Tafsir Al-Fatihah ayat 4: Raja yang Disembah (5)

Tafsir Al-Fatihah ayat 4: Raja yang Disembah (5)



Oleh Syaikh Ahmad Musthafa Al-Maraghi

Penyadur, Sudono Syueb
 
بيم الله الرمن الرحبم

مالك يوم الدين.٤

4) Yang Merajai Hari Pembalasan

Penjelasan

{مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} قَرَأَ بَعْضُ الْقُرَّاءِ (مَالِكِ)، وَبَعْضٌ آخَرُ (مَلِكِ)، وَالْفَارِقُ بَيْنَهُمَا أَنَّ الْمَالِكَ هُوَ ذُو الْمِلْكِ (بِكَسْرِ الْمِيمِ) وَالْمَلِكَ هُوَ ذُو الْمُلْكِ (بِضَمِّ الْمِيمِ) وَقَدْ جَاءَ فِي الْكِتَابِ الْكَرِيمِ مَا يُعَاضِدُ كُلًّا مِنَ الْقِرَاءَتَيْنِ، فَيُعَاضِدُ الْأُولَى قَوْلُهُ: {يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا} وَيُعَاضِدُ الثَّانِيَةَ قَوْلُهُ: {لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ}.
قَالَ الرَّاغِبُ: وَالْقِرَاءَتَانِ وَإِنْ رُوِيَتَا عَنْ جَمْعٍ كَثِيرٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، فَالثَّانِيَةُ يَكْنُفُهَا مِنَ الْجَلَالِ وَالرَّوْعَةِ وَإِثَارَةِ الْخَشْيَةِ مَا لَا يُوجَدُ مِثْلُهُ فِي الْقِرَاءَةِ الْأُولَى، فَهِيَ تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ سُبْحَانَهُ هُوَ الْمُتَصَرِّفُ فِي شُئُونِ الْعُقَلَاءِ بِالْأَمْرِ وَالنَّهْيِ وَالْجَزَاءِ، وَمِنْ ثَمَّ يُقَالُ مَلِكُ النَّاسِ.
 
{Maliki Yaumi ad-Din/مالك يوم الدين} Sebagian ahli qiraah membaca Maalik/مالك, dan sebagian yang lain membaca Malik/ملك. Perbedaan di antara keduanya adalah bahwa Al-Maalik adalah pemilik kerajaan/harta (dzul milk—dengan huruf mim dikasrah), sedangkan Al-Malik adalah penguasa/raja (dzul mulk—dengan huruf mim didammah). Di dalam Al-Kitab Al-Karim (Al-Qur'an) terdapat ayat yang mendukung masing-masing dari kedua bacaan tersebut. Bacaan pertama didukung oleh firman-Nya: "(Yaitu) pada hari (ketika) seseorang sama sekali tidak berdaya (tidak memiliki/tamliku) sesuatu pun untuk menolong orang lain." Sementara bacaan kedua didukung oleh firman-Nya: "Milik siapakah kerajaan (Al-Mulk) pada hari ini?"

Ar-Raghib berkata: Kedua bacaan tersebut meskipun diriwayatkan dari banyak jemaah sahabat, namun bacaan kedua (Malik) diliputi oleh keagungan, wibawa, dan getaran rasa takut yang tidak ditemukan pada bacaan pertama (Maalik). Sebab, bacaan kedua menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Zat Yang mengatur urusan makhluk-makhluk berakal dengan perintah, larangan, dan pembalasan. Oleh karena itulah diucapkan Malikun Naas (Raja manusia).

وَالدِّينُ يُطْلَقُ لُغَةً عَلَى الْحِسَابِ، وَعَلَى الْمُكَافَأَةِ، وَعَلَى الْجَزَاءِ، وَهُوَ الْمُنَاسِبُ هُنَا،
وَإِنَّمَا قَالَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، وَلَمْ يَقُلْ مَالِكِ الدِّينِ لِيُعْلَمَ أَنَّ لِلدِّينِ يَوْمًا مُعَيَّنًا يَلْقَى فِيهِ كُلُّ عَامِلٍ جَزَاءَ عَمَلِهِ.

