DALAM BEPERGIAN, BERADA DI ANTARA HIDUP DAN MATI

DALAM BEPERGIAN, BERADA DI ANTARA HIDUP DAN MATI

*Catatan perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya*
Indah Hanifah Binti Hanif Adzhar


Ada satu pengalaman perjalanan yang rasanya sulit untuk dilupakan. Sebuah perjalanan pulang dari Jakarta menuju Surabaya yang memberikan pelajaran begitu dalam tentang kehidupan, kematian, dan arti sebuah keselamatan.

Malam itu, sekitar pukul 02.00 dini hari, bus Trans 27 yang saya tumpangi tiba-tiba mogok di jalan tol. Posisi bus berada tidak jauh dari pintu keluar tol. Dari tempat duduk saya, masih terlihat portal dan deretan lampu pintu tol yang berjajar.

Saya duduk tepat di belakang sopir. Bus yang saya tumpangi adalah Trans 27, karena tempat duduk penumpang tinggi, jadi seolah-olah saya berada di atas sopir.

Dalam keadaan bus berhenti di jalan tol pada tengah malam, pikiran saya mulai membayangkan berbagai kemungkinan. Bagaimana jika ada kendaraan yang tidak menyadari keberadaan bus ini? Bagaimana jika ada kendaraan yang melaju kencang dan menabraknya?

Dan ternyata, sesuatu yang sempat terlintas dalam pikiran saya benar-benar terjadi.

Tiba-tiba terdengar suara benturan yang sangat keras, dan mobil terguncang.

Sebuah truk boks menghantam bus pada sisi kanan atau samping pintu sopir. Belakangan diketahui bahwa sopir truk tersebut mengantuk.

Bodi kanan bus, tepat di sebelah sopir, mengalami kerusakan. Sementara truk boks juga mengalami kerusakan, bahkan spionnya pecah. Namun, bus tetap berdiri kokoh.

Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan dan kembali ke rumah.


*Bepergian Memang Bagian dari Kesulitan*

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah mengingatkan tentang beratnya sebuah perjalanan melalui sabdanya:

*السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ*

"Bepergian itu adalah sebagian dari siksa (kesulitan). Ia menghalangi salah seorang di antara kalian dari makan, minum, dan tidurnya. Apabila telah selesai keperluannya, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya."
(HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927)

Hadits ini mengingatkan kita bahwa perjalanan bukan selalu sesuatu yang mudah. Ada kelelahan, keterbatasan waktu istirahat, rasa tidak nyaman, bahkan berbagai resiko yang tidak pernah kita perkirakan sebelumnya.

Pengalaman malam itu membuat saya semakin memahami betapa berharganya keselamatan dalam sebuah perjalanan.

*Kita Tidak Pernah Tahu di Mana Perjalanan Akan Berakhir*

Ada satu ayat AlQuran yang terasa begitu dekat dengan pengalaman ini:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

"Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati."
(QS. Luqman (31): 34)

Kita bisa merencanakan perjalanan dari satu kota ke kota lain. Kita bisa menentukan kendaraan, memilih tempat duduk, memperkirakan waktu keberangkatan, bahkan menghitung jam kedatangan.

Namun, kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi di sepanjang perjalanan.

Kita berangkat dengan harapan bisa sampai di tujuan dan kembali berkumpul bersama keluarga. Tetapi tidak seorang pun memiliki jaminan bahwa setiap perjalanan akan berakhir seperti yang direncanakan.

Malam itu saya belajar bahwa jarak antara hidup dan mati begitu dekat. Hanya dalam hitungan detik, perjalanan pulang yang semula biasa saja bisa berubah menjadi peristiwa yang mengancam keselamatan jiwa.

Bukan berarti kita harus takut bepergian. Sebab hidup memang mengharuskan kita bergerak, bekerja, berikhtiar, dan memenuhi berbagai keperluan.

Tetapi jangan pernah lupa untuk berdoa sebelum berangkat, berhati-hati selama perjalanan, dan bertawakkal kepada Allah.

**Kita boleh menentukan arah perjalanan, tetapi Allah-lah yang mengetahui di mana perjalanan kita akan berakhir.**

*Pulang Adalah Nikmat yang Tidak Boleh Dianggap Biasa*

Sering kali kita menganggap pulang ke rumah sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, bisa kembali bertemu keluarga, membuka pintu rumah, mengucapkan salam, dan kembali menjalani aktivitas adalah nikmat yang sangat besar.

Tidak semua orang yang berangkat memiliki kesempatan untuk pulang.

Maka, setelah pengalaman itu, saya semakin menyadari bahwa kehidupan bukan sekadar tentang perjalanan menuju berbagai tempat, melainkan juga tentang perjalanan mempersiapkan diri menuju kehidupan yang kekal.

Jangan hanya sibuk mempersiapkan bekal perjalanan dunia. Persiapkan pula bekal untuk perjalanan akhirat.

Karena sesungguhnya, perjalanan terjauh bukanlah Surabaya -- Jakarta atau Jakarta -- Surabaya.

Perjalanan terjauh adalah perjalanan dari dunia menuju akhirat.

*Alhamdulillah, untuk perjalanan yang masih diberi kesempatan sampai di rumah, meski terjadi keterlambatan yang panjang kurang lebih 6jam-an.*
*Alhamdulillah, untuk kehidupan yang masih diberi kesempatan untuk diperbaiki.*
Dan..
*Alhamdulillah, untuk setiap detik yang masih Allah izinkan menjadi kesempatan menambah amal kebaikan.*

*Semoga setiap keberangkatan kita berada dalam perlindungan Allah, setiap kepulangan menjadi nikmat yang kita syukuri, dan ketika tiba waktunya kembali kepada-Nya, kita dipanggil dalam keadaan husnul khatimah.*
Aamiin..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

DO'AKU HARAPANKU

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa