Menganalisa Basmalah dari Aspek Bahasa, l'rab, dan Balaghah
Menganalisa Basmalah dari Aspek Bahasa, l'rab, dan Balaghah
Penerjemah Sudono Syueb, Alumni MIM 12 Dengok, Paciran, Lamongan
Mengulik kata Basmalah dari segi bahasa, l'rab dan balaghah sungguh menarik. Berikut ini saya hadirkan analisa Basmalah dari aspek bahasa, l'rab dan balaghah oleh Syaikh Muhyiddin Al-Darwis dalam kitabnya I'rab Al-Qur'an wa Bayanuh
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Aspek Kebahasaan (Linguistik):
(اِسْمٌ)
(Ism / Nama)
Para ahli bahasa Arab berbeda1 pendapat mengenai asal kata (derivasi) dari Ism. Ulama Basrah berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari kata السمو (As-Sumuww) yang berarti tinggi/luhur. Sementara ulama Kufah berpendapat bahwa kata tersebut pecahan dari kata السمه (As-Simah) yang berarti tanda/ciri.1 Kedua pendapat ini sama-sama benar dari segi makna.
Dalam dialek Arab, kata ini memiliki lima variasi pelafalan:
- Ismun (dengan hamzah kasrah)
- Usmun (dengan hamzah dammah)
- Simun (dengan sin kasrah)
- Sumun 1(dengan sin dammah)1
- Suman (mengikuti wazan/pola kata Hudan)
Kata Ism/اسم merupakan salah satu dari sepuluh kata benda (isim) khusus dalam1 bahasa Arab yang huruf pertamanya dibangun di atas sukun (mati). Jika diucapkan di awal kalimat, maka ditambahkan hamzah wasal untuk menghindari memulainya dengan huruf mati, demi menjaga kefasihan lisan mereka dari kekakuan.
Namun, jika kata ini berada di tengah-tengah kalimat, ia tidak memerlukan tambahan pelafalan apa pun (langsung dilewati).
(Allah/الله)
Merupakan nama bagi Zat (Lafzul Jalalah) yang tidak boleh disematkan kecuali kepada Sembahan Yang Hak, yang bersifat khusus dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa nama ini bersifat murtajal (nama asli yang sejak awal diciptakan untuk nama Zat, bukan pecahan dari kata lain). Ini adalah salah satu dari dua pendapat Imam Sibawaih, sehingga huruf Alif dan Lam di depannya tidak boleh dihapus.
Pendapat lain menyatakan bahwa nama ini adalah musytaq (pecahan dari kata lain)—yang juga menjadi pendapat Sibawaih yang lain. Dalam hal derivasi (musytaq), mereka memiliki dua argumen:
A. Asalnya adalah Ilāhun dengan pola Fi'ālun, diambil dari ucapan mereka: Alahar-rajulu ya'lahu ilāhatan yang berarti "orang itu menyembah dengan sebenar-benarnya penyembahan". Kemudian huruf hamzah di tengahnya dihapus untuk meringankan pengucapan karena kata ini sangat sering digunakan.
Setelah itu, dimasukkan Alif dan Lam (Alif Lam Ma'rifah) untuk tujuan pengagungan (ta'zhim) serta memutus kesan umum (sya'i), sebab orang-orang musyrik kala itu menyebut berhala dan sesembahan mereka dengan nama ālihah (tuhan-tuhan) selain Allah.
B. Asalnya adalah Lāhun, kemudian dimasukkan Alif dan Lam ke dalamnya. Kata ini pecahan dari Lāha - Yalīhu apabila sesuatu itu tertutup/terhijab. Seolah-olah Dia (Subhanahu wa Ta'ala) dinamai demikian karena Zat-Nya yang gaib dan terhijab dari jangkauan pandangan mata makhluk.
Betapa indahnya untaian kalimat yang ditulis oleh penyair Asy-Syarif Ar-Radhi:
"Akal para cendekiawan telah dibuat bingung dan tersesat dalam memahami Zat Allah Ta'ala dan sifat-sifat-Nya, karena semuanya terhijab oleh cahaya keagungan.
Mereka juga kebingungan dalam memahami lafaz keagungan-Nya (Lafzul Jalalah), seolah-olah dari cahaya keagungan itu terpantul sinar-sinar yang menyilaukan mata orang-orang yang ingin melihat hakikat-Nya.
Maka mereka berselisih: Apakah kata itu berasal dari bahasa Suryani atau bahasa Arab? Apakah ia sebuah nama (Ism) atau sifat? Apakah ia pecahan (musytaq) dan dari apa pecahannya serta apa asalnya? Ataukah ia bukan 1pecahan (ghairu musytaq)? Apakah ia nama diri ('alam) atau bukan?".
(Ar-Rahmān)
Merupakan bentuk pola kata (sighat) Fa'lānu/فعلان dalam bahasa Arab yang menunjukkan suatu sifat aktif (washf fi'li) yang mengandung makna hiperbola (sangat/paling), namun ditujukan untuk sifat-sifat yang datang dan pergi (aksidental/sementara), seperti kata 'Athsyan/اطشان (sangat haus) dan Gartsyān/غرثان (sangat lapar).
(Ar-Rahīm):
Merupakan bentuk pola kata (sighah) Fa'īlun/فاعل yang menunjukkan sifat aktif yang mengandung makna hiperbola (sangat), namun ditujukan untuk sifat-sifat yang langgeng, kekal, dan menetap. Oleh karena itu, dalam ayat ini, penggunaan salah1 satu sifat tidak dapat menggantikan sifat yang lainnya (keduanya saling melengkapi).
I'rab (Analisis Tata Bahasa)
(بِسْمِ):
Jar dan Majrur berta'alluq (berkaitan) dengan lafal yang dibuang, dan huruf Ba di sini bermakna isti'anah (memohon pertolongan) atau ilshaq (menempel). Perkiraan lafal yang dibuang adalah "abtadi'u"/ابتدء (aku memulai), sehingga Jar dan Majrur menempati posisi nashab sebagai Maf'ul Bih yang didahulukan. Atau bisa juga bermakna "lbtida'iyyun"/ابتداءي (permulaan), maka Jar dan Majrur berta'alluq dengan Khabar yang dibuang dari Mubtada' yang dibuang. Kedua pendapat ini baik.
(اللهِ)
(Allah) Mudhaf Ilaih.
(الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ)
Dua sifat bagi Allah Ta'ala.
Dan kalimat Basmalah adalah kalimat permulaan yang tidak memiliki kedudukan dalam I'rab.
Balaghah (Sastra Bahasa)
Dalam Basmalah terdapat berbagai macam cabang ilmu Balaghah
Pertama: Terkait muta'allaq dari "بِسْمِ" disyaratkan berupa Fi'il Mudhari' karena fi'il adalah asal dalam tata bahasa (amal) dan berpegang pada asal itu lebih utama, serta karena ia memberikan makna pembaruan yang terus-menerus. Fi'il ini sengaja dibuang karena seringnya lafal yang berkaitan dengannya diucapkan oleh lisan. Jika muta'allaq-nya berupa Isim (kata benda), maka ia memberikan makna kelanggengan dan ketetapan, seakan-akan memulai dengan nama Allah adalah keharusan yang kekal dalam setiap amalan yang kita lakukan dan ucapan yang kita lafazkan.1
Kedua: Ijaz (meringkas) dengan menyandarkan (idhafah) lafaz yang umum kepada lafaz yang khusus, yang disebut Ijaz Qashr.
Ketiga: Jika huruf Ba dimaknai sebagai isti'anah (memohon pertolongan), maka dalam kalimat terdapat Isti'arah Makniyah Taba'iyyah karena dianalogikan dengan keterikatan antara pihak yang meminta tolong dan pihak yang dimintai tolong.
Jika huruf Ba dimaknai sebagai ilshaq (menempel), maka dalam kalimat terdapat Majaz yang 'alaqahnya adalah Mahalliyah, seperti ungkapan "marartu bi Zaidin" (aku melewati Zaid), yakni tempat yang dekat dengan Zaid, bukan Zaid itu sendiri.
Fawa'id (Faedah-faedah)
Dalam Basmalah terdapat faedah-faedah penting yang harus diketahui, di antaranya:
a. Ketahuilah bahwa Basmalah adalah ayat dari Surah Al-Fatihah dan ayat di awal setiap surah menurut Imam Syafi'i. Basmalah bukan termasuk ayat dari itu semua menurut Imam Malik. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal, Basmalah adalah ayat di awal surah Al-Fatihah, dan bukan ayat di surah lainnya.
Penjelasan argumen untuk hal ini dijabarkan panjang lebar dalam kitab-kitab Fikih dan Tafsir, maka rujuklah ke sana.
b. Tidak ada yang disifati dengan nama Ar-Rahman dalam bahasa Arab menggunakan Alif dan Lam (ال) selain Allah Ta'ala.
Bangsa Arab pernah menyifati Musailamah Al-Kadzdzab dengan kata ini secara idhafah, mereka berkata: Rahman Al-Yamamah.
Seorang penyair dari mereka memuji Musailamah:
Engkau mencapai kemuliaan wahai anak orang-orang yang paling mulia sebagai seorang ayah
Dan engkau adalah hujan bagi manusia, semoga engkau senantiasa menjadi Dzat yang Pengasih (Rahman).
c. Lafaz "بسم الله" ditulis tanpa huruf Alif pada Basmalah secara khusus karena sudah dianggap cukup dengan keberadaan huruf Ba Isti'anah. Ini berbeda dengan firman Allah Ta'ala: {"Iqra' bismirabbika..."} (Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu).
d. Huruf Alif dihapus dari kata "الرحمن" karena masuknya huruf Alif dan Lam (ال) pada kata tersebut.
e. Orang yang mengucapkan (Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm) disebut Mubasmil. Ini adalah bentuk Naḥt (pemendekan/akronim) linguistik. Hal tersebut telah termaktub dalam syi'ir karya Umar bin Abi Rabi'ah:
Layla mengucapkan basmalah di pagi hari saat aku menemuinya,
Alangkah indahnya kekasih yang mengucapkan basmalah itu.
Sama seperti Basmala, ada pula Ḥauqala jika mengucapkan: Lā ḥaula walā quwwata illā billāh. Hailala jika mengucapkan: Lā ilāha illallāh. Sabḥala jika mengucapkan: Subḥānallāh. Ḥamdala jika mengucapkan: Alḥamdulillāh. Ḥaiṣala dan Ḥai'ala jika mengucapkan: Ḥayya 'alaṣ-ṣalāh ḥayya 'alal-falāḥ. Serta Ja'fala jika mengucapkan: Ja'altu fidāka (kujadikan diriku tebusanmu).
Metode Naḥt menurut orang Arab ini bersifat khusus untuk penisbatan (nisbah). Artinya, mereka mengambil dua nama lalu meleburnya menjadi satu nama tunggal untuk dinisbatkan kepadanya. Contohnya ucapan mereka: Ḥaḍramiy, 'Abqasī, dan 'Abšī untuk penisbatan kepada Ḥaḍramaut, 'Abdul Qais, dan 'Abdu Šams.
Namun, Al-Farra' menyebutkan dari sebagian orang Arab ucapan: "Ma'ī 'ašaratun fa-aḥḥid-hunna lī", yang berarti: "Jadikanlah mereka (yang sepuluh) menjadi sebelas".
Al-Farra' juga mengatakan bahwa makna Allāhumma adalah: Ya Allāh, ummanā bi-khair (Wahai Allah, tuju-lah kami dengan kebaikan). Ungkapan ini menjadi sering digunakan dalam kalam Arab.
Orang Arab juga melakukan Naḥt dari dua kata benda, seperti kata Aṣ-Ṣaldam yang berasal dari kata Aṣ-Ṣalda (keras) dan A-Ṣadm (benturan). Termasuk juga kata Bilhāriṯ untuk menyebut Banu al-Ḥāriṯ. Mungkin juga kata Al-Ḥaqallad—yaitu orang yang buruk akhlaknya dan berat jiwanya—merupakan leburan dari kata Al-Ḥiqd (dendam) dan Aṯ-Ṯiql (berat).
Mereka juga melakukan Naḥt dari kata kerja dan huruf, lalu berkata: Al-Azalī (Yang Azali), yang dilebur dari kata Lam yazal (tidak pernah berakhir/senantiasa ada). Mereka melakukan Naḥt dari kata benda dan huruf, lalu berkata: Talāšā (sirna) yang berasal dari kata Min lā šai'. Mereka juga melakukan Naḥt dari dua huruf, di mana Al-Khalil berkata: "Sesungguhnya kata (Lan) dibentuk dari kata Lā dan An, yang setelah digabungkan mengandung makna baru yang tidak ada pada kedua kata asalnya saat terpisah."
Kami menyebutkan pendapat-pendapat ini bukan karena sifatnya mutlak, sebab masalah ini merupakan ranah perbedaan pendapat seperti yang Anda lihat. Akan tetapi, kami menggunakannya sebagai rujukan agar para pemerhati bahasa dapat mengoptimalkan metode Naḥt. Sebab, di dalamnya terdapat kekayaan baru bagi bahasa kita dan kemudahan bagi banyak ungkapan modern yang kita butuhkan.
Naḥt adalah salah satu fenomena paling menonjol dalam bahasa-bahasa asing modern berkat adanya imbuhan awal (prefiks) atau imbuhan akhir (sufiks) pada kata dasar, atau berkat fleksibilitas yang mereka berikan pada bahasa mereka saat membentuk kata baru dari dua kata benda, dua kata sifat, atau dua kata kerja. Jika kata tersebut telah terbentuk dan memberikan makna khusus, maka kata itu akan populer di lisan masyarakat luas. Contohnya dalam bahasa Prancis adalah kata essuie-mains yang terdiri dari kata kerja dan kata benda untuk menyebut handuk pengering tangan, kata laissez-passer yang terdiri dari dua kata kerja untuk izin melintas, dan kata oiseaux-mouches yang terdiri dari dua kata benda untuk jenis burung kecil (kolibri), serta contoh lainnya.
f. Kaum Quraisy sebelum masa kenabian biasa menulis di awal surat-surat mereka: "Bismika Allāhumma". Umayyah bin Abi aṣ-Ṣalt adalah orang pertama yang menulis Bismika Allāhumma sampai Islam datang dan turun ayat (Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm).
Muhammad bin Sa'ad meriwayatkan dalam kitab Ṭabaqāt-nya bahwa Rasulullah ﷺ awalnya menulis sebagaimana tulisan kaum Quraisy yaitu Bismika Allāhumma, hingga turun firman Allah Ta'ala: "Wa qālar-kabū fīhā bismillāhi majrāhā wa mursāhā", maka beliau menulis: Bismillāh.
Sampai kemudian turun firman Allah Ta'ala: "Qulid-'ullāha awid-'ur-raḥmān", maka beliau menulis: Bismillāhir-Raḥmān. Hingga akhirnya turun firman Allah Ta'ala: "Innahū min Sulaimāna wa innahū bismillāhir-raḥmānir-raḥīm", maka sejak saat itu beliau menulis: (Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm).
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِاللُّغَةُ:(اِسْمٌ): اِخْتَلَفَ عُلَمَاءُ اللُّغَةِ فِي اِشْتِقَاقِ الاِسْمِ، فَذَهَبَ البَصْرِيُّونَ إِلَى أَنَّهُ مِنَ السُّمُوِّ وَهُوَ العُلُوُّ، وَذَهَبَ الكُوفِيُّونَ إِلَى أَنَّهُ مُشْتَقٌّ مِنَ السِّمَةِ وَهِيَ العَلَامَةُ، وَكِلَاهُمَا صَحِيحٌ مِنْ جِهَةِ المَعْنَى، وَفِيهِ خَمْسُ لُغَاتٍ:اِسْمٌ بِكَسْرِ الهَمْزَةِ، وَاُسْمٌ بِضَمِّهَا، وَسِمٌ بِكَسْرِ السِّينِ، وَسُمٌ بِضَمِّهَا، وَسُمًى بِوَزْنِ هُدًى، هَذَا وَالاِسْمُ هُوَ وَاحِدٌ مِنَ الأَسْمَاءِ العَشَرَةِ الَّتِي بَنَوْا أَوَائِلَهَا عَلَى السُّكُونِ، فَإِذَا نَطَقُوا بِهَا مُبْتَدِئِينَ زَادُوا هَمْزَةً تَفَادِيًا لِلاِبْتِدَاءِ بِالسَّاكِنِ لِسَلَامَةِ لُغَتِهِمْ مِنْ كُلِّ لُكْنَةٍ، وَإِذَا وَقَعَتْ فِي دَرْجِ الكَلَامِ لَمْ تَفْتَقِرْ إِلَى شَيْءٍ.(اللهُ): عَلَمٌ لَا يُطْلَقُ إِلَّا عَلَى المَعْبُودِ بِحَقٍّ خَاصٍّ لَا يُشْرِكُهُ فِيهِ غَيْرُهُ، وَهُوَ مُرْتَجَلٌ غَيْرُ مُشْتَقٍّ عِنْدَ الأَكْثَرِينَ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ سِيبَوَيْهِ فِي أَحَدِ قَوْلَيْهِ، فَلَا يَجُوزُ حَذْفُ الأَلِفِ وَاللَّامِ مِنْهُ. وَقِيلَ: هُوَ مُشْتَقٌّ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ سِيبَوَيْهِ أَيْضًا، وَلَهُمْ فِي اِشْتِقَاقِهِ قَوْلَانِ:آ — أَنَّ أَصْلَهُ (إِلَاهٌ) عَلَى وَزْنِ (فِعَالٍ) مِنْ قَوْلِهِمْ: أَلِهَ الرَّجُلُ يَأْلَهُ إِلَاهَةً أَيْ عَبَدَ عِبَادَةً، ثُمَّ حَذَفُوا الهَمْزَةَ تَخْفِيفًا لِكَثْرَةِ وُرُودِهِ وَاسْتِعْمَالِهِ، ثُمَّ أُدْخِلَتِ الأَلِفُ وَاللَّامُ لِلتَّعْظِيمِ وَدَفْعِ الشُّيُوعِ الَّذِي ذَهَبُوا إِلَيْهِ مِنْ تَسْمِيَةِ أَصْنَامِهِمْ وَمَا يَعْبُدُونَهُ آلِهَةً مِنْ دُونِ اللهِ.ب — أَنَّ أَصْلَهُ (لَاهٌ) ثُمَّ أُدْخِلَتِ الأَلِفُ وَاللَّامُ عَلَيْهِ، وَاشْتِقَاقُهُ مِنْ (لَاهَ يَلِيهِ) إِذَا تَسَتَّرَ كَأَنَّهُ، سُبْحَانَهُ، يُسَمَّى بِذَلِكَ لِاسْتِتَارِهِ وَاحْتِجَابِهِ عَنْ إِدْرَاكِ الأَبْصَارِ. وَمَا أَجْمَلَ قَوْلَ الشَّرِيفِ الرَّضِيِّ الشَّاعِرِ:«تَاهَتِ العُقَلَاءُ فِي ذَاتِهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ، لِاحْتِجَابِهَا بِأَنْوَارِ العَظَمَةِ.وَتَحَيَّرُوا أَيْضًا فِي لَفْظِ الجَلَالَةِ كَأَنَّهُ انْعَكَسَ إِلَيْهِ مِنْ تِلْكَ الأَنْوَارِ أَشِعَّةٌ بَهَرَتْ أَعْيُنَ المُسْتَبْصِرِينَ، فَاخْتَلَفُوا: أَسُرْيَانِيٌّ هُوَ أَمْ عَرَبِيٌّ؟ اِسْمٌ أَوْ صِفَةٌ؟ مُشْتَقٌّ وَمِمَّ اشْتِقَاقُهُ؟ وَمَا أَصْلُهُ؟ أَوْ غَيْرُ مُشْتَقٍّ؟ عَلَمٌ أَوْ غَيْرُ عَلَمٍ؟».(الرَّحْمٰنِ): صِيغَةُ (فَعْلَانَ) فِي اللُّغَةِ تَدُلُّ عَلَى وَصْفٍ فِعْلِيٍّ فِيهِ مَعْنَى المُبَالَغَةِ لِلصِّفَاتِ الطَّارِئَةِ كَعَطْشَانَ وَغَرْثَانَ.(الرَّحِيمِ): صِيغَةُ (فَعِيلٍ) تَدُلُّ عَلَى وَصْفٍ فِعْلِيٍّ فِيهِ مَعْنَى المُبَالَغَةِ لِلصِّفَاتِ الدَّائِمَةِ الثَّابِتَةِ، وَلِهَذَا لَا يُسْتَغْنَى بِأَحَدِ الوَصْفَيْنِ عَنِ الآخَرِ.هـ ـ يُقَالُ لِمَنْ قَالَ: (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ): مُبَسْمِلٌ، وَهُوَ ضَرْبٌ مِنَ النَّحْتِ اللُّغَوِيِّ، وَقَدْ وَرَدَ ذَلِكَ فِي شِعْرٍ لِعُمَرَ بْنِ أَبِي رَبِيعَةَ:لَقَدْ بَسْمَلَتْ لَيْلَى غَدَاةَ لَقِيتُهَافَيَا حَبَّذَا ذَاكَ الْحَبِيبُ الْمُبَسْمِلُوَمِثْلُ بَسْمَلَ: حَوْقَلَ إِذَا قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، وَهَيْلَلَ إِذَا قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَسَبْحَلَ إِذَا قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ، وَحَمْدَلَ إِذَا قَالَ: الْحَمْدُ للهِ، وَحَيْصَلَ وَحَيْعَلَ إِذَا قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ وَحَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، وَجَعْفَلَ إِذَا قَالَ: جُعِلْتُ فِدَاكَ.هَذَا وَالنَّحْتُ عِنْدَ الْعَرَبِ خَاصٌّ بِالنِّسْبَةِ، أَيْ أَنَّهُمْ يَأْخُذُونَ اسْمَيْنِ فَيَنْحَتُونَ مِنْهُمَا اسْمًا وَاحِدًا فَيَنْسُبُونَ إِلَيْهِ كَقَوْلِهِمْ: حَضْرَمِيٌّ وَعَبْقَسِيٌّ وَعَبْشِيٌّ نِسْبَةً إِلَى حَضْرَمَوْتَ وَعَبْدِ الْقَيْسِ وَعَبْدِ شَمْسٍ، عَلَى أَنَّ الْفَرَّاءَ ذَكَرَ عَنْ بَعْضِ الْعَرَبِ: مَعِيَ عَشَرَةٌ فَأَحِّدْهُنَّ لِي، أَيْ صَيِّرْهُنَّ أَحَدَ عَشَرَ. وَقَالَ الْفَرَّاءُ: مَعْنَى (اللَّهُمَّ): يَا اللهُ أُمَّنَا بِخَيْرٍ، أَيْ اقْصِدْنَا بِخَيْرٍ، فَكَثُرَتْ فِي كَلَامِ الْعَرَبِ.وَنَحَتَ الْعَرَبُ مِنَ اسْمَيْنِ فَقِيلَ عَنِ الصَّلْدَمِ إِنَّهُ مِنَ الصَّلْدِ وَالصَّدْمِ، وَمِنْهُ بِلْحَارِثِ لِبَنِي الْحَارِثِ، وَلَعَلَّ الْحَقَلَّدَ وَهُوَ السَّيِّئُ الْخُلُقِ وَالثَّقِيلُ الرُّوحِ مَنْحُوتٌ مِنَ الْحِقْدِ وَالثِّقْلِ. وَنَحَتُوا مِنْ فِعْلٍ وَحَرْفٍ فَقَالُوا: الْأَزَلِيُّ، وَهُوَ مَنْحُوتٌ مِنْ (لَمْ يَزَلْ). وَنَحَتُوا مِنَ اسْمٍ وَحَرْفٍ فَقَالُوا مِنْ (مِنْ لَا شَيْءٍ): تَلَاشَى. وَنَحَتُوا مِنْ حَرْفَيْنِ فَقَالَ الْخَلِيلُ: إِنَّ كَلِمَةَ (لَنْ) مَنْحُوتَةٌ مِنْ (لَا) وَ(أَنْ) وَأَنَّهَا تَضَمَّنَتْ بَعْدَ تَرْكِيبِهَا مَعْنًى لَمْ يَكُنْ فِي أَصْلَيْهِمَا مُجْتَمِعَيْنِ.وَإِنَّمَا أَوْرَدْنَا هَذِهِ الْأَقْوَالَ، لَا لِأَنَّهَا قَاطِعَةٌ فَهِيَ مَوْضِعُ خِلَافٍ كَمَا رَأَيْتَ، وَلَكِنَّنَا اسْتَأْنَسْنَا بِهَا لِتَتَوَافَرَ هِمَمُ الْمُشْتَغِلِينَ بِاللُّغَةِ عَلَى النَّحْتِ، فَفِيهِ ثَرْوَةٌ جَدِيدَةٌ لِلُغَتِنَا وَتَسْهِيلٌ لِكَثِيرٍ مِنَ التَّعَابِيرِ الْحَدِيثَةِ الَّتِي نَفْتَقِرُ إِلَيْهَا، فَالنَّحْتُ مِنْ أَبْرَزِ الظَّوَاهِرِ فِي اللُّغَاتِ الْأَجْنَبِيَّةِ الْحَدِيثَةِ بِفَضْلِ مَا يَلْحَقُ بِالْأَصْلِ مِنْ لَوَاحِقَ سَابِقَةٍ أَوْ لَاحِقَةٍ، أَوْ بِفَضْلِ مَا يُعْطُونَهُ لِلُغَتِهِمْ مِنْ مُرُونَةٍ حِينَ يُؤَلِّفُونَ كَلِمَةً جَدِيدَةً مِنَ اسْمَيْنِ أَوْ صِفَتَيْنِ أَوْ فِعْلَيْنِ حَتَّى إِذَا تَأَلَّفَتِ الْكَلِمَةُ، وَأَعْطَتْ مَدْلُولًا خَاصًّا سَارَتْ عَلَى الْأَفْوَاهِ كُلَّ مَسِيرٍ، وَمِنْ أَمْثِلَةِ ذَلِكَ فِي اللُّغَةِ الْفَرَنْسِيَّةِ قَوْلُهُمُ الْمُؤَلَّفُ مِنْ فِعْلٍ وَاسْمٍ (essuie-mains) لِلْمِنْدِيلِ الْمُعَدِّ لِتَنْشِيفِ الْأَيْدِي، وَقَوْلُهُمُ الْمُؤَلَّفُ مِنْ فِعْلَيْنِ (laissez-passer) لِلْإِذْنِ الْمَكْتُوبِ لِلْمُرُورِ، وَقَوْلُهُمُ الْمُؤَلَّفُ مِنْ اسْمَيْنِ(oiseaux-mouches)لِنَوْعٍ مِنْ طَيْرٍ صَغِيرٍ وَغَيْرِهَا.وـ كَانَتْ قُرَيْشٌ قَبْلَ الْبَعْثَةِ تَكْتُبُ فِي أَوَّلِ كُتُبِهَا: «بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ» وَكَانَ أُمَيَّةُ بْنُ أَبِي الصَّلْتِ أَوَّلَ مَنْ كَتَبَ بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ إِلَى أَنْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَنَزَلَتْ (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ)، وَرَوَى مُحَمَّدُ بْنُ سَعْدٍ فِي طَبَقَاتِهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ٦ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَكْتُبُ كَمَا تَكْتُبُ قُرَيْشٌ: بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ حَتَّى نَزَلَ قَوْلُهُ تَعَالَى: «وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا» فَكَتَبَ: بِاسْمِ اللهِ،٦ حَتَّى نَزَلَ قَوْلُهُ تَعَالَى: «قُلِ ادْعُوا اللهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ» فَكَتَبَ بِاسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ، حَتَّى نَزَلَ قَوْلُهُ تَعَالَى: «إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ» فَكَتَبَ: (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ).
Komentar
Posting Komentar