SANG PEJUANG KELUARGA

SANG PEJUANG KELUARGA

Puisi untuk Ayah, Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Oleh: Indah Hanifah binti Hanif Adzhar

Ayah…

Di balik wajahmu yang tampak tegar, tersimpan lelah yang tak pernah kau kabarkan. Di balik senyummu yang sederhana, ada beban hidup yang kau pikul sendirian.

Kau melangkah saat fajar menyingsing, menembus dinginnya pagi yang menggigil. Mengejar rezeki, melawan letih, demi keluarga yang kau kasihi.

*Ayah…*

Kau tak selalu pandai berkata cinta, tak selalu mampu merangkai kata mesra. Namun, setiap peluh yang jatuh dari tubuhmu, adalah bukti cinta yang tak pernah semu.

Kau rela menahan lapar, agar anak-anakmu bisa makan dengan kenyang. Kau rela menyimpan keinginan, agar keluarga tak kekurangan.

Terkadang kau pulang dengan tubuh kelelahan, namun tetap berusaha menyembunyikan kesedihan. Sebab bagimu, rumah adalah tempat berteduh, dan keluargamu adalah alasan untuk terus berlabuh.

*Ayah…*

Maafkan kami yang tak mengerti, betapa berat perjuanganmu setiap hari. Kami hanya melihat apa yang kau beri, tanpa memahami luka yang kau sembunyikan sendiri.

Kami mungkin tak selalu mendengar keluhmu, tak selalu memahami diam dan termenungmu. Padahal di balik diammu yang panjang, ada ribuan harapan yang sedang kau perjuangkan.

*Ayah...*

Engkaulah sang pejuang keluarga, yang bertempur tanpa senjata, yang berjuang tanpa sorak-sorai, yang terluka tanpa meminta dikasihani.

Namamu mungkin tak tertulis dalam sejarah, wajahmu mungkin tak terpajang di panggung megah. Namun di hati anak-anakmu, kaulah pahlawan sepanjang waktu.

*Ayah…*

Jika hari ini kami mampu berdiri, ada keringatmu yang menjadi alas kaki. 
Jika hari ini kami mampu bermimpi, ada pengorbananmu yang menguatkan hati.
Jika hari ini kami tetap mampu bertahan ada kekuatan dan genggaman tanganmu yang masih membekas.

Semoga Allah membalas setiap lelahmu dengan pahala, setiap peluhmu dengan keberkahan, setiap kesabaranmu dengan kemuliaan, dan setiap pengorbananmu dengan surga-Nya.

*Terima kasih, Ayah…*

Untuk cinta yang tak selalu terucap, untuk perjuangan yang tak pernah berharap tepuk tangan, untuk pengorbanan yang mungkin tak mampu kami balas.

Engkaulah ayah kami, engkaulah kebanggaan kami, engkaulah SANG PEJUANG KELUARGA.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

DO'AKU HARAPANKU

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa