Diskursus Surah Al-Baqarah ayat 8 - 10 dari Segi Lughah, l'rab dan Balaghah versi Syaikh Muhyiddin Al Darwis

Diskursus Surah Al-Baqarah ayat 8 - 10 dari Segi Lughah, l'rab dan Balaghah versi Syaikh Muhyiddin Al Darwis
Penyadur Sudono Syueb, Alumni PGAM Paciran, Lamongan

Sidoarjo, 12 Juli 2026

بيم الله الرحمن الرحيم

[آيَاتُ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ]
(وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَما هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخادِعُونَ اللهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَما يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنْفُسَهُمْ وَما يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزادَهُمُ اللهُ مَرَضاً وَلَهُمْ عَذابٌ أَلِيمٌ بِما كانُوا يَكْذِبُونَ (10))

Artinya:

(8) Dan di antara manusia ada yang berkata, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir," padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (9) Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri mereka sendiri tanpa mereka sadari. (10) Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta.

[Aspek Kebahasaan / Al-Lughah]

(النَّاسِ )
Manusia

 Merupakan Ismu Jam'in (kata benda kolektif) yang tidak memiliki bentuk tunggal (mufrad) dari lafaz dan rumpun katanya sendiri. Menurut Imam Sibawaih dan Al-Farra, akar katanya terdiri dari huruf Hamzah, Nun, dan Sin (أ-ن-س). Huruf Hamzah-nya dibuang secara tidak reguler (syudzudz), sehingga bentuk aslinya adalah Unas (أُنَاس). Al-Qur'an sendiri pernah melafalkan bentuk asli ini dalam firman-Nya: "Suatu hari (yang pada hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya." Sementara itu, Imam Al-Kisai berpendapat bahwa akar katanya adalah Nun, Wau, dan Sin (ن-و-س), yang diambil dari kata An-Naus yang berarti gerakan. Dikatakan: Naasa Yanoosu Nausan. Kata An-Naus bermakna gerakan berayun/terombang-ambing suatu benda di udara, di antaranya seperti ayunan anting-anting di telinga. Tokoh penyair "Abu Nuwas" dijuluki demikian karena ia memiliki dua jambul rambut yang selalu berayun di dekat kedua telinganya (nama aslinya adalah Al-Hasan bin Hani'). Kami sengaja memperpanjang pembahasan ini karena sebagian kamus modern mencampuradukkan asal-usul kata ini; sebagian mencantumkannya dalam bab kata Anasa (أنس) dan sebagian lain dalam bab Nawasa (نوس), sehingga membuat pelajar dan perujuk tersesat dalam labirin yang tidak ada jalan keluarnya.

(يُخَادِعُونَ )
Mereka menipu

Kata Al-Khida' secara asal bermakna Al-Ikhfa' (menyembunyikan). Dari akar kata ini muncul istilah Al-Akhda'an, yaitu dua urat tersembunyi yang berada di dalam leher. Dari kata ini pula muncul istilah Al-Mikhda' yang berarti kamar baner/bagian dalam rumah. Kemudian, kata ini digunakan secara luas untuk arti: menampakkan sesuatu yang berbeda dari apa yang ada di dalam hati.

(يَشْعُرُونَ 
Mereka menyadari

Kata Asy-Syu'ur bermakna memahami sesuatu dari sisi yang sangat lembut dan samar. Kata ini diambil dari kata Asy-Sya'r (rambut) karena sifatnya yang tipis/lembut. Ada pula yang berpendapat bahwa ia bermakna pemahaman melalui indra, sehingga diambil dari kata Asy-Syi'ar, yaitu pakaian yang melekat langsung menyentuh tubuh. Istilah Masyā'irul Insān berarti indra-indra manusia. Ungkapan Sya'ara bil amri ikut dalam pola bab Nashara (شَعَرَ يَشْعُرُ) dan Karuma (شَعُرَ يَشْعُرُ) yang berarti mengetahui dan tanggap terhadapnya. Dari sinilah seorang penyair disebut Syā'ir karena ketajaman rasa dan kelembutan pengetahuannya. Kesimpulannya, Asy-Syu'ur adalah pemahaman terhadap hal-hal yang bersifat lembut/halus, baik melalui indra maupun akal.

(مَرَضٌ )
Penyakit

Kata Al-Maradh merupakan bentuk masdar dari kata kerja 
Maridha (sakit). 
Secara bahasa diartikan sebagai kelemahan dan lesu/loyo. Para ulama bahasa menyatakan: penyakit pada hati bermakna kelesuan dalam menerima kebenaran; penyakit pada fisik bermakna kelesuan organ tubuh; sedangkan penyakit pada mata bermakna pandangan yang sayu/lemah, dan ini adalah hal indah yang sering disenandungkan oleh para penyair, seperti bait:
Sakitku berasal dari dia yang memiliki kelopak mata sayu (maridhah)... hhiburlah aku dengan menyebut namanya, hiburlah aku.
Kata penyakit (Al-Maradh) juga digunakan untuk menggambarkan kegelapan, seperti bait:

"Pada malam hari yang meredup (sakit) dari segala penjuru... sehingga tidak terasa lagi adanya bintang maupun bulan."


[Analisis Sintaksis / Al-I'rab]

(وَمِنَ النَّاسِ)

Huruf Wau (و) di sini adalah Wau Isti'nafiyah (permulaan), dan kalimat ini merupakan kalimat baru (musta'naf) yang dihadirkan untuk menyebutkan perihal orang-orang munafik (yaitu mereka yang beriman dengan lisan namun kafir di dalam hati). Allah Subhanahu wa Ta'ala membuka surah ini dengan menyebutkan golongan orang-orang bertakwa, kemudian kedua menyebutkan golongan orang kafir yang nyata lahir batin, dan ketiga menyebutkan golongan orang munafik. Struktur Jar dan Majrur (مِنَ النَّاسِ) bertumpu (muta'alliq) pada komplemen khabar yang dibuang dan didahulukan (khabar muqaddam).

(مَنْ)

Merupakan Isim Maushul (kata sambung) yang menempati posisi Rafa' sebagai Mubtada' yang diakhirkan (mubtada' muakhkhar). Boleh juga menganggap (مَنْ) sebagai Nakirah Maushufah (kata umum yang disifati) yang menempati posisi Rafa' sebagai Mubtada' Muakhkhar, seolah-olah kalimatnya berbunyi: "Dan di antara manusia ada segolongan manusia (ناس)", 
dan pembahasannya akan diulas nanti.

(يَقُولُ )

Dia berkata/mereka berkata): Fi'il mudhari' marfu', fa'il-nya berupa dhamir mustatir (kata ganti tersembunyi) yang takdirnya adalah huwa (dia). Jumlah fi'liyyah (klausa verba) ini tidak memiliki kedudukan i'rab karena berkedudukan sebagai shilah al-maushul jika kata (مَنْ) dianggap sebagai isim maushul, atau sebagai sifat jika (مَنْ) dianggap sebagai nakirah maushufah (kata umum yang disifati).

(آمَنَّا )
 Kami telah beriman): Fi'il (kata kerja) dan fa'il (subjek). Jumlah fi'liyyah ini berada dalam posisi nashab sebagai maquul al-qaul (objek ucapan).

(بِاللهِ )

 Kepada Allah): Jar wa majrur (huruf har dan kata yang dimajrurkan) berkaitan (muta'alliq) dengan kata Aamannaa.
(وَبِالْيَوْمِ )
Dan kepada hari): Di-athaf-kan (diwujudkan setara) kepada kata billahi.
(الْآخِرِ )
 Yang akhir): Sebagai na'at (sifat) bagi kata al-yaumi.

(وَما )
 
Dan tidaklah): Huruf wawu di sini adalah wawu haliyyah (menunjukkan keadaan), sedangkan maa adalah maa nafiyah hijaziyyah yang beramal seperti laisa (berfungsi menafikan).

(هُمْ )

Mereka): Dhamir munfashil (kata ganti terpisah) menduduki posisi rafa' sebagai isim maa.

(بِمُؤْمِنِينَ )

 Orang-orang yang beriman): Huruf Ba' adalah huruf jar tambahan (zaid) untuk penegasan (taukid). (Hal ini karena di dalam Al-Qur'an secara hakikat tidak ada huruf jar yang "sia-sia/tambahan", melainkan ini hanyalah istilah sintaksis nahwu yang biasa digunakan; sedangkan menurut pakar sastra/balaghah, huruf ini sangat penting dan tidak boleh dihilangkan). Jumlah ismiyyah (klausa nomina) ini berada dalam posisi nashab sebagai haal (keterangan keadaan).
Analisis Ayat 9:

(يُخَادِعُونَ)

Mereka menipu): Fi'il mudhari' yang tanda rafa'-nya menggunakan ketetapan huruf nun (thubutun-nun) karena termasuk af'alul khamsah (kata kerja yang lima), dan huruf wawu adalah fa'il-nya. Jumlah fi'liyyah ini merupakan musta'nafah (kalimat permulaan baru), seolah-olah ada pertanyaan: "Mengapa mereka berpura-pura beriman?" Lalu dijawab: "Mereka hendak menipu". Kalimat ini juga berpotensi menjadi haal dari dhamir yang tersembunyi di dalam kata yaquulu, yang maknanya: "dalam keadaan menipu Allah dan orang-orang yang beriman".

(اللهَ)
Allah: Sebagai maf'ul bih (objek) bagi kata yukhadhi'una.

(وَالَّذِينَ)

Dan orang-orang yang): Di-athaf-kan kepada lafazh Allah.

(آمَنُوا )

 Mereka telah beriman): Jumlah fi'liyyah ini tidak memiliki kedudukan i'rab karena berkedudukan sebagai shilah al-maushul.

(وَما )
 Padahal tidaklah): Huruf wawu di sini adalah wawu haliyyah, dan maa adalah nafiyah (penafi).

(يَخْدَعُونَ )

Mereka menipu): Fi'il mudhari' marfu' yang tanda rafa'-nya adalah ketetapan huruf nun, dan huruf wawu adalah fa'il-nya.

(إِلَّا )
 Kecuali): Adat hasyr (alat pembatas/pengecualian).

(أَنْفُسَهُمْ ) 

Diri mereka sendiri): Sebagai maf'ul bih (objek), dan kata ganti haa-miim (hum) adalah dhamir muttashil yang berada dalam posisi jar sebagai mudhaf ilaih.

(وَما )
 Dan tidaklah): Huruf wawu adalah 'athifah (penghubung) atau isti'nafiyyah (permulaan baru), dan maa adalah nafiyah.

(يَشْعُرُونَ )

Mereka menyadari): Fi'il mudhari' marfu', dan jumlah (kalimat) ini di-athaf-kan kepada kalimat wa maa yakhda'una atau sebagai kalimat permulaan (musta'nafah).
Analisis Ayat 10:

(فِي قُلُوبِهِمْ )

 Di dalam hati mereka): Jar wa majrur berkedudukan sebagai khabar muqaddam (predikat yang didahulukan).
(مَرَضٌ )
 Penyakit): Sebagai mubtada' muakhkhar (subjek yang diakhirkan).

(فَزَادَهُمُ )
 Maka menambahkan kepada mereka): Huruf Fa' adalah huruf 'athaf, kata zaada adalah fi'il madhi, dan kata ganti hum adalah maf'ul bih (objek). Kalimat ini di-athaf-kan kepada hal yang berkaitan dengan khabar sebelumnya. Kalimat ini juga berpotensi bahwa huruf Fa' tersebut adalah isti'nafiyyah dan kalimat zaadahumullah berfungsi sebagai kalimat doa (dua'iyyah) yang tidak memiliki kedudukan i'rab.
(اللهُ )
 Allah): Sebagai fa'il (subjek) dari kata zaadahum.

(مَرَضاً )
 Penyakit): Sebagai maf'ul bih kedua (maf'ul bih tsani). Kata kerja zaada bisa digunakan sebagai kata kerja intransitif (lazim) maupun transitif yang membutuhkan dua objek (muta'addi ila itsnaini), di mana objek kedua bukanlah objek pertama itu sendiri.
(وَلَهُمْ)
Dan bagi mereka): Huruf wawu adalah 'athifah atau isti'nafiyyah, sedangkan jar wa majrur berkedudukan sebagai khabar muqaddam.

(عَذَابٌ )

 Azab): Sebagai mubtada' muakhkhar.

(أَلِيمٌ )

Yang pedih): Sebagai sifat/na'at bagi kata 'adzaabun.
(بِمَا )
 Disebabkan apa yang / karena apa yang): Huruf Ba' adalah huruf jar untuk sababiyyah (menunjukkan sebab), dan maa adalah isim maushul yang berada dalam posisi jar disebabkan huruf Ba'.

(كَانُوا )
 Mereka adalah/mereka dahulu): Terdiri dari kata kaana beserta isim-nya.

(يَكْذِبُونَ -

Mereka berdusta):
1Fi'il mudhari' beserta fa'il-nya, dan jumlah ini menjadi khabar kaana. Sedangkan struktur kalimat kaana beserta isim dan khabar-nya tidak memiliki kedudukan i'rab karena berstatus sebagai shilah al-maushul.
(Penjelasan Tambahan di Akhir): Dan boleh juga jika kata (مَا) di sini dianggap sebagai maa mashdariyyah. Berdasarkan pendapat pertama (isim maushul), maknanya adalah: "disebabkan oleh apa yang mereka dustakan". Sedangkan berdasarkan pendapat kedua (mashdariyyah), maknanya adalah: "karena kedustaan mereka". Posisi jar wa majrur tersebut menjadi sifat kedua bagi kata 'adzaabun atau sebagai bentuk mashdar, yakni: "karena kedustaan mereka".

Balagah (Keindahan Bahasa):

Al-Musyakalah (Kesesuaian Kata): 

Terdapat pada firman-Nya:

"Mereka menipu Allah". 

Hal ini karena wazan mufa'alah (مفاعلة) secara asal menghendaki adanya partisipasi timbal balik dalam makna. Namun, kata ini disematkan kepada Allah Ta'ala sebagai bentuk respons/balasan (konteks penyeimbang) terhadap penipuan yang dilakukan oleh kaum munafik, sama seperti penyebutan balasan tipu daya (makr) atas tipu daya mereka. Di antara contoh seni sastra ini dalam syi'ir adalah ucapan seorang penyair:
Mereka berkata: 

"Carilah sesuatu, maka kami akan memasakkan makanan itu untukmu."

Aku menjawab: 

"Masakkan saja untukku sebuah jubah dan gamis." (Maksudnya: buatkan/jahitkan pakaian).

Al-Majaz (Metafora/Kiasan): 

Terdapat pada penisbatan kata "penipuan" kepada Allah. Hal itu disebabkan karena kaum munafik melakukan perbuatan-perbuatan layaknya seorang penipu, dengan asumsi bahwa mereka mampu menipu-Nya akibat benarnya penafian tersebut. Oleh karena itu, Allah berfirman: "Padahal mereka hanyalah menipu diri mereka sendiri".

Al-Isti'arah At-Tashrihiyyah (Metafora Deklaratif):

Terdapat pada firman-Nya: "Dalam hati mereka ada penyakit". Kata "penyakit" di sini dipinjam (sebagai kiasan) untuk menggambarkan kondisi hati mereka yang telah tertutup oleh kebodohan, buruknya akidah, serta berbagai bentuk kejahilan lainnya yang dapat membawa kepada kebinasaan.
Al-Fawa'id (Catatan Kaidah Gramatika):
Kata "Min" (مَنْ) bisa bermakna nakirah maushufah (kata benda tak tentu yang disifati) pada posisi yang khusus bagi kata nakirah, sebagaimana perkataan Suwaid bin Abi Kahil:
Berapa banyak orang yang telah kubuat hatinya mendidih karena amarah,
jika ia mengharapkan kematian bagiku, maka (doanya) tidak akan dikabulkan.
"Ma" Hijaziyyah adalah huruf Ma yang beramal (berfungsi) seperti fungsi kata Laisa (merofakkan isim dan menasobkan khabar). Ia dinamakan Hijaziyyah karena Al-Qur'an diturunkan dengan dialek/bahasa penduduk Hijaz, dan hukum-hukum penjelasannya telah dipaparkan secara luas di dalam kitab-kitab ilmu Nahwu.

اللُّغَةُ]
(النَّاسِ) اِسْمُ جَمْعٍ لَا وَاحِدَ لَهُ مِنْ لَفْظِهِ، وَمَادَّتُهُ عِنْدَ سِيبَوَيْهِ وَالْفَرَّاءِ هَمْزَةٌ وَنُونٌ وَسِينٌ، وَحُذِفَتْ هَمْزَتُهُ شُذُوذًا وَأَصْلُهُ أُنَاسٌ، وَقَدْ نَطَقَ الْقُرْآنُ بِهَذَا الْأَصْلِ، قَالَ تَعَالَى: «يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ»، وَذَهَبَ الْكِسَائِيُّ إِلَى أَنَّ مَادَّتَهُ نُونٌ وَوَاوٌ وَسِينٌ مُشْتَقٌّ مِنَ النَّوْسِ وَهُوَ الْحَرَكَةُ، يُقَالُ: نَاسَ يَنُوسُ نَوْسًا، وَالنَّوْسُ تَذَبْذُبُ الشَّيْءِ فِي الْهَوَاءِ، وَمِنْهُ نَوْسُ الْقُرْطِ فِي الْأُذُنِ، وَسُمِّيَ أَبُو نُوَاسٍ بِذَلِكَ لِأَنَّ ذُؤَابَتَيْنِ كَانَتَا تَنُوسَانِ عِنْدَ أُذُنَيْهِ، وَاسْمُهُ الْحَقِيقِيُّ الْحَسَنُ بْنُ هَانِئٍ، وَإِنَّمَا أَطَلْنَا فِي هَذَا الْبَحْثِ لِأَنَّ بَعْضَ الْمَعَاجِمِ الْحَدِيثَةِ خَلَطَ فِي أَصْلِهِ فَأَوْرَدَهُ فِي مَادَّةِ (أَنَسَ) وَبَعْضُهَا أَوْرَدَهُ فِي مَادَّةِ (نَوَسَ) وَأَضَاعُوا بِذَلِكَ الطَّالِبَ وَالْمُرَاجِعَ فِي مَتَاهَاتٍ لَا مَنَافِذَ مِنْهَا.
(يُخَادِعُونَ) الْخِدَاعُ فِي الْأَصْلِ: الْإِخْفَاءُ، وَمِنْهُ الْأَخْدَعَانِ وَهُمَا عِرْقَانِ مُسْتَبْطِنَانِ فِي الْعُنُقِ، وَمِنْهُ أَيْضًا الْمِخْدَعُ وَهُوَ دَاخِلُ الْبَيْتِ، ثُمَّ أُطْلِقَ عَلَى إِظْهَارِ غَيْرِ مَا فِي النَّفْسِ.
(يَشْعُرُونَ) الشُّعُورُ: إِدْرَاكُ الشَّيْءِ مِنْ وَجْهٍ يَدُقُّ وَيَخْفَى، وَهُوَ مُشْتَقٌّ مِنَ الشَّعْرِ لِدِقَّتِهِ، وَقِيلَ هُوَ الْإِدْرَاكُ بِالْحَاسَّةِ فَهُوَ مُشْتَقٌّ مِنَ الشِّعَارِ وَهُوَ ثَوْبٌ يَلِي الْجَسَدَ، وَمَشَاعِرُ الْإِنْسَانِ: حَوَاسُّهُ، وَشَعَرَ بِالْأَمْرِ مِنْ بَابَيْ نَصَرَ وَكَرُمَ: عَلِمَ بِهِ وَفَطِنَ لَهُ، وَمِنْهُ يُسَمَّى الشَّاعِرُ شَاعِرًا لِفِطْنَتِهِ وَدِقَّةِ مَعْرِفَتِهِ. وَالتَّحْقِيقُ أَنَّ الشُّعُورَ إِدْرَاكُ مَا دَقَّ مِنْ حِسِّيٍّ وَعَقْلِيٍّ.
(مَرَضٌ): الْمَرَضُ: مَصْدَرُ مَرِضَ، وَيُطْلَقُ فِي اللُّغَةِ عَلَى الضَّعْفِ وَالْفُتُورِ، وَقَالُوا: الْمَرَضُ فِي الْقَلْبِ: الْفُتُورُ عَنِ الْحَقِّ، وَفِي الْبَدَنِ: فُتُورُ الْأَعْضَاءِ، وَفِي الْعَيْنِ: فُتُورُ النَّظَرِ وَهُوَ جَمِيلٌ يَتَغَنَّى بِهِ الشُّعَرَاءُ، قَالَ:
مَرَضِي مِنْ مَرِيضَةِ الْأَجْفَانِ ... عَلِّلَانِي بِذِكْرِهَا عَلِّلَانِي
وَيُطْلَقُ الْمَرَضُ فَيُرَادُ بِهِ الظُّلْمَةُ، قَالَ:
فِي لَيْلَةٍ مَرِضَتْ مِنْ كُلِّ نَاحِيَةٍ ... فَمَا يُحَسُّ بِهَا نَجْمٌ وَلَا قَمَرُ
[الْإِعْرَابُ]
(وَمِنَ النَّاسِ) الْوَاوُ اسْتِئْنَافِيَّةٌ، وَالْكَلَامُ مُسْتَأْنَفٌ مَسُوقٌ لِذِكْرِ الْمُنَافِقِينَ الَّذِينَ آمَنُوا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَكَفَرُوا بِقُلُوبِهِمْ، فَقَدِ افْتَتَحَ سُبْحَانَهُ بِذِكْرِ الْمُتَّقِينَ، ثُمَّ ثَنَّى بِالْكَافِرِينَ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، وَثَلَّثَ بِالْمُنَافِقِينَ. وَالْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ مُتَعَلِّقَانِ بِمَحْذُوفِ خَبَرٍ مُقَدَّمٍ. (مَنْ) اِسْمٌ مَوْصُولٌ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ مُبْتَدَأٌ مُؤَخَّرٌ، وَيَجُوزُ أَنْ تَكُونَ (مَنْ) نَكِرَةً مَوْصُوفَةً فِي مَحَلِّ رَفْعٍ مُبْتَدَأٌ مُؤَخَّرٌ، كَأَنَّهُ قِيلَ: وَمِنَ النَّاسِ نَاسٌ، وَسَيَأْتِي بَحْثُهَا. 

(يَقُولُ) فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوعٌ، وَفَاعِلُهُ ضَمِيرٌ مُسْتَتِرٌ فِيهِ تَقْدِيرُهُ هُوَ، وَالْجُمْلَةُ الْفِعْلِيَّةُ لَا مَحَلَّ لَهَا مِنَ الْإِعْرَابِ صِلَةٌ لِـ (مَنْ) إِذَا كَانَتْ مَوْصُولَةً، وَصِفَةٌ لَهَا إِذَا كَانَتْ نَكِرَةً مَوْصُوفَةً. (آمَنَّا) فِعْلٌ وَفَاعِلٌ، وَالْجُمْلَةُ الْفِعْلِيَّةُ فِي مَحَلِّ نَصْبٍ مَقُولُ الْقَوْلِ. (بِاللهِ) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ مُتَعَلِّقَانِ بِـ (آمَنَّا). (وَبِالْيَوْمِ) عَطْفٌ عَلَى (بِاللهِ). (الْآخِرِ) نَعْتٌ لِـ (الْيَوْمِ). (وَما) الْوَاوُ حَالِيَّةٌ، وَمَا نَافِيَةٌ حِجَازِيَّةٌ تَعْمَلُ عَمَلَ لَيْسَ. (هُمْ) ضَمِيرٌ مُنْفَصِلٌ فِي مَحَلِّ رَفْعٍ اسْمُ مَا. (بِمُؤْمِنِينَ) الْبَاءُ حَرْفُ جَرٍّ زَائِدٌ لِلتَّوْكِيدِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ فِي الْقُرْآنِ حَرْفُ جَرٍّ زَائِدٌ، وَلَكِنَّ الِاصْطِلَاحَ النَّحْوِيَّ جَرَى عَلَى ذَلِكَ، فَهُوَ عِنْدَ الْبَلَاغِيِّينَ حَرْفٌ لَا يُسْتَغْنَى عَنْهُ، وَالْجُمْلَةُ الِاسْمِيَّةُ فِي مَحَلِّ نَصْبٍ عَلَى الْحَالِ.
(يُخَادِعُونَ) فِعْلٌ مُضَارِعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ ثُبُوتُ النُّونِ لِأَنَّهُ مِنَ الْأَفْعَالِ الْخَمْسَةِ، وَالْوَاوُ فَاعِلٌ، وَالْجُمْلَةُ الْفِعْلِيَّةُ مُسْتَأْنَفَةٌ كَأَنَّهُ قِيلَ: لِمَ يَتَظَاهَرُونَ بِالْإِيمَانِ؟ فَقِيلَ: يُخَادِعُونَ، وَيَحْتَمِلُ أَنْ تَكُونَ حَالِيَّةً مِنَ الضَّمِيرِ الْمُسْتَكِنِّ فِي (يَقُولُ)، أَيْ: مُخَادِعِينَ اللهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا. (اللهَ) مَفْعُولٌ بِهِ لِـ (يُخَادِعُونَ). (وَالَّذِينَ) عَطْفٌ عَلَى (اللهَ). (آمَنُوا) الْجُمْلَةُ الْفِعْلِيَّةُ لَا مَحَلَّ لَهَا لِأَنَّهَا صِلَةُ الْمَوْصُولِ. (وَما) الْوَاوُ حَالِيَّةٌ وَمَا نَافِيَةٌ. (يَخْدَعُونَ) فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ ثُبُوتُ النُّونِ وَالْوَاوُ فَاعِلٌ. (إِلَّا) أَدَاةُ حَصْرٍ. (أَنْفُسَهُمْ) مَفْعُولٌ بِهِ وَالْهَاءُ ضَمِيرٌ مُتَّصِلٌ فِي مَحَلِّ جَرٍّ بِالْإِضَافَةِ. (وَما) الْوَاوُ عَاطِفَةٌ أَوْ اسْتِئْنَافِيَّةٌ وَمَا نَافِيَةٌ. (يَشْعُرُونَ) فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوعٌ، وَالْجُمْلَةُ عَطْفٌ عَلَى جُمْلَةِ (وَمَا يَخْدَعُونَ) أَوْ مُسْتَأْنَفَةٌ.
(فِي قُلُوبِهِمْ) الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ خَبَرٌ مُقَدَّمٌ. (مَرَضٌ) مُبْتَدَأٌ مُؤَخَّرٌ. (فَزَادَهُمُ) الْفَاءُ حَرْفُ عَطْفٍ، وَزَادَ فِعْلٌ مَاضٍ، وَالْهَاءُ مَفْعُولٌ بِهِ، وَالْجُمْلَةُ عَطْفٌ عَلَى مَا تَعَلَّقَ بِهِ الْخَبَرُ، وَيَحْتَمِلُ أَنْ تَكُونَ الْفَاءُ اسْتِئْنَافِيَّةً وَجُمْلَةُ (زَادَهُمُ اللهُ) دُعَائِيَّةً لَا مَحَلَّ لَهَا. (اللهُ) فَاعِلُ (زَادَهُمْ). (مَرَضاً) مَفْعُولٌ بِهِ ثَانٍ، وَ(زَادَ) يُسْتَعْمَلُ لَازِماً وَمُتَعَدِّياً لِاثْنَيْنِ ثَانِيهِمَا غَيْرُ الْأَوَّلِ. (وَلَهُمْ) الْوَاوُ عَاطِفَةٌ أَوْ اسْتِئْنَافِيَّةٌ، وَالْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ خَبَرٌ مُقَدَّمٌ. (عَذَابٌ) مُبْتَدَأٌ مُؤَخَّرٌ. (أَلِيمٌ) صِفَةٌ لِـ (عَذَابٍ). (بِمَا) الْبَاءُ حَرْفُ جَرٍّ لِلسَّبَبِيَّةِ، وَمَا اسْمٌ مَوْصُولٌ فِي مَحَلِّ جَرٍّ بِالْبَاءِ. (كَانُوا) كَانَ وَاسْمُهَا. (يَكْذِبُونَ) فِعْلٌ مُضَارِعٌ وَفَاعِلٌ، وَالْجُمْلَةُ خَبَرُ (كَانُوا)، وَجُمْلَةُ كَانَ وَاسْمُهَا وَخَبَرُهَا لَا مَحَلَّ لَهَا لِأَنَّهَا صِلَةُ الْمَوْصُولِ. وَيَجُوزُ أَنْ تَكُونَ (مَا) مَصْدَرِيَّةً، وَالْمَعْنَى عَلَى الْأَوَّلِ: بِالَّذِي يَكْذِبُونَهُ، وَعَلَى الثَّانِي: بِسَبَبِ كَوْنِهِمْ يَكْذِبُونَ، وَالْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ صِفَةٌ ثَانِيَةٌ لِـ (عَذَابٍ) أَوْ مَصْدَرٌ أَيْ: بِسَبَبِ كَوْنِهِمْ يَكْذِبُونَ.

البَلَاغَةُ :
١ ـ المُشَاكَلَةُ فِي قَوْلِهِمْ { يُخَادِعُونَ اللهَ } لِأَنَّ المُفَاعَلَةَ تَقْتَضِي المُشَارَكَةَ فِي المَعْنَى وَقَدْ أُطْلِقَ عَلَيْهِ تَعَالَى مُقَابِلًا لِمَا ذَكَرَهُ مِنْ خِدَاعِ المُنَافِقِينَ كَمُقَابَلَةِ المَكْرِ بِمَكْرِهِمْ وَمِنْ أَمْثِلَةِ هَذَا الفَنِّ فِي الشِّعْرِ قَوْلُ بَعْضِهِمْ :
قَالُوا : التَمِسْ شَيْئًا فَجِدْ لَكَ طَبْخَهُ
قُلْتُ : اطْبُخُوا لِي جُبَّةً وَقَمِيصًا
٢ ـ المَجَازُ : فِي الخِدَاعِ المَنْسُوبِ إِلَيْهِ لِتَعَاطِيهِمْ أَفْعَالُ المُخَادِعِ ظَنًّا مِنْهُمْ أَنَّهُمْ يَسْتَطِيعُونَ ذَلِكَ لِصِدْقِ نَفْيِهِ وَلِذَلِكَ قَالَ : { وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ }.
٣ ـ الاِسْتِعَارَةُ التَّصْرِيحِيَّةُ فِي قَوْلِهِ : { فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ } حَيْثُ اسْتُعِيرَ المَرَضُ لِمَا رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مِنْ جَهْلٍ وَسُوءِ عَقِيدَةٍ وَمَا إِلَى ذَلِكَ مِنْ ضُرُوبِ الجَهَالَاتِ المُؤَدِّيَةِ إِلَى المَتَالِفِ.
الفَوَائِدُ :
١ ـ تَأْتِي «مِنْ» نَكِرَةً مَوْصُوفَةً فِي مَوْضِعٍ يَخْتَصُّ بِالنَّكِرَةِ كَقَوْلِ سُوَيْدِ بْنِ أَبِي كَاهِلٍ :
رُبَّ مَنْ أَنْضَجْتُ غَيْظًا قَلْبَهُ
لَوْ تَمَنَّى لِي مَوْتًا لَمْ يُطَعْ
٢ ـ «مَا» الحِجَازِيَّةُ هِيَ العَامِلَةُ عَمَلَ «لَيْسَ» وَإِنَّمَا سُمِّيَتْ حِجَازِيَّةً لِأَنَّ التَّنْزِيلَ جَاءَ بِلُغَةِ أَهْلِ الحِجَازِ وَأَحْكَامُهَا مَبْسُوطَةٌ فِي كُتُبِ النَّحْوِ.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

Logika Diferensial dan Patologi Sosial Keagamaan

Hisab Awal Bulan Sya’ban 1447 H