DUA PILAR KEBAIKAN DAN KEBERKATAN SUATU NEGERI

 

Teks Khutbah Jum’at

Untuk Masjid-Masjid di Lingkungan

PT. PAMAPERSADA NUSANTARA, Site KPC Sangatta

 

Khutbah

:

Jum’at Ketiga

Tanggal

:

18 Dzul Qa’dah 1446H. / 16 Mei 2025M.

Tema

:

DUA PILAR KEBAIKAN DAN KEBERKATAN SUATU NEGERI

Oleh    

:

K.H. Hamim Thohari, B.IRK (Hons),

 

 

[Pembina Kerohanian Islam Yayasan Insan Mulia PAMA, Site KPC Sangatta]

 

 

Khutbah Pertama

 

اَلْحَمْدُ لِلهِ الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ التَّنْزِيلِ: -- أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ -- ﴿وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ﴾(الأعراف: 96) وَالصَّلَاةُ والسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْبَرِيَّةِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أّمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ، أُوصِينِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، كَمَا قالَ تَعَالى مُوَاصِيًا لَنَا بِتَقْوَاهُ: ﴿وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ࣖ ﴾ ( اٰل عمران:200)

 

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Di awal khutbah ini, khatib kembali mengingatkan kepada diri dan jama’ah sekalian agar kita semua senantiasa bertaqwa kepada Allah, saw. untuk meraih keberuntungan di dunia mau pun di akhirat.

Kamudian yang harus yakini adalah bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi serta menetapkan sunnah kehidupan dalam setiap negeri dan bangsa. Dan, salah satu sunnatullah dalam kehidupan ini adalah bahwa kebaikan dan keberkatan sebuah negeri tidak terlepas dari dua hal utama: “Keshalihan pemimpin dan keshalihan rakyatnya.”

Maka dalam khutbah kali ini akan dibicarakan tentang: “DUA FAKTOR KEBAIKAN DAN KEBERKATAN SUATU NEGERI: 1) Keshalihan Pemimpin dan 2) Keshalihan rakyatnya.” Hal ini telah dijelaskan dalam banyak ayat dan hadits, serta dibuktikan oleh sejarah umat-umat terdahulu.

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

1)  Faktor Kesholihan pemimpin:

Dalam surat al-Isra’: 16, Allah telah mengingatkan bahayanya apabila pemimpin suatu kaum bersifat buruk dan korup: ﴿وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا﴾ Ayat ini ditafsirkan oleh Prof. Quraisy Shihab, sebagai berikut: “Jika Kami telah menetapkan di al-Lawh al-Mahfûzh untuk memusnahkan penduduk sebuah kampung sesuai dengan kebijaksanaan Kami, maka Kami menjadikan orang-orang yang hidup mewah sebagai penguasa di situ. Mereka lalu membuat kerusakan, keluar dari kebenaran dan diikuti secara membabi buta oleh orang lain sebelum jelas segalanya. Dengan begitu, semuanya berhak menerima hukuman. Lalu Kami pun membinasakannya dengan kejam.” [Al Isra: 16]

 

As-Suyuthi dalam tafsir Jalaalain, menafsirkan makna “mutrafii-haa” dalam ayat tersebut sebagi “para pemimpin”. Mereka diperintah agar taat kepada Allah dan rasul-Nya, namun mereka enggan dan bahkan diikuti oleh rakyatnya. Maka Allah hancurkan mereka dengan sehancur-hancurnya.

 

Dalam hadits riwayat Abu Dawud, Nabi ﷺ bersabda: وإنَّما الإمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِن ورَائِهِ ويُتَّقَى به، فإنْ أمَرَ بتَقْوَى اللَّهِ وعَدَلَ، فإنَّ له بذلكَ أجْرًا وإنْ قالَ بغَيْرِهِ فإنَّ عَلَيْهِ مِنْهُ. “Sesungguhnya imam (pemimpin) itu adalah perisai (bagi rakyatnya). Rakyat berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya. Jika dia memerintahkan (rakyatnya) agar bertaqwa dan ia berlaku adil maka ia akan mendapatkan pahalanya. Dan jika tidak, maka ia akan menanggung dosanya.” (Hr. Bukhari)

Maka pemimpin mesti bisa menjadi contoh dan teladan kebaikan bagi rakyatnya. Sebab jika pemimpinnya rusak, kerusakan itu akan mudah menular kepada bawahan dan rakyatnya. Sebagaimana pepatah Latin mengatakan: "Piscis a capite foetet" [Ikan itu busuk bermula dari kepalanya].

Maka jika pemimpin adil, jujur dan bertakwa, ia akan dicintai rakyatnya dan sebagai pengayom bagi mereka. Allah pun akan menurunkan keberkahan dari arah yang tidak disangka-sangka.  Sebaliknya jika pemimpin itu berlaku rusak, korup dan tidak bertaqwa, bahkan rakyatnya mengikuti keburukannya, maka ia akan memikul dosa-dosa mereka dan akan membuat negerinya dekat dengan murka Allah dan jauh dari keberkahan-Nya.

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

2)  Faktor Kesholihan Rakyat:

Dalam hal ini Allah, Swt. berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 96:وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ  / “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi (apabila) ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami akan siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat.” (Al-A'raf:96)

Berdasar Ayat ini, bisa difahami bahwa keberkahan: baik berupa keamanan, kesejahteraan, maupun ketenteraman, akan diberikan oleh Allah kepada suatu negeri manakala rakyatnya hidup dalam keimanan dan ketakwaan. Dan itu semua perlu dipelopori oleh memimpinnya yang sholeh, yang bisa dijadikan contoh dan teladan bagi rakyatnya.

Namun juga perlu disadari bahwa pemimpin yang baik itu lahir dari masyarakat yang baik. Sebab kualitas pemimpin adalah cermanan dari kualitas masyarakatnya. Sebagaimana sebuah atsar – yang dikatakan bersumber dari Khalifah Umar bin Khattab atau dari Hasan al-Bisri -- menyatakan: كَيفَمَا تَكُونُوا يُوَلَّىٰ عَلَيكُم / “Bagaimana keadaan kalian, begitulah keadaan pemimpin yang berkuasa atas kalian.”

Saudara-saudaraku, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Hari ini, banyak negeri dirundung krisis: baik ekonomi, sosial, maupun moral. Jalan keluar dari semua itu bukan hanya terletak pada pembangunan fisik semata, tapi juga pembangunan rohani, yaitu dengan menumbuhkan keshalihan kolektif, dari pemimpin hingga rakyat. Tugas perbaikan negeri ini harus dipikul bareng-bareng. Pemimpin menjadi pelopor dalam kebaikan dan rakyatnya mendukung setiap langkah-langkah kebaikan yang dimotori oleh pemimpinnya yang sholeh.

Bersinergi dan saling bekerja sama dalam kebaikan antara pemimpin dan rakyatnya itu telah diisyaratkan dalam sabda Nabi, saw.: إِذَا أرَادَ اللَّهُ بِالْأمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ وَإنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ. / “Apabila Allah menghendaki seorang pemimin itu baik, akan diberikan kepadanya pembantu yang jujur, jika pemimpinnya lupa akan diingatkan dan jika ingat ia akan dibantu.  وَإذَا أرَادَ بِهِ غَيْرَ ذَلِكَ جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ سُوْءٍ إِنْ نَسِيَ لَمْ يُذَكِّرْهُ وَإنْ ذَكَّرَهُ لَمْ يُعِنْهُ / Namun jika Allah menghendaki selain itu, maka pemimpin itu akan diberi pembantu yang buruk. Jika pemimpinnya lupa, ia tidak diingatkan dan jika ingat, ia tidak dibantu.” [Hr. Abu Dawud]

Maka Pemimpin yang sholih selalu memberi contoh dan mencintai rakyatnya, memimpin dengan amanah, dan tidak bersikap korup. Di samping itu, bekerja keras untuk pembangun manusia seutuhnya, tidak hanya membangun badan namun juga jiwanya. Sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini. Sedangkan Rakyat yang sholih akan taat kepada Allah, jujur dalam usaha, dan tidak berbuat kerusakan serta mendukung segala kebaikan yang dipelopori oleh pemimpinnya.

Keduanya, jika bersatu dalam ketaatan kepada Allah, maka negerinya akan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang baik dan makmur di bawah naungan rahmat Tuhan yang Maha Pengampun.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

 

2. Khutbah Kedua

 

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا * أَشْهَدُ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ * اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْن * فَقَالَ تَعَالَى: ﴿فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴾ (آل عمران: 148) * وَقَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا﴾ *اَللَّــهُمَّ صَلِّ  عَلَى سَـيِّـدِنَـا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَـبِـيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَــلـٰى أَلِـهِ وَصَحْبِهِ وَسِلِّـمْ *

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ*  اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاتِنَا، وَاهْدِهِمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِرَعِيَّتِهِمْ*  اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْ بَلَدَنَا هَذَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِين * اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا، إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ*

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْن، وَصَلَّى اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينْ *

عِبَادَ اللهِ،  إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ * أَقِمِ الصَّلَاةْ! رْ

 

 



 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

DO'AKU HARAPANKU

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa