DUA PENUMBUH RASA SYUKUR

 

Teks Khutbah Jum’at

Untuk Masjid-Masjid di Lingkungan

PT. PAMAPERSADA NUSANTARA, Site KPC Sangatta

 

Khutbah

:

Jum’at Keempat

Tanggal   

:

26 Ramadan 1445H. / 5 April 2024M.

Tema

:

“DUA PENUMBUH RASA SYUKUR”

Oleh   

:

K.H. Hamim Thohari, B.IRK (Hons), CWC.

 

 

[Ustadz / Dai Yayasan Insan Mulia PAMA, Site KPC Sangatta, Kutai Timur]

 

Khutbah Pertama

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ التَّنْزِيلِ:(أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ) ﴿ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴾ [البقرة: 185]  وَالصَّلَاةُ والسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْبَرِيَّةِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أّمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ، أُوصِينِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، فَقالَ تَعالى مُوَاصِيًا لَنَا بِتَقْوَاهُ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

 

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Alhamdulillah, kita telah berada di jum’at ke-4 bulan Ramadan, artinya bahwa kita telah berada di penghujung bulan yang mulia ini. Maka khatib kembali berpesan, agar kita semua bertaqwa kepada Allah, dan memperoleh predikat muttaqin, sebagai orang yang bertaqwa sehingga tercapailah tujuan disyariatkannya puasa, yaitu: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ / “agar kalian bertaqwa.” [al-Baqarah: 183)

 

Selain puasa bisa menumbukhan jiwa bertaqwa, puasa pula dapat mendorong rasa syukur seorang hamaba kepada Allah,وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴾  / “dan agar kamu bersyukur.” (al-Baqarah: 185). Maka dalam khutbah kali ini, khatib akan menerangkan tentang, “Dua Perkara Penumbuh Rasa Syukur dalam Berpuasa.”

 

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Pertama: Menyempurnakan Bilangan Puasa

Surat al-Baqarah ayat 185 menerangkan kemurahan Allah, terhadap hamba-Nya yang berpuasa, di antaranya dengan diperbolehkannya untuk tidak puasa bagi yang sakit atau yang sedang dalam perjalanan jauh. Sebab, “يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْر / Allah menghendaki kemudahan terhadap dirimu dan tidak menghendaki kesulitan terhadap dirimu.”

 

Akan tetapi, sebagai sorang muslim yang bertaqwa, kewajiban menyempurnakan bilangan berpuasa itu tetap harus dilaksanakan. Di luar bulan Ramadan, jika sudah mampu membayar puasanya, maka wajib membayarnya sebanyak hari-hari yang ditinggalkannya. Karena kewajiban puasa Ramadan itu sebulan penuh, baik selama 29 hari atau maksimalnya selama 30 hari, sebagaimana sabda Rasulullah, saw.: الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُ الْهِلَالَ فَصُومُوا ، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ / “Satu bulan itu selama 29 hari, jika kamu melihat hilal (di awal Ramadan), maka berpuasalah, dan jika kamu melihatnya (di awal Syawal) maka sudahilah puasamu)! Namun jika cuaca mendung (sehingga kamu tidak bisa melihat hilal) maka perkirakanlah!” (Hr. Muslim)

 

Maksud sabda nabi: “فَاقْدِرُوا لَهُ / maka perkirakanlah!”, ada dua pemahaman berbeda: 1) di kalangan ahli hisab, difahami sebagai perintah untuk memperkirakan bilangan Ramadan dengan hisab (perhitungan berdasarkan ilmu falak), sedangkan untuk ahli ru’yah, difahami sebagai perintah untuk memperkirakan bahwa hilal belum bisa dilihat sehingga disempurnakan menjadi 30 hari. Karena dalam riwayat yang lain oleh Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa bulan itu ada kalanya 29 hari; bisa juga 30 hari. Maka jika ada perbedaan bilangan puasanya, maka penyempurnaannya sesuai dengan metode penetapan puasa yang dianutnya. Jika ikut metode hisab, disempurnakan dengan cara hisab; jika ikut metode ru’yah, disempurnakan dengan cara ru’yah.

 

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Penyempurnaan puasa, tentu tidak cukup dengan jumlah bilangannya saja, namun juga bersama adab lahir dan batinnya. Kesan dan bekas puasa harus tetap dipertahankan sampai kapan pun di bulan-bulan lainnya; jika di saat puasa kita menjaga setetes air agar tidak tertelan karena takut puasa kita batal, maka di luar bulan puasa kita juga harus menjaga barang haram agar tidak masuk ke dalam perut kita dan perut anak istri kita. Ketaqwaan dan kebaikan tetap harus dijaga di mana pun dan kapan pun, sebagaimana yang dipesankan oleh para ulama:كُونُوا ربَّانِيِّينَ ولَا تَكُونُوا رَمَضَانِيِّينَ!" / Jadilah kamu sebagai manusia Rabbaniy (yang baik dan takut kepada Allah sepanjang masa), jangan menjadi manusia ramadaniy baik dan takut kepada Allah) di musim Ramadan saja!”

 

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Kedua: Mengagungkan Asma Allah

Setelah berhasil menjalankan puasa dengan baik dan sempurna hingga habis bulan Ramadan, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bertakbir, mengagungkan asma-Nya. وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ / Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (dengan bertakbir), atas petunjuk-Nya kepadamu dan agar kamu bersyukur.” (al-Baqarah: 185).

 

Takbir, dengan ucapan Allahu Akbar atau takbiran yang dilakukan setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, selain merupakan pengakuan atas keagungan dan kebesaran Allah adalah juga sebagai ungkapan rasa syukur atas hidayah Allah kepada kita. Maka kita bertakbir karena bersyukur atas taufiq Allah yang telah membuat kita mampu menunaikan puasa hingga hari terakhir bulan Ramadan. Di mana puasa mendatangkan banyak kebaikan untuk kita, berupa: rahmat, pengampunan dan pembebasan dari api neraka.

 

Kita bertakbir karena bersyukur atas nikmat Allah berupa hidayah-Nya yang tak ternilai. Maka Allah mengingatkan kita: وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ / Dan ingatlah kepada-Nya karena Dia telah memberimu hidayah dan sesungguhnya kamu sebelumnya termasuk orang-orang yang tersesat.” (al-Baqarah: 198) Hidayah adalah nikmat terbesar. Tanpa hidayah-Nya, kita akan merugi. Sebagaimana Allah berfirman: مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي ۖ وَمَن يُضْلِلْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ / Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, maka dialah (hamba) yang terbimbing, dan barangsiapa yang tersesat, maka merekalah (hamba) yangn merugi.” (al-A’raf: 178)

 

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Mampu menjalankan puasa karena keimanan dan pengharapan akan rahmat dan ampunan-Nya merupakan hidayah dari Allah. Jika tidak, kita tidak akan mampu melakukannya. Maka dalam perang Khandak, Nabi Muhammad, saw. memuji Allah dalam doanya:  واللَّهِ، لَوْلَا اللَّهُ ما اهْتَدَيْنَا، ولَا صُمْنَا ولَا صَلَّيْنَا، فأنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا / Demi Allah, seandainya bukan karena (adanya pertolongan) Allah, kami tidak akan mendapat hidayah, tidak akan berpuasa dan tidak akan pula menjalankan shola. Maka turunkanlah ketenteraman ke (dalam hati) kami! …”  (Hr. Bukhari)

 

Maka seluruh ibadah: Sholat, puasa dan zakat dan ibadah-ibadah lainnya adalah merupakan nikmat Allah kepada hamba-Nya. Maka harus dijaga dan dilaksanakan dengan sepenuh keimanan dan ketaatan. Karena dengan melaksanakan ibadah itulah Allah akan menjaga kita dari api neraka.  Nabi, saw. bersabda: حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَلَّا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا / “Hak Allah atas hamba-Nya adalah bahwa mereka mesti beribadah (menyembah-Nya) tanpa menyekutukan-Nya dengan apa / siapa pun. Sedangkan hak hamba atas Allah adalah bahwa Allah tidak akan menyiksa hamba yang (menyembah-Nya) tanpa menyekutukan-Nya (dengan apa / siapa pun).” (Hr. Bukhari dan Muslim)

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.


Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، والصَّلَاةُ والسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ * فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا االله فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ* فَقَالَ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ التَّنْزِيلِ  -- أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ  -- وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ ﴾ [ سورة الأعراف: 178]

 

وَقَالَ تَعاَلَى: (إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا) اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ:

 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ، رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ، اللَّهُمَّ أعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اللَّهمَّ آتِ نفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أنْتَ خَيرُ مَن زَكَّاهَا، أنْتَ وَلِيُّهَا ومَوْلَاهَا، اللهمَّ إني أعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ  لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، ومن دعوةٍ  لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينْ!  

 

وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، بِفَضْلِ: سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِيْفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ – أَقِمِ الصَّلَاةَ!

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

DO'AKU HARAPANKU

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa