Tafsir Surah Al-Fatihah: Nama Surah dan Kandungannya (1)

Tafsir Surah Al-Fatihah: Nama Surah dan Kandungannya (1)

Oleh Ahmad Musthafa Al-Maraghi

Penyadur Sudono Syueb

سُورَةُ الفَاتِحَةِ (١)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ 

Surah Al-Fatihah (1)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

تعريف السورة

اَلسُّورَةُ طَائِفَةٌ مِنَ القُرْآنِ مُؤَلَّفَةٌ مِنْ ثَلَاثِ آيَاتٍ فَأَكْثَرَ، لَهَا اِسْمٌ يُعْرَفُ بِطَرِيقِ الرِّوَايَةِ. 

Pengertian Surah

Surah adalah sekumpulan ayat Al-Qur'an yang terdiri dari tiga ayat atau lebih, serta memiliki nama yang diketahui melalui jalur riwayat (transmisi lisan) yang dinanakan hadis.

سورة الفاتحة

وَقَدْ رُوِيَ لِهَذِهِ السُّورَةِ عِدَّةُ أَسْمَاءَ اِشْتَهَرَ مِنْهَا: أُمُّ الكِتَابِ، أُمُّ القُرْآنِ (لِاشْتِمَالِهَا عَلَى مَقَاصِدِ القُرْآنِ مِنَ الثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ وَالتَّعَبُّدِ بِأَمْرِهِ وَنَهْيِهِ، وَبَيَانِ وَعْدِهِ وَوَعِيدِهِ)، وَالسَّبْعُ المَثَانِي (لِأَنَّهَا تُثْنَى فِي الصَّلَاةِ)، وَالأَسَاسُ (لِأَنَّهَا أَصْلُ القُرْآنِ وَأَوَّلُ سُورَةٍ فِيهِ)، وَالفَاتِحَةُ (لِأَنَّهَا أَوَّلُ القُرْآنِ فِي هَذَا التَّرْتِيبِ أَوْ أَوَّلُ سُورَةٍ نَزَلَتْ).

Surah Al-Fatihah

Surah ini telah diriwayatkan memiliki beberapa nama, yang paling terkenal di antaranya adalah:
- Ummul Kitab dan
- Ummul Qur'an (karena mencakup seluruh maksud utama Al-Qur'an, mulai dari pujian kepada Allah, beribadah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, serta penjelasan tentang janji pahala dan ancaman siksa-Nya).
- As-Sab'ul Matsani / Tujuh yang Diulang-ulang (karena surah ini diulang-ulang dibaca dalam salat).
- Al-Asas / Fondasi (karena ia merupakan fondasi Al-Qur'an dan surah pertama di dalamnya).
- Al-Fatihah / Pembuka (karena ia merupakan pembuka Al-Qur'an dalam susunan mushaf saat ini, atau surah pertama yang diturunkan secara utuh).

فَقَدْ أَخْرَجَ البَيْهَقِيُّ فِي كِتَابِهِ "الدَّلَائِلُ" عَنْ أَبِي مَيْسَرَةَ «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ لِخَدِيجَةَ: إِنِّي إِذَا خَلَوْتُ وَحْدِي سَمِعْتُ نِدَاءً، فَقَدْ وَاللَّهِ خَشِيتُ أَنْ يَكُونَ هَذَا أَمْرًا.
فَقَالَتْ: مَعَاذَ اللَّهِ، مَا كَانَ اللَّهُ لِيَفْعَلَ بِكَ، فَوَاللَّهِ إِنَّكَ لَتُؤَدِّي الأَمَانَةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ. ثُمَّ إِنَّهُ ﷺ أَخْبَرَ وَرَقَةَ بِذَلِكَ، وَإِنَّ وَرَقَةَ أَشَارَ عَلَيْهِ بِأَنْ يَثْبُتَ وَيَسْمَعَ النِّدَاءَ، وَإِنَّهُ ﷺ لَمَّا خَلَا نَادَاهُ المَلَكُ: يَا مُحَمَّدُ قُلْ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ- حَتَّى بَلَغَ وَلَا الضَّالِّينَ» .
وَقَدْ رُجِّحَ هَذَا بِأَنَّهَا مُشْتَمِلَةٌ عَلَى مَقَاصِدِ القُرْآنِ عَلَى سَبِيلِ الإِجْمَالِ، ثُمَّ فُصِّلَ مَا أَجْمَلَتْهُ بَعْدُ.
Al-Baihaqi telah meriwayatkan dalam kitabnya Dalail an-Nubuwwah dari Abi Maisarah: «Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Khadijah: "Sesungguhnya jika aku sedang bersunyi sendiri, aku mendengar sebuah suara panggilan. Demi Allah, aku benar-benar khawatir jika ini adalah suatu perkara (yang buruk)."
Khadijah menjawab: "Sekali-kali tidak demi Allah, Allah tidak akan pernah berbuat buruk kepadamu. Demi Allah, sesungguhnya engkau senantiasa menunaikan amanah, menyambung tali silaturahmi, dan berkata jujur."

Kemudian Nabi ﷺ mengabarkan hal tersebut kepada Waraqah (bin Naufal). Waraqah pun menyarankan beliau untuk tetap teguh berdiri dan mendengarkan panggilan tersebut. Ketika Nabi ﷺ sedang bersunyi sendiri, malaikat memanggilnya seraya berkata: "Wahai Muhammad, katakanlah: Bismillahir rahmanir rahim, Alhamdu lillahi rabbil 'alamin—hingga mencapai—Walad dhallin."»
Pendapat ini dikuatkan oleh alasan bahwa surah tersebut telah mencakup maksud-maksud utama Al-Qur'an secara global, yang kemudian dirinci oleh surah-surah setelahnya.

بَيَانُ هَذَا أَنَّ القُرْآنَ الكَرِيمَ اِشْتَمَلَ عَلَى التَّوْحِيدِ، وَعَلَى وَعْدِ مَنْ أَخَذَ بِهِ بِحُسْنِ المَثُوبَةِ وَوَعِيدِ مَنْ تَجَافَى عَنْهُ وَتَرَكَهُ بِسُوءِ العُقُوبَةِ، وَعَلَى العِبَادَةِ الَّتِي تُحْيِي التَّوْحِيدَ فِي القُلُوبِ وَتُثَبِّتُهُ فِي النُّفُوسِ، وَعَلَى بَيَانِ سَبِيلِ السَّعَادَةِ المُوصِلِ إِلَى نَعِيمِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَعَلَى القَصَصِ الحَاوِي أَخْبَارَ المُهْتَدِينَ الَّذِينَ وَقَفُوا عِنْدَ الحُدُودِ الَّتِي سَنَّهَا اللَّهُ لِعِبَادِهِ، وَفِيهَا سَعَادَتُهُمْ فِي دُنْيَاهُمْ وَآخِرَتِهُمْ، وَالضَّالِّينَ الَّذِينَ تَعَدَّوُا الحُدُودَ، وَنَبَذُوا أَحْكَامَ الشَّرَائِعِ وَرَاءَهُمْ ظِهْرِيًّا.

Penjelasannya adalah bahwa Al-Qur'anul Karim mencakup tema Tauhid, janji pahala yang baik bagi orang yang berpegang teguh kepadanya, ancaman hukuman yang buruk bagi orang yang menjauh dan meninggalkannya, serta tentang ibadah yang dapat menghidupkan tauhid di dalam hati dan mengokohkannya di dalam jiwa. Al-Qur'an juga mencakup penjelasan jalan kebahagiaan yang mengantarkan pada kenikmatan dunia dan akhirat, serta kisah-kisah yang memuat kabar tentang orang-orang yang mendapat petunjuk—yaitu mereka yang patuh pada batasan-batasan hukum yang telah Allah syariatkan bagi hamba-Nya, yang di dalamnya terdapat kebahagiaan dunia dan akhirat mereka—serta orang-orang yang sesat, yaitu mereka yang melanggar batas dan membuang hukum-hukum syariat ke belakang punggung mereka (mengabaikannya).

وَقَدْ حَوَتِ الفَاتِحَةُ هَذِهِ المَعَانِيَ جُمْلَةً، فَالتَّوْحِيدُ يُرْشِدُ إِلَيْهِ قَوْلُهُ: (الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ)، لِأَنَّهُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ كُلَّ ثَنَاءٍ وَحَمْدٍ يَصْدُرُ عَنْ نِعْمَةٍ فَهُوَ لَهُ، وَلَنْ يَكُونَ هَذَا إِلَّا إِذَا كَانَ عَزَّ اِسْمُهُ مَصْدَرَ النِّعَمِ الَّتِي تَسْتَوْجِبُ الحَمْدَ، وَأَهَمُّهَا نِعْمَةُ الإِيجَادِ وَالتَّرْبِيَةِ، وَذَلِكَ صَرِيحُ قَوْلِهِ: (رَبِّ العَالَمِينَ)، وَقَدِ اِسْتَكْمَلَهُ بِقَوْلِهِ: (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ)، وَبِذَلِكَ اِجْتَثَّ جُذُورَ الشِّرْكِ الَّتِي كَانَتْ فَاشِيَةً فِي جَمِيعِ الأُمَمِ، وَهِيَ اِتِّخَاذُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ يُسْتَعَانُ بِهِمْ عَلَى قَضَاءِ الحَاجَاتِ وَيُتَقَرَّبُ بِهِمْ إِلَى اللَّهِ زُلْفَى.
وَالْوَعْدُ وَالْوَعِيدُ يَتَضَمَّنُهُمَا قَوْلُهُ: (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ)، إِذِ الدِّينُ هُوَ الجَزَاءُ، وَهُوَ إِمَّا ثَوَابٌ لِلْمُحْسِنِ وَإِمَّا عِقَابٌ لِلْمُسِيءِ.
وَالعِبَادَةُ تُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ: (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ).

Surah Al-Fatihah telah merangkum makna-makna ini secara garis besar:

1. Tauhid: Ditunjukkan oleh firman-Nya: (Alhamdu lillahi rabbil 'alamin). Karena ayat ini menunjukkan bahwa setiap pujian dan syukur yang lahir dari sebuah nikmat adalah milik-Nya. Hal ini tidak akan terjadi kecuali jika Allah—Maha Agung nama-Nya—adalah sumber dari segala nikmat yang mengharuskan adanya pujian. Nikmat yang paling utama adalah nikmat penciptaan (eksistensi) dan pemeliharaan, dan hal itu dinyatakan secara tegas dalam firman-Nya: (Rabbil 'alamin). Makna ini kemudian disempurnakan oleh firman-Nya: (Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in). Dengan demikian, ayat ini mencabut akar-akar kesyirikan yang sempat merajalela di kalangan umat terdahulu, yaitu menjadikan pelindung-pelindung selain Allah untuk dimintai bantuan dalam memenuhi kebutuhan hidup dan dijadikan perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah.

2. Janji (Wa'd) dan Ancaman (Wa'id): Keduanya terkandung dalam firman-Nya: (Maliki yawmid din). Karena kata Ad-Din di sini berarti pembalasan; yang bisa berupa pahala bagi orang yang berbuat baik, atau siksaan bagi orang yang berbuat buruk.
3. lbadah: Diambil dari firman-Nya: (Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in).

طريق السعادة وخصائص القرآن المكي والمدني.
وَطَرِيقُ السَّعَادَةِ يَدُلُّ عَلَيْهِ قَوْلُهُ: (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ) إِذْ مَعْنَاهُ أَنَّهُ لَا تَتِمُّ السَّعَادَةُ إِلَّا بِالسَّيْرِ عَلَى ذَلِكَ الصِّرَاطِ الْقَوِيمِ، فَمَنْ خَالَفَهُ وَانْحَرَفَ عَنْهُ كَانَ فِي شَقَاءٍ مُقِيمٍ.
وَالْقَصَصُ وَالْأَخْبَارُ يَهْدِي إِلَيْهَا قَوْلُهُ: (صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ) فَهُوَ يُرْشِدُ إِلَى أَنَّ هُنَاكَ أُمَمًا قَدْ مَضَتْ وَشَرَعَ اللَّهُ شَرَائِعَ لِهَدْيِهَا فَاتَّبَعَتْهَا وَسَارَتْ عَلَى نَهْجِهَا، فَعَلَيْنَا أَنْ نَحْذُوَ حَذْوَهَا وَنَسِيرَ عَلَى سُنَنِهَا.
وَقَوْلُهُ: (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) يَدُلُّ عَلَى أَنَّ غَيْرَ الْمُنْعَمِ عَلَيْهِمْ صِنْفَانِ:
صِنْفٌ خَرَجَ عَنِ الْحَقِّ بَعْدَ عِلْمِهِ بِهِ، وَأَعْرَضَ عَنْهُ بَعْدَ أَنْ اسْتَبَانَ لَهُ، وَرَضِيَ بِمَا وَرِثَهُ عَنِ الْآبَاءِ وَالْأَجْدَادِ وَهَؤُلَاءِ هُمُ الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمْ، وَصِنْفٌ لَمْ يَعْرِفِ الْحَقَّ أَبَدًا أَوْ عَرَفَهُ عَلَى وَجْهٍ مُضْطَرِبٍ مَهْوُوشٍ، فَهُوَ فِي عَمَايَةٍ تَلْبِسُ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتُبْعِدُ عَنِ الْجَادَّةِ الْمُوَصِلَةِ إِلَى الصِّرَاطِ السَّوِيِّ، وَهَؤُلَاءِ هُمُ الضَّالُّونَ.

4. Jalan kebahagiaan ditunjukkan oleh firman-Nya: (Tunjukilah kami jalan yang lurus), karena maknanya adalah bahwa kebahagiaan tidak akan sempurna kecuali dengan berjalan di atas jalan yang lurus itu. Barangsiapa yang menyalahinya dan menyimpang darinya, maka ia berada dalam kesengsaraan yang kekal.

5. Kisah-kisah dan berita ditunjukkan oleh firman-Nya: (Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka), yang membimbing kepada petunjuk bahwa ada umat-umat yang telah berlalu, dan Allah mensyariatkan berbagai syariat untuk memberi petunjuk kepada mereka, lalu mereka mengikutinya dan berjalan di atas jalannya. Maka kita wajib mengikuti jejak mereka dan menempuh sunnah-sunnah mereka.Dan firman-Nya: (Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat), menunjukkan bahwa selain orang-orang yang diberi nikmat terbagi menjadi dua golongan:
1. Golongan yang keluar dari kebenaran setelah mengetahuinya, berpaling darinya setelah hal itu jelas baginya, dan rida dengan apa yang diwarisi dari bapak-bapak dan kakek-kakek mereka—mereka inilah orang-orang yang dimurkai.
2. Dan golongan yang tidak pernah mengenal kebenaran sama sekali atau mengenalnya dengan cara yang kacau dan samar, sehingga ia berada dalam kebutaan yang mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan menjauhkannya dari jalan yang menyampaikan kepada jalan yang lurus—mereka inilah orang-orang yang sesat.

وَهَذِهِ السُّورَةُ إِحْدَى السُّورِ الْمَكِّيَّةِ الَّتِي نَزَلَتْ قَبْلَ هِجْرَةِ النَّبِيِّ ﷺ إِلَى الْمَدِينَةِ، وَعِدَّةُ آيِهَا سَبْعٌ.
وَقَدْ نَزَلَ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ مُنَجَّمًا أَيْ مُفَرَّقًا فِي ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ سَنَةً بِحَسَبِ الْحَوَادِثِ الَّتِي دَعَتْ إِلَى نُزُولِهِ، وَقَدْ نَزَلَ بَعْضُهُ بِمَكَّةَ قَبْلَ الْهِجْرَةِ وَبَعْضُهُ بِالْمَدِينَةِ بَعْدَهَا، وَلِكُلٍّ مِنَ الْمَكِّيِّ وَالْمَدَنِيِّ مِيزَاتٌ يُعْرَفُ بِهَا.
ميزات المكي 
نَزَلَ لِبَيَانِ أُسُسِ الدِّينِ مِنَ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ.
فِعْلُ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكُ الْمُنْكَرَاتِ، مَعَ إِيجَازٍ فِي التَّعْبِيرِ، وَاختِصَارٍ فِي الْأُسْلُوبِ.
يَتَوَضَّحُ ذَلِكَ جَلِيًّا فِي قِصَارِ الْمُفَصَّلِ كَالْحَاقَّةِ وَالْوَاقِعَةِ وَالْمُرْسَلَاتِ.
ميزات المدني 
جَاءَ بِأَحْكَامِ الْعِبَادَاتِ وَالْمُعَامَلَاتِ الشَّخْصِيَّةِ وَالْمَدَنِيَّةِ فِي السِّلْمِ وَالْحَرْبِ، وَأُسُولِ التَّشْرِيعِ لِلْحُكُومَاتِ الْإِسْلَامِيَّةِ.
إِسْهَابٌ فِي الْأُسْلُوبِ وَبَسْطَةٌ فِي الْقَوْلِ، وَلَا سِيَّمَا عِنْدَ مُحَاجَّةِ أَهْلِ الْكِتَابِ.
النَّعْيُ عَلَيْهِمْ بِتَحْرِيفِ مَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ وَدَعْوَتُهُمْ إِلَى التَّوْحِيدِ الْخَالِصِ، وَبَيَانُ أَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ دِينُ الْأَنْبِيَاءِ.

Surah ini adalah salah satu surah Makkiyah yang turun sebelum hijrah Nabi ﷺ ke Madinah, dan jumlah ayatnyav ada tujuh.
Al-Qur'an al-Karim diturunkan secara berangsur-angsur (munajaman), yaitu terpisah-pisah selama dua puluh tiga tahun sesuai dengan berbagai peristiwa yang menuntut turunnya. Sebagiannya turun di Mekkah sebelum hijrah dan sebagiannya di Madinah sesudahnya. Masing-masing dari Makki dan Madani memiliki ciri-ciri tersendiri yang dapat dikenali dengannya.

Ciri-ciri Makki:

Di antara ciri-ciri Makki adalah turun untuk menjelaskan dasar-dasar agama berupa keimanan kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, dan para nabi, serta melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, disertai dengan ungkapan yang ringkas dan gaya bahasa yang padat, dan itu tampak jelas pada surat-surat pendek (qisar al-mufashshal) seperti surah Al-Haqqah, Al-Waqi'ah, dan Al-Mursalat.

Ciri-ciri Madani:
Di antara ciri-ciri Madani adalah datang dengan hukum-hukum ibadah, muamalah pribadi maupun perdata dalam keadaan damai dan perang, serta prinsip-prinsip legislasi bagi pemerintahan Islam. Disertai dengan penjelasan yang luas dan uraian yang panjang, terutama ketika berdebat dengan Ahlul Kitab, mengecam mereka karena mengubah apa yang diturunkan kepada mereka, menyeru mereka kepada tauhid yang murni, serta menjelaskan bahwa Islam yang dibawa oleh Al-Qur'an adalah agama para nabi—semoga shalawat Allah tercurah kepada mereka semua. (Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

DO'AKU HARAPANKU

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa