakukan secara adil.
Perlakuan adil terhadap tiga modal utama manusia itu adalah dengan memperhatikan dan memenuhi hak-haknya. Sebab dengan tidak memperhatikan dan memenuhi hak-hak diri yang terdiri dari akal, hati dan tubuh berarti kita telah berbuat zholim terhadap diri kita sendiri. Itulah sebabnya, bersikap adil itu harus dimulai dari diri kita terlebih dahulu. Sebagaimana Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ / “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri…” (an-Nisa’: 135)
Oleh karena itu, ketika Sahabat Abu Darda’ mengabaikan hak keluarga bahkan hak dirinya karena mementing urusan ibadah (sholat, puasa dan tidak mementingkan dunia), Sahabat Salman al-Farisi menasehatinya, “Untuk Tuhanmu ada hak-Nya yang harus kau tunaikan, untuk keluargamu ada haknya yang harus kamu tunaikan, begitu juga untuk jiwa-mu juga ada haknya yang harus kamu tunaikan.” فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ / “Maka penuhilah haknya masing-masing!” Dan nasehat ini dibenarkan oleh Rasulullah, saw. dengan bersabda: صَدَقَ سَلْمَانُ “Salman benar.” (Hr. Bukhari)
Sebagaimana diketahui bahwa manusia itu terdiri dari tiga unsur penting; Akal, hati dan badan. Masing-masingnya punya hak yang harus ditunaikan:
Haknya akal adalah ilmu dan penjagaan dari segala yang bisa merusaknya.
Haknya hati adalah beribadah dan dzikrullah serta segala kegiatan positif yang bisa membangun kesehatan jiwa.
Haknya badan adalah mengkonsumsi makan dan minum yang halal dan menyehatkan serta kerehatan yang dibutuhkan.
Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah
Maka dengan bersikap adil yakni memenuhi minimal tehadap hak-hak tiga unsur terpenting dari diri manusia tadi, akan menyelamatkan kita dari kerugian dan kehilangan modal utama. Maka hati untuk beriman, badan untuk amal sholeh dan akal untuk berbagi ilmu, nasehat dalam kebaikan dan kesabaran. Itulah jalan agar kita terhindar dari kerugian. Sebagimana firman Allah dalam surat surat al-Ashr: وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ / “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan beramal sholeh, serta saling bernasehat dalam kebenaran dan kebenaran.” (al-Ashr: 1-3)
Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah
Kedua: Makna Berbuat Ihsan (al-Ihsan)
Bagaimana pun bersikap adil seperti yang dijelaskan di atas, kata al-Ghozali, baru bisa menyelematkan seseorang dari kerugian dan kehilangan modal. Ibarat pedagang, seorang mukmin tidak boleh hanya puas dengan balik modal saja atau hanya terjaga modalnya. Harus ada nilai tambah dan usaha untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Caranya, harus ditambah lagi dengan berbuat ihsan, memberi nilai tambah dan berkontribusi dalam kebaikan yang lebih besar.
Itulah makna perintah Allah, Swt. untuk berbuat ihsan, وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ / “Berbuat baiklah ( kepada orang lain ) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang berbuat kerusakan.” (al-Qasos: 77)
Jika hak akal telah ditunaikan dengan membekalinya ilmu dan penjagaan yang baik maka ilmunya harus diamalkan dengan cara diajarkan kepada orang lain atau menjadi pencerahan bagi ummat; jika hak hatinya telah ditunaikan dengan ibadah dan dzikrullah, maka harus menjadi pembentuk kepribadian dan akhlaqnya, sehingga menjadi manusia yang baik terhadap diri, keluarga dan masyarakatnya. Begitu juga ketika badannya telah dijaga dengan makanan halal dan sehat serta diberikan hak kerehatan yang cukup, maka tenaganya harus digunakan untuk manfaat lebih besar dan berguna untuk ummat dan masyarakatnya secara lebih luas.
Dari sinilah seorang mukmin itu akan menjadi manusia terbaik, خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ /“Sebaik-baik manusia adalah orang yang lebih manfaat bagi lainnya.” (Hr. Thabrani) Dengan berbuat ihsan sedemikian itulah, kata al-Ghozali, baru bisa menjadi jalan untuk meraih keuntungan dan kebahagiaan, sebagaimana hal itu akan menjadi peluang untuk lebih dicintai oleh Allah, seperti firman-Nya: إِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ / “Sesungguhnya rahmat (kasih sayang) Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat ihsan.” (al-A’raf: 56)
Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah
Laksana seorang pedagang, seorang mukmin akan berusaha untuk mengembangkan modal utamanya untuk berdagang demi meraih keuntungan yang lebih besar, seperti yang ditawarkan oleh Allah, Swt.: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ / “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih.”
Bentuk perdagangannya adalah: تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ / “(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” Menurut Tafsir al-Wasith, bentuk perdagangannya adalah bahwa kamu sepenuhnya berkomitmen dalam keimanan kepada Allah dan Rasulnya dan berjihad di jalan Allah demi meninggikan kalimat-Nya dan menolong agama-Nya dengan menggunakan harta dan jiwa.
Dan selain itu, keuntungan yang akan didapat adalah: يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ / “Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” وَأُخْرَىٰ تُحِبُّونَهَا ۖ نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ / “Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (ash-shof: 10-13)
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ []
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، والصَّلَاةُ والسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ * فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا االلهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ* فَقَالَ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ التَّنْزِيلِ: -- أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ -- ﴿ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾ (البقرة: 195)
وَقَالَ تَعاَلَى: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا﴾ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لَنَا شُؤُونَنَا كُلَّهَا وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، لَا إلَهَ اِلَّا أَنْتَ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا، رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ، اللَّهُمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ!
وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِيْفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ – أَقِمِ الصَّلَاةَ!
Komentar
Posting Komentar