Empat Cara Pembentukan Akhlaq Mulia
Teks Khutbah Jum’at
Untuk Masjid-Masjid di Lingkungan
PT. PAMAPERSADA NUSANTARA, Site KPC Sangatta
|
Khutbah |
: |
Jum’at Pertama |
|
Tanggal |
: |
15 Rabiuts Tsani 1446H.
/ 18 Okt. 2024M. |
|
Tema |
: |
“Empat Cara
Pembentukan Akhlaq Mulia” |
|
Oleh |
: |
K.H. Hamim Thohari, B.IRK (Hons), CWC. |
|
|
|
[Ustadz / Dai Yayasan Insan Mulia PAMA, Site KPC Sangatta, Kutai
Timur] |
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْقَائِلِ
فِي مُحْكَمِ التَّنْزِيلِ (أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ:﴿وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ
خُلُقٍ عَظِيمٍ﴾ [القلم: 4] وَالصَّلَاةُ
والسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْدِّينِ، أّمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِينِي
نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ، كَمَا
قالَ تَعالى:﴿وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾[آل عمران: ۲۰۰]
Saudara-saudaraku,
Jamaah Jum’at yang
dirahmati Allah
Hari ini, jum’at ketiga bulan Rabiuts Tsaani, 1446.
Dari mimbar jum’at ini, khatib berpesan agar kita semua selalu menjaga iman dan taqwa untuk meraih
keberuntungan, Allah berfirman: وَاتَّقُوا
اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “dan
bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung”. (Ali Imran: 200)
Dan, dalam khutbah
kali ini, Khatib ingin berbicara tentang “Empat Cara Pembentukan Akhlaq
Mulia.”
Saudara-saudaraku,
Jamaah Jum’at yang
dirahmati Allah
Akhlaq mulia adalah
sifat agung Nabi Kita, sehingga dipuji oleh Allah dengan firman-Nya: وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ / “Dan sesunggunya Engkau benar-benar berakhlaq
yang agung.” (al-Qolam)
Akhlaq mulia tidak
bisa dipisahkan dari agama, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah riwayat: اَلدِينُ حُسْنُ الْخُلُقِ فَلَا دِينَ لِمَنْ لَا
خُلُقَ لَهُ / “Agama itu adalah berakhlaq baik, maka tidaklah disebut
orang beragama jika tidak berakhlaq.”
Akhlak mulia itu bukan
kepura-puraan dan sekedar pencitraan, melainkan berupa sifat-sifat baik yang
telah tertanam dan melekat kuat dalam jiwa yang keluar sewaktu-waktu secara
spontan ketika ada pemicunya. Untuk itu menurut al-Ghazali, ada empat kiat
dalam pembentukannya:
Pertama: Akhlaq Mulia Dibentuk dengan Merawat
dan Menjaga Fitrah dan Jibillah (Watak Dasar) Manusia yang Sudah Ada
Sejak Lahir.
Kata al-Ghazali,
manusia diciptakan dengan bekal fitrah dan watak dasar yang berpotensi untuk
cenderung kepada kebaikan. Itulah sebabnya, Rasulullah, s.a.w. diutus bukan
untuk membangun akhlaq baru bagi manusia, melainkan untuk menyempurnakan
kebaikan dan kemulian yang sudah ada dalam diri setiap manusia. Nabi, s.a.w.
bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ
الْأخْلَاقِ / “Sesungguhnya Aku hanyalah
diutus untuk menyempurnakan kemulian akhlaq.” (Hr. al-Bazzar dan
al-Baihaqi)
Dan ditegaskan dalam
sabdanya: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ،
فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ / “Setiap
bayi yang dilahirkan itu lahir dengan membawa fitrah, maka kedua orang
tuanyalah yang menjadi-kannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (Hr. Bukhari
dan Muslim)
Maka fitrah inilah
yang harus dijaga, dirawat serta dibersihkan dari pengaruh buruk lingkungannya
dengan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah yang dimaksud dengan firman
Allah: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا / “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan
jiwa itu.” وَقَدْ خَابَ مَنْ
دَسَّاهَا / “dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams:
9-10)
Saudara-saudaraku,
Jamaah Jum’at yang
dirahmati Allah
Kedua: Akhlaq Mulia Dibentuk
dengan Pembiasaan
Meski pun manusia
telah diberi potensi fitrah dan merupakan bentukan asal dari Allah, namun tetap
terbuka untuk disempurnakan dengan ikhtiyar manusiawi. Di antaranya
dengan pembiasaan melakukan kebaikan-kebaikan.
Sebab, إذَا رُمْتَ الْأَخْلَاقَ الْكَرِيمَةَ تِلْقَائِيَّا السَّاعَةِ فَلْتَنْتَظِرْ إِلَى قِيَامِ / “Jika kamu ingin akhlaq baik itu terbentuk dengan
sendirinya, maka silahkan tunggu sampai kiamat.” Maka pepatah Arab mengatakan: اَلْآدَابُ بِالتَّأْدِيبِ وَالْعَادَةُ بِالتَّعْوِيدِ / “Beradab itu dengan pemberadaban dan biasa melakukan
kebaikan itu dengan pembiasaan.”
Memang awalnya berat,
bahkan sholat pun, dinyatakan oleh Allah, وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ / “sesungguhnya sholat
itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.’” (al-Baqrah: 45). Namun,
agar bisa mencapai derajat khusu’, sehingga sholat menjadi ringan, dan terasa nikmat
ketika dikerjakan, harus dikerjakan dan dijaga terus menerus dalam keadaan apa
pun. Awalnya memang perlu dipaksa dan dengan penuh perjuangan berat, namun lama
kelamaan akan menjadi tabiat dan kebiasaan yang nikmat dan lezat untuk
dirasakan.
Kata al-Ghazali,
jangan sampai kita kalah dengan pelaku kemaksiatan. Para pejudi misalnya, meski
pun berkali-kali kalah, bahkan sampai bangkrut, tetap saja gemar dan menikmati
perbuatan dosanya itu karena sudah menjadi kebiasaan. Maka ikutilah kebiasaan baik
orang-orang sholeh untuk menjadi kebiasaan kita.
Saudara-saudaraku,
Jamaah Jum’at yang
dirahmati Allah
Ketiga: Akhlaq Mulia
dibentuk dengan Pembelajaran
Ucapan bijak
menyatakan: “Kamu adalah apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar dan apa
yang kamu baca.” Artinya bahwa sikap
dan perilaku kita bisa dipengaruhi oleh apa saja yang ada disekitar kita; baik
yang kita lihat dengan mata, yang kita dengar dengan telinga atau yang kita
nalar dari bacaan-bacaan kita.
Maka al-Qur’an
memerintahkan agar kita mengambil pelajaran dari segala peristiwa yang terjadi.
Allah berfirman: فَاعْتَبِرُوا يَا
أُولِي الْأَبْصَارِ / “Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang
memiliki pandangan!” (al-Hasyr: 2)
Menurut al-Ghazali,
pembelajaran terbaik dalam pembentukan akhlaq adalah dengan musyahadah, yakni
dengan mengamati dan memperha-tikan perilaku manusia. Hal ini hampir sama
dengan kaedah ATM, yakni Amati, Tiru dan Modifikasi. Dalam konteks akhlaq, ATM
adalah Amati , Tiru dan Melakukan. Sebab, setiap muslim itu adalah cermin bagi
saudaranya yang lain. Kata Rasulullah, s.a.w.: اَلْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنَ / “Seorang Mukmin itu tempat
mengaca (cermin) bagi mukmin yang lain.” Hr. Abu Dawud)
Sebagai cermin,
seorang mukmin bisa memperhatikan sifat-sifat dan perilaku saudaranya, jika
baik maka lakukanlah kebaikan itu. Sebaliknya jika buruk, tinggalkanlah. Allah,
s.w.t. berfirman:
فَبَشِّرْ عِبَادِۙ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ
الْقَوْلَ
فَيَتَّبِعُوْنَ
اَحْسَنَهٗ ۗ
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ
هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ
“sebab itu sampaikanlah kabar gembira kepada
hamba-hamba-Ku, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengi-kuti apa
yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi
petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal
sehat.” (Az-Zumar: 17-18)
Saudara-saudaraku,
Jamaah Jum’at yang
dirahmati Allah
Keempat: Akhlaq Mulia
dibentuk dengan Pergaulan
Interaksi dan pergaulan
kita dengan orang lain juga menjadi faktor penting dalam pembentukan akhlaq dan
perilaku kita. Oleh sebab itu Rasulullah, s.a.w. mengingatkan: الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ
أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ / “Seseorang itu akan sesuai dengan kebiasaan teman dekat-nya.
Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman dekat kalian.” (Hr. Abu Daud, Tirmidzi
dan Ahmad)
Dinasehatkan dalam
kitab Ta’limul Muta’allim: عَنِ الْـمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ ۞ فَإِنَّ القَرِيْنَ
بِالْـمُقَـــــارِنِ يَقْتَــــــــــدِيْ
/ “Tak usah kau tanya siapa dia, tapi perhatikan siapa kawan dekatnya,
sebab kawan dekat itulah yang selalu diikuti.”
فَاِنْ كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَنِّبْـــــهُ سُــرْعَةً ۞ فَاِنْ كَانَ ذَا خَيْرٍ
فَقَارِنْهُ تَهْتَــــــــــــدِيْ / "Jika ia berburuk perangai maka segeralah jauhi! Dan, jika
ia berbaik perangai maka berkawanlah dengannya niscaya kamu terbimbing.”
Saudara-saudaraku,
Jamaah Jum’at yang
dirahmati Allah
Akhlaq mulia adalah pintu menuju surga dan
merupakan kekayaan paling berharga yang bisa dibagi-bagikan kepada semua orang
dan siapa saja. Maka Rasulullah bersabda: إِنَّكُمْ
لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ فَسَعُوهُمْ بِبَسْطِ الْوَجْهِ وَحُسْنِ
الْخُلُقِ “Sesungguhnya
kalian tidak akan bisa membagi harta kalian secara merata kepada setiap orang,
maka bagikanlah kepada mereka keramahan wajah dan kebaikan akhlaq!” ِ
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ،
والصَّلَاةُ والسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ * أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ * فَيَآ اَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا االله فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ* وَقَالَ
تَعَالَى (أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ): ﴿ وَاخْفِضْ
جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ﴾[الشعراء: ۲۱۵]
أَمَّا بَعْدُ: فَقَالَ
تَعاَلَى: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ
آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا﴾ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجْمَعِينَ، وَمَنْ
تَبِعَهُ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ*
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ * اَللَّهُمَّ إِنَّا رَضِينَا بِاللهِ رَبًّا،
وِبِالإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)
نَبِيًّا وَرَسُوْلًا * اَللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ بِلَا إِلَهَ اِلَّا أَنتَ
إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، أنْ تَجْعَلَنَا مِنْ اَتْبَاعِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
(صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) فِي الدُّنْيَا وَالْآِخرَةِ * اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا
مِنْ أَهْلِ سُنَّتِهِ وَدِينِهِ وَشَفَاعَتِهِ وَارْزُقْنَا الشُّرْبَ مِنْ
حَوْضِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ * بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينْ!
وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، بِفَضْلِ: سُبْحَانَ
رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ
يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ
اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ – أَقِمِ الصَّلَاةَ!
Komentar
Posting Komentar