Diskursus tentang Keberadaan Allah

Diskursus tentang Keberadaan Allah

Oleh Sudono Syueb, Pengurus DDII Jatim Bidang Kominfo

Sidoarjo - Akhir-akhir ini, diskursus tentang keberadaan Allah mengemuka lagi. Allah dimana? Di atas Arsy atau dimana-mana? 

Perlu diketahui, dalam debat teologi dan filsafat, tidak ada satu jawaban tunggal mengenai di mana Allah berada. Jawaban tersebut sangat bergantung pada sudut pandang agama, aliran, dan metodologi pemahaman teks yang digunakan.

Berikut adalah beberapa pandangan utama mengenai keberadaan Allah:

1. Pandangan Transendensi (Di Luar Alam Semesta)

Pandangan ini meyakini bahwa Allah sepenuhnya berbeda, terpisah, dan berada di luar batas ruang serta waktu alam semesta.

Tidak Terikat Ruang: Ruang dan waktu adalah ciptaan. Oleh karena itu, Sang Pencipta tidak mungkin diliputi atau dibatasi oleh ruang yang diciptakan-Nya sendiri. 

2. Pandangan Imandensi (Maha Hadir)

Pandangan ini menekankan kedekatan Allah dengan ciptaan-Nya tanpa jarak fisik.

Ada di Mana-mana (Omnipresence): Banyak teolog Kristen dan beberapa aliran Islam (seperti paham Asy'ariyah/Maturidiyah dalam hal pengawasan, atau kaum Sufi secara spiritual) menjelaskan bahwa Allah hadir di mana-mana melalui ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, atau pengawasan-Nya, bukan secara zat material. 

Lebih Dekat dari Urat Leher: Pendekatan spiritual yang menekankan bahwa kehadiran Allah dirasakan langsung di dalam hati orang-orang yang beriman.

3. Panteisme dan Panenteisme

Pendekatan filsafat yang menyatukan konsep Tuhan dengan alam semesta.

Panteisme: Meyakini bahwa Tuhan adalah alam semesta itu sendiri. Segala sesuatu yang ada adalah bagian dari Tuhan.
Panenteisme: Meyakini bahwa alam semesta adalah bagian dari Tuhan, tetapi Tuhan sendiri tetap lebih besar daripada alam semesta tersebut.

Sementara dalam teologi Islam, perdebatan mengenai "di mana Allah" secara garis besar terbagi menjadi tiga arus utama. Perdebatan ini berpusat pada cara memahami ayat-ayat mutasyaabihaat (samar makna) tentang sifat-sifat Allah.

1. Mazhab Salafi / Atsari (Aliran Tekstual)

Mazhab ini memahami teks Al-Qur'an dan Hadis sesuai dengan makna literal bahasa Arab, namun tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk (bila kaifa).

Posisi: Allah berada di atas langit, bersemayam di atas Arsy, terpisah dari makhluk-Nya.
Dalil Utama: Surat Taha ayat 5, "Yaitu (Allah) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas Arsy." 

Argumen:
Fitrah manusia secara alami akan menghadap ke atas saat berdoa.
Nabi Muhammad membenarkan ucapan seorang budak wanita yang menjawab "di langit" ketika ditanya di mana Allah (Hadis Riwayat Muslim).

Mengubah arti "bersemayam" menjadi "menguasai" dianggap membatalkan makna teks suci.

2. Mazhab Asy'ariyah dan Maturidiyah (Aliran Rasional-Moderat)

Mazhab ini menggunakan pendekatan akal untuk menjaga kesucian Allah dari sifat-sifat benda fisik (tanzih). Mayoritas umat Islam tradisional di Indonesia (seperti NU) mengikuti mazhab ini.
 
Posisi: Allah ada tanpa tempat dan tidak terikat ruang waktu, karena ruang dan tempat adalah makhluk yang baru diciptakan. 

Dalil Utama: Surat Asy-Syura ayat 11, "...Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia..."

Argumen:
Sebelum menciptakan arah (atas, bawah, kanan, kiri) dan tempat, Allah sudah ada. Setelah menciptakan tempat, Allah tidak berubah menjadi butuh tempat.

Jika Allah berada di satu tempat (seperti di atas), berarti Allah dibatasi oleh ruang, sedangkan Allah Maha Tak Terbatas.

Ayat tentang bersemayam di atas Arsy ditakwil (diartikan secara metafora) sebagai simbol keagungan7
dan kekuasaan (Istiula). Adapun kehadiran-Nya di mana-mana diartikan melalui ilmu, pengawasan, dan kekuasaan-Nya. 

3. Mazhab Sufi / Tasawuf (Aliran Spiritual-Esoteris)

Aliran ini lebih fokus pada kedekatan batin dan pengalaman spiritual rasa (dzauq) daripada perdebatan argumen fisik.
Posisi: Allah hadir sangat dekat di dalam hati manusia yang beriman melalui pancaran cahaya-Nya (tajalli).

Dalil Utama: Surat Qaf ayat 16, "...dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
Argumen:
Mencari Allah tidak dilakukan dengan perjalanan fisik ke langit, melainkan dengan membersihkan hati dari nafsu duniawi.

Beberapa06 kelompok sufi ekstrem masa lalu (seperti konsep Wahdatul Wujud) memandang tidak ada hakikat yang eksis di alam semesta ini kecuali zat Allah, meskipun pandangan ini ditolak oleh mayoritas ulama arus utama.

Untuk memahami dinamika ini lebih dalam, kelompok atau tokoh mana yang ingin Anda pelajari secara khusus? Saya bisa membantu mengulas:
Argumen detail dari tokoh Asy'ariyah seperti Imam Al-Ghazali

Argumen detail dari tokoh Atsari seperti Ibnu Taimiyah
Analisis ayat Surat Taha ayat 5 dari berbagai kitab tafsir

Argumen Imam Al-Ghazali mengenai keberadaan Allah berakar kuat pada mazhab Asy'ariyah (Ahlus Sunnah wal Jama'ah), yang menolak secara tegas bahwa Allah terikat oleh ruang, arah, atau tempat fisik. Pandangan teologis ini ia bedah secara mendalam dalam kitab-kitab otoritatifnya, seperti Al-Iqtishad fil I'tiqad dan Ihya Ulumuddin. 

Secara logika teologis (ilmu kalam), berikut adalah poin-poin argumen utama Al-Ghazali:

1. Argumen Logika Ukuran dan Dimensi (Jism)

Al-Ghazali menegaskan bahwa Allah bukanlah sebuah benda fisik (jism). 

Jika Allah berada di atas Arsy atau menetap di suatu tempat, maka secara logis Zat Allah akan memiliki dimensi atau ukuran fisik.
Sesuatu yang bertempat pasti memiliki kemungkinan: lebih besar dari tempatnya, lebih kecil, atau9 ukurannya persis sama.

Menetapkan ukuran bagi Tuhan adalah hal mustahil karena sesuatu yang memiliki ukuran membutuhkan entitas lain untuk membatasi ukuran tersebut, sedangkan Allah Maha Berdiri Sendiri (Qiyamuhu Binafsihi). 

2. Ruang dan Tempat Adalah Makhluk Baru (Hadits)

Al-Ghazali menggunakan premis penciptaan alam semesta:
Sebelum alam semesta, ruang, arah (atas, bawah, kanan, kiri), dan tempat diciptakan, Allah sudah ada.
Ketika Allah menciptakan tempat, Zat-Nya tidak mengalami perubahan untuk menjadi butuh atau menempati tempat tersebut.

Sifat Allah adalah kekal (Qadim), sedangkan tempat bersifat baru (Hadits). Mengatakan Allah menempati ruang berarti menyimpulkan bahwa Yang Qadim tunduk pada aturan makhluk yang baru. 

3. Makna Istiwa Bukan Duduk atau Menetap

Terkait ayat-ayat Al-Qur'an seperti "Allah bersemayam di atas Arsy" (QS. Taha: 5)

 Al-Ghazali menjelaskan bahwa istiwa tidak boleh diartikan secara fisik seperti bersentuhan, duduk, menetap, atau berpindah tempat. 

Metode Tafwid / Tanzih: Menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah sambil menyucikan-Nya dari keserupaan dengan makhluk.
Metode Takwil: Mengartikan kata tersebut secara metafora teologis, yaitu sebagai simbol keagungan, penguasaan, dan keagungan kekuasaan Allah atas makhluk-Nya. Arsy diatur oleh kekuasaan Allah, bukan berfungsi sebagai penopang Zat Allah.

4. Pendekatan Kosmologis (Kalam Cosmological Argument)

Al-Ghazali terkenal dengan argumen bahwa segala sesuatu yang mulai ada pasti memiliki penyebab penciptaan (pencipta). Karena alam semesta terikat oleh ruang dan waktu, maka Sang Pencipta harus berada di luar dimensi ruang dan waktu tersebut agar tidak terjebak dalam lingkaran penciptaan yang tak berujung (tasalsul).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

Logika Diferensial dan Patologi Sosial Keagamaan

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa