Tafsir Hasyiyah Al-Shawi Syarah Tafsir Al-Jalalain: Surah Al-Baqarah ayat 10-12

Tafsir Hasyiyah Al-Shawi Syarah Tafsir Al-Jalalain: Surah Al-Baqarah ayat 10-12

Oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Shawi

Penyadur Sudono Syueb


 فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ ۙ فَزَا دَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًا ۚ وَلَهُمْ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ ۙ بِۢمَا كَا نُوْا يَكْذِبُوْنَ.١٠
وَاِ ذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَ رْضِ ۙ قَا لُوْاۤ اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ.١١
اَ لَاۤ اِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلٰـكِنْ لَّا يَشْعُرُوْنَ. ١٢

تفسير الجلالين

(فى قُلُوبِهِمْ مَّرَضٌ) شك ونفاق فهو يُمْرِضُ قلوبهم أي يضعفها (فَزَادَهُمُ الله مَرَضًا) بما أنزله من القرآن لكفرهم به (وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ مؤلم بِمَا كَانُواْ يَكْذِّبُونَ) بالتشديد أي نبي الله وبالتخفيف أي في قولهم آمنا.١٠

10. (Dalam hati mereka ada penyakit) berupa keragu-raguan dan kemunafikan yang menyebabkan sakit atau lemahnya hati mereka. (Lalu ditambah Allah penyakit mereka) dengan menurunkan Alquran yang mereka ingkari itu. (Dan bagi mereka siksa yang pedih) yang menyakitkan (disebabkan kedustaan mereka.) Yukadzdzibuuna dibaca pakai tasydid, artinya amat mendustakan, yakni terhadap Nabi Allah dan tanpa tasydid 'yakdzibuuna' yang berarti berdusta, yakni dengan mengakui beriman padahal tidak.

(وإِذَا قِيلَ لَهُمْ) أي لهؤلاء( لاَ تُفْسِدُواْ فِى الأرض) بالكفر والتعويق عن الإيمان (قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ) وليس ما نحن فيه بفساد . قال الله تعالى ردّاً عليهم : ١١

11. (Dan jika dikatakan kepada mereka,) maksudnya kepada orang-orang munafik tadi ("Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi!") yakni dengan kekafiran dan menyimpang dari keimanan. (Jawab mereka, "Sesungguhnya kami ini berbuat kebaikan.") dan tidak dijumpai pada perbuatan kami hal-hal yang menjurus pada kebinasaan. Maka Allah swt. berfirman sebagai sanggahan atas ucapan mereka itu:

ءَلآ للتنبيه إِنَّهُمْ هُمُ المفسدون ولكن لاَّ يَشْعُرُونَ بذلك

012. (Ingatlah!) Seruan untuk membangkitkan perhatian. (Sesungguhnya mereka itulah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar) akan kenyataan itu.

حاشية الصاوي

قَوْلُهُ: ﴿فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ﴾ يُطْلَقُ عَلَى الْحِسِّيِّ وَهُوَ الْحُرْقَةُ، وَعَلَى الْمَعْنَوِيِّ وَهُوَ الشَّكُّ وَالنِّفَاقُ، وَلَا شَكَّ أَنَّ فِي قُلُوبِهِمُ الْمَرَضَيْنِ وَالْمَعْنَوِيُّ سَبَبٌ فِي الْحِسِّيِّ، فَقَوْلُهُ (شَكٌّ وَنِفَاقٌ) إِشَارَةٌ لِلْمَرَضِ الْمَعْنَوِيِّ، وَقَوْلُهُ (فَهُوَ يُمْرِضُ قُلُوبَهُمْ) بَيَانٌ لِمَا يَتَسَبَّبُ عَنْهُ، وَهُوَ إِشَارَةٌ لِلْحِسِّيِّ، وَهِيَ فِي مَحَلِّ التَّعْلِيلِ لِمَا قَبْلَهَا. 

Perkataan Penulis: "Dalam hati mereka ada penyakit"
Istilah ini digunakan untuk penyakit fisik (inderawi), yaitu rasa panas/perih di dada, dan untuk penyakit maknawi (spiritual), yaitu keraguan dan kemunafikan. Tidak diragukan lagi bahwa di dalam hati mereka terdapat kedua jenis penyakit tersebut, dan penyakit maknawi menjadi penyebab timbulnya penyakit fisik. Maka perkataan penulis (keraguan dan kemunafikan) adalah isyarat bagi penyakit maknawi, sedangkan perkataan (maka hal itu membuat hati mereka sakit) adalah penjelasan mengenai dampak yang ditimbulkannya, yang merupakan isyarat bagi penyakit fisik. Klausa ini berkedudukan sebagai alasan (ta'lil) bagi kalimat sebelumnya.

قَوْلُهُ: (بِمَا أَنْزَلَهُ مِنَ الْقُرْآنِ) أَشَارَ بِذَلِكَ إِلَى أَنَّ نُزُولَ الْقُرْآنِ يَزِيدُ الْكَافِرَ وَالْمُنَافِقَ مَرَضاً بِمَعْنَى كُفْراً وَشَكّاً فَيَنْشَأُ عَنْهُ الْمَرَضُ الْحِسِّيُّ، كَمَا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ إِيمَاناً فَيَنْشَأُ عَنْهُ الْبَهْجَةُ وَالسُّرُورُ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِذَا مَآ أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَـٰذِهِ إِيمَاناً﴾ [التوبة: ١٢٤] الْآيَاتِ.

Perkataan Penulis: "(Dengan apa yang diturunkan-Nya dari Al-Qur'an)"
Dengan kalimat ini, beliau mengisyaratkan bahwa turunnya Al-Qur'an justru menambah penyakit bagi orang kafir dan munafik—yakni menambah kekafiran dan keraguan mereka—sehingga memicu timbulnya penyakit fisik. 

Sebaliknya, Al-Qur'an menambah keimanan bagi orang mukmin, sehingga melahirkan kegembiraan dan kebahagiaan dalam diri mereka. Allah6 Ta'ala berfirman: "Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan surah ini?'..." [QS. At-Tawbah: 124] hingga akhir ayat.

 وَيُحْتَمَلُ أَنَّ الْمُرَادَ بِمَا أَنْزَلَهُ أَيْ فِي حَقِّهِمْ مِنْ فَضِيحَتِهِمْ خُصُوصاً بِسُورَةِ التَّوْبَةِ فَإِنَّهَا تُسَمَّى الْفَاضِحَةَ. قَوْلُهُ: (مُؤْلِمٌ) يُقْرَأُ اسْمَ مَفْعُولٍ أَيِ الْعَذَابُ يَتَأَلَّمُ مِنْ شِدَّتِهِ فَكَأَنَّهُ لِشِدَّتِهِ كَأَنَّ الْأَلَمَ قَائِمٌ بِهِ وَهُوَ أَبْلَغُ، وَيَصِحُّ قِرَاءَتُهُ اسْمَ فَاعِلٍ وَلَا بَلَاغَةَ فِيهِ. قَوْلُهُ: (أَيْ نَبِيَّ اللهِ) إِشَارَةٌ إِلَى الْمَفْعُولِ، وَقَوْلُهُ (أَيْ فِي قَوْلِهِمْ) إِشَارَةٌ إِلَى الْمُتَعَلِّقِ عَلَى الْقِرَاءَةِ الثَّانِيَةِ.
Ada kemungkinan juga bahwa maksud dari "apa yang diturunkan-Nya" adalah wahyu yang turun mengenai urusan mereka, khususnya terkait pembongkaran aib mereka di dalam Surah At-Tawbah, karena surah tersebut memang dinamakan Al-Fadhihah (surah yang membongkar aib).


Perkataan Penulis: "(Pedih / Mu'lim)"
Dapat dibaca sebagai Isim Maf'ul (yang dipedihkan), artinya azab tersebut terasa pedih karena kedahsyatannya. Seolah-olah karena saking dahsyatnya, rasa sakit itu melekat erat pada azab itu sendiri, dan bacaan ini lebih balaghah (indah sastranya). Namun, sah juga dibaca sebagai Isim Fa'il (yang memedihkan), hanya saja tidak mengandung nilai balaghah yang tinggi.

Perkataan Penulis: "(Yaitu Nabi Allah)"
Ini merupakan isyarat kepada objek (maf'ul). Dan perkataan beliau (yaitu dalam ucapan mereka) adalah isyarat kepada kata yang berkaitan (muta'alliq) berdasarkan variasi bacaan (qira'at) kedua.

قَوْلُهُ: ﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ﴾ شُرُوعٌ فِي ذِكْرِ قَبَائِحِهِمْ وَأَحْوَالِهِمُ الشَّنِيعَةِ، وَفِي الْحَقِيقَةِ هُوَ تَفْصِيلُ الْمُخَادَعَةِ الْحَاصِلَةِ مِنْهُمْ، وَهَذِهِ الْجُمْلَةُ يُحْتَمَلُ أَنَّهَا اسْتِئْنَافِيَّةٌ، وَيُحْتَمَلُ أَنَّهَا مَعْطُوفَةٌ عَلَى "يَكْذِبُونَ" أَوْ عَلَى صِلَةِ "مَنْ" وَهِيَ "يَقُولُ" التَّقْدِيرُ: مِنْ صِفَاتِهِمْ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ آمَنَّا إِلَخْ، وَمِنْ صِفَاتِهِمْ أَنَّهُمْ ﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ﴾ إِلَخْ، وَأَصْلُ "قِيلَ" "قُوِلَ" اسْتُثْقِلَتِ الْكَسْرَةُ عَلَى الْوَاوِ فَنُقِلَتْ إِلَى مَا قَبْلَهَا بَعْدَ سَلْبِ حَرَكَتِهَا ثُمَّ وَقَعَتِ الْوَاوُ سَاكِنَةً بَعْدَ كَسْرَةٍ قُلِبَتْ يَاءً، وَفَاعِلُ الْقَوْلِ قِيلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقِيلَ النَّبِيُّ وَالصَّحَابَةُ وَمَقُولُ الْقَوْلِ جُمْلَةُ ﴿لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ﴾ فِي مَحَلِّ نَصْبٍ وَهِيَ نَائِبُ الْفَاعِلِ بِاعْتِبَارِ لَفْظِهَا.

Perkataan Penulis: "Dan apabila dikatakan kepada mereka"
Ini adalah awal dari penyebutan keburukan-keburukan serta kondisi mereka yang keji. Pada hakikatnya, kalimat ini merupakan rincian dari tipu daya yang mereka lakukan. Kalimat (jumlah) ini kemungkinan berstatus sebagai kalimat baru (isti'nafiyyah), atau diathafkan (disambungkan) kepada kata yakdzibun, atau disambungkan pada shilah man yaitu kata yaqulu. Bentuk takdir (rekonstruksi makna) kalimatnya adalah: "Di antara sifat mereka adalah mereka berkata 'kami beriman' dst, dan di antara sifat mereka adalah apabila dikatakan kepada mereka 'janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi' dst."
Asal-usul kata Qiila (قِيلَ) adalah Quwila (قُوِلَ). Harakat kasrah pada huruf wawu dirasa berat, maka harakat tersebut dipindahkan ke huruf sebelumnya (yaitu qaf) setelah menghapus harakat asli huruf qaf. Kemudian, huruf wawu tersebut menjadi sukun setelah harakat kasrah, sehingga diubah menjadi huruf ya'. Pelaku ucapan (fa'il) dari kata "dikatakan" ini adakalanya adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau Nabi, atau para sahabat. Sedangkan isi ucapan (maqul al-qaul) yaitu kalimat “Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi” berkedudukan nasab dan berfungsi sebagai pengganti pelaku (na'ib al-fa'il) ditinjau dari lafaznya.

 قَوْلُهُ: (بِالْكُفْرِ) الْبَاءُ سَبَبِيَّةٌ بَيَانٌ لِسَبَبِ الْإِفْسَادِ، وَقَوْلُهُ: (وَالتَّعْوِيقِ عَنِ الْإِيمَانِ) مَعْطُوفٌ عَلَيْهِ أَيْ تَعْوِيقِ الْغَيْرِ عَنِ الْإِيمَانِ وَصَدِّهِمْ عَنْهُ.
قَوْلُهُ: ﴿إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ﴾ أَيْ لَيْسَ شَأْنُنَا الْإِفْسَادَ أَبَداً، بَلْ نَحْنُ مَحْصُورُونَ لِلْإِصْلَاحِ وَلَا نَخْرُجُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ فَهُوَ فِي حَصْرِ الْمُبْتَدَأِ فِي الْخَبَرِ، وَأَكَّدُوا ذَلِكَ بِإِنَّمَا الْمُفِيدَةِ الْحَصْرَ، وَبِالْجُمْلَةِ الْاِسْمِيَّةِ الْمُفِيدَةِ الدَّوَامَ وَالْاِسْتِمْرَارَ، فَرَدَّ عَلَيْهِمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِجُمْلَةٍ مُؤَكَّدَةٍ بِأَرْبَعِ تَأْكِيدَاتٍ: "أَلَا" الَّتِي لِلتَّنْبِيهِ وَ"إِنَّ" وَضَمِيرِ الْفَصْلِ وَتَعْرِيفِ الْخَبَرِ.
Perkataan Penulis: "(Dengan kekafiran)"
Huruf ba' di sini berfungsi sebagai sababiyyah (menunjukkan sebab), yaitu penjelasan mengenai penyebab terjadinya kerusakan. Sedangkan perkataan beliau (dan menghalang-halangi dari keimanan) diathafkan kepadanya, maksudnya adalah menghalangi orang lain dari keimanan dan memalingkan mereka darinya.
Perkataan Penulis: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan"
Artinya, karakter kami sama sekali bukanlah berbuat kerusakan. Bahkan, diri kami hanya terbatas untuk melakukan perbaikan dan kami tidak akan keluar dari zona perbaikan tersebut ke hal lainnya. Ini termasuk dalam kategori pembatasan subjek pada predikat (hashr al-mubtada' fi al-khabar). Mereka mempertegas klaim tersebut dengan kata Innama yang berfungsi membatasi (hashr), serta menggunakan kalimat nominal (jumlah ismiyyah) yang memberikan makna kontinuitas dan kelestarian (al-dawam wa al-istimrar). Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala membantah mereka dengan kalimat yang dikuatkan dengan empat penguat (taukid), yaitu: Ala yang berfungsi untuk peringatan (tanbih), Inna, kata ganti pemisah (dhamir al-fashl), dan predikat yang berbentuk makrifat (ta'rif al-khabar).

 قَوْلُهُ: (لِلتَّنْبِيهِ) وَتَأْتِي أَيْضاً لِلْاِسْتِفْتَاحِ وَلِلْعَرْضِ وَالتَّحْضِيضِ، وَفِي الْحَقِيقَةِ الْاِسْتِفْتَاحُ وَالتَّنْبِيهُ شَيْءٌ وَاحِدٌ، وَتَدْخُلُ إِذَا كَانَتْ لَهُمَا عَلَى الْجُمْلَةِ الْاِسْمِيَّةِ وَالْفِعْلِيَّةِ، وَأَمَّا إِذَا كَانَتْ لِلْعَرْضِ وَالتَّحْضِيضِ، فَإِنَّهَا تَخْتَصُّ بِالْأَفْعَالِ وَهِيَ بَسِيطَةٌ عَلَى التَّحْقِيقِ لَا مُرَكَّبَةٌ مِنْ هَمْزَةِ الْاِسْتِفْهَامِ وَلَا النَّافِيَةِ. قَوْلُهُ: ﴿وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ﴾ (بِذَلِكَ) أَيْ لَيْسَ عِنْدَهُمْ شُعُورٌ بِالْإِفْسَادِ لِطَمْسِ بَصِيرَتِهِمْ، وَعَبَّرَ بِالشُّعُورِ دُونَ الْعِلْمِ، إِشَارَةً إِلَى أَنَّهُمْ لَمْ يَصِلُوا إِلَى رُتْبَةِ الْبَهَائِمِ تَمْتَنِعُ مِنَ الْمَضَارِّ فَلَا تَقْرَبُهَا لِشُعُورِهَا بِخِلَافِ هَؤُلَاءِ.

Perkataan Penulis: "(Untuk peringatan/Tanbih)"
Kata ini juga bisa berfungsi sebagai pembuka kalimat (istiftah), tawaran ('ardh), atau dorongan (tahdhidh). Pada hakikatnya, istiftah dan tanbih adalah satu hal yang sama. Jika berfungsi sebagai keduanya, kata ini dapat masuk ke dalam kalimat nominal (jumlah ismiyyah) maupun kalimat verbal (jumlah fi'liyyah). Namun, jika berfungsi sebagai 'ardh dan tahdhidh, ia khusus masuk pada kata kerja (fi'il) saja. Kata ini merupakan kata tunggal (basithah) menurut pendapat yang kuat, bukan susunan (murakkabah) dari hamzah istifham (tanya) dan laa nafiyah (negasi).
Perkataan Penulis: "Akan tetapi mereka tidak menyadari"
(Akan hal itu), maksudnya mereka tidak memiliki kepekaan terhadap kerusakan yang mereka perbuat karena butanya mata hati mereka. Di sini digunakan kata syu'ur (menyadari/merasakan) dan bukan kata 'ilm (mengetahui), sebagai isyarat bahwa mereka bahkan belum mencapai derajat hewan ternak. Hewan saja akan menghindar dari hal-hal yang membahayakannya dan tidak akan mendekatinya karena memiliki insting/kepekaan (syu'ur), berbeda halnya dengan orang-orang munafik ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

Logika Diferensial dan Patologi Sosial Keagamaan

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa