Tafsir Hasyiyah Al-Shawi Syarah Tafsir Al-Jalalai: Surah Al-Baqarah ayat 3
Tafsir Hasyiyah Al-Shawi Syarah Tafsir Al-Jalalai: Surah Al-Baqarah ayat 3
Oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Shawi
Penyadur Sudono Syueb
القران ٣
بسم الله الرحمن الرحيم
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِا لْغَيْبِ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ.٣
3. "(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,"
Syarah Hasyian Al-Shawi
قَوْلُهُ: ﴿ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ﴾ هَذَا تَفْصِيلٌ لِبَعْضِ صِفَاتِ الْمُتَّقِينَ وَخَصَّهَا لِأَنَّهَا أَعْلَى الْأَوْصَافِ، وَهُوَ فِي مَحَلِّ جَرٍّ صِفَةٌ لِلْمُتَّقِينَ، أَوْ رَفْعٌ خَبَرٌ لِمَحْذُوفٍ، أَوْ نَصْبٌ مَفْعُولٌ لِمَحْذُوفٍ، وَيَصِحُّ أَنْ يَكُونَ مُسْتَأْنَفاً مُبْتَدَأً خَبَرُهُ قَوْلُهُ ﴿أُوْلَـٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى﴾، وَعَلَى هَذَا فَالْوَقْفُ عَلَى الْمُتَّقِينَ تَامٌّ لِعَدَمِ ارْتِبَاطِهِ بِمَا بَعْدَهُ، وَعَلَى الْإِعْرَابِ الْأَوَّلِ فَهُوَ حَسَنٌ لِأَنَّهُ رَأْسُ آيَةٍ وَإِنْ كَانَ لَهُ ارْتِبَاطٌ بِمَا بَعْدَهُ.
Firman-Nya:
﴿ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ ﴾
(Yaitu orang-orang yang beriman)
Ini adalah perincian untuk sebagian sifat orang-orang yang bertakwa (al-muttaqin). Sifat ini dikhususkan karena merupakan kedudukan yang paling tinggi. Secara tata bahasa (i'rab), frasa ini berkedudukan jar sebagai sifat (na'at) bagi kata al-muttaqin, atau rafa' sebagai kabar (khabar) dari mubtada yang dibuang, atau nasab sebagai objek (maf'ul bih) dari kata kerja yang dibuang. Bisa juga berkedudukan sebagai kalimat baru (musta'nafah) yang berfungsi sebagai mubtada, sedangkan kabarnya adalah perkataan-Nya:
﴿ أُوْلَـٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى ﴾.
Atas dasar pendapat terakhir ini, maka waqaf (berhenti membaca) pada kata al-muttaqin berstatus tamm (sempurna) karena tidak adanya keterkaitan struktural dengan kalimat setelahnya. Namun, berdasarkan pendapat i'rab yang pertama, waqaf di sana berstatus hasan (baik) karena merupakan kepala (akhir) ayat, meskipun secara makna masih memiliki keterkaitan dengan kalimat setelahnya.
قَوْلُهُ: (بِمَا غَيْبٍ) أَشَارَ بِذَلِكَ إِلَى إِطْلَاقِ الْمَصْدَرِ وَإِرَادَةِ اسْمِ الْفَاعِلِ، وَمَا غَابَ عَنْهَا قِسْمَانِ: مَا دَلَّ عَلَيْهِ دَلِيلٌ عَقْلِيٌّ أَوْ سَمْعِيٌّ، كَالْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْعَرْشِ وَالْكُرْسِيِّ وَاللَّوْحِ وَالْقَلَمِ وَالْمَوْلَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصِفَاتِهِ، وَمَا لَمْ يَدُلَّ عَلَيْهِ كَالسَّاعَةِ وَوَقْتِ نُزُولِ الْمَطَرِ، وَمَا فِي الْأَرْحَامِ وَبَاقِي الْخَمْسَةِ الْمَذْكُورَةِ فِي الْآيَةِ. وَأَمَّا الشَّهَادَةُ فَهِيَ مَا ظَهَرَ لَنَا حِساً أَوْ عَقْلاً بِبَدَاهَةِ الْعَقْلِ كَالْوَاحِدِ نِصْفُ الِاثْنَيْنِ وَأَنَّ الْجِرْمَ مُتَحَيِّزٌ.
Perkataan beliau: (Terhadap apa yang gaib)
Dengan penjelasan ini, beliau mengisyaratkan pengalihan makna bentuk masdar (al-ghaib) menjadi makna isim fa'il (mā ghāba - apa yang gaib). Sesuatu yang gaib dari kita terbagi menjadi dua macam:
Sesuatu yang ditunjukkan oleh dalil akal maupun dalil naqli (sam'i), seperti surga, neraka, malaikat, 'Arsy, Kursi, Lauhulmahfuz, Qalam, serta Allah Subhanahu wa Ta'ala beserta sifat-sifat-Nya.
Sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh dalil sama sekali (hanya diketahui Allah), seperti kapan terjadinya kiamat, waktu turunnya hujan, apa yang ada di dalam rahim, serta sisa dari lima perkara gaib lainnya yang disebutkan dalam ayat Al-Qur'an.
Adapun syahadah (nyata) adalah apa yang tampak bagi kita, baik melalui panca indra maupun akal secara aksiomatik (badihah al-'aql), seperti pemahaman bahwa angka satu adalah setengah dari angka dua, dan bahwa suatu materi itu pasti mengambil ruang.
قَوْلُهُ: (مِنَ الْبَعْثِ إِلَخْ) بَيَانٌ لِمَا. وَقَوْلُهُ: (وَالْجَنَّةِ وَالنَّارِ) عَطْفٌ عَلَيْهِ، أَيْ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا قَامَ لَنَا الدَّلِيلُ عَلَيْهِ، وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَبْقَى الْغَيْبُ عَلَى مَصْدَرِيَّتِهِ وَالْبَاءُ مُتَعَلِّقَةٌ بِمَحْذُوفٍ حَالٍ أَيْ إِيمَاناً مُلْتَبِساً بِحَالَةِ الْغَيْبَةِ، فَفِيهَا بَيَانٌ لِحَالِ الْمُؤْمِنِينَ الْخَالِصِينَ وَتَعْرِيضٌ لِحَالِ الْمُنَافِقِينَ، فَإِنَّهُمْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ ظَاهِراً فَقَطْ، فَمَدَحَ اللَّهُ مَنْ يُؤْمِنُ فِي حَالِ غَيْبَتِهِ عَنْ كُلِّ أَحَدٍ كَمَا يُؤْمِنُ ظَاهِراً، وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُرَادَ بِالْغَيْبِ الْقَلْبُ سُمِّيَ بِذَلِكَ لِخَفَائِهِ أَيْ يُؤْمِنُونَ بِحَالَةِ السِّرِّ وَهُوَ الْإِيمَانُ الْقَلْبِيُّ، فَالْمَصْدَرُ بَاقٍ عَلَى حَالِهِ وَفِيهِ رَدٌّ عَلَى الْمُنَافِقِينَ أَيْضاً حَيْثُ قَالُوا بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ.
Perkataan beliau: (Berupa hari kebangkitan, dst.)
Ini adalah penjelasan (bayan) bagi kata mā (apa yang). Sedangkan perkataan beliau: (Serta surga dan neraka) diathafkan (disambungkan) kepadanya, maksudnya adalah hal-hal sejenis yang dalilnya telah tegak bagi kita. Ada kemungkinan juga kata al-ghaib tetap pada makna masdarnya, dan huruf ba' berkaitan dengan kondisi (hal) yang dibuang, sehingga maknanya: "Kami beriman dalam keadaan gaib (tersembunyi dari pandangan manusia)". Dalam penafsiran ini,
Dalam penafsiran ini, terdapat penjelasan tentang keadaan orang-orang mukmin yang ikhlas sekaligus sindiran bagi kaum munafik. Sebab, kaum munafik hanya beriman secara lahiriah saja. Maka Allah memuji orang yang beriman saat ia tersembunyi dari semua orang, sama sebagaimana ia beriman secara terang-terangan. Kemungkinan lain, yang dimaksud dengan al-ghaib adalah hati, dinamakan demikian karena sifatnya yang tersembunyi. Artinya, mereka beriman dalam kondisi rahasia, yaitu iman di dalam hati. Dengan demikian, bentuk masdar tetap pada maknanya, dan ini juga mengandung bantahan terhadap kaum munafik yang mengatakan dengan lisan mereka apa yang tidak ada di dalam hati mereka.
قَوْلُهُ: ﴿ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلٰوةَ ﴾ إِمَّا مَأْخُوذَةٌ مِنَ الصَّلَاةِ اللُّغَوِيَّةِ بِمَعْنَى الدُّعَاءِ لِأَنَّهَا مُشْتَمِلَةٌ عَلَيْهِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ، وَعَلَيْهِ فَأَصْلُهَا (صَلَوَةٌ) تَحَرَّكَاتِ الْوَاوُ وَانْفَتَحَ مَا قَبْلَهَا فَقُلِبَتْ أَلِفاً، وَقِيلَ مِنَ الْوَصْلَةِ لِأَنَّهَا وَصْلَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ، وَعَلَيْهِ فَأَصْلُهَا (وَصْلَةٌ) قُلِبَتْ أَلِفاً مَكَانِيّاً فَصَارَ (صَلَوَةٌ) تَحَرَّكَتِ الْوَاوُ وَانْفَتَحَ مَا قَبْلَهَا فَقُلِبَتْ أَلِفاً.
Firman-Nya;
(Dan mereka mendirikan salat)
Kata ash-shalah bisa jadi diambil dari makna salat secara bahasa, yaitu doa, karena salat mencakup doa di dalam rukuk dan sujudnya. Berdasarkan pendapat ini, asal katanya adalah shalawatun, lalu huruf wawu berharakat dan huruf sebelumnya berbaris fathah, sehingga huruf wawu tersebut diganti menjadi alif. Ada pula yang berpendapat bahwa kata ini diambil dari kata al-wushlah (penghubung), karena salat adalah penghubung antara seorang hamba dengan Tuhannya. Berdasarkan pendapat ini, asal katanya adalah wushlatun, lalu terjadi perubahan posisi huruf (qalb makani) sehingga menjadi shalawatun, kemudian huruf wawu berharakat dan huruf sebelumnya berbaris fathah, lalu diganti menjadi alif.
وَقَوْلُهُ: ﴿ وَيُقِيمُونَ ﴾ مِنْ (قَوَّمْتُ الْعُودَ) عَدَّلْتُهُ. قَوْلُهُ: (أَيْ يَأْتُونَ بِحُقُوقِهَا) أَيِ الظَّاهِرِيَّةِ qكَالشُّرُوطِ وَالْآدَابِ وَالْأَرْكَانِ، وَالْبَاطِنِيَّةِ كَالْخُشُوعِ وَالْخُضُوعِ وَالْإِخْلَاصِ.
Firman-Nya:
﴿ وَيُقِيمُونَ ﴾
berasal dari kata qawwamtu al-'ūda yang berarti "aku meluruskan kayu".
Perkataan beliau: (Maksudnya, mereka menunaikan hak-haknya)
Yaitu hak-hak lahiriah seperti syarat-syarat, adab-adab, dan rukun-rukunnya; serta hak-hak batiniah seperti khusyuk, tunduk, dan ikhlas.
قَوْلُهُ: ﴿ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ ﴾ فِيهِ حَذْفُ نُونِ (مِنْ) التَّبْعِيضِيَّةِ لَفْظاً وَخَطّاً لِإِدْغَامِهَا فِي (مَا) الْمَوْصُولَةِ، وَ(رَزَقْنَا) صِلَةُ الْمَوْصُولِ، وَ(نَا) فَاعِلٌ، وَالْهَاءُ مَفْعُولٌ أَوَّلُ، وَحُذِفَ الْمَفْعُولُ الثَّانِي فَيَصِحُّ تَقْدِيرُهُ مُتِصِلاً أَيْ (رَزَقْنَاهُمُوهُ)، أَوْ مُنْفَصِلاً أَيْ (رَزَقْنَاهُمْ إِيَّاهُ) عَلَى حَدِّ قَوْلِ ابْنِ مَالِكٍ (وَصِلْ أَوِ افْصِلْ هَاءَ سَلْنِيهِ). قَوْلُهُ: (أَعْطَيْنَاكُمْ) أَشَارَ بِذَلِكَ إِلَى أَنَّ الرِّزْقَ مَعْنَاهُ الْمِلْكُ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِهِ الرِّزْقَ الْحَقِيقِيَّ، إِذْ لَا يَتَأَتَّى تَعَدِّيهِ لِغَيْرِهِ، وَقُدَّمَ الْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ لِلِاهْتِمَامِ.
Firman-Nya: (Kami berikan kepada kalian)
Dengan ini beliau mengisyaratkan bahwa rezeki di sini bermakna kepemilikan, bukan rezeki dalam arti hakiki (makanan/manfaat yang diserap tubuh). Sebab, makna hakiki tidak dapat dialihkan (dinfakkan) kepada orang lain. Struktur kata depan dan kata ganti (jar wa majrur) didahulukan di sini untuk menunjukkan urgensi (al-ihtimām).
قَوْلُهُ: ﴿ يُنْفِقُونَ ﴾ أَيْ إِنْفَاقاً وَاجِباً كَالزَّكَاةِ وَالنَّفَقَةِ عَلَى الْوَالِدَيْنِ وَالْعِيَالِ، أَوْ مَنْدُوباً كَالتَّوْسِعَةِ عَلَى الْعِيَالِ وَمُوَاسَاةِ الْأَقَارِبِ وَالْفُقَرَاءِ. قَوْلُهُ: (فِي طَاعَةِ اللَّهِ) فِي تَعْلِيلِهِ أَيْ مِنْ أَجْلِ طَاعَةِ اللَّهِ لَا رِيَاءَ وَلَا سُمْعَةَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ ﴾ [الْإِنْسَانِ: ٩].
الْآيَاتُ مِن ٤ إِلَى ٥ مِن ٦.q
Perkataan-Nya:
﴿ يُنْفِقُونَ ﴾
(Mereka menafkahkan)
Maksudnya adalah nafkah yang wajib seperti zakat serta nafkah kepada kedua orang tua dan keluarga, atau nafkah yang sunah (mandub) seperti memberi kelapangan lebih bagi keluarga serta membantu kerabat dan orang-orang fakir.
Perkataan beliau: (Dalam ketaatan kepada Allah)
Ini berfungsi sebagai alasan (ta'lil), yaitu berinfak demi menaati Allah, bukan karena riya (ingin dilihat) atau qsum'ah (ingin didengar). Allah Ta'ala berfirman:
﴿ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوجْهِ ٱللَّهِ ﴾
"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah." [QS. Al-Insan: 9].
Komentar
Posting Komentar