Kata Ad-Din (الدين) secara bahasa digunakan untuk arti perhitungan (hisab), pembalasan atas kebaikan (mukafaa-ah), dan balasan secara umum (jaza'), dan arti terakhir inilah yang paling sesuai di sini.
Sesungguhnya Allah berfirman, "Pemilik hari pembalasan" (Maliki yaumid-din) dan tidak berfirman, "Pemilik pembalasan" (Malikid-din), agar diketahui bahwa pembalasan itu memiliki hari tertentu yang telah ditetapkan, di mana setiap orang yang beramal akan menemui balasan atas perbuatannya.

وَالنَّاسُ وَإِنْ كَانُوا يُلَاقُونَ جَزَاءَ أَعْمَالِهِمْ فِي الدُّنْيَا بِاعْتِبَارِهِمْ أَفْرَادًا مِنْ بُؤْسٍ وَشَقَاءٍ جَزَاءَ تَفْرِيطِهِمْ فِي أَدَاءِ الْحُقُوقِ وَالْوَاجِبَاتِ الَّتِي عَلَيْهِمْ- فَرُبَّمَا يَظْهَرُ ذَلِكَ فِي بَعْضٍ6 دُونَ بَعْضٍ، فَإِنَّا نَرَى كَثِيرًا مِنَ الْمُنْغَمِسِينَ فِي شَهَوَاتِهِمْ يَقْضُونَ aأَعْمَارَهُمْ وَهُمْ مُتَمَتِّعُونَ بِلَذَّاتِهِمْ، نَعَمْ إِنَّهُمْ لَا يَسْلَمُونَ مِنَ الْمُنَغِّصَاتِ، وَرُبَّمَا أَتَتْهُمُ الْجَوَائِحُ فِي أَمْوَالِهِمْ، وَاعْتَلَّتْ أَجْسَامُهُمْ، وَضَعُفَتْ عُقُولُهُمْ، وَلَكِنَّ هَذَا لَا يَكُونُ جَزَاءً كَامِلًا لِمَا اقْتَرَفُوهُ مِنْ عَظِيمِ الْمُوبِقَاتِ، وَكَبِيرِ الْمُنْكَرَاتِ، كَذَلِكَ نَرَى كَثِيرًا مِنَ الْمُحْسِنِينَ يُبْتَلَوْنَ بِهَضْمِ حُقُوقِهِمْ وَلَا يَنَالُونَ مَا يَسْتَحِقُّونَ مِنْ حُسْنِ الْجَزَاءِ، نَعَمْ إِنَّهُمْ يَنَالُونَ بَعْضَ الْجَزَاءِ بِإِرَاحَةِ ضَمَائِرِهِمْ وَسَلَامَةِ أَجْسَامِهِمْ وَصَفَاءِ مَلَكَاتِهِمْ وَتَهْذِيبِ أَخْلَاقِهِمْ، وَلَكِنْ لَيْسَ هَذَا كُلَّ مَا يَسْتَحِقُّونَ مِنَ الْجَزَاءِ، فَإِذَا جَاءَ ذَلِكَ الْيَوْمُ اسْتَوْفَى كُلُّ عَامِلٍ جَزَاءَ عَمَلِهِ كَامِلًا إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ، جَزَاءً وِفَاقًا لِمَا عَمِلَ {وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا}، {فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ}.

Manusia—meskipun mereka merasakan balasan amal mereka di dunia dalam kapasitas mereka sebagai individu, berupa kesengsaraan dan penderitaan akibat kelalaian mereka dalam menunaikan hak dan kewajiban—hal tersebut terkadang hanya tampak pada sebagian orang dan tidak pada sebagian yang lain. Kita melihat banyak orang yang tenggelam dalam syahwat, menghabiskan umur mereka dengan menikmati kelezatan duniawi. Memang benar mereka tidak luput dari hal-hal yang mengeruhkan suasana, terkadang bencana menimpa harta mereka, tubuh mereka jatuh sakit, atau akal mereka melemah. Namun, semua ini belum menjadi balasan yang sempurna atas dosa-dosa besar membinasakan dan kemungkaran berat yang telah mereka perbuat.
Sebaliknya, kita juga melihat banyak orang baik yang diuji dengan dirampasnya hak-hak mereka, serta tidak mendapatkan balasan baik yang layak mereka terima di dunia. Memang benar mereka mendapatkan sebagian balasan berupa ketenangan hati, kesehatan tubuh, kejernihan potensi diri, dan keluhuran akhlak, tetapi ini bukanlah semua balasan yang berhak mereka dapatkan. Maka, apabila hari itu (kiamat) telah datang, setiap orang yang beramal akan menerima balasan amalnya secara sempurna; jika baik maka dibalas kebaikan, dan jika buruk maka dibalas keburukan, sebagai balasan yang setimpal dengan apa yang telah ia kerjakan. "Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun" (QS. Al-Kahfi: 49), "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (QS. Az-Zalzalah: 7-8).

أَمَّا النَّاسُ بِاعْتِبَارِهِمْ أُمَمًا وَجَمَاعَاتٍ فَيَظْهَرُ جَزَاؤُهُمْ فِي الدُّنْيَا ظُهُورًا تَامًّا، فَمَا مِنْ أُمَّةٍ انْحَرَفَتْ عَنِ الصِّرَاطِ السَّوِيِّ، وَلَمْ تُرَاعِ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الْخَلِيقَةِ إِلَّا حَلَّ بِهَا مَا تَسْتَحِقُّ مِنَ الْجَزَاءِ مِنْ فَقْرٍ بَعْدَ غِنًى، وَذُلٍّ بَعْدَ عِزَّةٍ، وَمَهَانَةٍ بَعْدَ جَلَالٍ وَهَيْبَةٍ.
وَقَدْ جَاءَ قَوْلُهُ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} إِثْرَ قَوْلِهِ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} لِيَكُونَ كَتَرْهِيبٍ بَعْدَ تَرْغِيبٍ، وَلِيُعَلِّمَنَا أَنَّهُ تَعَالَى رَبَّى عِبَادَهُ بِكِلَا النَّوْعَيْنِ مِنَ التَّرْبِيَةِ، فَهُوَ رَحِيمٌ بِهِمْ، وَمُجَازٍ لَهُمْ عَلَى أَعْمَالِهِمْ كَمَا قَالَ: {نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ}.
Adapun manusia dalam kapasitas mereka sebagai umat dan kelompok masyarakat, maka balasan mereka di dunia akan tampak secara sempurna. Tidak ada satu umat pun yang menyimpang dari jalan yang lurus dan tidak memedulikan ketetapan (sunnatullah) Allah pada makhluk-Nya, melainkan akan ditimpa balasan yang layak mereka terima; berupa kemiskinan setelah kekayaan, kehinaan setelah kemuliaan, serta kerendahan setelah keagungan dan kewibawaan.
Firman-Nya:مالك يوم الدين-"Pemilik hari pembalasan" datang tepat setelah firman-Nya: الرمحن الىحيم-"Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang", agar berfungsi sebagai peringatan (ancaman) setelah adanya kabar gembira (harapan). Juga untuk mendidik kita bahwa Allah Ta'ala membimbing hamba-hamba-Nya dengan kedua jenis metode pendidikan tersebut; Dia Maha Penyayang kepada mereka, sekaligus Maha Pemberi balasan atas amal perbuatan mereka, sebagaimana firman-Nya: "Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih." (QS. Al-Hijr: 49-50).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

Logika Diferensial dan Patologi Sosial Keagamaan

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa