Pendidikan Kita Sedang Lupa Arah

 

Pendidikan Kita Sedang Lupa Arah

Refleksi Seorang Kepala Sekolah di Tengah Arah Pendidikan yang Mulai Samar


Gus Ahmad Ribhul Wafai, S.Pd.I
Kepala Sekolah SMA IT Al-Asmaul Husna, Pondok Pesantren Al-Asmaul Husna

Di banyak forum pendidikan, rapat koordinasi, dan verifikasi program, saya sering merasa hening di tengah keramaian. Diskusi demi diskusi bergulir, tetapi yang lebih banyak dibicarakan adalah hal-hal teknis: Sarana, program, laporan, dan anggaran. Sangat jarang kita bicara tentang hal yang paling mendasar — bagaimana caranya menumbuhkan kembali semangat belajar dan tanggung jawab moral pada diri peserta didik.

Pendidikan di negeri ini tampak semakin administratif. Kita sibuk mengelola data, verifikasi, dan format laporan, tetapi semakin jarang menengok ruang kelas untuk bertanya: "Apakah anak-anak kita masih bersemangat belajar, masih peduli pada nilai, dan masih punya rasa ingin tahu yang hidup?"


Saya tumbuh dalam lingkungan pesantren, di bawah didikan ayah yang juga seorang kiai dan pendidik. beliau keras, disiplin, bahkan galak — terutama dalam urusan ibadah dan tanggung jawab belajar. Dulu, saya sering merasa beliau terlalu tegas, tapi seiring waktu saya menyadari bahwa ketegasan itulah bentuk kasih sayang yang paling jujur.

Pendidikan di masa itu keras tapi membentuk karakter. Tidak ada remedial berulang-ulang, tidak ada kompromi dengan kemalasan. Syarat kelulusan jelas, dan nilai bukan sekadar angka, melainkan hasil dari proses belajar yang sungguh-sungguh.

Hari ini, sistem pendidikan kita memang lebih “manusiawi”, tetapi di sisi lain justru membuat siswa kehilangan rasa tanggung jawab. Ketika setiap kegagalan selalu bisa “diselamatkan” dengan remedial, makna perjuangan perlahan memudar. Belajar tidak lagi menjadi kebutuhan, melainkan formalitas.

Abah saya pernah berpesan: “Pinter itu nomor dua, jadi bener dulu.”
Nasihat itu sederhana, tetapi mengandung filosofi mendalam. Kita sedang hidup di masa di mana banyak orang pintar, tetapi tidak semuanya benar. Korupsi, manipulasi, dan penyalahgunaan wewenang tidak dilakukan oleh orang bodoh, tetapi oleh mereka yang berpendidikan tinggi namun kehilangan arah moral.


Inilah bukti bahwa sistem pendidikan kita telah lama mengabaikan fondasi utamanya — akhlak dan integritas. Kita terlalu sibuk mengejar skor, sertifikat, dan akreditasi, tapi lupa memastikan apakah anak-anak kita tumbuh menjadi manusia yang jujur, mandiri, dan punya empati sosial.

Modernisasi pendidikan tentu penting, tetapi jangan sampai kemajuan sistem menghapus nilai-nilai yang membentuk manusia. Teknologi, kurikulum baru, dan program inovatif hanyalah alat. Tujuan akhirnya tetap satu: Membentuk manusia berilmu dan beradab.

Sudah saatnya kita berani meninjau ulang kebijakan yang tidak berdampak langsung pada kualitas belajar siswa. Setiap program seharusnya diawali dengan pertanyaan sederhana: “Apakah ini membuat anak-anak kita lebih semangat belajar dan menjadi manusia yang lebih baik?” Jika jawabannya tidak, maka sebesar apa pun anggarannya, sebaiknya kita pikirkan ulang.

Pendidikan sejati tidak lahir dari sistem yang memanjakan, tetapi dari proses yang menumbuhkan kemandirian. Kita memerlukan guru-guru yang bukan hanya pintar mengajar, tetapi juga tegas menanamkan nilai. Kita butuh kebijakan yang berpihak pada karakter, bukan hanya angka dan laporan.

Sebagai kepala sekolah, saya tidak menulis ini karena ingin mengeluh. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa pendidikan adalah tentang manusia, bukan administrasi. Setiap rapat, setiap lembar laporan, seharusnya berorientasi pada satu hal: bagaimana anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang jujur, tangguh, dan punya nurani.

Dari perjalanan itu saya belajar bahwa pendidikan sejati tidak diukur dari gelar, tetapi dari ketulusan dan manfaat.

Kalau hari ini saya boleh berharap, maka harapan saya sederhana: semoga arah pendidikan Indonesia kembali kepada jati dirinya — mendidik manusia, bukan sekadar meluluskan siswa.

— Gus Ahmad Ribhul Wafai, S.Pd.I
Kepala Sekolah SMA IT Al-Asmaul Husna, Pondok Pesantren Al-Asmaul Husna

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa

Hisab Awal Bulan Sya’ban 1447 H