Tafsir Al- Fatihah ayat 6 - 7: Bimbinglah kami mengikuti jalan para Nabi dan Rasul-Mu (7)

Tafsir Al- Fatihah ayat 6 - 7: Bimbinglah kami mengikuti jalan para Nabi dan Rasul-Mu (7)
Oleh Syaikh Ahmad Musthafa Al-Maraghi

Penyadur Sudono Syueb


بسم الله الرحمن الرحيم

(اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ٦)
6. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus

(صِرَا طَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّيْنَ.٧)
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."


 الْهِدَايَةُ هِيَ الدَّلَالَةُ عَلَى مَا يُوصِلُ إِلَى الْمَطْلُوبِ، وَالصِّرَاطُ هُوَ الطَّرِيقُ، وَالْمُسْتَقِيمُ ضِدُّ الْمُعْوَجِّ، وَهُوَ مَا [لَا] فِيهِ انْحِرَافٌ عَنِ الْغَايَةِ الَّتِي يَجِبُ عَلَى سَالِكِهَا أَنْ يَنْتَهِيَ إِلَيْهَا.

 (Al-hidayah/الهداية)

Hidayah adalah petunjuk menuju apa yang dapat menyampaikan seseorang kepada tujuan yang dicari. Ash-Shirath artinya jalan.

Sedangkan Al-Mustaqim adalah kebalikan dari yang bengkok, yaitu jalan yang [tidak] mengandung penyimpangan dari tujuan akhir yang harus dicapai oleh orang yang menempuhnya.

وَهِدَايَةُ اللهِ لِلْإِنْسَانِ عَلَى ضُرُوبٍ:
(١) هِدَايَةُ الْإِلْهَامِ، وَتَكُونُ لِلطِّفْلِ مُنْذُ وِلَادَتِهِ، فَهُوَ يَشْعُرُ بِالْحَاجَةِ إِلَى الْغِذَاءِ وَيَصْرُخُ طَالِبًا لَهُ.

Hidayah Allah kepada manusia itu bermacam-macam bentuknya:
1. Hidayah Ilham (Insting): Diberikan kepada bayi sejak kelahirannya. Ia merasa butuh makanan, lalu menangis untuk memintanya.

(٢) هِدَايَةُ الْحَوَاسِّ، وَهَاتَانِ الْهِدَايَتَانِ يَشْتَرِكُ فِيهِمَا الْإِنْسَانُ وَالْحَيَوَانُ الْأَعْجَمُ، بَلْ هُمَا فِي الْحَيَوَانِ أَتَمُّ مِنْهُمَا فِي الْإِنْسَانِ، إِذْ إِلْهَامُهُ وَحَوَاسُّهُ يَكْمُلَانِ بَعْدَ وِلَادَتِهِ بِقَلِيلٍ، وَيَحْصُلَانِ فِي الْإِنْسَانِ تَدْرِيجًا.
2. Hidayah Hawas (Indra): Manusia dan hewan yang tak berakal sama-sama berserikat dalam kedua hidayah (ilham dan indra) ini. Bahkan keduanya pada hewan lebih sempurna daripada manusia, karena insting dan indra hewan telah sempurna sesaat setelah lahir, sedangkan pada manusia terjadi secara bertahap.

(٣) هِدَايَةُ الْعَقْلِ، وَهِيَ هِدَايَةٌ أَعْلَى مِنْ هِدَايَةِ الْحِسِّ وَالْإِلْهَامِ، فَالْإِنْسَانُ قَدْ خُلِقَ لِيَعِيشَ مُجْتَمِعًا مَعَ غَيْرِهِ، وَحَوَاسُّهُ وَإِلْهَامُهُ لَا يَكْفِيَانِ لِهَذِهِ الْحَيَاةِ، فَلَا بُدَّ لَهُ مِنَ الْعَقْلِ الَّذِي يُصَحِّحُ لَهُ أَغْلَاطَ الْحَوَاسِّ، أَلَا تَرَى الصَّفْرَاوِيَّ يَذُوقُ الْحُلْوَ مُرًّا، وَالرَّائِيَ يُبْصِرُ الْعُودَ الْمُسْتَقِيمَ فِي الْمَاءِ مُعْوَجًّا.

3. Hidayah Aql (Akal): Ini adalah hidayah yang lebih tinggi daripada hidayah indra dan ilham. Manusia diciptakan untuk hidup bermasyarakat dengan sesamanya, sedangkan indra dan instingnya saja tidak cukup untuk menopang kehidupan ini. Maka ia membutuhkan akal yang dapat meluruskan kekeliruan panca indra. Tidakkah Anda melihat orang yang sedang sakit kuning akan merasakan sesuatu yang manis menjadi pahit? Atau orang yang melihat sebatang kayu lurus di dalam air akan tampak bengkok?

(٤) هِدَايَةُ الْأَدْيَانِ وَالشَّرَائِعِ، وَهِيَ هِدَايَةٌ لَا بُدَّ مِنْهَا لِمَنِ اسْتَرَقَّتِ الْأَهْوَاءُ عَقْلَهُ، وَسَخَّرَ نَفْسَهُ لِلَذَّاتِهِ وَشَهَوَاتِهِ، وَسَلَكَ مَسَالِكَ الشُّرُورِ وَالْآثَامِ، وَعَدَا عَلَى بَنِي جِنْسِهِ، وَحَدَثَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمُ التَّجَاذُبُ وَالتَّدَافُعُ- فَبِهَا يَحْصُلُ الرَّشَادُ إِذَا غَلَبَتِ الْأَهْوَاءُ الْعُقُولَ، وَتَتَبَيَّنُ لِلنَّاسِ الْحُدُودُ وَالشَّرَائِعُ، لِيَقِفُوا عِنْدَهَا وَيَكُفُّوا أَيْدِيَهُمْ عَمَّا وَرَاءَهَا- إِلَى أَنَّ فِي غَرَائِزِ الْإِنْسَانِ الشُّعُورَ- بِسُلْطَانٍ غَيْبِيٍّ مُتَسَلِّطٍ عَلَى الْأَكْوَانِ، إِلَيْهِ يُنْسَبُ كُلُّ مَا لَا يُعْرَفُ لَهُ سَبَبٌ، وَبِأَنَّ لَهُ حَيَاةً وَرَاءَ هَذِهِ الْحَيَاةِ الْمَحْدُودَةِ، وَهُوَ بِعَقْلِهِ لَا يُدْرِكُ مَا يَجِبُ لِصَاحِبِ هَذَا السُّلْطَانِ، وَلَا يَصِلُ فِكْرُهُ إِلَى مَا فِيهِ سَعَادَتُهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ فَاحْتَاجَ إِلَى هِدَايَةِ الدِّينِ الَّتِي تَفَضَّلَ اللهُ بِهَا عَلَيْهِ وَوَهَبَهُ إِيَّاهَا

4. Hidayah Adyan wa Syara'i (Agama dan Syariat): Ini adalah hidayah yang mutlak diperlukan bagi orang yang akalnya telah diperbudak oleh hawa nafsu, menghambakan dirinya demi kelezatan dan syahwat, menempuh jalan-jalan keburukan dan dosa, serta berbuat zalim kepada sesama jenisnya hingga memicu aksi saling tarik-menarik dan saling dorong (konflik) di antara mereka. Melalui hidayah inilah petunjuk kebenaran tercapai ketika hawa nafsu mengalahkan akal sehat. Batasan-batasan serta syariat juga menjadi jelas bagi manusia agar mereka berhenti pada batasan tersebut dan menahan tangan mereka dari hal-hal di baliknya. Terlebih lagi, di dalam naluri manusia terdapat perasaan akan adanya otoritas gaib yang menguasai alam semesta, yang kepadanya dinisbatkan segala sesuatu yang tidak diketahui sebabnya, serta keyakinan bahwa ada kehidupan lain di balik kehidupan yang terbatas ini. Namun, dengan akalnya saja, manusia tidak mampu menjangkau apa yang wajib ditunaikan bagi Pemilik Otoritas tersebut, dan pikirannya tidak dapat sampai pada apa yang membawa kebahagiaan baginya di kehidupan ini

وَإِلَى تِلْكَ الْهِدَايَاتِ أَشَارَ الْكِتَابُ الْكَرِيمُ فِي آيَاتٍ كَثِيرَاتٍ كَقَوْلِهِ: (وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ) أَيْ طَرِيقَيِ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَالسَّعَادَةِ وَالشَّقَاءِ. وَقَوْلِهِ: (وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى) أَيْ أَرْشَدْنَاهُمْ إِلَى طَرِيقِ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ فَاخْتَارُوا الثَّانِيَ الَّذِي عَبَّرَ عَنْهُ بِالْعَمَى.
Oleh karena itu, manusia membutuhkan hidayah agama yang telah Allah karuniakan dan anugerahkan kepadanya.
Pada jenis-jenis hidayah itulah Kitab Suci yang mulia (Al-Qur'an) mengisyaratkan dalam banyak ayat, seperti firman-Nya: (Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan), maksudnya jalan kebaikan dan keburukan, serta jalan kebahagiaan kesengsaraan. Dan firman-Nya: (Dan adapun kaum Tsamud, Kami telah memberi petunjuk kepada mereka, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk), maksudnya Kami telah membimbing mereka ke jalan kebaikan dan keburukan, namun mereka memilih jalan yang kedua yang diungkapkan dengan istilah "kebutaan".

وَهُنَاكَ نَوْعٌ آخَرُ مِنَ الْهِدَايَةِ وَهُوَ الْمَعُونَةُ وَالتَّوْفِيقُ لِلسَّيْرِ فِي طَرِيقِ الْخَيْرِ، وَهِيَ الَّتِي أَمَرَنَا اللهُ بِطَلَبِهَا فِي قَوْلِهِ: (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ) إِذِ الْمُرَادُ- دُلَّنَا دَلَالَةً تَصْحَبُهَا مِنْ لَدُنْكَ مَعُونَةٌ غَيْبِيَّةٌ تَحْفَظُنَا بِهَا مِنَ الْوُقُوعِ فِي الْخَطَأِ وَالضَّلَالِ.

Di samping itu, ada jenis hidayah lainnya, yaitu berupa bantuan (al-ma'unah) dan taufik untuk berjalan di atas jalan kebaikan
Hidayah inilah yang Allah perintahkan kepada kita untuk memohonnya melalui firman-Nya: (Tunjukilah kami jalan yang lurus), karena maknanya adalah: "Bimbinglah kami dengan bimbingan yang disertai pertolongan gaib dari sisi-Mu, yang dengannya Engkau menjaga kami agar tidak jatuh ke dalam kesalahan dan kesesatan."

وَهَذِهِ الْهِدَايَةُ خَاصَّةٌ بِهِ سُبْحَانَهُ لَمْ يَمْنَحْهَا أَحَدًا مِنْ خَلْقِهِ، وَمِنْ ثَمَّ نَفَاهَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِي قَوْلِهِ: (إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ) وَقَوْلِهِ: (لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ) وَأَثْبَتَهَا لِنَفْسِهِ فِي قَوْلِهِ: (أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقتده) 

Hidayah jenis terakhir ini khusus milik Allah Subhanahu wa Ta'ala semata yang tidak diberikan kepada seorang pun dari makhluk-Nya. 
Oleh karena itu, Allah menafikannya dari diri Nabi ﷺ dalam firman-Nya: (Sungguh, engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki). Serta firman-Nya: (Bukanlah kewajibanmu memberi petunjuk kepada mereka, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki). Dan Allah menetapkan hidayah tersebut hanya untuk diri-Nya sendiri dalam firman-Nya: (Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka).

 أَمَّا الْهِدَايَةُ بِمَعْنَى الدَّلَالَةِ عَلَى الْخَيْرِ وَالْحَقِّ، مَعَ بَيَانِ مَا يَعْقُبُ ذَلِكَ مِنَ السَّعَادَةِ وَالْفَوْزِ وَالْفَلَاحِ، فَهِيَ مِمَّا تَفَضَّلَ اللهُ بِهَا عَلَى خَلْقِهِ وَمَنَحَهُمُوهَا، وَمِنْ ثَمَّ أَثْبَتَهَا لِلنَّبِيِّ ﷺ فِي قَوْلِهِ: (وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ).
هَذَا- وَالصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ هُوَ جُمْلَةُ مَا يُوصِلُ إِلَى السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ عَقَائِدَ وَأَحْكَامٍ وَآدَابٍ وَتَشْرِيعٍ دِينِيٍّ كَالْعِلْمِ الصَّحِيحِ بِاللهِ وَالنُّبُوَّةِ وَأَحْوَالِ الْكَوْنِ وَأَحْوَالِ الِاجْتِمَاعِ- وَقَدْ سُمِّيَ هَذَا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا تَشْبِيهًا لَهُ بِالطَّرِيقِ الْحِسِّيِّ، إِذْ كُلٌّ مِنْهُمَا مُوصِلٌ إِلَى غَايَةٍ، فَهَذَا سَيْرٌ مَعْنَوِيٌّ يُوصِلُ إِلَى غَايَةٍ يَقْصِدُهَا الْإِنْسَانُ، وَذَاكَ سَيْرٌ حِسِّيٌّ يَصِلُ بِهِ إِلَى غَايَةٍ أُخْرَى.

Adapun hidayah dalam arti "petunjuk menuju kebaikan dan kebenaran", disertai penjelasan mengenai kebahagiaan, keberuntungan, serta kesuksesan yang mengiringinya, maka hal itu termasuk karunia yang Allah berikan kepada makhluk-Nya dan dianugerahkan kepada mereka.

Oleh karena itu, Allah menetapkan hidayah jenis ini bagi Nabi ﷺ dalam firman-Nya: "Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Asy-Syura: 52).
Dan shirathal mustaqim (jalan yang lurus) adalah totalitas hal-hal yang mengantarkan kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat, berupa akidah, hukum, adab, dan syariat agama; seperti ilmu yang benar tentang Allah, kenabian, keadaan alam semesta, serta kondisi sosial. Hal ini dinamakan "jalan yang lurus" sebagai penyerupaan dengan jalan fisik (inderawi), karena masing-masing dari keduanya mengantarkan kepada suatu tujuan. Namun, yang ini merupakan perjalanan maknawi (spiritual/intelektual) yang mengantarkan pada tujuan yang dimaksudkan oleh manusia, sedangkan yang itu adalah perjalanan fisik yang mengantarkan ke tujuan yang lain.

وَقَدْ أَرْشَدَنَا اللهُ إِلَى طَلَبِ الْهِدَايَةِ مِنْهُ، لِيَكُونَ عَوْنًا لَنَا يَنْصُرُنَا عَلَى أَهْوَائِنَا وَشَهَوَاتِنَا بَعْدَ أَنْ نَبْذُلَ مَا نَسْتَطِيعُ مِنَ الْجُهْدِ فِي مَعْرِفَةِ أَحْكَامِ الشَّرِيعَةِ، وَنُكَلِّفَ أَنْفُسَنَا الْجَرْيَ عَلَى سَنَنِهَا، لِنَحْصُلَ عَلَى خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

Allah telah membimbing kita untuk memohon hidayah dari-Nya, agar hal itu menjadi penolong bagi kita untuk melawan hawa nafsu dan syahwat kita, setelah kita mengerahkan segenap kemampuan dalam memahami hukum-hukum syariat dan membiasakan diri kita untuk berjalan di atas aturannya, demi meraih kebaikan dunia dan akhirat.

(صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ٧) 

(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai..." (QS. Al-Fatihah: 7).

الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ هُمُ النَّبِيُّونَ وَالصِّدِّيقُونَ وَالصَّالِحُونَ مِنَ الْأُمَمِ السَّالِفَةِ، وَقَدْ أَجْمَلَهُمْ هُنَا وَفَصَّلَهُمْ فِي مَوَاضِعَ عِدَّةٍ مِنَ الْكِتَابِ الْكَرِيمِ بِذِكْرِ قِصَصِهِمْ لِلِاعْتِبَارِ بِالنَّظَرِ فِي أَحْوَالِهِمْ، فَيَحْمِلُنَا ذَلِكَ عَلَى حُسْنِ الْأُسْوَةِ فِيمَا تَكُونُ بِهِ السَّعَادَةُ، وَاجْتِنَابِ مَا يَكُونُ طَرِيقًا إِلَى الشَّقَاءِ وَالدَّمَارِ.

Orang-orang yang telah Allah beri nikmat adalah para nabi, shiddiqin (orang-orang yang jujur/membenarkan), dan orang-orang saleh dari umat-umat terdahulu. Allah menyebutkan mereka secara garis besar (global) di sini, dan merincinya di berbagai tempat dalam Kitab Suci Al-Qur'an dengan menyebutkan kisah-kisah mereka agar menjadi pelajaran dengan merenungkan keadaan mereka. 
Hal tersebut mendorong kita untuk meneladani dengan baik hal-hal yang membawa kebahagiaan, serta menjauhi hal-hal yang menjadi jalan menuju kesengsaraan dan kebinasaan.

وَقَدْ أُمِرْنَا بِاتِّبَاعِ صِرَاطِ مَنْ تَقَدَّمَنَا، لِأَنَّ دِينَ اللهِ وَاحِدٌ فِي جَمِيعِ الْأَزْمَانِ: فَهُوَ إِيمَانٌ بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتَخَلُّقٌ بِفَاضِلِ الْأَخْلَاقِ وَعَمَلُ الْخَيْرِ وَتَرْكُ الشَّرِّ، وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَهُوَ فُرُوعٌ وَأَحْكَامٌ تَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، يُرْشِدُ إِلَى ذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: (إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ) إِلَى آخِرِ الْآيَةِ.

Sungguh, kita telah diperintahkan untuk mengikuti jalan orang-orang sebelum kita, karena agama Allah itu satu di setiap zaman, yaitu: iman kepada Allah, para rasul-Nya, hari akhir, berakhlak dengan akhlak yang mulia, melakukan kebaikan, serta meninggalkan keburukan.

Adapun selain hal tersebut, maka ia merupakan perkara cabang (furu') dan hukum yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan ruang dan waktu. Hal ini diisyaratkan oleh firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang setelahnya..." (QS. An-Nisa: 163) hingga akhir ayat

وَالْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمْ هُمُ الَّذِينَ بَلَغَهُمُ الدِّينُ الْحَقُّ الَّذِي شَرَعَهُ اللهُ لِعِبَادِهِ فَرَفَضُوهُ وَنَبَذُوهُ وَرَاءَهُمْ ظِهْرِيًّا، وَانْصَرَفُوا عَنِ النَّظَرِ فِي الْأَدِلَّةِ تَقْلِيدًا لِمَا وَرِثُوهُ عَنِ الْآبَاءِ وَالْأَجْدَادِ- وَهَؤُلَاءِ عَاقِبَتُهُمُ النَّكَالُ وَالْوَبَالُ فِي جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْقَرَارُ.
وَالضَّالُّونَ هُمُ الَّذِينَ لَمْ يَعْرِفُوا الْحَقَّ، أَوْ لَمْ يَعْرِفُوهُ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيحِ، وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ لَمْ تَبْلُغْهُمْ رِسَالَةٌ، أَوْ بَلَغَتْهُمْ عَلَى وَجْهٍ لَمْ يَسْتَبِنْ لَهُمْ فِيهِ الْحَقُّ، فَهُمْ تَائِهُونَ فِي عَمَايَةٍ لَا يَهْتَدُونَ مَعَهَا إِلَى مَطْلُوبٍ، تَعْتَرِضُهُمُ الشُّبُهَاتُ الَّتِي تَلْبِسُ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ، وَالصَّوَابَ بِالْخَطَأِ، إِنْ لَمْ يَضِلُّوا فِي شُؤُونِ الدُّنْيَا ضَلُّوا فِي شُؤُونِ الْحَيَاةِ الْأُخْرَى، فَمَنْ حُرِمَ هُدَى الدِّينِ ظَهَرَ أَثَرُ الِاضْطِرَابِ فِي أَحْوَالِهِ الْمَعِيشِيَّةِ وَحَلَّتْ بِهِ الرَّزَايَا، وَالَّذِينَ جَاءُوا عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ لَا يُكَلَّفُونَ بِشَرِيعَةٍ، وَلَا يُعَذَّبُونَ فِي الْآخِرَةِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: (وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا).

Orang-orang yang dimurkai (al-maghdlubi 'alaihim) 

Mereka adalah orang-orang yang telah sampai kepada mereka agama yang benar yang disyariatkan Allah bagi hamba-hamba-Nya, lalu mereka menolak dan mencampakkannya ke belakang punggung mereka. Mereka berpaling dari merenungkan dalil-dalil karena ikut-ikutan (taklid) terhadap apa yang mereka warisi dari bapak-bapak dan kakek-nenek mereka. Orang-orang seperti ini akibat akhir mereka adalah siksaan yang pedih dan kesengsaraan di dalam neraka Jahanam, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.
Orang-orang yang sesat (ad-dallun) adalah mereka yang tidak mengetahui kebenaran, atau tidak mengetahuinya dengan cara yang benar. Mereka adalah orang-orang yang belum sampai kepada mereka risalah (dakwah Nabi), atau risalah itu sampai kepada mereka namun dengan cara yang membuat kebenaran tidak jelas bagi mereka. Maka dari itu, mereka kebingungan dalam kegelapan sehingga tidak mendapat petunjuk untuk mencapai apa yang dicari. Mereka dihadapkan pada syubhat (kerancuan berpikir) yang mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan, serta antara ketepatan dan kesalahan. Jika mereka tidak tersesat dalam urusan dunia, mereka pasti tersesat dalam urusan kehidupan akhirat.

Barangsiapa yang terhalang dari petunjuk agama, niscaya akan tampak dampak kekacauan dalam kondisi penghidupannya dan ditimpa berbagai petaka.
Adapun orang-orang yang hidup pada masa kekosongan di antara para rasul (fatrah), mereka tidak dibebani syariat dan tidak diazab di akhirat berdasarkan firman Allah Ta'ala: "Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS. Al-Isra: 15).

وَهَذَا رَأْيُ جُمْهُرَةِ الْعُلَمَاءِ، وَتَرَى فِئَةٌ مِنْهُمْ أَنَّ الْعَقْلَ وَحْدَهُ كَافٍ فِي التَّكْلِيفِ، فَمَتَى أُوتِيَهُ الْإِنْسَانُ وَجَبَ عَلَيْهِ النَّظَرُ فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالتَّدَبُّرُ وَالتَّفَكُّرُ فِي خَالِقِ الْكَوْنِ، وَمَا يَجِبُ لَهُ مِنْ عِبَادَةٍ وَإِجْلَالٍ، بِقَدْرِ مَا يَهْدِيهِ عَقْلُهُ وَيَصِلُ إِلَيْهِ اجْتِهَادُهُ، وَبِذَلِكَ يَنْجُو مِنْ عَذَابِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ كَانَ مِنَ الْهَالِكِينَ.

Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Namun, sebagian dari mereka berpendapat bahwa akal saja sudah cukup sebagai dasar pembebanan kewajiban (taklif). Ketika manusia dianugerahi akal, maka wajib baginya untuk memikirkan kerajaan langit dan bumi, serta merenungkan dan memikirkan Pencipta alam semesta ini, beserta kewajiban ibadah dan pengagungan yang harus diberikan kepada-Nya, sesuai kadar petunjuk akalnya dan batas ijtihadnya. Dengan demikian, ia akan selamat dari azab neraka pada hari kiamat. Jika ia tidak melakukannya, maka ia termasuk orang-orang yang binasa.

(آَمِينَ) اسْمٌ بِمَعْنَى اسْتَجِبْ، وَفِيهِ لُغَتَانِ: الْمَدُّ كَمَا قَالَ شَاعِرُهُمْ:
يَا رَبِّ لَا تَسْلُبَنِّي حُبَّهَا أَبَدًا ... وَيَرْحَمُ اللهُ عَبْدًا قَالَ آمِينَا
وَالْقَصْرُ كَمَا قَالَ الْآخَرُ: ... أَمِينَ فَزَادَ اللهُ مَا بَيْنَنَا بُعْدًا

(Amin) adalah isim fi'il yang bermakna "Kabulkanlah". Dalam pelafalannya terdapat dua dialek bahasa (lughah):
Dibaca panjang (al-mad, menjadi Aamiiin), sebagaimana perkataan penyair mereka:
“Wahai Tuhanku, jangan pernah Engkau hilangkan cintaku kepadanya... dan semoga Allah merahmati seorang hamba yang mengucapkan: Aamiin.”
Dibaca pendek (al-qashr, menjadi Amiin), sebagaimana perkataan penyair yang lain:
“...Amiin, maka semoga Allah menambah jarak di antara kita semakin jauh.”

وَرُوِيَ فِي الْأَثَرِ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: لَقَّنَنِي جِبْرِيلُ آمِينَ عِنْدَ فَرَاغِي مِنْ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ، وَقَالَ إِنَّهُ كَالْخَتْمِ عَلَى الْكِتَابِ، وَأَوْضَحَ ذَلِكَ عَلِيٌّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ فَقَالَ: آمِينَ خَاتَمُ رَبِّ الْعَالَمِينَ، خَتَمَ بِهِ دُعَاءَ عَبْدِهِ.
يُرِيدُ أَنَّهُ كَمَا يَمْنَعُ الْخَاتَمُ الِاطِّلَاعَ عَلَى الْمَخْتُومِ وَالتَّصَرُّفَ فِيهِ، يَمْنَعُ آمِينَ الْخَيْبَةَ عَنْ دُعَاءِ الْعَبْدِ.

Diriwayatkan dalam sebuah atsar (riwayat) bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Jibril mendiktekan kepadaku kata 'Aamiin' ketika aku selesai membaca Al-Fatihah, dan ia berkata bahwa itu seperti segel pada sebuah kitab." Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah memperjelas hal tersebut dengan mengatakan: "Aamiin adalah segel Tuhan semesta alam, yang dengannya Dia menyegel doa hamba-Nya."
Maksudnya adalah sebagaimana segel dapat mencegah orang lain melihat isi surat yang disegel atau mengubahnya, kata "Aamiin" juga mencegah kegagalan (tidak dikabulkannya) doa seorang hamba.

وَهَذَا اللَّفْظُ لَيْسَ مِنَ الْقُرْآنِ إِذْ لَمْ يَثْبُتْ فِي الْمَصَاحِفِ، وَلَا يَقُولُهُ الْإِمَامُ فِي الصَّلَاةِ، لِأَنَّهُ الدَّاعِي كَمَا قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ، وَالْمَشْهُورُ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ يَقُولُهُ وَيُخْفِيهِ وِفَاقًا لِرِوَايَةِ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، وَعِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ يَجْهَرُ بِهِ، كَمَا رَوَاهُ وَائِلُ بْنُ حُجْرٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: كَانَ إِذَا قَرَأَ وَلَا الضَّالِّينَ، قَالَ: آمِينَ وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ.

Lafaz ini bukan bagian dari Al-Qur'an karena tidak tercantum di dalam mushaf-mushaf. (Menurut sebagian ulama), imam tidak mengucapkannya dalam shalat karena dialah orang yang berdoa, sebagaimana dikatakan oleh Al-Hasan Al-Bashri. Namun, pendapat yang masyhur dari Abu Hanifah adalah bahwa imam tetap mengucapkannya tetapi dengan suara lirih (samar), selaras dengan riwayat Anas dari Nabi ﷺ. Sedangkan menurut madzhab Syafi'i, imam menyuarakan (mengeraskan) bacaannya, sebagaimana diriwayatkan oleh Wa'il bin Hujr dari Nabi ﷺ yang berkata: "Nabi apabila membaca 'waladh-dhoolliin', beliau mengucapkan: 'Aamiin' dan meninggikan (mengeraskan) suaranya."

وَيَرَى بَعْضُ عُلَمَاءِ الْآثَارِ الْمِصْرِيَّةِ فِي الْعَصْرِ الْحَاضِرِ أَنَّ كَلِمَةَ (آمِينَ) مَعْنَاهَا اللهُ، فَكَأَنَّهَا ذُكِرَتْ فِي آخِرِ الْفَاتِحَةِ لِلْخَتْمِ بِاسْمِهِ تَعَالَى إِشَارَةً إِلَى أَنَّ الْمَرْجِعَ كُلَّهُ إِلَيْهِ، وَيَعْقِدُونَ مُوَازَنَةً بَيْنَ (مِينُو) وَ(آمُونَ) وَ(آمِينَ).

وَيَرَى الثِّقَاتُ مِنْ عُلَمَاءِ اللُّغَاتِ السَّامِيَّةِ رَأْيَهُمْ، وَيَقُولُونَ: إِنَّهَا ذُكِرَتْ آخِرَ الْفَاتِحَةِ لِلتَّرَنُّمِ بِهَا بَعْدَ قِرَاءَةِ السُّورَةِ الَّتِي تَضَمَّنَتِ الْإِشَارَةَ إِلَى أَغْرَاضِ الْكِتَابِ الْكَرِيمِ.
وَيُؤَيِّدُونَ رَأْيَهُمْ بِأَنَّ الْمَزَامِيرَ خُتِمَتْ بِكَلِمَةِ (سَلَاهْ) لِلتَّرَنُّمِ بِهَا عَلَى هَذَا النَّحْوِ، وَيَكُونُ الْمَعْنَى الْعَامُّ: إِنَّا نَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ يَا إِلَهَنَا فَإِلَيْكَ الْمَرْجِعُ وَالْمَصِيرُ.

Sebagian pakar arkeologi Mesir di masa sekarang berpendapat bahwa kata "Aamiin" berarti Allah. Seolah-olah kata tersebut disebutkan di akhir Al-Fatihah sebagai penutup dengan nama Allah Yang Maha Tinggi, sebuah isyarat bahwa segala tempat kembali adalah kepada-Nya. Mereka juga membuat perbandingan antara kata (Minu/Min), (Amon/Amun), dan (Aamiin).
Para pakar tepercaya di bidang bahasa-bahasa Semit mendukung pandangan tersebut. Mereka mengatakan: "Kata itu disebutkan di akhir Al-Fatihah untuk dilantunkan (sebagai jeda berirama) setelah membaca surah yang mengandung isyarat tentang tujuan-tujuan Al-Qur'an yang mulia."
Mereka menguatkan pendapatnya dengan argumen bahwa kitab Mazmur (Zabur) juga ditutup dengan kata "Selah" untuk dilantunkan dengan cara yang sama. Sehingga, makna umumnya adalah: "Sesungguhnya kami menghadap kepada-Mu wahai Tuhan kami, dan hanya kepada-Mu tempat kembali serta tempat berpulang."
Islam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

Logika Diferensial dan Patologi Sosial Keagamaan

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa