Mengawal Ruh, Melintasi Zaman: Satu Abad Estafet Peradaban llmu dan Spiriitual Gontor
Mengawal Ruh, Melintasi Zaman: Satu Abad Estafet Peradaban llmu dan Spiriitual Gontor
Oleh Sudono Syueb, Alumnus Fisipol UGM dan Penikmat manfaat alumnus Pondok Modern Gontor
Sidoarjo - Satu abad yang lalu, di sebuah sudut desa terpencil di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, sebuah ikrar suci digaungkan. Tiga bersaudara, sang Trimurti—KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi—tidak sekadar mendirikan bangunan fisik pesantren. Mereka sedang meletakkan batu pertama bagi sebuah mahakarya peradaban Islam modern.
Tepat pada tanggal 20 September 1926, Pondok Modern Darussalam Gontor resmi lahir ke bumi pertiwi.
Seratus tahun telah berlalu. Nama-nama para pejuang telah berganti, namun fondasi nilai yang mereka tancapkan tetap berdiri kokoh tak tergoyahkan. Gontor bukan sekadar cerita masa lalu yang statis, melainkan sebuah kisah estafet yang terus hidup, bergerak, dan relevan menjawab tantangan zaman.
Dari rahim Gontor, lahir raksasa-raksasa pemikir dan pemimpin bangsa yang mewarnai sejarah Indonesia dan dunia. Gontor membuktikan falsafahnya untuk berdiri di atas dan untuk semua golongan.
Di sinilah tempat ditempanya ketokohan KH Hasyim Muzadi yang membawa kedamaian Islam hingga panggung internasional; ketajaman intelektual Prof. Din Syamsuddin dalam merajut dialog antar-peradaban global; serta kedalaman pemikiran Dr. Nurcholish Madjid yang meletakkan dasar-dasar pemikiran Islam modern yang inklusif. Dari bilik santri ini pula lahir sosok negarawan seperti Dr. M. Hidayat Nur Wahid yang konsisten mengawal konstitusi bangsa, serta para guru besar dan cendekiawan profetik seperti Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil. (Rektor UNIDA Gontor) beserta ribuan alumni lainnya yang mengabdi demi kemaslahatan umat.
Di bawah naungan menara yang menjulang tinggi, mereka semua pernah diajarkan tentang arti keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan berpikir.
Nilai-nilai inilah yang menjadi bahan bakar bagi Gontor untuk terus konsisten berkontribusi bagi umat, bangsa, dan dunia.
Gontor telah membuktikan bahwa harmoni antara Islam dan cinta tanah air adalah ruh yang memperkuat tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kini, dalam momentum Kesyukuran 100 Tahun, jutaan pasang mata kembali menatap Ponorogo. Puluhan ribu alumni dari berbagai penjuru dunia pulang ke rumah rahim keilmuan mereka.
Kehadiran mereka membawa berkah, tidak hanya meneguhkan komitmen akademik dan spiritual, tetapi juga mengalirkan kemanfaatan sosial-ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar.
Peringatan satu abad ini bukanlah akhir dari sebuah pencapaian, melainkan gerbang awal untuk melangkah menuju abad kedua.
Dengan moto menghadirkan nilai-nilai Islam dan membangun peradaban utama, Gontor akan terus melahirkan pemimpin dunia yang berakhlak mulia, berwawasan luas, dan bergerak di garis depan perjuangan umat.
Selamat Milad 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
Tetaplah berdiri kokoh, tetaplah menjadi ibu pengetahuan dan spiritual yang terus mendidik dan berkhidmad dengan cinta, serta teruslah menyinari dunia dengan cahaya keilmuan dan moral agama.
Gontor Berdiri, Mengawal Ruh, Melintasi Zaman!
Alumnus Prodi Komunikasi UGM dan Penikmat manfaat alumnus Pondok Modern Gontor
Komentar
Posting Komentar