Dua Doa Penting Nabi Ibrahim


Teks Khutbah Jum’at

Untuk Masjid-Masjid di Lingkungan

PT. PAMAPERSADA NUSANTARA, Site KPC Sangatta

 

Khutbah

:

Jum’at Ketiga

Tanggal  

:

23 Zul Qo’dah 1445H. / 30 Mei 2024M.

Tema

:

“Dua Doa Penting Nabi Ibrahim”

Oleh   

:

K.H. Hamim Thohari, B.IRK (Hons), CWC.

 

 

[Ustadz / Dai Yayasan Insan Mulia PAMA, Site KPC Sangatta, Kutai Timur]

 

Khutbah Pertama

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ التَّنْزِيلِ، أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ:﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾[النحل:120] وَالصَّلَاةُ والسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أّمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ، أُوصِينِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، فَقَالَ تَعالى:﴿وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾ [آل عمران: ۲۰۰]

 

Saudara-saudaraku,

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Hari ini adalah jum’at kedua di bulan Zulhijjah. Kurang lebih 3 hari lagi, kita akan melaksanakan sholat Idul Adha dan berkurban. Maka hendaklah kita banyak bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya. Di samping itu, marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan berusaha untuk menjauhi segala larangan-Nya dan menjalankan segala perintah-Nya, agar kita mendapat keberuntungan di dunia mau pun di akhirat.

 

Saudara-saudaraku,

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Bulan Zulhijjah sebagai bulan haji atau bulan berkurban, mengingatkan kita kepada seorang manusia yang bergelar abul ambiya’, bapak para nabi, yaitu Nabi Ibrahim, as.

 

Maka dalam khutbah kali ini, khatib ingin mengambil beberapa pelajaran dari“Dua Doa Penting Nabi Ibrahim, as.”  terkait dengan anak keturunannya yang ditinggalkan di bumi yang tandus, yaitu lembah Bakkah, atau Mekah al-Mukarramah.  

 

Pertama, Nabi Ibrahim, as. berdoa:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ “Wahai Tuhan-ku, sesungguhnya aku telah menempatkan di antara anak keturunanku di sebuah lembah tanpa tanaman, di sisi Rumah-Mu yang disucikan. Tuhanku, agar mereka itu menegakkan sholat, maka jadikanlah hati manusia merindukan mereka dan anugerahkanlah kepada mereka berbagai buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim: 37)

 

Saudara-saudaraku,

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

 

Dalam doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim, a.s. tersebut ada satu permohonan penting: “Bahwa beliau rela menempatkan sebagian di antara keturunannya di sebuah lembah tanpa tanaman dan tanpa penghuni karena di situ ada Baitullah agar anak keturu-nannya manjadi ahli ibadah yang senantiasa menegakkan sholat.”

 

Demikian itu sebagai tanda perhatian dan kekhawatiran yang benar dari orang tua terhadap anak-anaknya. Bukan merisaukan tentang “pekerjaan, pangkat dan jabatannya setelah ditinggal mati orang tua.” Akan tetapi orang tua hendaklah risau seperti apa yang dirisaukan oleh Nabi Ya’qub, as. terhadap putra-putranya menjelang kematiannya: مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي؟ / “apa yang akan kamu sembah setelah kematianku?” Dia hendak memastikan bahwa anak keturunannya akan tetap menjadi ahli ibadah, penegak sholat dan penyembah Allah yang Maha Esa.

 

Selanjutnya Nabi Ibrahim, as. berdoa: وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ / “Dan berikanlah kepada mereka rizqi berupa buah-buahan agar mereka bersyukur.” Menurut Ibnu Katsir, permohonan agar mereka diberi rizqi berupa buah-buahan itu agar mereka bersyukur, yakni, لِيَكُونَ ذَلِكَ عَوْنًا لَهُمْ عَلَى طَاعَتِكَ “Agar itu membantu mereka untuk taat kepada-Mu, yakni kepada Allah.”  

 

Maka kelimpahan rizqi yang dianugerahkan oleh Allah itu bukan sebagai tujuan utama, melainkan sebagai tujuan pengantara untuk menjadikan mereka semakin bersyukur dan taat beribadah kepada Allah.

 

Saudara-saudaraku,

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Maka sudah semestinya, setiap orang tua, sebelum meninggal dunia, telah memastikan bahwa anak keturunannya akan tetap beriman kepada Allah dan menjaga ibadahnya, terutama sholat.  

 

Karena kurang kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya, terutama dalam bidang agama, menjadikan mereka tidak taat ber-agama, menyia-nyiakan sholat bahkan meninggalkannya sama sekali, lalu menjadi pengikut syahwat (hawa nafsu).

 

Dalam hal ini telah diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya: فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا / “Maka tinggallah sesudah mereka generasi yang menyia-nyiakan sholat dan mengikuti syahwat, maka mereka akan mendapatkan balasan jurang neraka.”  (Maryam: 59)

 

Padahal, kewajiban orang tua, terutama bapak, sebagai kepala keluarga adalah menjaga istri dan anak-anaknya dari api neraka. (At-Tahrim ayat 6)

 

Saudara-saudaraku,

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Kedua, Nabi Ibrahim berdoa:

رَبَّنَا وَٱبْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُواْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ “Wahai Tuhan-ku, dan aku memohon agar diutus di tengah mereka seorang rasul berasal dari keturunan mereka (yaitu dari anak-anak Ismail) yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajari mereka Kitab dan Sunnah, serta membersih-kan jiwa mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Agung lagi Maha Bijaksana” (al-Baqarah: 129)

 

Saudara-saudaraku,

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Nabi Ibrahim, as. juga berdoa dengan sepenuh harapan dan keyakinan agar di antara anak keturunannya yang ditempatkan di lembah Bakkah atau Mekah yang tandus tanpa tanaman dan hunian itu, kelak di antara mereka, ada satu orang yang diutus sebagai rasul.

 

Dan ketahuilah saudara-saudarku, doa Nabi Ibrahim tersebut baru terkabul setelah berlangsung selama kurang lebih 3800 (tiga ribu delapan ratus tahun), yaitu dengan kelahiran dan diutusnya Nabi Muhammad, s.a.w. sebagai penutup para nabi dan imamnya para rasul. Sebagaimana yang dinyatakan oleh beliau sendiri dalam sabdanya: أنَا دَعْوَةُ أَبِي إبْرَاهِيمَ “Aku adalah doa dari bapakku, Ibrahim.” )Hr. Baihaqi)

 

Dari sini dapat kita ambil pelajaran, bahwa sebagai seorang muslim apalagi sebagai orang tua, harus yakin dan optimis terhadap doa-doa yang kita panjatkan untuk anak-anak kita, terutama untuk kebaikan masa depan mereka. Meski pun doa yang kita panjatkan butuh waktu yang lama untuk dikabulkan.

 

Rasulullah, saw. bersabda: ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ / “Berdoalah kepada Allah, dalam keadaan kamu merasa yakin akan dikabulkan! Ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak mantap.” (Hr. Turmudzi)

 

Saudara-saudaraku,

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Memang, tidak semua apa yang kita minta, akan dikabulkan oleh Allah seperti apa yang kita inginkan, namun bisa saja diwujudkan dalam bentuk yang lain.

 

Seperti sabda Rasulullah, saw.: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ ؛ إلَّا أَعْطَاهُ بِهَا إحْدَى ثَلَاثٍ : إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ ، وَإمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرِةِ ، وَإمَّا أنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا . قَالُوا : إذًا نُكْثِرُ . قَالَ : اَللهُ أكثرُ / “Tidaklah seorang muslim itu berdoa dengan satu permohonan yang tidak mengandungi dosa dan penyebab putus silatur rahim,  melainkan Allah akan memberinya satu di antara tiga perkara: 1) Bisa dikabulkan segera di dunia seperti yang diminta, 2) bisa dijadikan simpanan kebaikan untuknya di akhirat dan 3) bisa dijadikan sebagai penolak keburukan sebanding permintaannya.” Mereka berkata: “Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa.” Nabi berkata: “Allaahu Akbar!” (Hr. Ahmad) Artinya, tidak ada doa yang sia-sia untuk dipanjatkan.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، والصَّلَاةُ والسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ * أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ * فَيَآ اَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا االله فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرْ* فَقَالَ تَعَالَى (أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ): ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾ [غافر: 60]

 

وَقَالَ تَعاَلَى: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا﴾ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ، اللَّهُمَّ أعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينْ!  

 

وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، بِفَضْلِ: سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ – أَقِمِ الصَّلَاةَ!

 

 

  

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

DO'AKU HARAPANKU

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa