KE PESANGGRAHAN MENUMBING(Perjalanan Menembus Waktu)

KE PESANGGRAHAN MENUMBING
(Perjalanan Menembus Waktu)

Catatan Amam Fakhrur 

Sekitar enam bulan lamanya, saya telah tinggal di kota Pangkalpinang. Seluruh kota di wilayah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung telah saya kunjungi, kecuali kota Muntok. Kota Muntok adalah ibukota Kabupaten Bangka Barat. Saya penasaran dengan keberadaan kota tersebut. Terlebih di kota itu terdapat saksi bisu perjalanan bangsa Indonesia.

Kemaren, Sabtu , 22 Agustus 20026, saya bersama dua orang kawan menuju ke kota tersebut. Dari kota Pangkalpinang berangkat jam 08.30, WIB dan sekitar jam 11.00 WIB telah sampai di kota Muntok. Sesuai rencana sasaran utama kami adalah Pesanggrahan Menumbing. Saat di pusat kota, geogle map yang telah kami stel menunjukkan untuk sampai ke lokasi masih memakan waktu 21 menit Masih harus menempuh perjalanan sekitar 13 an km lagi,

Memasuki kawasan bukit, ada pos penjagaan. Saya buka kaca mobil. Bayar parkir mobil Rp.10 ribu dan tiket masuk kawasan @ Rp. 5 rb. Saya disodoi karcis resmi. Menaiki bukit menuju lokasi, jalan cukup menanjak, beraspal, Hanya satu jalur. Jadi kalau ada mobil naik, mobil dari atas harus diparkir di atas dahulu. Berjalan dan lewat bergantian. Jalan berliku dan tikungan sebagiannya cukup tajam, Namun tetap nyaman untuk mobil kategori sehat. Suasana menuju Pesanggrahan cukup sunyi dan sejuk 

Sampailah kami di Pesanggrahan Menumbing. Kesan pertama saya saat memandang bangunan Pesanggrahan adalah saya sangat taajub. Bangunan tua yang dibangun oleh perusahaan timah Belanda, _Banka Tinwinning Bedrijf_( BTW). pada tahun 1927 . Berfungsi sebagai hotel dan peristirahatan pejabat dan pegawai perusahaan. Kami bertiga masuk ke dalam Pesanggrahan. Ruangan ber AC . Cukup dingin. Sebelum memasukinya, sandal harus dilepas, dan membeli tiket masuk.

Saat memasuki ruang tengah Pesanggrahan terdapat teknologi hologram. Terdapat nama - nama tokoh bangsa yang diasingkan. Mereka adalah Ir Soekarno, Mohammad Hatta, Mr, Sastroamidjojo, Mohamad Roem, Mr. Assaat, Abdul Gaffar Pringgodigdo Komodor Soerjadi dan H. Agus Salim.

Di dalam Pesanggrahan terdapat foto- foto perjuangan zaman dulu. Terdapat mobil Sedan Ford Deluxe , Plat BN 10. Sangat klasik. Konon mobil tersebut pernah digunakan untuk menjemput Mohammad Hatta saat pengasingan. Sayapun jeprat jepret dengan beground mobil antik tersebut.Terdapat pula ruangan berisi meja kursi dan dua dipan kecil berkasur, Di antara keduanya ada foto Bung Karno yang menempel di dinding.

Di dalam Pesanggrahan ada ruang utama. Di dalamnya ada patung Bung Karno dan Bung Hatta berwarna kuning keemasan. Berukuran agak gede. Saat itu lampu distel agak gelap. Saya tidak mendapatkan informasi kapan dan bagaimana dibuat dua patung tersebut. Kemungkinan dibuat saat dilakukan renovasi gedung. Untuk mengenang perjuangan keduanya.

Saya bertanya dalam hati mengapa tempat pengasingan tokoh pergerakan bangsa, di Bukit Menumbing. Hal itu dilakukan, kemungkinan agar rakyat Indonesia jauh dari para tokoh dan pemimpinnya. Kota Muntok tempat yang jauh dari pusat perlawanan. Bukit Menumbing tempat yang sunyi dan terasing. Saat itu ( tahun 1948 ) terjadi agresi II militer Belanda, Tentu saja Belanda bermaksud meredam perlawanan rakyat Indonesia .

Menyentuh hatiku ketika membayangkan bahwa tempat yang sekarang menjadi situs sejarah, dahulu merupakan ruang terbatas bagi para pemimpin bangsa. Mereka berada dalam pengawasan ketat dan bahkan pernah ditempatkan dalam kerangkeng kawat. Bagaimana kehidupan mereka diawasi, termasuk pembatasan terhadap aktivitas dan kunjungan.

Namun, pengasingan tidak mampu mengasingkan gagasan. Memang tubuh mereka ditempatkan jauh dari pusat pemerintahan dan politik, tetapi pikiran mereka tetap bekerja. Perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata. Dalam kesunyian Menumbing, gagasan tentang Indonesia merdeka tetap dipelihara melalui pembicaraan, diplomasi, pendidikan politik, dan hubungan dengan masyarakat.

Bagiku, Pesanggrahan Menumbing akhirnya bukan sekadar tempat pengasingan. Ia menjadi simbol bahwa perjuangan dapat berlangsung dalam kondisi dan situasi appun. Para tokoh bangsa mungkin kehilangan kebebasan bergerak, tetapi mereka tidak kehilangan kebebasan berpikir. Justru dari tempat yang terpencil itulah lahir berbagai pemikiran dan proses diplomasi yang kemudian menjadi bagian penting menuju pengakuan kedaulatan Indonesia.

Jam 14.00 an kami meninggalkan Pesanggrahan Menumbing. Saya membawa kesan bahwa perjalanan tersebut bukan hanya perjalanan menuju sebuah tempat, melainkan perjalanan menembus waktu. Dari sebuah bangunan di atas bukit yang sunyi, diingatkan untuk senantiasa menghargai perjuangan para pendahulu. ( AF, 23/8/26).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

Logika Diferensial dan Patologi Sosial Keagamaan

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa