Tiga Momentum di Bulan Sya'ban

 


Khutbah Pertama

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ التَّنْزِيلِ (أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ): ﴿وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ ﴾ۙ [البقرة: ۱٤٤] وَالصَّلَاةُ والسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْدِّينِ، أّمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِينِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ، كَمَا قالَ تَعالى:﴿وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾[آل عمران: ۲۰۰]

 

Saudara-saudaraku,

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Dari atas mimbar jum’at ini, terlebih dahulu Khatib ingin berwasiat untuk diri sendiri dan jamaah sekalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semua itu demi meraih keselamatan dan keberuntu-ngan di dunia dan akhirat. Allah, Swt. berfirman: وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung”. (Ali Imran: 200)

 

 

Saudara-saudaraku,

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Kita sekarang berada di hari Jum’at, tepat di pertengahan bulan Sya’ban. Di mana Rasulullah, saw. menyebutnya sebagai bulan “yang sering dilupakan” terkait dengan amal-amalan dan keutamaannya oleh kebanyakan manusia.

Selain itu, di bulan Sya’ban terdapat tiga momentum penting yang harus dijadikan sebagai sebagai pemicu amal sholih, sekaligus untuk persiapan dan pemanasan memasuki bulan suci Ramadan.  

 

TIGA MOMENTUM tersebut adalah:

Pertama: Bulan Sya’ban adalah Bulan Pemindahan Kiblat dan Terpenuhi-nya Harapan Nabi Muhammad, S.a.w.

Selama kurang lebih enam hingga tujuh belas bulan setelah Hijrah ke Madinah, Rasulullah, Saw. sangat mengharap kepada Allah agar kiblat dipindahkan ke arah Ka’bah di Mekah. Beliau dengan harap-harap cemas tanpa berkata-kata sering mendongak ke langit berharap kepada Allah akan hal itu. 

 

Sebagaimana Mujahid bin Jabir, ahli tafsir dari kalangan Tabiin, weriwayatkan bahwa Rasulullah, saw. pernah menyatakan keinginannya itu kepada Jibril, as. Kata Jibril: “Saya hanyalah hamba Allah seperti-mu, namun kamu punya kedudukan istimewa di sisi Allah, maka mohonlah kepada-Nya akan hal itu.” 

Setelah itu, beliau selalu memandang ke arah langit, dengan harapan Jibril, a.s. kembali dengan membawa berita gembira tentang apa yang diinginkan. Sehingga pada bulan Sya’ban, setelah 17 bulan dari Hijrah beliau ke Madinah, turunlah ayat ini:

  قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ “Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadap-kanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 144)

Pelajaran penting dari peristiwa ini adalah bahwa beragama itu tidaklah harus sesuai dengan apa yang kita inginkan, namun kita harus bisa menyesuaikan apa yang diinginkan oleh agama kita. Keinginan kita tidak selamanya baik untuk kita, tapi keinginan Allah melalui syariat agama-Nya pasti baik untuk diri kita. Tinggal kita yang harus bersabar menjalaninya sehingga kita mendapatkan hikmahnya pada waktunya.  Sebagaimana Allah, SWt. berfirman:

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ / “Dan boleh jadi kalian membenci sesuatu sedangkan ia adalah kebaikan bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu dan ia adalah kebaikan bagi kalian, dan Allah megetahui sedangkan kalian tidak menge-tahui.” (al-Baqrah: 216)

 

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Kedua: Bulan Sya’ban Momentum Penyempurnaan Amal Sebelum Ramadan

Para sahabat senantiasa memperhatikan bagaimana ibadah Rasulullah, saw. seperti bagaimana beliau berpuasa. Baik puasa wajib mau pun puasa sunnah untuk diikuti dan dicontohnya. Maka Usamah bin Zaid, r.a. bertanya kepada beliau tentang puasa di bulan Sya’ban: “Ya Rasulallah, kenapa Aku tidak melihat-mu berpuasa sebulan seperti yang Engkau lakukan di bulan Sya’ban?” (Maksudnya, kenapa beliau tidak berpuasa sunnah sebanyak yang dilakukannya di bulan Sya’ban, seperti yang diriwayatkan  oleh Ibunda ‘Aisyah, ra.)

 Maka Rasulullah, s.a.w. menjawabnya: “Itu (yakni bulan Sya’ban) adalah bulan – di antara bulan Rajab dan Ramadan -- di mana manusia banyak yang melalaikannya (karena hanya fokus beribadah pada dua bulan tersebut), sedangkan ia (bulan Sya’ban itu) adalah bulan di mana segala amal (selama setahun) di angkat ke hadirat Tuhan semesta alam. Maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” (Hr. An-Nasa’iy)

 Menurut Ibnu Rajab al-Hambali, makna sabda Rasulullah,  bahwa bulan Sya’ban itu adalah  شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ  عَنْهُ / “bulan di mana banyak manusia sering melalaikannya” menunjukkan bahwa menghidupkan waktu-waktu-nya dengan beribadah dan melakukan ketaatan kepada Allah adalah perkara yang sangat disukai oleh Allah.

Sedangkan menurut Imam Nawawi, waktu istimewa yang sering dilupakan manusia, disebut sebagai waktu “haraj”, yaitu waktu ujian yang membingungkan manusia. Sebab banyaknya keutamaan beribadah di bulan Rajab dan Ramadan membuat orang lupa tentang keutamaan beribadah di bulan Sya’ban, sebagai bulan yang berada di antara dua bulan tersebut. Oleh karena itu Rasulullah, s.a.w. fokus melakukan satu amalan, yaitu puasa Sya’ban. Alasannya, kata beliau:  “Aku ingin ketika amalku diangkat kepada Allah (di bulan itu), diriku dalam keaadaan berpuasa.” (Hr. An-Nasa’iy)

 

Karena bulan Sya’ban adalah waktu haraj (waktu ujian dan membuat banyak manusia melalaikannya), maka beramal kebaikan dan ketaatan di saat itu pahalanya sangat besar. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Muslim dari Ma’qil bin Yasar, ra. Rasulullah, saw. bersabda: الْعِبَادَةُ فِي الْهَرَجِ كَالْهِجْرَةِ إلَيَّ “Beribadah di masa haraj itu seperti berhijrah kepada-ku.” (Hr. Muslim)

 Terbukti jika bulan Sya’ban adalah waktu haraj, adanya banyak orang yang baru sadar sekarang sudah dekat bulan Ramadan. Banyak yang kaget ternyata ia belum meng-qadha puasa yang sempat batal karena sakit, istrinya yang belum bayar fidyah atau berpuasa qadha’ karena hamil dan menyusui, juga lupa belum dibayar dan dilaksanakan. Hutang piutang pun belum dilunasi, padahal sudah ada yang bisa dibayarkan. Bersalah kepada sesama saudaranya juga belum meminta maaf atau belum saling bermaaf-maafan.  

Di bulan Sya’ban ini, adalah kesempatan terakhir, di mana buku amal setahun diangkat dan dilaporkan kehadirat Allah. Agar tidak  menyisakan tanggungan dan kekurangan, mari kita sempurnakan sebisa mungkin kekurangan-kekurangan dalam hubungan kita kepada Allah, seperti puasa kita, sholat kita dan zakat kita. Begitu juga kita perbaiki hubungan kita dengan sesama anak Adam, seperti dalam urusan utang piutang.  

 

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Ketiga: Bulan Sya’ban Momentum untuk Memicu Peningkatan Amal Kebaikan

Ibnu Rajab dalam bait-bait syairnya berpesan:  مَضَى رَجَبٌ وَمَا اَحْسَنْتَ فِيهِ * وَهَذَا شَهْرُ شَعْبَانَ المُبَارَكْ /“Telah berlalu bulan Rajab dan Engkau belum memaksimalkannya *  Dan sekarang ini kita berada di bulan Sya’ban yang diberkati.

 فَيَا مَنْ ضَيَّعَ الأوْقَاتَ جَهْلاً * بِحُرْمَتِهَا اَفِقْ وَاحْذَرْ بَوَارَكْ /“Maka wahai orang yang menyia-nyiakan waktunya karena ketidak-tahuannya akan kemuliaannya. Sadar dan ingatlah terhadap kerugianmu!

 

Maka sambutlah seruan untuk meraih pengampunan dari Allah, Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ / “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan menda-patkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (Ali Imran: 133)

Sebelum memasuki bulan Ramadan, segeralah kita menata diri dengan memiliki kualitas dan sifat-sifat orang-orang yang bertaqwa, yaitu:

1.    Suka berinfaq atau bersedekah dalam keadaan senang atau susah, menahan marah dan bisa memaafkan kesalahan orang lain. Allah berfirman: الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ / (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orangorang yang menahan amarahnya dan memaaf-kan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134)

2.       Jika melakukan perbuatan keji dan zhalim segera memohon ampun kepada Allah dan tidak terus-menerus melakukan kesalahan yang sama: وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ / “dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) ingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak menerus-kan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (Ali Imran: 135)

 

Orang yang memiliki sifat-sifat seperti di atas akan mendapatkan pahala dan keuta-maan yang besar dari Allah, sebagaimana firman-Nya:  اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَجَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ وَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَۗ / “Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Qs. Ali Imran: 136)

 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

 


 

 

 

Khutbah Kedua:

 

 

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، والصَّلَاةُ والسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ * أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ * فَيَآ اَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ* وَقَالَ تَعَالَى، (أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ): ﴿وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ﴾ [البقرة: ۱٤٤]، أَمَّا بَعْدُ:

فَقَالَ تَعاَلَى: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا﴾ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ*

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ * اللهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَنَا فِي قُلُوبِنَا وَصَرِّفْ أَرْكَانَنَا لِطَاعَتِكَ، وَزِدْنَا عِلْمًا وَارْزُقْنَا فَهْمًا وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ * اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ * بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ *

 وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، بِفَضْلِ: سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ – أَقِمِ الصَّلَاةَ!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

DO'AKU HARAPANKU

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa