Diskursus Surah Al-Baqarah ayat 11-13 dari Segi Lughah, I'rab dan Balaghah Versi Syaikh Mahyuddin Al Darwis

Diskursus Surah Al-Baqarah ayat 11-13 dari Segi Lughah, I'rab dan Balaghah Versi Syaikh Mahyuddin Al Darwis

Oleh Sudono Syueb, Alumni PGAM Paciran, Lamongan

Surah Al-Baqarag ayat 11 - 13

بسم الله الرحمن الرحيم

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11)
 أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ (12) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ (13)

Aryinya:
(11) Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi!' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.'
 
(12) Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.

(13) Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman!' Mereka menjawab, 'Apakah kami harus beriman sebagaimana orang-orang yang kurang akal (bodoh) itu beriman?' Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak mengetahui."

اللُّغَةُ:
(الْفَسَادُ): خُرُوجُ الشَّيْءِ عَنْ حَالِ اسْتِقَامَتِهِ وَنَقِيضُهُ الصَّلَاحُ، وَالْفَسَادُ فِي الْأَرْضِ: تَهْيِيجُ الْحُرُوبِ، وَإِثَارَةُ الْفِتَنِ، وَالْإِخْلَالُ بِمَعَايِشِ النَّاسِ.
(السُّفَهَاءُ): جَمْعُ سَفِيهٍ وَهُوَ الْمَنْسُوبُ لِلسَّفَهِ، وَالسَّفَهُ: خِفَّةُ رَأْيٍ وَسَخَافَةٌ يَقْتَضِيهِمَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ، وَيُقَابِلُهُ الْحِلْمُ، يُقَالُ سَفِهَ بِكَسْرِ الْفَاءِ وَضَمِّهَا.

Aspek Kebahasaan

(Al-Fasad / الفساظ)

Kerusakan): Keluarnya sesuatu dari kondisi lurusnya (kebaikan), dan kebalikannya adalah as-shalah (perbaikan). Kerusakan di muka bumi artinya memicu peperangan, menyulut fitnah, dan mengacaukan mata pencaharian manusia.

(As-Sufaha'/ السفهاء)

Orang-orang bodoh): Bentuk jamak dari safih, yaitu orang yang dinisbatkan pada sifat safah. Sifat safah adalah kedangkalan berpikir dan kekonyolan pandangan yang disebabkan oleh kurangnya akal. Kebalikannya adalah al-hilm (kebijaksanaan/kesabaran). Kata kerjanya bisa dibaca safiha (kasrah pada huruf Fa') atau safuha (dhammah pada huruf Fa').

الْإِعْرَابُ
(وَإِذَا) الْوَاوُ اسْتِئْنَافِيَّةٌ وَالْجُمْلَةُ بَعْدَهَا مُسْتَأْنَفَةٌ لَا مَحَلَّ لَهَا، وَيَجُوزُ أَنْ تَكُونَ الْوَاوُ عَاطِفَةً وَالْجُمْلَةُ بَعْدَهَا مَعْطُوفَةً عَلَى جُمْلَةِ يُكَذِّبُونَ فَتَكُونُ فِي مَوْضِعِ نَصْبٍ عَطْفًا عَلَى خَبَرِ كَانَ، وَالْمَعْطُوفُ عَلَى الْخَبَرِ خَبَرٌ، فَهِيَ بِهَذِهِ الْمَثَابَةِ جُزْءٌ مِنَ السَّبَبِ الَّذِي اسْتَحَقُّوا بِهِ الْعَذَابَ الْأَلِيمَ. وَإِذَا ظَرْفٌ لِمَا يُسْتَقْبَلُ مِنَ الزَّمَنِ خَافِضٌ لِشَرْطِهِ مَنْصُوبٌ بِجَوَابِهِ. (قِيلَ) فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ لِلْمَجْهُولِ، وَنَائِبُ الْفَاعِلِ ضَمِيرٌ مُسْتَتِرٌ فِيهِ تَقْدِيرُهُ يَعُودُ عَلَى اللهِ تَعَالَى، وَفِي هَذَا التَّعْبِيرِ بَحْثٌ هَامٌّ سَيَأْتِي فِي بَابِ الْفَوَائِدِ، وَجُمْلَةُ قِيلَ فِي مَحَلِّ جَرٍّ بِإِضَافَةِ الظَّرْفِ إِلَيْهَا. (لَهُمْ) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ مُتَعَلِّقَانِ بِقِيلَ. (لَا) النَّاهِيَةُ الْجَازِمَةُ. (تُفْسِدُوا) فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَجْزُومٌ بِلا وَعَلَامَةُ جَزْمِهِ حَذْفُ النُّونِ لِأَنَّهُ مِنَ الْأَفْعَالِ الْخَمْسَةِ، وَالْوَاوُ فَاعِلٌ. (فِي الْأَرْضِ) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ مُتَعَلِّقَانِ بِتُفْسِدُوا. (قَالُوا) فِعْلٌ وَفَاعِلٌ، وَالْجُمْلَةُ الْفِعْلِيَّةُ لَا مَحَلَّ لَهَا مِنَ الْإِعْرَابِ لِأَنَّهَا جَوَابُ شَرْطٍ غَيْرِ جَازِمٍ. (إِنَّمَا) كَافَّةٌ وَمَكْفُوفَةٌ. (نَحْنُ) مُبْتَدَأٌ. (مُصْلِحُونَ) خَبَرُ نَحْنُ مَرْفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ الْوَاوُ لِأَنَّهُ جَمْعُ مُذَكَّرٍ سَالِمٌ، وَالْجُمْلَةُ فِي مَحَلِّ نَصْبٍ مَقُولُ الْقَوْلِ. (أَلَا) حَرْفُ تَنْبِيهٍ يُسْتَفْتَحُ بِهَا الْكَلَامُ. (إِنَّهُمْ) إِنَّ حَرْفٌ مُشَبَّهٌ بِالْفِعْلِ وَالْهَاءُ اسْمُهَا. (هُمُ) ضَمِيرُ فَصْلٍ أَوْ عِمَادٌ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ، وَلَكَ أَنْ تُعْرِبَ هُمْ مُبْتَدَأً. (الْمُفْسِدُونَ) خَبَرُهُ، وَالْجُمْلَةُ الِاسْمِيَّةُ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ خَبَرُ إِنَّ. (وَلَكِنْ) الْوَاوُ عَاطِفَةٌ، وَلَكِنْ مُخَفَّفَةٌ مِنَ الثَّقِيلَةِ لِمُجَرَّدِ الِاسْتِدْرَاكِ. (لَا) نَافِيَةٌ. (يَشْعُرُونَ) فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوعٌ وَالْوَاوُ فَاعِلٌ، وَالْجُمْلَةُ مَعْطُوفَةٌ عَلَى مَا تَقَدَّمَ.
(وَإِذَا قِيلَ) الْوَاوُ اسْتِئْنَافِيَّةٌ أَوْ عَاطِفَةٌ وَقَدْ تَقَدَّمَ الْكَلَامُ عَنْهَا، وَجُمْلَةُ قِيلَ الْفِعْلِيَّةُ فِي مَحَلِّ جَرٍّ بِإِضَافَةِ الظَّرْفِ إِلَيْهَا. (لَهُمْ) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ مُتَعَلِّقَانِ بِقِيلَ. (آمِنُوا) فِعْلُ أَمْرٍ مَبْنِيٌّ عَلَى حَذْفِ النُّونِ وَالْوَاوُ فَاعِلٌ، وَالْجُمْلَةُ لَا مَحَلَّ لَهَا لِأَنَّهَا مُفَسِّرَةٌ، وَنَائِبُ الْفَاعِلِ مَصْدَرٌ وَهُوَ الْقَوْلُ وَقَدْ أُضْمِرَ لِأَنَّ الْجُمْلَةَ بَعْدَهُ تُفَسِّرُهُ، وَالتَّقْدِيرُ: وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ قَوْلٌ هُوَ آمِنُوا، لِأَنَّ الْأَمْرَ وَالنَّهْيَ قَوْلٌ، وَقَدْ مَنَعَ النُّحَاةُ أَنْ تَكُونَ الْجُمْلَةُ قَائِمَةً مَقَامَ الْفَاعِلِ لِأَنَّ الْجُمْلَةَ لَا تَكُونُ فَاعِلًا فَلَا تَقُومُ مَقَامَهُ. (كَمَا) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ نَعْتٌ لِمَصْدَرٍ مَحْذُوفٍ وَالتَّقْدِيرُ آمِنُوا إِيمَانًا كَإِيمَانِ النَّاسِ، وَاخْتَارَ سِيبَوَيْهِ أَنْ يَكُونَ فِي مَحَلِّ نَصْبٍ عَلَى الْحَالِ سَوَاءٌ أَكَانَتِ الْكَافُ حَرْفًا أَمِ اسْمًا بِمَعْنَى مِثْلٍ، وَصَاحِبُ الْحَالِ هُوَ الْمَصْدَرُ الْمَفْهُومُ مِنَ الْفِعْلِ الْمُتَقَدِّمِ، وَمَا مَصْدَرِيَّةٌ. (آمَنَ النَّاسُ) فِعْلٌ وَفَاعِلُهُ. (قَالُوا) فِعْلٌ وَفَاعِلٌ، وَإِذَا مُتَعَلِّقَةٌ بِقَالُوا، وَالْجُمْلَةُ لَا مَحَلَّ لَهَا لِأَنَّهَا جَوَابُ شَرْطٍ غَيْرِ جَازِمٍ. (أَنُؤْمِنُ) الْهَمْزَةُ لِلِاسْتِفْهَامِ الْإِنْكَارِيِّ، وَنُؤْمِنُ فِعْلٌ مُضَارِعٌ وَفَاعِلُهُ ضَمِيرٌ مُسْتَتِرٌ فِيهِ وُجُوبًا تَقْدِيرُهُ نَحْنُ. (كَمَا) تَقَدَّمَ إِعْرَابُهَا قَرِيبًا. (آمَنَ السُّفَهَاءُ) فِعْلٌ وَفَاعِلٌ. (أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ) تَقَدَّمَ إِعْرَابُ نَظِيرِ هَذِهِ الْجُمْلَةِ قَرِيبًا.

Analisis Gramatikal/الاعراب

(وَإِذا )
Dan apabila): Huruf Wawu adalah isti'nafiyah (permulaan kalimat baru) dan kalimat setelahnya tidak memiliki kedudukan i'rab. Boleh juga dianggap sebagai Wawu athaf (kata sambung) yang menyambungkan kalimat ini pada kalimat sebelumnya (yakzibun), sehingga berkedudukan nasab karena menyambung pada khabar dari Kana. Dengan demikian, hal ini menjadi bagian dari alasan mengapa mereka layak menerima azab yang pedih. Idza adalah zharf (keterangan waktu) untuk masa depan, yang menjarkan kalimat syaratnya (khafidhun li syarthihi) dan dinasabkan oleh jawabnya (manshubun bi jawabihi).

(قِيلَ )

Dikatakan): Kata kerja masa lampau bentuk pasif (fi'il madhi mabni lil majhul). Wakil subjeknya (na'ibul fa'il) berupa kata ganti tersembunyi (dhamir mustatir) yang merujuk kepada Allah Ta'ala (pembahasan penting mengenai redaksi ini akan dibahas nanti pada bab faedah). Kalimat qila berada pada posisi jarr karena disandarkan (idhafah) oleh kata keterangan waktu (zharf) sebelumnya.

(لَهُمْ )

Kepada mereka): Huruf jer dan majrur yang terikat (muta'alliq) dengan kata kerja qila.
(لا )

Janganlah: Huruf La larangan yang menjazemkan kata kerja (laa an-nahiyah al-jazimah).

(تُفْسِدُوا )

Kamu berbuat kerusakan): Kata kerja bentuk sedang/akan (fi'il mudhari') yang majzum karena La, tanda jazemnya adalah dihapusnya huruf Nun karena termasuk Af'alul Khamsah (kata kerja yang lima), sedangkan huruf Wawu berfungsi sebagai subjek (fa'il).

(فِي الْأَرْضِ)

Di bumi): Huruf jer dan majrur yang terikat dengan kata kerja tufsidu.

(قالُوا )
Mereka menjawab): Kata kerja dan subjeknya. Kalimat verbal ini tidak memiliki kedudukan i'rab karena merupakan jawaban dari kalimat syarat yang tidak menjazemkan (jawab syarth ghair jazim).

(إِنَّما )

Sesungguhnya hanyalah): Kombinasi dari huruf penguat (kaffah) dan huruf yang dibatalkan fungsinya (makfufah).

(نَحْنُ )
Kami): Berkedudukan sebagai subjek kalimat (mubtada').

(مُصْلِحُونَ)

Orang-orang yang melakukan perbaikan): Predikat (khabar) dari nahnu, marfu' dengan tanda rafa' berupa huruf Wawu karena merupakan jamak muzakkar salim. Kalimat ini berada pada posisi nasab sebagai objek ucapan (maqul al-qaul).

(أَلا )

Ingatlah: Huruf peringatan/perhatian (harf tanbih) untuk memulai suatu pembicaraan.

(إِنَّهُمْ )

Sesungguhnya mereka): Inna adalah huruf tauhid/penegas yang menyerupai kata kerja (harf musyabbah bil fi'il), dan kata ganti ha' (pada hum) adalah isim-nya.

(هُمُ )

Mereka): Kata ganti pemisah (dhamir fashl atau imad) yang tidak memiliki kedudukan i'rab. Anda juga diperbolehkan mengi'rab hum sebagai subjek (mubtada').

(الْمُفْسِدُونَ )

Orang-orang yang berbuat kerusakan): Predikatnya (khabar). Kalimat nominal (jumlah ismiyah) ini berada pada posisi rafa' sebagai khabar dari Inna.

(وَلكِنْ )

Tetapi: Huruf Wawu adalah kata sambung (athaf), sedangkan lakin berbentuk ringan (mukhaffafah min ats-tsaqilah) yang hanya berfungsi sebagai pembatas/sanggahan (istidrak).

(لا )

Tidak: Huruf negasi (nafi).

(يَشْعُرُونَ )
 
Mereka menyadari: Kata kerja mudhari' yang marfu', dan huruf Wawu adalah subjeknya. Kalimat ini diathafkan pada kalimat sebelumnya.
(Bagian selanjutnya memiliki pola i'rab yang serupa):

(وَإِذا قِيلَ )

 Dan apabila dikatakan: Penjelasannya sama dengan sebelumnya; kalimat verbal qila berada pada posisi jarr karena idhafah dari zharf.

(لَهُمْ )

Kepada mereka: Jer majrur yang terikat dengan qila.

(آمِنُوا )

Berimanlah kamu: Kata kerja perintah (fi'il amr) yang dibangun di atas penghapusan huruf Nun, dan Wawu adalah subjeknya. Kalimat ini tidak memiliki kedudukan i'rab karena berfungsi sebagai penjelas (mufassirah). Wakil subjeknya (na'ibul fa'il) adalah masdar tersembunyi berupa kata "ucapan" (al-qaul). Perkiraan maknanya adalah: "Dan apabila dikatakan kepada mereka sebuah ucapan, yaitu: Berimanlah!" karena perintah dan larangan adalah bentuk ucapan. Ahli nahu melarang kalimat langsung langsung menduduki posisi fa'il/na'ibul fa'il karena sebuah kalimat tidak bisa menjadi subjek secara langsung.

(كَما )

 Sebagaimana: Jer majrur yang menjadi sifat (na'at) bagi masdar yang dihapus. Perkiraan maknanya: "Berimanlah dengan keimanan yang seperti keimanan manusia." Imam Sibawaih memilih bahwa frasa ini berada pada posisi nasab sebagai keterangan keadaan (hal), baik huruf Kaf dianggap sebagai huruf jer maupun sebagai isim yang bermakna mitsl (seperti). Pemilik keadaan (shahibul hal) adalah masdar yang dipahami dari kata kerja sebelumnya, sedangkan Ma adalah masdariyah.

(آمَنَ النَّاسُ )

 Orang-orang lain telah beriman: Kata kerja (fi'il) dan subjeknya (fa'il).

(قالُوا )

Mereka menjawab: Kata kerja dan subjek. Kata Idza terikat dengan qalu. Kalimat ini tidak memiliki kedudukan i'rab karena merupakan jawaban syarat tidak jazem.

(أَنُؤْمِنُ )

Apakah kami harus beriman?: Huruf Hamzah berfungsi sebagai pertanyaan pengingkaran (istifham inkari). Kata nu'minu adalah kata kerja mudhari' dan subjeknya adalah kata ganti tersembunyi yang wajib (dhamir mustatir wujuban), takdirnya adalah nahnu (kami).

(كَما )

Sebagaimana: I'rabnya sama seperti yang dijelaskan sebelumnya.

(آمَنَ السُّفَهاءُ )

Orang-orang bodoh itu beriman: Kata kerja dan subjeknya.

(أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ)

Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak mengetahui: I'rab kalimat ini persis seperti penjelasan kalimat serupa yang telah lewat di atas.

اَلْبَلَاغَةُ :
1 ـ فِي الْآيَةِ خُرُوجُ الِاسْتِفْهَامِ مِنْ مَعْنَاهُ الْأَصْلِيِّ وَهُوَ طَلَبُ الْعِلْمِ إِلَى أَغْرَاضٍ أُخْرَى تُفْهَمُ مِنْ مَضْمُونِ الْكَلَامِ وَتَفْصِيلُهُ فِي عِلْمِ الْمَعَانِي وَمَرَدُّ ذَلِكَ إِلَى الذَّوْقِ السَّلِيمِ وَقَدْ صَدَقَ فُولْتِيرُ حَيْثُ يَقُولُ : «ذَوْقُكَ أُسْتَاذُكَ».
2 ـ اَلتَّغَايُرُ : وَهُوَ فَنٌّ يَكَادُ يَكُونُ مِنَ الْمُرْقِصِ فَقَدْ وَرَدَتْ فِي الْفَاصِلَةِ الْأُولَى «لَا يَشْعُرُونَ» وَوَرَدَتْ فِي الْفَاصِلَةِ الثَّانِيَةِ «لَا يَعْلَمُونَ» لِسِرٍّ عَجِيبٍ لَا يُدْرِكُهُ إِلَّا الْمُلْهَمُونَ وَتَفْصِيلُ ذَلِكَ : أَنَّ أَمْرَ الدِّيَانَةِ ، وَالْوُقُوفَ عَلَى أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ هُمْ عَلَى الْحَقِّ وَأَمَّا الْمُنَافِقُونَ فَهُمْ عَلَى الْبَاطِلِ ، هُوَ أَمْرٌ يَحْتَاجُ إِلَى بُعْدِ نَظَرٍ وَاسْتِدْلَالٍ حَتَّى يَكْتَسِبَ النَّاظِرُ الْعِلْمَ وَالْمَعْرِفَةَ وَأَمَّا النِّفَاقُ وَمَا فِيهِ مِنَ الْبَغْيِ الْمُؤَدِّي إِلَى اشْتِجَارِ الْفِتْنَةِ ، وَاسْتِبْحَارِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ ، فَأَمْرٌ دُنْيَوِيٌّ مَبْنِيٌّ عَلَى الْعَادَاتِ ، وَهُوَ مَعْلُومٌ عِنْدَ النَّاسِ ، بَلْ هُوَ بِمَثَابَةِ الْمَحْسُوسِ عِنْدَهُمْ فَلِذَلِكَ قَالَ فِيهِ :
لَا يَشْعُرُونَ وَأَيْضًا فَإِنَّهُ لَمَّا ذَكَرَ السَّفَهَ فِي الْآيَةِ الثَّانِيَةِ وَهُوَ جَهْلٌ مُطْبَقٌ كَانَ ذِكْرُ الْعِلْمِ أَكْثَرَ مُلَاءَمَةً فَقَالَ : لَا يَعْلَمُونَ وَهَذَا مِنَ الدَّقَائِقِ فَتَنَبَّهْ لَهُ.

Balagah 

Dalam ayat ini, bentuk kata tanya (istifham) keluar dari makna aslinya (yaitu menuntut tahu/mencari ilmu) menuju maksud-maksud lain yang dapat dipahami dari konteks pembicaraan. Penjelasan rincinya dibahas dalam Ilmu Ma'ani, dan hal itu dikembalikan kepada rasa bahasa (żauq) yang sehat. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Voltaire: "Seleramu (rasa bahasamu) adalah gurumu."

Al-Tagayur (Variasi Kata): Ini adalah sebuah seni sastra yang keindahannya hampir membuat orang menari (minal-murqis). Pada akhir ayat (fashilah) yang pertama menggunakan redaksi “la yasy’urun” (mereka tidak menyadari), sedangkan pada akhir ayat kedua menggunakan “la ya’lamun” (mereka tidak mengetahui). Perubahan ini menyimpan rahasia menakjubkan yang hanya dipahami oleh orang-orang yang mendapat ilham. Penjelasannya: perkara agama dan pemahaman bahwa orang mukmin berada di atas kebenaran sedangkan orang munafik berada di atas kebatilan adalah perkara yang membutuhkan pandangan mendalam dan dalil logika agar pengamat bisa meraih ilmu dan makrifat. Adapun kemunafikan beserta kezaliman di dalamnya yang memicu kobaran fitnah dan meluasnya kerusakan di bumi adalah perkara duniawi yang didasarkan pada kebiasaan, serta sudah maklum di tengah manusia—bahkan kedudukannya seperti sesuatu yang dapat diindrai. Oleh karena itu, Allah berfirman tentangnya menggunakan kata “la yasy’urun” (tidak menyadari menggunakan indra). Selain itu, ketika Allah menyebut kata “as-safah” (kebodohan) pada ayat kedua—yang maknanya adalah kebodohan total—maka penyebutan kata "ilmu" (la ya'lamun) menjadi lebih serasi. Ini termasuk kelembutan rahasia sastra, maka perhatikanlah baik-baik.

اَلْفَوَائِدُ 
1 ـ نَائِبُ فَاعِلِ (قِيلَ) : يُقَدِّرُهُ النُّحَاةُ ضَمِيرًا لِمَصْدَرِهِ وَجُمْلَةُ النَّهْيِ مُفَسِّرَةٌ لِذَلِكَ الظَّرْفِ وَقِيلَ الظَّرْفُ نَائِبُ الْفَاعِلِ فَالْجُمْلَةُ فِي مَحَلِّ نَصْبٍ
وَاخْتَلَفُوا فِي وُقُوعِ الْجُمْلَةِ فَاعِلًا أَوْ نَائِبَ فَاعِلٍ وَالْوَجْهُ أَنَّ الْجُمْلَةَ الَّتِي يُرَادُ بِهَا لَفْظُهَا يُحْكَمُ لَهَا بِحُكْمِ الْمُفْرَدَاتِ وَلِهَذَا تَقَعُ مُبْتَدَأً نَحْوُ (لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ) وَفِي الْمَثَلِ : (زَعَمُوا مَطِيَّةُ الْكَذِبِ) وَلِهَذَا لَمْ يَحْتَجِ الْخَبَرُ إِلَى رَابِطٍ.
2 ـ (أَلَا) قِيلَ : هِيَ حَرْفٌ بَسِيطٌ يُفْتَتَحُ بِهِ الْكَلَامُ وَيُنَبِّهُ عَلَى أَنَّ مَا بَعْدَهُ مُتَحَقِّقٌ لَا مَحَالَةَ ، وَقِيلَ : هِيَ حَرْفٌ مُرَكَّبٌ مِنْ هَمْزَةِ الِاسْتِفْهَامِ وَحَرْفِ النَّفْيِ ، وَالِاسْتِفْهَامُ إِذَا دَخَلَ عَلَى النَّفْيِ أَفَادَ تَحْقِيقًا وَأُخْتُهَا (أَمَا) الَّتِي هِيَ مِنْ مُقَدِّمَاتِ الْيَمِينِ عَلَى حَدِّ قَوْلِهِ :
أَمَا وَالَّذِي بَكَى وَأَضْحَكَ وَالَّذِي
أَمَاتَ وَأَحْيَا وَالَّذِي أَمْرُهُ الْأَمْرُ

Al-Fawaid/Faidah-Faidah

Naibul Fa'il (subjek pasif) dari kata “qila”: Ahli nahu menakdirkannya sebagai kata ganti (dhamir) yang kembali pada masdarnya, sedangkan kalimat larangan (jumlatun-nahyi) berfungsi menjelaskan zaraf tersebut. Pendapat lain menyatakan bahwa zaraf itulah yang menjadi naibul fa'il, sehingga kalimat tersebut berada dalam posisi nasab (mahal nashab). Para ulama berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya sebuah kalimat (jumlah) menduduki posisi fa'il atau naibul fa'il. Pendapat yang kuat adalah bahwa kalimat yang dimaksudkan hanya lafaznya saja, hukumnya disamakan dengan kata tunggal (mufradat). Oleh sebab itu, ia bisa berkedudukan sebagai mubtada’ (subjek), seperti: “La haula wala quwwata” adalah simpanan dari simpanan surga. Begitu pula dalam peribahasa: “Mereka mengira” adalah kendaraan kedustaan. Karena alasan ini pula, khabar (predikat) tidak membutuhkan kata penghubung (rabith).
Kata (Alā): Ada yang berpendapat bahwa ia adalah huruf tunggal (basith) untuk memulai pembicaraan (istifnah) dan berfungsi memberi peringatan bahwa hal setelahnya pasti terjadi.

Pendapat lain menyatakan ia adalah huruf majemuk (murakkab) yang terdiri dari hamzah istifham (kata tanya) dan huruf nafi (penyangkal). Kata tanya jika masuk ke dalam kalimat negatif akan menghasilkan makna penegasan (tahqiq). Saudara kembarnya adalah kata (Amā) yang termasuk dalam kalimat pengantar sumpah, sebagaimana sebait syair:
“Ingatlah, demi Dzat yang membuat menangis dan membuat tertawa, dan Dzat yang mematikan dan menghidupkan, serta Dzat yang segala urusan adalah urusan-Nya.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

Logika Diferensial dan Patologi Sosial Keagamaan

Hisab Awal Bulan Sya’ban 1447 H