Diskursus Surah Al-Baqarah ayat 18-20 dari Segi Lughah, l'rab dan Balaghah versi Syaikh Muhyiddin Al-Darwis

Diskursus Surah Al-Baqarah ayat 18-20 dari Segi Lughah, l'rab dan Balaghah versi Syaikh Muhyiddin Al-Darwis
Penyadur Sudono Syueb, Alumni PGAM Paciran, Lamongan

Surah Al-Baqarah (18-20) 

بسم الله الرحمن الرحيم

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ (١٨)

 "Mereka tuli, bisu, (dan) buta, maka mereka tidak dapat kembali (ke jalan yang benar)."

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ (١٩)

"Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya karena (mendengar) suara petir, demi menghindari kematian. Dan Allah meliputi orang-orang kafir."

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٠)

"Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari, mereka berjalan di bawah sinar itu; dan apabila kegelapan menimpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."

Bagian Etimologi

(اللُّغَةُ)

(صُمٌّ) جَمْعُ أَصَمَّ وَهُوَ الَّذِي لَا يَسْمَعُ ، يُقَالُ : صَمَّ يَصَمُّ بِفَتْحِ الصَّادِ فِيهِمَا أَيْ ثَقُلَ السَّمْعُ مِنْهُ وَقِيلَ : أَصْلُهُ السَّدُّ وَصَمَمْتُ الْقَارُورَةَ أَيْ سَدَدْتُهَا.

(Shummun) adalah bentuk jamak dari asham, yaitu orang yang tidak bisa mendengar. Dikatakan: shamma yashammu dengan fathah pada huruf shad pada kedua bentuk kata kerja tersebut, artinya pendengarannya menjadi berat/tuli. Ada pula yang berpendapat asal katanya berarti menyumbat, seperti shamamtu al-qarurah yang berarti "aku menyumbat botol".

(بُكْمٌ) : جَمْعُ أَبْكَمَ وَهُوَ الَّذِي لَا يَتَكَلَّمُ أَيِ الْأَخْرَسُ.

 (Bukmun) adalah bentuk jamak dari abkam, yaitu orang yang tidak bisa berbicara atau bisu.

(عُمْيٌ) جَمْعُ أَعْمَى وَالْعَمَى ظُلْمَةٌ فِي الْعَيْنِ تَمْنَعُ مِنْ إِدْرَاكِ الْمُبْصَرَاتِ وَالْفِعْلُ مِنْهَا عَلَى وَزْنِ عَمِيَ عَلَى فَعِلَ بِكَسْرِ الْعَيْنِ وَاسْمُ الْفَاعِلِ عَلَى أَعْمَى وَهُوَ قِيَاسُ الْآفَاتِ وَالْعَاهَاتِ.

(Umyun) adalah bentuk jamak dari a'ma. Al-ama (kebutaan) adalah kegelapan pada mata yang menghalangi persepsi visual (melihat). Kata kerjanya mengikuti wazan 'amiya (فَعِلَ) dengan kasrah pada huruf 'ain, dan isim fa'ilnya adalah a'ma, yang merupakan standar pola (qiyas) untuk menyebutkan kecacatan atau penyakit fisik.

(صَيِّبٌ) : هُوَ الْمَطَرُ الَّذِي يَصُوبُ أَيْ يَنْزِلُ وَأَصْلُهُ صَيْوُبٌ اجْتَمَعَتِ الْيَاءُ وَالْوَاوُ وَسَبَقَتْ إِحْدَاهُمَا بِالسُّكُونِ فَقُلِبَتِ الْوَاوُ يَاءً وَأُدْغِمَتِ الْيَاءُ فِي الْيَاءِ.

(Sayyib) adalah hujan yang turun (yashubu berarti yanzilu). Asal katanya adalah saiwub, di mana huruf ya dan wawu bertemu dan salah satunya didahului oleh sukun, sehingga huruf wawu diganti menjadi ya, lalu huruf ya tersebut di-idgham-kan (dilebur) ke dalam ya berikutnya (menjadi sayyib).

(السَّمَاءُ) كُلُّ مَا عَلَاكَ فَأَظَلَّكَ فَهُوَ سَمَاءٌ وَالسَّمَاءُ مُؤَنَّثٌ وَقَدْ يُذَكَّرُ. قَالَ : فَلَوْ رَفَعَ السَّمَاءُ إِلَيْهِ قَوْمًا ... لَحِقْنَا بِالسَّمَاءِ مَعَ السَّحَابِ
 
(As-Sama') adalah segala sesuatu yang berada di atasmu dan menaungimu. Kata as-sama' bergender feminin (muannats), namun terkadang diperlakukan sebagai maskulin (mudzakkar). Penyair berkata: "Jika langit mengangkat suatu kaum ke arahnya... niscaya kami akan menyusul ke langit bersama awan."

Bagian Analisis Sintaksis 

(الْإِعْرَابُ)

(صُمٌّ) خَبَرٌ لِمُبْتَدَأٍ مَحْذُوفٍ أَيْ هُمْ صُمٌّ وَالْجُمْلَةُ مُسْتَأْنَفَةٌ (بُكْمٌ) خَبَرٌ ثَانٍ (عُمْيٌ) خَبَرٌ ثَالِثٌ وَهَذِهِ الْأَخْبَارُ وَإِنْ تَبَايَنَتْ فِي اللَّفْظِ مُتَّحِدَةٌ فِي الْمَدْلُولِ وَالْمَعْنَى لِأَنَّ مَآلَهَا إِلَى عَدَمِ قَبُولِ الْحَقِّ

(Shummun) adalah khabar dari mubtada' yang dibuang, takdirnya adalah hum shum (mereka tuli), dan susunan kalimat ini merupakan jumbalah mustan'afah (kalimat baru). (Bukmun) adalah khabar kedua. (Umyun) adalah khabar ketiga. Kabar-kabar ini, meskipun lafaznya berbeda, memiliki satu kesatuan makna dan maksud, karena muaranya adalah sifat mereka yang menolak kebenaran.

(فَهُمْ) الْفَاءُ عَاطِفَةٌ وَهُمْ مُبْتَدَأٌ (لَا يَرْجِعُونَ) لَا نَافِيَةٌ وَيَرْجِعُونَ فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوعٌ وَالْوَاوُ فَاعِلٌ وَالْجُمْلَةُ خَبَرُ هُمْ وَالْجُمْلَةُ عَطْفٌ عَلَى هُمْ صُمٌّ أَيْ لَا يَعُودُونَ إِلَى الْهُدَى وَالْمَعْنَى أَنَّ مَشَاعِرَهُمْ انْتَقَضَتْ بِنَاهَا الَّتِي بُنِيَتْ عَلَيْهَا لِلْإِحْسَاسِ وَالْإِدْرَاكِ

(Fahum) huruf fa adalah athaf, dan hum adalah mubtada'. (La yarji'un) la adalah huruf nafiah, dan yarji'un adalah fi'il mudhari' marfu' (dengan subnum tsubutun nun) sedangkan wawu adalah fa'ilnya. Jumlah (frasa kalimat) ini menjadi khabar dari hum, dan keseluruhan jumlah ini di-athaf-kan kepada kalimat hum shum, yang berarti mereka tidak akan kembali kepada petunjuk. Maknanya adalah fungsi indra dan kesadaran mereka yang mendasari proses merasa dan memahami telah rusak total.

(أَوْ) حَرْفُ عَطْفٍ لِلتَّفْضِيلِ أَيْ أَنَّ النَّاظِرِينَ فِي حَالِهِمْ مِنْهُمْ مَنْ يُشَبِّهُهُمْ بِحَالِ الْمُسْتَوْقِدِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُشَبِّهُهُمْ بِأَصْحَابِ صَيِّبٍ

(Aw) adalah huruf athaf untuk perincian (li al-tafdhil/tafshil), artinya bagi orang yang melihat kondisi mereka, ada yang menyerupakan mereka dengan kondisi penyala api (pada ayat sebelumnya), dan ada pula yang menyerupakan mereka dengan orang yang ditimpa hujan lebat.

(كَصَيِّبٍ) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ مَعْطُوفَانِ عَلَى كَمَثَلِ وَلَا بُدَّ مِنْ تَقْدِيرِ مُضَافٍ أَيْ كَأَصْحَابِ صَيِّبٍ بِدَلِيلِ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ

(Ka-sayyibin) jar majrur di-athaf-kan kepada kata ka-matsali (pada ayat 17). Di sini harus diandaikan adanya kata yang dibuang (mudhaf), yaitu takdirnya "seperti para pemilik/orang yang ditimpa hujan lebat", buktinya adalah kalimat setelahnya: "mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya".

(مِنَ السَّمَاءِ) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ مُتَعَلِّقَانِ بِمَحْذُوفٍ صِفَةٍ لِصَيِّبٍ

(Minas-sama') jar majrur muta'alliq (terikat) dengan sifat yang dibuang untuk kata sayyib.

(فِيهِ) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ مُتَعَلِّقَانِ بِمَحْذُوفٍ خَبَرٍ مُقَدَّمٍ (ظُلُمَاتٌ) مُبْتَدَأٌ مُؤَخَّرٌ (وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ) مَعْطُوفَانِ عَلَى ظُلُمَاتٍ

(Fihi) jar majrur muta'alliq dengan khabar muqaddam (khabar yang didahulukan) yang dibuang. (Zhulumaatun) adalah mubtada' mu'akhkhar (mubtada' yang diakhirkan). (Wa ra'dun wa barqun) keduanya di-athaf-kan ke kata zhulumaat.

(يَجْعَلُونَ) فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوعٌ وَالْوَاوُ فَاعِلٌ وَالْجُمْلَةُ مُسْتَأْنَفَةٌ مَسُوقَةٌ لِلْإِجَابَةِ عَنْ سُؤَالٍ مُقَدَّرٍ كَأَنَّهُ قِيلَ : فَكَيْفَ حَالُهُمْ مَعَ ذَلِكَ الرَّعْدِ؟ فَقِيلَ يَجْعَلُونَ

(Yaj'aluna) fi'il mudhari' marfu' dan wawu adalah fa'ilnya. Jumlah ini merupakan jumlah mustan'afah yang berfungsi sebagai jawaban dari pertanyaan yang diandaikan, seolah-olah ditanyakan: "Lalu bagaimana kondisi mereka saat menghadapi petir itu?" Maka dijawab: "Mereka menyumbat...".

(أَصَابِعَهُمْ) مَفْعُولٌ بِهِ (فِي آذَانِهِمْ) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ فِي مَوْضِعِ الْمَفْعُولِ الثَّانِي لِيَجْعَلُونَ

(Ashabi'ahum) kedudukannya sebagai maf'ul bih (objek). (Fi adzanihim) jar majrur menempati posisi maf'ul bih kedua bagi kata kerja yaj'aluna.

(مِنَ الصَّوَاعِقِ) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ مُتَعَلِّقَانِ بِيَجْعَلُونَ ، وَمِنْ سَبَبِيَّةٌ وَانْظُرِ الْفَوَائِدَ

 (Minas-shawa'iq) jar majrur muta'alliq dengan yaj'aluna, dan huruf min di sini bermakna kausalitas/sebab (sababiyyah).

(حَذَرَ الْمَوْتِ) مَفْعُولٌ لِأَجْلِهِ

(Hadzara al-mawt) kedudukannya sebagai maf'ul li-ajlih (keterangan alasan tindakan dilakukan).

(وَاللَّهُ) الْوَاوُ اعْتِرَاضِيَّةٌ وَاللَّهُ مُبْتَدَأٌ (مُحِيطٌ) خَبَرٌ (بِالْكَافِرِينَ) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ مُتَعَلِّقَانِ بِمُحِيطٍ وَالْجُمْلَةُ لَا مَحَلَّ لَهَا مِنَ الْإِعْرَابِ لِأَنَّهَا مُعْتَرِضَةٌ بَيْنَ جُمْلَتَيْنِ مِنْ قِصَّةٍ وَاحِدَةٍ وَهُمَا : يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ وَيَكَادُ الْبَرْقُ

 (Wallahu) wawu adalah i'tiradhiyyah (kalimat sela), dan Allah adalah mubtada'. (Muhithun) adalah khabar. (Bil-kafirin) jar majrur muta'alliq dengan kata muhith. Kalimat (jumlah) ini tidak memiliki kedudukan dalam i'rab (la mahalla laha) karena posisinya menyela di antara dua kalimat dalam satu kisah yang sama, yaitu kalimat yaj'aluna ashabi'ahum dan yakadu al-barqu.

(يَكَادُ) فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوعٌ مِنْ أَفْعَالِ الْمُقَارَبَةِ الَّتِي تَعْمَلُ عَمَلَ كَانَ وَفِيهَا لُغَتَانِ : فَعِلَ وَفَعَلَ وَلِذَلِكَ يُقَالُ كِدْتُ بِكَسْرِ الْكَافِ وَكَدْتُ بِضَمِّهَا

 (Yakadu) fi'il mudhari' marfu' termasuk af'al al-muqarabah (kata kerja yang menunjukkan kedekatan waktu peristiwa terjadi) yang beramal seperti kaana. Dalam penerapannya ada dua dialek bahasa arab (lughatan): mengikuti pola fa'ila dan fa'ala, oleh karena itu seseorang bisa mengucapkan kidtu dengan kasrah pada kaf atau kadtu dengan dhammah.

(البرف) اسم يكاد مرفوع
 (يَخْطَفُ) فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوعٌ وَفَاعِلٌ مُسْتَتِرٌ فِيهِ جَوَازًا تَقْدِيرُهُ هُوَ يَعُودُ عَلَى الْبَرْقِ وَجُمْلَةُ يَخْطَفُ خَبَرُ يَكَادُ وَخَبَرُ هَذِهِ الْأَفْعَالِ لَا يَكُونُ إِلَّا فِعْلًا مُضَارِعًا وَجُمْلَةُ يَكَادُ مُسْتَأْنَفَةٌ كَأَنَّهَا جَوَابُ قَائِلٍ يَقُولُ 
فَكَيْفَ حَالُهُمْ مَعَ ذَلِكَ الْبَرْقِ؟ فَقِيلَ: يَكَادُ
(أَبْصَارَهُمْ) مَفْعُولٌ بِهِ، وَالْهَاءُ ضَمِيرٌ مُتَّصِلٌ فِي مَحَلِّ جَرٍّ بِالْإِضَافَةِ.
 (كُلَّمَا) كُلُّ: مَنْصُوبٌ عَلَى الظَّرْفِيَّةِ الزَّمَانِيَّةِ، وَقَدْ سَرَتِ الظَّرْفِيَّةُ إِلَى «كُلٍّ» مِنْ إِضَافَتِهَا لِمَا الْمَصْدَرِيَّةِ الظَّرْفِيَّةِ، وَ«مَا» مَعَ مَدْخُولِهَا (أَضَاءَ) فِي تَأْوِيلِ مَصْدَرٍ فِي مَحَلِّ جَرٍّ بِالْإِضَافَةِ. وَقِيلَ: «مَا» نَكِرَةٌ مَوْصُوفَةٌ وَمَعْنَاهَا الْوَقْتُ، وَالْعَائِدُ مَحْذُوفٌ تَقْدِيرُهُ: «كُلَّ وَقْتٍ أَضَاءَ لَهُمْ فِيهِ».
فَجُمْلَةُ «أَضَاءَ» فِي الْأَوَّلِ لَا مَحَلَّ لَهَا لِأَنَّهَا صِلَةُ الْمَوْصُولِ الْحَرْفِيِّ، وَفِي الثَّانِي مَحَلُّهَا الْجَرُّ عَلَى الصِّفَةِ. وَ«كُلَّمَا» بِرَأْسِهَا مُتَضَمِّنَةٌ مَعْنَى الشَّرْطِ، وَالْعَامِلُ فِيهَا جَوَابُهَا. (لَهُمْ) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ مُتَعَلِّقَانِ بِأَضَاءَ. (مَشَوْا) فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الضَّمِّ الْمُقَدَّرِ عَلَى الْأَلِفِ الْمَحْذُوفَةِ لِالْتِقَاءِ السَّاكِنَيْنِ، وَالْوَاوُ فَاعِلٌ. وَجُمْلَةُ «مَشَوْا فِيهِ» لَا مَحَلَّ لَهَا مِنَ الْإِعْرَابِ لِأَنَّهَا جَوَابُ شَرْطٍ غَيْرِ جَازِمٍ. (فِيهِ) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ مُتَعَلِّقَانِ بِمَشَوْا.
(وَإِذَا) الْوَاوُ عَاطِفَةٌ، وَإِذَا: ظَرْفٌ لِمَا يُسْتَقْبَلُ مِنَ الزَّمَنِ، خَافِضٌ لِشَرْطِهِ مَنْصُوبٌ بِجَوَابِهِ. (أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ) فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ، وَالْفَاعِلُ مُسْتَتِرٌ فِيهِ جَوَازًا تَقْدِيرُهُ «هُوَ» يَعُودُ عَلَى الْبَرْقِ، وَالْجُمْلَةُ فِي مَحَلِّ جَرٍّ بِإِضَافَةِ الظَّرْفِ إِلَيْهَا، وَ«عَلَيْهِمْ» مُتَعَلِّقَانِ بِأَظْلَمَ.
 (قَامُوا) فِعْلٌ وَفَاعِلٌ، وَالْجُمْلَةُ لَا مَحَلَّ لَهَا مِنَ الْإِعْرَابِ لِأَنَّهَا جَوَابُ شَرْطٍ غَيْرِ جَازِمٍ.
(وَلَوْ) الْوَاوُ اسْتِئْنَافِيَّةٌ، وَلَوْ: شَرْطِيَّةٌ. وَعِبَارَةُ سِيبَوَيْهِ أَنَّهَا: حَرْفٌ لِمَا كَانَ سَيَقَعُ لِوُقُوعِ غَيْرِهِ، وَهِيَ أَحْسَنُ مِنْ قَوْلِ النُّحَاةِ إِنَّهَا حَرْفُ امْتِنَاعٍ لِامْتِنَاعٍ، وَسَتَأْتِي مَبَاحِثُ طَرِيفَةٌ عَنْهَا فِي هَذَا الْكِتَابِ.
 (شَاءَ اللهُ) فِعْلٌ وَفَاعِلٌ، وَمَفْعُولُ الْمَشِيئَةِ مَحْذُوفٌ، وَهَذَا الْحَذْفُ سَائِغٌ فِي كَلَامِ الْعَرَبِ، يَكَادُونَ لَا يَذْكُرُونَ مَفْعُولَ «شَاءَ» إِلَّا فِي الْأَمْرِ الْمُسْتَغْرَبِ، كَقَوْلِ الْخُرَيْمِيِّ:
فَلَوْ شِئْتُ أَنْ أَبْكِي دَمًا لَبَكَيْتُهُ ... عَلَيْهِ وَلَكِنَّ سَاحَةَ الصَّبْرِ أَوْسَعُ
فَـ«أَنْ» وَمَا بَعْدَهَا فِي تَأْوِيلِ مَصْدَرٍ مَفْعُولُ «شِئْتُ» لِأَنَّهُ شَيْءٌ مُسْتَغْرَبٌ فَحَسُنَ ذِكْرُهُ، وَمِثْلُ «شَاءَ» «أَرَادَ» فِي هَذَا الْحُكْمِ.
 (لَذَهَبَ) اللَّامُ وَاقِعَةٌ فِي جَوَابِ «لَوْ»، وَذَهَبَ: فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ، وَفَاعِلُهُ مُسْتَتِرٌ فِيهِ جَوَازًا تَقْدِيرُهُ «هُوَ».
 (بِسَمْعِهِمْ) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ مُتَعَلِّقَانِ بِذَهَبَ. (وَأَبْصَارِهِمْ) عَطْفٌ عَلَى سَمْعِهِمْ.
(إِنَّ) حَرْفٌ مُشَبَّهٌ بِالْفِعْلِ. (اللهَ) اسْمُهَا الْمَنْصُوبُ. (عَلَى كُلِّ) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ مُتَعَلِّقَانِ بِقَدِيرٍ. (شَيْءٍ) مُضَافٌ إِلَيْهِ. (قَدِيرٌ) خَبَرُ «إِنَّ». وَجُمْلَةُ «لَذَهَبَ» لَا مَحَلَّ لَهَا مِنَ الْإِعْرَابِ لِأَنَّهَا جَوَابُ شَرْطٍ غَيْرِ جَازِمٍ. وَجُمْلَةُ «إِنَّ اللهَ...» تَعْلِيلِيَّةٌ لَا مَحَلَّ لَهَا مِنَ الاعراب

Kelanjutan I'rab

(Al-Barqu/البرق) [ Petir] adalah isim yakadu yang dibaca rafa'.

(Yakhtafu/يخطف) [Menyambar] adalah fi'il mudhari' yang dibaca rafa', dan fa'il-nya berupa dhamir mustatir (kata ganti tersembunyi) yang boleh disembunyikan (jawazan), takdirnya adalah huwa (dia laki-laki) yang kembali kepada kata Al-Barqu. Jumlah (anak kalimat) yakhtafu berkedudukan sebagai khabar yakadu. Khabar dari fi'il-fi'il ini (af'alul muqarabah) tidak boleh berbentuk kecuali berupa fi'il mudhari'. Sementara itu, jumlah yakadu adalah kalimat baru (musta'nafah), seolah-olah kalimat tersebut merupakan jawaban bagi seseorang yang bertanya:
"Lalu bagaimana keadaan mereka dengan kilat tersebut?" Maka dijawab: "Hampir saja (kilat itu menyambar

Kata (Abshaarahum/ابصارهم)[ penglihatan mereka] berkedudukan sebagai objek (maf'ul bih), dan huruf ha adalah kata ganti penunjuk (dhamir muttasil) yang berkedudukan majrur karena susunan kepemilikan (fi mahalli jarr bil-idhafah).
Kata (Kullamaa) [setiap kali]: Kata kullu dinasabkan sebagai keterangan waktu (zharfiyyah zamaniyyah). Sifat keterangan waktu ini berpindah kepada kata kullu karena ia disandarkan (idhafah) kepada kata maa yang berfungsi membentuk kata benda abstrak temporal (masdariyyah zharfiyyah). Kata maa beserta kalimat yang dimasukinya, yaitu (Adhaa-a) [menyinari], dilebur menjadi bentuk kata benda abstrak (ta'wil masdar) yang berkedudukan majrur karena bersandar pada kata sebelumnya (idhafah). Ada pula pendapat lain yang menyatakan: Maa di sini adalah kata umum yang6 disifati (nakirah maushufah) yang berarti "waktu", dan kata hubung kembalinya ('aa-id) dibuang, dengan perkiraan makna: "setiap waktu yang (kilat itu) menyinari mereka di dalamnya."

Oleh karena itu, anak kalimat adhaa-a pada pendapat pertama tidak memiliki kedudukan gramatikal (laa mahalla laha min al-i'rab) karena merupakan klausa penghubung huruf (shilat al-maushul al-harfi). Sedangkan pada pendapat kedua, ia berkedudukan majrur karena bertindak sebagai kata sifat (shifah/na'at). Kata kullamaa itu sendiri secara utuh mengandung makna syarat, dan unsur yang mengoperasikannya (al-'amil fiha) adalah kalimat jawabannya.

Kata (Lahum/لهم) [bagi mereka]: Hubungan preposisi dan kata setelahnya (al-jarr wa al-majrur) berkaitan erat dengan kata kerja adhaa-a.

Kata (Masyaw/مشوا) [mereka berjalan]: Merupakan kata kerja lampau (fi'il madhi) yang dibangun di atas tanda baca dammah yang dikira-kirakan (mabni 'ala ad-dhamm al-muqaddar) pada huruf alif yang dihapus demi menghindari bertemunya dua huruf mati (litiqa-is-sakinain), sedangkan huruf wawu berfungsi sebagai pelaku (fa'il). Anak kalimat masyaw fihi tidak memiliki kedudukan gramatikal karena merupakan jawaban dari kalimat syarat yang tidak menjazamkan (jawab syarth ghair jazim).

Kata (Fiihi/فيه) [di dalamnya]: Hubungan preposisi dan kata setelahnya berkaitan erat dengan kata kerja masyaw.

Kata (Wa idzaa/واذا) [dan apabila]: Huruf wawu adalah kata sambung ('athifah), dan kata idzaa adalah keterangan waktu (zharf) untuk masa depan, yang menurunkan harakat kalimat syaratnya (khafidz li syarthihi) dan dinasabkan oleh kalimat jawabannya (manshub bi jawabihi).

Kata (Azhlama 'alaihim/اظلم عليهم) [gelap menimpa mereka]: Azhlima adalah kata kerja lampau yang berharakat akhir fathah (mabni 'ala al-fath). Pelakunya (fa'il) tersembunyi di dalamnya secara boleh (mustatir jawazan), yang diperkirakan berupa kata "dia" (huwa) yang kembali kepada kilat. Anak kalimat ini berkedudukan majrur karena kata keterangan (zharf) disandarkan kepadanya. Kata 'alaihim berkaitan erat dengan kata kerja azhlima.

Kata (Qaamuu/قاموا) [mereka berdiri/berhenti]: Terdiri dari kata kerja (fi'il) dan pelaku (fa'il). Anak kalimat ini tidak memiliki kedudukan gramatikal karena merupakan jawaban dari kalimat syarat yang tidak menjazamkan.

Kata (Wa lau/ولو) [dan sekiranya]: Huruf wawu adalah huruf awal kalimat baru (isti'nafiyyah), dan kata lau adalah kata syarat (syarthiyyah). Menurut rumusan ulama legendaris Sibawayh: Lau adalah sebuah huruf yang menandakan bahwa sesuatu hampir saja terjadi karena terjadinya hal lain. Definisi ini jauh lebih baik daripada pendapat para ahli nahwu umumnya yang menyebutnya sebagai "huruf pencegah karena adanya pencegah" (harf imtina' li imtina'). Pembahasan-pembahasan menarik mengenai hal ini akan disajikan kemudian dalam kitab ini.

Kata (Syaa-Allahu/شاء الله) [Allah menghendaki]: Terdiri dari kata kerja (fi'il) dan pelaku (fa'il). Objek dari kehendak (maf'ul al-masyi'ah) tersebut dibuang (mahdzuf). Penghapusan ini sangat lazim dalam tradisi bahasa Arab. Mereka hampir tidak pernah menyebutkan objek dari kata kerja syaa-a (menghendaki) kecuali pada hal-hal yang sangat aneh atau luar biasa, seperti perkataan penyair Al-Khuraimi:
"Sekiranya aku mau menangis darah, niscaya aku akan menangisinya atas kehilangan dirinya, namun kelapangan kesabaran itu jauh lebih luas."
Maka kata an dan kalimat setelahnya dilebur menjadi bentuk kata benda abstrak (ta'wil masdar) yang menjadi objek (maf'ul bih) dari kata syi'tu (aku mau), karena menangis darah adalah hal yang sangat tidak biasa, sehingga penyebutannya dinilai baik. Kata kerja araada (menginginkan) juga memiliki hukum yang sama dengan kata syaa-a dalam kasus ini.

Kata (Ladzahaba/لذهب) [niscaya Dia menghilangkan]: Huruf lam terletak sebagai penegas jawaban dari kata lau (waqi'ah fi jawab lau). Kata dzahaba adalah kata kerja lampau yang berharakat akhir fathah, dan pelakunya tersembunyi secara boleh, dengan perkiraan "Dia" (huwa).

Kata (Bisam'ihim/بسمعهم) [pendengaran mereka]: Hubungan preposisi dan kata setelahnya berkaitan dengan kata kerja dzahaba.

Kata (Wa abshaarihim/وابصلرهم) [dan penglihatan mereka]: Di-athaf-kan (disambungkan) kepada kata sam'ihim.
Kata (Inna/ان) [sesungguhnya]: Huruf penegas yang menyerupai kata kerja (harf musyabbah bil-fi'il).

Kata (Allaha/الله) [Allah]: Merupakan nama (isim) bagi inna yang dinasabkan.

Kata (‘Ala kulli/على كل) [atas segala]: Hubungan preposisi dan kata setelahnya berkaitan dengan kata qadiir.

Kata (Syai-in/شيء) [sesuatu]: Berkedudukan sebagai susunan kepemilikan (mudhaf ilaih).

Kata (Qadiirun/قدير) [Maha Kuasa]: Merupakan berita (khabar) dari kata inna. Anak kalimat ladzahaba tidak memiliki kedudukan gramatikal karena merupakan jawaban dari kalimat syarat yang tidak menjazamkan. Sementara anak kalimat innallaha... berfungsi sebagai klausul alasan (ta'liliyyah) yang juga tidak memiliki kedudukan gramatikal.


الْبَلَاغَةُ:
1 ـ الِاسْتِعَارَةُ التَّصْرِيحِيَّةُ: فَقَدْ شَبَّهَهُمْ بِالصُّمِّ وَالْبُكْمِ وَالْعُمْيِ، وَطَوَى ذِكْرَ الْمُشَبَّهٍ. وَاعْتَبَرَهُ بَعْضُ عُلَمَاءِ الْبَلَاغَةِ فِي حُكْمِ الْمَذْكُورِ، فَهُوَ عِنْدَهُمْ تَشْبِيهٌ بَلِيغٌ وَارِدٌ فِي كَلَامِهِمْ كَثِيرًا.
قَالَ شَاعِرُهُمْ:
صُمٌّ إِذَا سَمِعُوا خَيْرًا ذُكِرْتُ بِهِ ... وَإِنْ ذُكِرْتُ بِسُوءٍ عِنْدَهُمْ دُفِنُوا
وَلَكِنَّ بُلَغَاءَ الْمُحَقِّقِينَ يَتَنَاسَوْنَ الْمُشَبَّهَ وَيُضْرِبُونَ عَنْ تَوَهُّمِهِ صَفْحًا.
قَالَ أَبُو تَمَّامٍ يَمْدَحُ خَالِدَ بْنَ يَزِيدَ الشَّيْبَانِيَّ:
وَيَصْعَدُ حَتَّى يَظُنَّ الْجَهُولُ ... بِأَنَّ لَهُ حَاجَةً فِي السَّمَاءِ

Keindahan Sastra (Balaghah):
Metafora Deklaratif (Al-Isti'arah At-Tashrihiyyah): Di sini, Al-Qur'an menyerupakan mereka (kaum munafik) dengan orang-orang yang tuli, bisu, dan buta, dengan melipat atau  menyembunyikan penyebutan pihak yang diserupakan (musyabbah). Sebagian ulama balaghah menganggap kedudukan pihak yang diserupakan itu seolah-olah tetap disebutkan, sehingga menurut mereka ini dikategorikan sebagai Tasybih Baligh (penyerupaan tingkat tinggi tanpa kata pembanding) yang sangat sering ditemukan dalam sastra Arab.

Sebagaimana bait syair mereka mengatakan:
"Mereka tuli saat mendengar kebaikan yang ditujukan kepadaku, namun jika keburukanku yang disebut, di sisi mereka hal itu langsung dikubur dalam-dalam."
Akan tetapi, para kritikus sastra yang mendalam (bulagha al-muhaqqiqin) memilih untuk benar-benar melupakan keberadaan pihak yang diserupakan tersebut dan membuang jauh-jauh bayangannya (agar keindahan metaforanya terasa lebih murni dan kuat).
Penyair Abu Tammam juga berkata saat memuji Khalid bin Yazid Al-Syaibani:
"Dia terus mendaki naik (dalam kemuliaan) hingga orang yang bodoh mengira bahwa dia memiliki suatu keperluan penting di atas langit."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

Logika Diferensial dan Patologi Sosial Keagamaan

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa