Tafsir Surah Al-Fatihah: Penjelasan Makna Basmalah (3)

Tafsir Surah Al-Fatihah: Penjelasan Makna Basmalah (3)

Oleh Ahmad Musthafa Al-Maraghi

Penyadur Sudono Syueb

الإِيرَاضُ

(بِسْمِ) اِلِاسْمُ هُوَ اللَّفْظُ الَّذِي يَدُلُّ عَلَى ذَاتٍ كَمُحَمَّدٍ وَإِنْسَانٍ، أَوْ مَعْنًى كَعِلْمٍ وَأَدَبٍ.
وَقَدْ أَمَرَنَا اللَّهُ بِذِكْرِهِ وَتَسْبِيحِهِ فِيْ آيَاتٍ فَقَالَ: (فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرامِ وَاذْكُرُوهُ كَما هَداكُمْ) وَقَالَ: (فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آباءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا) وَقَالَ: (فَإِذا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ).
وَأَمَرَنَا بِذِكْرِ اسْمِهِ وَتَسْبِيحِهِ فِيْ آيَاتٍ أُخْرَى فَقَالَ: (وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا) وَقَالَ: (وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا) وَقَالَ: (وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ).
وَمِنْ ذَلِكَ يُعْلَمُ أَنَّ ذِكْرَ الْمُسَمَّى مَطْلُوبٌ بِتَذَكُّرِ الْقَلْبِ إِيَّاهُ وَنُطْقِ اللِّسَانِ بِهِ لِتَذَكُّرِ عَظَمَتِهِ وَجَلَالِهِ وَنِعَمِهِ الْمُتَظَاهِرَةِ عَلَى عِبَادِهِ، وَذِكْرُهُ بِاللِّسَانِ هُوَ ذِكْرُ أَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَإِسْنَادُ الْحَمْدِ وَالشُّكْرِ إِلَيْهِ وَطَلَبُ الْمَعُونَةِ مِنْهُ عَلَى إِيجَادِ الْأَفْعَالِ وَإِحْدَاثِهَا.
وَذِكْرُ الِاسْمِ مَشْرُوعٌ وَمَطْلُوبٌ كَذَلِكَ، فَيُعَظَّمُ الِاسْمُ مَقْرُونًا بِالْحَمْدِ وَالشُّكْرِ وَطَلَبِ الْمَعُونَةِ فِي كَوْنِ الْفِعْلِ مُعْتَدًّا بِهِ شَرْعًا، فَإِنَّهُ مَا لَمْ يُصَدَّرْ بِاسْمِهِ تَعَالَى يَكُونُ بِمَنْزِلَةِ الْمَعْدُومِ.

Penjelasan

(Bismi/بسم-Dengan Nama)
Ismun/اسنم adalah lafal yang menunjukkan suatu zat, seperti Muhammad dan manusia, atau menunjukkan suatu makna/sifat, seperti ilmu dan adab.
Allah telah memerintahkan kita untuk mengingat-Nya (dzikir) dan menyucikan-Nya (tasbih) dalam beberapa ayat. Dia berfirman: "Maka berzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam, dan berzikirlah kepada-Nya sesuai dengan petunjuk yang diberikan-Nya kepadamu." Dia juga berfirman: "Maka berzikirlah kepada Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu, bahkan berzikirlah lebih dari itu." Dan Dia berfirman: "Apabila kamu telah menyelesaikan salat, maka berzikirlah kepada Allah (baik) ketika kamu berdiri, duduk, maupun berbaring."
Dia juga memerintahkan kita untuk menyebut nama-Nya dan menyucikan-Nya dalam ayat-ayat lain. Dia berfirman: "Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadah-lah kepada-Nya dengan khusyuk." Dia berfirman: "Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang." Serta berfirman: "Dan mengapa kamu tidak mau memakan sesuatu (daging hewan) yang (ketika disembelih) disebut nama Allah atasnya."
Dari hal tersebut diketahui bahwa mengingat Zat yang dinamai (Al-Musamma) adalah hal yang dituntut, baik melalui ingatan hati terhadap-Nya maupun ucapan lisan dengan-Nya. Tujuannya adalah untuk mengingat keagungan, kemuliaan, serta nikmat-nikmat-Nya yang tampak jelas bagi para hamba-Nya. Berdzikir dengan lisan berarti menyebut Asmaulhusna-Nya, menyandarkan pujian serta syukur kepada-Nya, dan memohon pertolongan dari-Nya untuk mewujudkan serta memulai segala perbuatan.
Menyebut nama Allah (dzikrullah) adalah hal yang disyariatkan dan dituntut pula. Maka nama-Nya diagungkan dengan diiringi pujian, syukur, serta permohonan pertolongan, agar perbuatan tersebut dianggap (sah/berkah) secara syariat. Karena sesungguhnya, suatu perkara yang tidak dimulai dengan nama Allah Yang Mahatinggi, kedudukannya seperti sesuatu yang tidak ada (tidak bernilai).

(اللَّهِ) عَلَمٌ مُخْتَصٌّ بِالْمَعْبُودِ بِالْحَقِّ لَمْ يُطْلَقْ عَلَى غَيْرِهِ تَعَالَى، وَكَانَ الْعَرَبِيُّ فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا سُئِلَ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ؟ يَقُولُ اللَّهُ: وَإِذَا سُئِلَ هَلْ خَلَقَتِ اللَّاتُ وَالْعُزَّى شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ؟ يُجِيبُ (لَا).
وَالْإِلَهُ اسْمٌ يَقَعُ عَلَى كُلِّ مَعْبُودٍ بِحَقٍّ أَوْ بَاطِلٍ، ثُمَّ غَلَبَ عَلَى الْمَعْبُودِ بِالْحَقِّ.

(Allah/الله) Merupakan nama (alam) khusus bagi Sembahan yang haq, yang tidak pernah disematkan kepada selain-Nya Yang Mahatinggi. Orang Arab pada masa Jahiliah, apabila ditanya, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Mereka pasti menjawab, "Allah." Namun jika ditanya, "Apakah Latta dan Uzza menciptakan sesuatu dari hal itu?" Mereka menjawab, "Tidak."
Sedangkan kata Ilah adalah nama yang digunakan untuk setiap yang disembah, baik secara benar (haq) maupun salah (batil), yang kemudian maknanya lebih dominan digunakan untuk Sembahan yang haq.

(الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) كِلَاهُمَا مُشْتَقٌّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَهِيَ مَعْنًى يَقُومُ بِالْقَلْبِ يَبْعَثُ صَاحِبَهُ عَلَى الْإِحْسَانِ إِلَى سِوَاهُ، وَيُرَادُ مِنْهَا فِي جَانِبِ الْمَوْلَى عَزَّ اسْمُهُ أَثَرُهَا وَهُوَ الْإِحْسَانُ.
إِلَّا أَنَّ لَفْظَ (الرَّحْمَنِ) يَدُلُّ عَلَى مَنْ تَصْدُرُ عَنْهُ آثَارُ الرَّحْمَةِ وَهِيَ إِسْبَاغُ النِّعَمِ وَالْإِحْسَانِ، وَلَفْظُ (الرَّحِيمِ) يَدُلُّ عَلَى مَنْشَأِ هَذِهِ الرَّحْمَةِ، وَأَنَّهَا مِنَ الصِّفَاتِ الثَّابِتَةِ اللَّازِمَةِ لَهُ، فَإِذَا وُصِفَ اللَّهُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ بِالرَّحْمَنِ اسْتُفِيدَ مِنْهُ لُغَةً أَنَّهُ الْمُفِيضُ لِلنِّعَمِ، وَلَكِنْ لَا يُفْهَمُ مِنْهُ أَنَّ الرَّحْمَةَ مِنَ الصِّفَاتِ الْوَاجِبَةِ لَهُ دَائِمًا. وَإِذَا وُصِفَ بَعْدَ ذَلِكَ بِالرَّحِيمِ عُلِمَ أَنَّ لِلَّهِ صِفَةً ثَابِتَةً دَائِمَةً هِيَ الرَّحْمَةُ الَّتِي يَكُونُ أَثَرُهَا الْإِحْسَانُ الدَّائِمُ وَتِلْكَ الصِّفَةُ عَلَى غَيْرِ صِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ، وَإِذَا يَكُونُ ذِكْرُ الرَّحِيمِ بَعْدَ الرَّحْمَنِ كَالْبُرْهَانِ عَلَى أَنَّهُ يُفِيضُ الرَّحْمَةَ عَلَى عِبَادِهِ دَائِمًا لِثُبُوتِ تِلْكَ الصِّفَةِ لَهُ عَلَى طَرِيقِ الدَّوَامِ وَالِاسْتِمْرَارِ.
افْتَتَحَ عَزَّ اسْمُهُ كِتَابَهُ الْكَرِيمَ بِالْبَسْمَلَةِ إِرْشَادًا لِعِبَادِهِ أَنْ يَفْتَتِحُوا أَعْمَالَهُمْ بِهَا، وَقَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ «كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَمْ يُبْدَأْ فِيهِ بِاسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْتَرُ» (أَيْ مَقْطُوعُ الذَّنَبِ نَاقِصٌ).

(Ar-Rahman Ar-Rahim) Keduanya berakar dari kata rahmah (kasih sayang). Rahmah adalah suatu perasaan yang bersemayam di dalam hati yang mendorong pemiliknya untuk berbuat baik kepada orang lain. Namun, jika disandarkan kepada Allah yang agung nama-Nya, yang dimaksud dengan rahmah adalah dampaknya, yaitu berupa perbuatan baik (al-ihsan).
Perbedaannya, lafal (Ar-Rahman) menunjukkan kepada Dzat yang dari-Nya bersumber dampak-dampak rahmat tersebut, yaitu berupa pencurahan nikmat dan kebaikan. Sedangkan lafal (Ar-Rahim) menunjukkan asal muasal rahmat ini, dan bahwa rahmat tersebut merupakan sifat yang tetap dan melekat pada-Nya.
Maka, apabila Allah Yang Maha Agung pujian-Nya disifati dengan Ar-Rahman, secara bahasa dapat dipahami bahwa Dialah Yang Mengucurkan nikmat, namun belum dipahami dari kata itu bahwa rahmat adalah sifat yang wajib ada pada-Nya secara terus-menerus. Baru kemudian ketika Dia disifati dengan Ar-Rahim setelahnya, diketahuilah bahwa Allah memiliki sifat yang tetap lagi abadi, yaitu rahmat yang dampaknya adalah kebaikan yang terus-menerus. Sifat tersebut tentu tidak sama dengan sifat-sifat makhluk. Dengan demikian, penyebutan kata Ar-Rahim setelah Ar-Rahman berfungsi sebagai bukti bahwa Dia senantiasa mencurahkan rahmat kepada hamba-Nya karena sifat tersebut melekat pada-Nya secara kekal dan berkelanjutan.
Allah Yang Agung nama-Nya membuka Kitab Suci-Nya dengan basmalah sebagai petunjuk bagi para hamba-Nya agar mereka membuka amal perbuatan mereka dengannya.

Sungguh telah disebutkan dalam hadis: "Setiap perkara penting yang tidak dimulai di dalamnya dengan nama Allah, maka perkara itu terputus." (Maksudnya: terpotong ekornya atau kurang keberkahannya).

وَقَدْ كَانَ الْعَرَبُ قَبْلَ الْإِسْلَامِ يَبْدَءُونَ أَعْمَالَهُمْ بِأَسْمَاءِ آلِهَتِهِمْ فَيَقُولُونَ بِاسْمِ اللَّاتِ أَوْ بِاسْمِ الْعُزَّى، وَكَذَلِكَ كَانَ يَفْعَلُ غَيْرُهُمْ مِنَ الْأُمَمِ، فَإِذَا أَرَادَ امْرُؤٌ مِنْهُمْ أَنْ يَفْعَلَ أَمْرًا مَرْضَاةً لِمَلِكٍ أَوْ أَمِيرٍ يَقُولُ أَعْمَلُهُ بِاسْمِ فُلَانٍ، أَيْ إِنَّ ذَلِكَ الْعَمَلَ لَا وُجُودَ لَهُ لَوْلَا ذَلِكَ الْمَلِكُ أَوِ الْأَمِيرُ.

Orang Arab sebelum Islam biasa memulai pekerjaan mereka dengan menyebut nama tuhan-tuhan mereka, lalu mereka berkata "Dengan nama Latta" atau "Dengan nama Uzza". Begitu pula yang dilakukan oleh bangsa-bangsa lain. Jika seseorang dari mereka ingin melakukan sesuatu demi mendapat keridaan seorang raja atau amir, ia akan berkata "Aku melakukannya atas nama si Fulan". Artinya, pekerjaan tersebut tidak akan ada nilainya jika bukan karena raja atau amir tersebut.

وَإِذًا فَمَعْنَى أَبْتَدِئُ عَمَلِي بِاسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ أَنَّنِي أَعْمَلُهُ بِأَمْرِ اللَّهِ وَلِلَّهِ لَا لِحَظِّ نَفْسِي وَشَهَوَاتِهَا.
وَيُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ- أَنَّ الْقُدْرَةَ الَّتِي أَنْشَأْتُ بِهَا الْعَمَلَ هِيَ مِنَ اللَّهِ وَلَوْلَا مَا أَعْطَانِي مِنَ الْقُدْرَةِ لَمْ أَفْعَلْ شَيْئًا، فَأَنَا أَبْرَأُ مِنْ أَنْ يَكُونَ عَمَلِي بِاسْمِي، بَلْ هُوَ بِاسْمِهِ تَعَالَى، لِأَنَّنِي أَسْتَمِدُّ الْقُوَّةَ وَالْعَوْنَ مِنْهُ، وَلَوْلَا ذَلِكَ لَمْ أَقْدِرْ عَلَى عَمَلِهِ، وَإِذًا فَمَعْنَى الْبَسْمَلَةِ الَّتِي جَاءَتْ أَوَّلَ الْكِتَابِ الْكَرِيمِ، أَنَّ جَمِيعَ مَا جَاءَ فِي الْقُرْآنِ مِنَ الْأَحْكَامِ وَالشَّرَائِعِ والْأَخْلَاقِ وَالْآدَابِ وَالْمَوَاعِظِ- هُوَ لِلَّهِ وَمِنَ اللَّهِ لَيْسَ لِأَحَدٍ غَيْرِهِ فِيهِ شَيْءٌ، وَكَأَنَّهُ قَالَ اقْرَأْ يَا مُحَمَّدُ هَذِهِ السُّورَةَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، أَيْ اقْرَأْهَا عَلَى أَنَّهَا مِنَ اللَّهِ لَا مِنْكَ، فَإِنَّهُ أَنْزَلَهَا عَلَيْكَ لِتَهْدِيَهُمْ بِهَا إِلَى مَا فِيهِ خَيْرُهُمْ وَسَعَادَتُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَكَذَلِكَ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقْصِدُ مِنْ تِلَاوَتِهَا عَلَى أُمَّتِهِ أَنَّهُ يَقْرَأُ عَلَيْهِمْ هَذِهِ السُّورَةَ بِاسْمِ اللَّهِ لَا بِاسْمِهِ أَيْ أَنَّهَا مِنَ اللَّهِ لَا مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ مُبَلِّغٌ عَنْهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كَمَا جَاءَ فِي قَوْلِهِ:
(وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنْذِرِينَ) .

Oleh karena itu, makna dari "Aku memulai pekerjaanku dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang" adalah bahwa aku melakukannya atas perintah Allah dan demi Allah, bukan demi bagian keuntungan diriku sendiri maupun hawa nafsunya.
Bisa juga yang dimaksud adalah: bahwa kekuatan yang aku gunakan untuk mewujudkan pekerjaan ini berasal dari Allah. Kalaulah bukan karena kekuatan yang Dia berikan kepadaku, aku tidak akan bisa melakukan apa pun. Maka aku berlepas diri dari anggapan bahwa pekerjaanku ini atas namaku sendiri, melainkan atas nama-Nya Yang Mahatinggi. Karena sesungguhnya aku memohon kekuatan dan pertolongan dari-Nya, dan jika bukan karena hal itu, aku tidak akan mampu melakukannya. Dengan demikian, makna basmalah yang berada di awal Kitab Suci ini adalah bahwa seluruh hukum dan syariat yang ada di dalam Al-Qur'an dan akhlak, adab, serta nasihat-nasihat. Semuanya adalah milik Allah dan bersumber dari Allah, tidak ada seorang pun selain-Nya yang memiliki andil di dalamnya sedikit pun. Seolah-olah Dia berfirman: "Bacalah wahai Muhammad surah ini dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." Artinya, bacalah surah ini dengan kesadaran bahwa ia bersumber dari Allah, bukan darimu. Karena Dialah yang menurunkannya kepadamu agar engkau memberi petunjuk kepada mereka menuju kebaikan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat. Begitu pula Nabi ﷺ, ketika membacakannya kepada umatnya, beliau bermaksud membacakan surah ini atas nama Allah, bukan atas namanya sendiri. Artinya, surah ini berasal dari Allah, bukan dari beliau. Beliau hanyalah seorang penyampai wahyu dari-Nya (Allah) Tabaraka wa Ta'ala, sebagaimana firman-Nya:
(“Dan aku diperintahkan agar termasuk orang-orang yang berserah diri, dan agar aku membacakan Al-Qur'an. Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk, sesungguhnya dia mendapat petunjuk untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat, maka katakanlah: 'Sesungguhnya aku hanyalah salah seorang pemberi peringatan.'

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

DO'AKU HARAPANKU

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa