Tafsir Hasyiah Al-Syawi Syarah Tafsir Al-Jalalain: Surah Al-Baqarah ayat 8

Tafsir Hasyiah Al-Syawi Syarah Tafsir Al-Jalalain: Surah Al-Baqarah ayat 8

Oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Syawi

Penyadur: Sudono Syueb 

بسم الله الرحمن الرحيم

تفسير الجلاادلين

ونزل في المنافقين (وَمِنَ الناس مَن يَقُولُ ءامَنَّا بالله وباليوم الأخر) أي يوم القيامة لأنه آخر الأيام (وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ) روعي فيه معنى ( مَن ) ، وفي ضمير ( يقول ) لفظها

8. (Di antara manusia ada orang yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir.") yaitu hari kiamat, karena hari itu adalah hari terakhir. (Padahal mereka bukan orang-orang yang beriman). Di sini ditekankan arti kata 'orang', jika kata ganti yang disebutkan lafalnya, yakni 'mereka'.

حاشية الصاوي

قَوْلُهُ: { وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ } يُحْتَمَلُ أَنَّ الْجَارَّ وَالْمَجْرُورَ خَبَرٌ مُقَدَّمٌ، وَ"مَنْ" اسْمٌ مَوْصُولٌ أَوْ نَكِرَةٌ مَوْصُوفَةٌ مُبْتَدَأٌ مُؤَخَّرٌ، وَجُمْلَةُ "يَقُولُ" إِمَّا صِلَةٌ أَوْ صِفَةٌ، وَالْمَعْنَى: الَّذِي يَقُولُ أَوْ فَرِيقٌ يَقُولُ مَا ذُكِرَ كَائِنٌ مِنَ النَّاسِ، وَرُدَّ ذَلِكَ بِأَنَّهُ لَا فَائِدَةَ فِي ذَلِكَ الْإِخْبَارِ. وَالْحَقُّ أَنْ يُقَالَ: إِنَّ "مَنْ" اسْمٌ بِمَعْنَى بَعْضٍ مُبْتَدَأٌ، أَوْ جُرَّ بِهَا لِأَنَّهَا عَلَى صُورَةِ الْحَرْفِ، أَوْ صِفَةٌ لِمَحْذُوفٍ بِمُبْتَدَأٍ تَقْدِيرُهُ "فَرِيقٌ مِنَ النَّاسِ"، وَخَبَرُهُ قَوْلُهُ { مَنْ يَقُولُ } إِلَخْ. وَعَهْدُهُ جَعْلُ الظَّرْفِ مُبْتَدَأً حَيْثُ كَانَ تَمَامُ الْفَائِدَةِ بِمَا بَعْدَهُ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: { وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ } [الجن: 11] وَقَوْلِهِ تَعَالَى: { وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ } [التوبة: 61].

Syarah Al-Sawi

Firman-Nya: 
 { وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ } 

{Dan di antara manusia ada orang-orang yang berkata} dapat berarti bahwa jar dan majrur (frasa preposisi) tersebut adalah khabar/predikat, dan lafad man ( من ) adalah isim maushul atau nakirah maushufah (kata ganti relatif atau kata benda tak tentu ) yang berfungsi sebagai mubtada' muakhar (subjek yang diakhirkan). 

Dan kalimat/frasa yaqulu/berkata, adalah shilah/ klausa relatif atau sifat/frasa deskriptif. Artinya ada orang-orang yang berkata, atau sekelompok orang yang berkata, seperti apa yang telah disebutkan.

Hal ini dibantah dengan alasan bahwa tidak ada manfaat dalam pernyataan seperti itu.

Pandangan yang benar adalah bahwa lafal man/ من adalah isim/kata benda yang berarti "beberapa," dan merupakan mubtada'/subjek. 

Karena berbentuk partikel, atau merupakan sifat/frasa deskriptif untuk mubtada'/subjek tersirat, takdirnya فريق من الناس "sekelompok orang," dan khabarnya/predikatnya adalah Firman-Nya "من يقول" (di antara orang-orang yang berkata), dan seterusnya.

Kebiasaan Allah adalah menjadikan dharaf/frasa keterangan sebagai mubtada'/subjek ketika makna lengkapnya disampaikan oleh apa yang mengikutinya, seperti dalam Firman Allah Yang Mahakuasa:{ومنا ذون ذالك-Dan di antara kita ada orang-orang yang lebih rendah dari itu}[Al-Jinn: 11] Dan firman-Nya, Yang Maha Tinggi، ومنهم الذين يؤدون النبي-Dan di antara mereka ada orang-orang yang membahayakan Nabi.[At-Tawbah: 61], 

وَأَصْلُ "نَاسٍ": "أُنَاسٌ"، أُتِيَ بِأَلْ بَدَلَ الْهَمْزَةِ، مُشْتَقٌّ مِنَ التَّأَنُّسِ لِتَأَنُّسِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ، وَتَسْمِيَةُ الْإِنْسِ بِهِ حَقِيقَةٌ، وَالْجِنِّ مَجَازٌ. وَقِيلَ: مُشْتَقٌّ مِنْ "نَاسَ" إِذَا تَحَرَّكَ، وَعَلَيْهِ فَتَسْمِيَةُ الْجِنِّ بِهِ حَقِيقَةٌ أَيْضًا، وَالْحَقُّ الْأَوَّلُ، وَلِذَا قِيلَ: لَمْ يُوجَدْ مُنَافِقٌ أَوْ مُشْرِكٌ إِلَّا فِي بَنِي آدَمَ فَقَطْ، وَكُفْرُ الْجِنِّ بِغَيْرِ الْإِشْرَاكِ وَالنِّفَاقِ، وَهُوَ جَمْعُ إِنْسَانٍ أَوْ إِنْسِيٍّ.

Dan asal kata “ناس”manusia adalah “اناس” dengan tambahan“al” sebagai pengganti hamzah, yang berasal dari التانس/ “persahabatan” karena keakraban mereka satu sama lain. Penamaan manusia dengan kata itu adalah nyata, sedangkan penamaan jin dengan kata itu adalah metafora. Telah dikatakan juga bahwa kata itu berasal dari “ناس” ketika mereka bergerak, dan karenanya, penamaan jin dengan kata itu juga nyata, dan yang pertama adalah yang benar. Oleh karena itu, telah dikatakan bahwa tidak ada orang munafik atau penyembah berhala kecuali di antara anak-anak Adam saja, dan kekafiran jin adalah tanpa kemusyrikan dan kemunafikan.
Kata ناس adalah bentuk jamak dari “انسان” atau “انسي”.

وَالْمُرَادُ مِنَ الْمُنَافِقِينَ هُنَا: بَعْضُ سُكَّانِ الْبَوَادِي وَبَعْضُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ فِي زَمَنِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَيْرُ مَا فَسَّرْتَهُ بِالْوَارِدِ، قَالَ تَعَالَى: { وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ } [التوبة: 101] الْآيَةَ.

Yang dimaksud dengan orang munafik di sini adalah sebagian penduduk padang pasir, sebagian penduduk Madinah pada zamannya,
semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, dan penafsiran terbaik adalah apa yang telah diwahyukan. Allah Yang Maha Kuasa berfirman:Dan di antara orang-orang Badui di sekitarmu ada orang-orang munafik, [dan juga] dari penduduk Madinah.[At-Tawbah: 101] Ayat.

قَوْلُهُ: { وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ } أَعَادَ الْجَارَّ لِإِفَادَةِ تَأَكُّدِ دَعْوَاهُمُ الْإِيمَانَ بِكُلِّ مَا جَاءَ بِهِ رَسُولُ اللهِ، فَرَدَّ عَلَيْهِمُ الْمَوْلَى بِأَبْلَغِ رَدٍّ بِقَوْلِهِ: { وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ } حَيْثُ أَتَى بِالْجُمْلَةِ الِاسْمِيَّةِ وَزَادَ الْجَارَّ فِي الْخَبَرِ.
قَوْلُهُ: (لِأَنَّهُ آخِرُ الْأَيَّامِ) عِلَّةٌ لِتَسْمِيَتِهِ الْيَوْمَ الْآخِرَ، وَالْمُرَادُ بِالْأَيَّامِ: الْأَوْقَاتُ. وَهَلِ الْمُرَادُ الْأَوْقَاتُ الْمَحْدُودَةُ؟ وَهُوَ بِنَاءً عَلَى أَنَّ أَوَّلَهُ النَّفْخَةُ وَآخِرَهُ الِاسْتِقْرَارُ فِي الدَّارَيْنِ، أَوْ الْأَوْقَاتُ الْغَيْرُ الْمَحْدُودَةِ بِنَاءً عَلَى أَنَّهُ لَا نِهَايَةَ لَهُ.

Firman-Nya: {Dan dengan Hari Akhir}. Beliau mengulangi frasa preposisional untuk menekankan kepastian klaim mereka untuk mempercayai segala sesuatu yang dibawa oleh Rasulullah. Maka Tuhan menjawab mereka dengan bantahan yang paling fasih dengan berfirman: {وماهم بمؤمنين/Dan mereka bukanlah orang-orang yang beriman}.
 
Di mana Allah mendatangkan jumlah ismiyah (kalimat nominal) dan menambahkan huruf jar pada khabar-nya.

Perkataan penulis: (لانه اخر الايام-Karena ia adalah hari terakhir) merupakan alasan penamaan "Hari Akhir". Yang dimaksud dengan "hari-hari" di sini adalah waktu-waktu. Apakah yang dimaksud adalah waktu-waktu yang terbatas? Hal ini berdasarkan pendapat bahwa permulaannya adalah tiupan sangkakala dan akhirnya adalah menetapnya (manusia) di dua tempat (surga atau neraka). Atau yang dimaksud adalah waktu-waktu yang tidak terbatas, berdasarkan pendapat bahwa tidak ada akhir baginya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

Logika Diferensial dan Patologi Sosial Keagamaan

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa