ISTRIMU BUKAN PEMBANTUMU, BUKAN PULA ART-MU

ISTRIMU BUKAN PEMBANTUMU, BUKAN PULA ART-MU
(Renungan dari Persoalan Rumah Tangga Tetangga)



Oleh: Indah Hanifah binti Hanif Adzhar

Ada sesuatu yang terkadang terlupakan dalam kehidupan rumah tangga. Seorang suami pulang ke rumah, ingin disambut dengan senyuman, disiapkan makanan, disediakan minuman, rumah dalam keadaan rapi, pakaian bersih dan kebutuhan lainnya sudah tersedia.

Ketika semua itu terpenuhi, dianggap sebagai hal yang biasa. Namun, ketika ada yang tidak beres, tak jarang keluhan muncul. Rumah berantakan sedikit, makanan terlambat disajikan, atau pakaian belum disetrika, seolah-olah ada kewajiban yang tidak dilaksanakan oleh istri.

Pernahkah sejenak seorang suami bertanya kepada dirinya sendiri?

*"Apakah aku sudah memperlakukan istriku sebagai pasangan hidup, atau justru seperti pembantu yang harus selalu siap melayaniku?"*

Istri bukan ART yang bekerja dari pagi hingga malam untuk memenuhi kebutuhan majikannya. Ia adalah seorang manusia yang juga bisa lelah, sakit, sedih, kecewa, dan membutuhkan perhatian.

Ia bukan mesin yang bisa terus bekerja tanpa istirahat. Ia bukan pula seseorang yang tidak memiliki keinginan, cita-cita, dan kebutuhan untuk dirinya sendiri.

Di balik rumah yang bersih, ada tangan yang bekerja.
Di balik makanan yang tersaji, ada tenaga yang terkuras.
Di balik anak-anak yang terurus, ada pikiran yang sering kali tidak pernah berhenti.
Dan..
Di balik senyum seorang istri, terkadang tersimpan lelah yang tidak pernah diceritakan.

Sayangnya, pekerjaan rumah tangga sering dianggap sebagai sesuatu yang ringan karena dilakukan di rumah. Padahal, pekerjaan itu tidak selalu selesai ketika satu pekerjaan berakhir. Ada pekerjaan lain yang menunggu, setiap hari, berulang-ulang, tanpa mengenal hari libur.

Lalu, ketika suami pulang dan duduk beristirahat, sementara istri masih sibuk dengan pekerjaannya, apakah suami tidak bisa ikut turun tangan?

Bukankah rumah itu milik bersama? 
Bukankah anak-anak adalah tanggung jawab bersama? Bukankah kenyamanan rumah seharusnya menjadi tanggung jawab yang dibicarakan dan diupayakan bersama pula?

*Islam mengajarkan kebaikan kepada istri.*

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an:

*..وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ..*

*"Dan bergaullah dengan mereka secara patut."*
(QS. An-Nisa' (4): 19)

Ayat ini mengajarkan bahwa istri harus diperlakukan dengan baik, penuh penghormatan, dan tidak semena-mena.

Rasulullah saw. juga bersabda:

*خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي..*

*"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku."*
(HR. At-Tirmidzi, no. 3895)

Rasulullah saw. bukan hanya mengajarkan kebaikan melalui ucapan, tetapi juga memberikan teladan dalam kehidupan rumah tangga. Dalam riwayat Aisyah r.a., beliau menjelaskan bahwa Rasulullah membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Ketika waktu salat tiba, beliau pergi untuk melaksanakan salat.
(HR. Al-Bukhari, no. 676)

Bayangkan, manusia paling mulia, seorang Rasul Allah, tidak merasa rendah hanya karena membantu pekerjaan rumah tangga.

Lantas, mengapa masih ada suami yang merasa bahwa pekerjaan dapur, menyapu, mencuci, atau mengurus anak bukanlah urusannya?

Membantu istri bukan berarti kehilangan wibawa. Justru di situlah terlihat kematangan, kasih sayang, dan kebijaksanaan seorang suami.

*"Jangan hanya ingin dilayani, belajarlah melayani"*

Suami memang memiliki tanggung jawab dalam keluarga, termasuk memberikan nafkah sesuai kemampuannya. Akan tetapi, tanggung jawab itu tidak seharusnya dijadikan alasan untuk memperlakukan istri seolah-olah tidak memiliki hak untuk beristirahat.

Istri yang bekerja di luar rumah tetap membutuhkan dukungan di rumah. Istri yang tidak bekerja di luar rumah pun tetap membutuhkan penghargaan atas tenaga dan waktunya.

Jangan sampai seorang istri merasa bahwa setelah menikah, seluruh hidupnya hanya untuk memenuhi kebutuhan orang lain, sementara dirinya sendiri tidak lagi diperhatikan.

Sesekali.. 
Cobalah suami mengambil sapu tanpa harus diminta. 
Cucilah piring setelah makan. 
Jagalah anak ketika istri ingin beristirahat. 
Tanyakan apakah ia lelah. Dengarkan ceritanya tanpa buru-buru menyalahkan.

Hal-hal sederhana seperti itu mungkin terlihat kecil, tetapi bagi seorang istri, perhatian tersebut bisa menjadi bukti bahwa ia tidak menjalani kehidupan rumah tangga seorang diri.

Dan bagi istri, ketika pembagian pekerjaan terasa berat sebelah, sampaikanlah dengan baik apa yang dirasakan dan dibutuhkan. Rumah tangga yang sehat membutuhkan komunikasi, kesepakatan, dan kesediaan kedua belah pihak untuk saling memahami.

Sebab, pernikahan bukan perlombaan tentang siapa yang paling banyak bekerja, siapa yang paling besar pengorbanannya, atau siapa yang paling berhak dilayani.

*Pernikahan adalah perjalanan dua manusia yang belajar saling menguatkan.*

#Istrimu adalah teman seperjalananmu

Suatu hari nanti, usia akan bertambah. Rambut mungkin memutih, tenaga tak lagi sekuat dahulu, dan pekerjaan rumah yang sekarang terasa biasa bisa menjadi semakin berat.

Pada saat itu, yang paling dibutuhkan bukanlah seseorang yang pandai memerintah, melainkan pasangan yang tetap bersedia menggenggam tangan, menemani, dan saling menjaga.

Jangan menunggu istrimu jatuh sakit untuk menyadari betapa banyak pekerjaan yang selama ini ia lakukan. Jangan menunggu ia kelelahan untuk mulai menghargai pengorbanannya. 
Jangan pula menunggu ia diam dan berhenti mengeluh untuk mengira bahwa semuanya baik-baik saja.

Bisa jadi, ia diam bukan karena tidak lelah, melainkan karena sudah terlalu lelah untuk menjelaskan.

*"Wahai para suami, istrimu bukan pembantumu. Ia bukan ART-mu. Ia adalah pasangan yang berjalan bersamamu membangun rumah tangga."*

Jika ia memasak, hargailah.
Jika ia membersihkan rumah, ringankanlah.
Jika ia lelah, berilah kesempatan untuk beristirahat.
Jika ia bersedih, dengarkanlah.
Jika ia membutuhkan bantuan, jangan membuatnya merasa bersalah karena meminta.
Dan..
Jika engkau ingin dihormati sebagai suami, mulailah dengan menghormati istrimu sebagai manusia yang utuh.

Sebab, rumah tangga yang bahagia bukanlah rumah yang seluruh pekerjaannya diselesaikan oleh istri, melainkan rumah yang penghuninya saling peduli, saling menghargai, dan saling membantu.

*"Istri bukan diciptakan hanya untuk melayani suami. Ia adalah amanah yang harus dijaga, teman hidup yang harus dihargai, dan pasangan yang berhak merasakan kasih sayang."*

Karena pada akhirnya, yang membuat rumah tangga terasa seperti surga bukanlah karena selalu tersedia makanan di meja atau rumah yang selalu rapi, melainkan karena ada cinta, penghargaan, dan kepedulian di antara dua hati yang memilih untuk hidup bersama.

*Semoga kita tidak hanya pandai membangun rumah, tetapi juga belajar membangun rumah tangga yang penuh kasih sayang.*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

DO'AKU HARAPANKU

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa