Tafsir Hasyiyah Al-Shawi Syarah Tafsir Al-Jalalain Surah Al-Baqarah ayat 2

Tafsir Hasyiyah Al-Shawi Syarah Tafsir Al-Jalalain Surah Al-Baqarah ayat 2
Oleh Syaikh Ahmad bin Muhamnad Al-Shawi

Penyadur Sudono Syueb

بسم الله الرحمن الرحيم

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ  ۛ  فِيْهِ  ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ ٢

2. "lnilah Kitab (Al-Qur'an), tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa,"

قَوْلُهُ: ﴿ ذٰلِكَ ﴾ اِسْمُ الْإِشَارَةِ مُبْتَدَأٌ، وَاللَّامُ لِلْبُعْدِ، وَالْكَافُ حَرْفُ خِطَابٍ.
Firman-Nya: { ذَلِكَ ] Kata tunjuk (isim isyarah) berkedudukan sebagai mubtada (subjek). Huruf lam menunjukkan jarak jauh (lil bu'di), dan huruf kaf adalah huruf khitab (lawan bicara). 

 وَالْكِتَابُ نَعْتٌ لِاسْمِ الْإِشَارَةِ أَوْ عَطْفُ بَيَانٍ. وَجُمْلَةُ «لَا رَيْبَ فِيهِ» خَبَرٌ كَمَا قَالَ الْمُفَسِّرُ.

Kata al-kitab menjadi na'at (sifat) untuk isim isyarah atau sebagai 'athaf bayan. Sedangkan jumlah (klausa) la raiba fihi menjadi khabar (predikat), sebagaimana yang dikatakan oleh ahli tafsir.

 قَوْلُهُ: (أَيْ هٰذَا) أَشَارَ بِذٰلِكَ إِلَىٰ أَنَّ حَقَّ الْإِشَارَةِ أَنْ يُؤْتَىٰ بِهَا لِلْقَرِيبِ، وَسَيَأْتِي الْجَوَابُ عَنْهُ.

Kata penulis: (ذالك-artinya: ini) Dengan perkataan ini, ia mengisyaratkan bahwa hakikat sebuah isyarat (kata tunjuk) seharusnya digunakan untuk sesuatu yang dekat, dan jawaban mengenai hal ini akan dijelaskan nanti.

 قَوْلُهُ: ﴿ الْكِتَابُ ﴾ بِمَعْنَى الْمَكْتُوبِ وَهُوَ الْقُرْآنُ. إِنْ قُلْتَ: إِنَّ الْقُرْآنَ قَرِيبٌ فَلَا يُشَارُ لَهُ بِإِشَارَةِ الْبَعِيدِ؟ أَجَابَ الْمُفَسِّرُ بِقَوْلِهِ: «وَالْإِشَارَةُ بِهِ لِلتَّعْظِيمِ»، أَيْ وَالْقُرْآنُ وَإِنْ كَانَ قَرِيبًا مِنَّا إِلَّا أَنَّهُ مَرْفُوعُ الرُّتْبَةِ وَعَظِيمُ الْقَدْرِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ مُنَزَّهٌ عَنْ كَلَامِ الْحَوَادِثِ.

Furman-Nya:{ ٱلْكِتَابُ } Bermakna sesuatu yang ditulis, yaitu Al-Qur'an. Jika Anda bertanya, "Bukankah Al-Qur'an itu dekat, lalu mengapa diisyaratkan dengan kata tunjuk jarak jauh?". Ahli tafsir menjawab dengan perkataannya: "Penggunaan isyarat jauh tersebut adalah untuk pengagungan (li ta'zhim)." Artinya, meskipun Al-Qur'an itu dekat dengan kita, ia memiliki kedudukan yang tinggi dan derajat yang agung, karena ia disucikan dari keserupaan dengan perkataan makhluk (makhluk baru). 

 وَذٰلِكَ كَمُنَادَاةِ الْمَوْلَىٰ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ بِـ«يَا» الَّتِي يُنَادَىٰ بِهَا الْبَعِيدُ مَعَ كَوْنِهِ أَقْرَبَ إِلَيْنَا مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ، لِكَوْنِهِ سُبْحَانَهُ مُنَزَّهًا عَنْ صِفَاتِ الْحَوَادِثِ، فَنَزَّلَ تَنَزُّهَهُ عَنِ الْحَوَادِثِ مَنْزِلَةَ بُعْدِنَا عَنْهُ. وَالْكِتَابُ فِي الْأَصْلِ مَصْدَرٌ يُطْلَقُ بِمَعْنَى الْجَمْعِ. 
Hal ini sama seperti memanggil Tuhan Yang Maha Suci dan Maha Tinggi dengan seruan "Ya" (wahai) yang biasanya digunakan untuk memanggil yang jauh, padahal Dia lebih dekat kepada kita daripada urat leher. Hal itu karena Allah Maha Suci dari sifat-sifat makhluk, sehingga kesucian-Nya dari sifat makhluk diposisikan seperti jarak jauh kita dari-Nya. Kata al-kitab pada asalnya adalah masdar yang digunakan dengan makna mengumpulkan.

قَوْلُهُ: (الَّذِي يَقْرَؤُهُ مُحَمَّدٌ) أَيْ وَهُوَ الْقُرْآنُ، اِحْتَرَزَ بِذٰلِكَ عَنْ بَاقِي الْكُتُبِ السَّمَاوِيَّةِ. 

Kata penulis: (Yang dibaca oleh Muhammad) Yaitu Al-Qur'an. Dengan batasan ini, ia mengecualikan kitab-kitab samawi lainnya.

قَوْلُهُ: (لَا شَكَّ) هٰذَا أَحَدُ مَعَانٍ ثَلَاثَةٍ، وَالثَّانِي التُّهْمَةُ، وَالثَّالِثُ الْقَلَقُ وَالِاضْطِرَابُ، وَكُلُّهَا مُنَزَّهٌ aعَنْهَا الْقُرْآنُ لِخُرُوجِهِ عَنْ طَاقَةِ الْبَشَرِ، قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿ قُل لَّئِنِ ٱجْتَمَعَتِ ٱلإِنْسُ وَٱلْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُواْ بِمِثْلِ هَـٰذَا ٱلْقُرْآنِ لاَ يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ ﴾ الْآيَةَ [الإسراء: ٨٨].

Kata penulis: (Tidak ada keraguan) Ini adalah salah satu dari tiga makna. Makna kedua adalah kesibukan yang menghalangi, dan makna ketiga adalah kecemasan serta keguncangan. Al-Qur'an disucikan dari semua hal tersebut karena ia berada di luar kemampuan manusia. 

Allah Ta'ala berfirman: 
﴿ قُل لَّئِنِ ٱجْتَمَعَتِ ٱلإِنْسُ وَٱلْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُواْ بِمِثْلِ هَـٰذَا ٱلْقُرْآنِ لاَ يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ ﴾
 "Katakanlah, 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya...'" [QS. Al-Isra: 88].

إِنْ قُلْتَ إِنَّ قَوْلَهُ تَعَالَى: ﴿ لَا رَيْبَ فِيهِ ﴾ خَبَرٌ وَهُوَ لَا يَتَخَلَّفُ، مَعَ أَنَّ بَعْضَ الْكُفَّارِ ارْتَابَ فِيهِ حَيْثُ قَالُوا: سِحْرٌ وَكِهَانَةٌ وَأَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ، أُجِيبَ بِأَجْوِبَةٍ أَحْسَنُهَا أَنَّ قَوْلَهُ: ﴿ لَا رَيْبَ فِيهِ ﴾، أَيْ لِمَنْ أَذْعَنَ وَأَقَامَ الْبُرْهَانَ وَتَأَمَّلَ، فَلَا رَيْبَ لِلْعَارِفِينَ الْمُنْصِفِينَ، وَأَمَّا مَنْ عَانَدَ فَلَا يُعْتَدُّ بِهِ، (إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ) وَمِنْهَا أَنَّ مَعْنَى قَوْلِهِ: ﴿ لَا رَيْبَ فِيهِ ﴾ أَيْ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُرْتَابَ فِيهِ لِقِيَامِ الْأَدِلَّةِ الْوَاضِحَةِ عَلَى كَوْنِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ.

Jika Anda bertanya, "Sesungguhnya firman Allah Ta'ala: 
﴿ لاَ رَيْبَ فِيهِ ﴾
 adalah khabara (berita) dan berita Allah tidak mungkin menyimpang (salah). Padahal, sebagian orang kafir meragukannya dengan mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah sihir, ramalan, dongeng orang-orang terdahulu, dan sebagainya?".Hal ini dijawab dengan beberapa jawaban, yang terbaik adalah:a
Firman-Nya ﴿ لاَ رَيْبَ فِيهِ ﴾ artinya bagi orang yang tunduk, menegakkan dalil, dan merenungkannya. Maka tidak ada keraguan bagi orang-orang makrifat yang bersikap adil. Adapun orang yang keras kepala, maka keberadaannya tidak dianggap, (Mereka itu tidak lain seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat). Makna firman-Nya ﴿ لاَ رَيْبَ فِيهِ ﴾ adalah tidak sepatutnya ada keraguan di dalamnya, karena telah tegak dalil-dalil yang jelas bahwa Al-Qur'an berasal dari sisi Allah.

 وَمِنْهَا أَنَّ الْمَعْنَى ﴿ لَا رَيْبَ فِيهِ ﴾ أَيْ لِلْمُؤْمِنِينَ، وَأَمَّا الْكَافِرُونَ فَلَا يُعْتَدُّ بِهِمْ، فَالْجَوَابُ الْأَوَّلُ عَامٌّ، فَمَنْ تَأَمَّلَ لَا يَحْصُلُ لَهُ رَيْبٌ مُسْلِماً أَوْ كَافِراً أَوْ جَحَدَهُ بَعْدَ ذَلِكَ عِنَاداً، وَالْجَوَابُ الثَّانِي أَنَّهُ نَفْيٌ بِمَعْنَى النَّهْيِ، وَالثَّالِثُ خَاصٌّ بِالْمُسْلِمِ. 

Maknanya adalah
 ﴿ لاَ رَيْبَ فِيهِ ﴾ 
yaitu bagi orang-orang mukmin, sedangkan orang-orang kafir tidak dianggap.Jawaban pertama bersifat umum; siapa saja yang merenungkannya tidak akan mengalami keraguan, baik dia muslim maupun kafir, atau dia menolaknya setelah itu karena keras kepala. Jawaban kedua berupa penafian (negasi) yang bermakna larangan (نهي). Jawaban ketiga bersifat khusus untuk orang muslim.

قَوْلُهُ: (أَنَّهُ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ) بِفَتْحِ الْهَمْزَةِ بَدَلٌ مِنَ الضَّمِيرِ فِي قَوْلِهِ: ﴿ فِيهِ ﴾ وَيَدُلُّ عَلَى قَوْلِهِ تَعَالَى فِي الْأُخْرَى ﴿ لَا رَيْبَ فِيهِ ﴾ مِنْ ﴿ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾.
قَوْلُهُ: (وَالْإِشَارَةُ بِهِ لِلتَّعْظِيمِ) تَقَدَّمَ أَنَّ هَذَا الْجَوَابَ عَنْ سُؤَالٍ مُقَدَّرٍ، إِنْ قُلْتَ إِنَّهُ لَا يُشَارُ إِلَّا لِلْمَحْسُوسِ أَوِ الْإِشَارَةُ لِمَا فِي الْمَصَاحِفِ أَوِ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ.

Kata penulis: (Bahwa ia berasal dari sisi Allah) Dengan harakat fathah pada huruf hamzah (anna-hu), menjadi badal dari kata ganti (dhamir) pada firman-Nya:
 ﴿ فِيهِ ﴾.
 Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala di ayat lain:
 ﴿ لاَ رَيْبَ فِيهِ ﴾ من ﴿ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ ﴾
 "Tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam."Perkataannya: (Penggunaan isyarat jauh tersebut adalah untuk pengagungan) Telah dijelaskan sebelumnya bahwa ini adalah jawaban atas pertanyaan yang diperkirakan muncul. Jika Anda berkata: "Tidak boleh memberi isyarat kecuali pada sesuatu yang dapat diindera, atau isyarat tersebut merujuk pada apa yang ada di dalam mushaf atau Lauhul Mahfuzh."

 قَوْلُهُ: ﴿ هُدًى ﴾ أَيْ رَشَادٌ وَبَيَانٌ، وَهُوَ مَصْدَرٌ إِمَّا بِمَعْنَى اسْمِ الْفَاعِلِ وَهُوَ الَّذِي اقْتَصَرَ عَلَيْهِ الْمُفَسِّرُ أَيْ مُرْشِدٌ وَمُبَيِّنٌ، وَالْإِسْنَادُ لَهُ مَجَازٌ عَقْلِيٌّ مِنَ الْإِسْنَادِ لِلسَّبَبِ أَوْ ذُو هُدًى أَوْ بُولِغَ فِيهِ حَتَّى جُعِلَ نَفْسَ الْهُدَى عَلَى حَدِّ: زَيْدٌ عَدْلٌ. 

Firman-Nya:
 ﴿ هُدًى ﴾ 
Artinya petunjuk dan penjelasan. Ia adalah masdar yang bermakna isim fa'il (pelaku), dan inilah makna yang dicukupkan oleh ahli tafsir, yaitu "yang memberi petunjuk dan yang memberi penjelasan". Penyandaran (isnad) kepadanya adalah majas aqli (metafora logis) berupa penyandaran kepada sebab, atau bermakna "yang memiliki petunjuk", atau bentuk hiperbola (mubalaghah) sehingga ia dijadikan sebagai sumber petunjuk itu sendiri, seperti ungkapan: "Zaid adalah keadilan".

قَوْلُهُ: ﴿ لِلْمُتَّقِينَ ﴾ إِنْ قُلْتَ إِنَّ الْقُرْآنَ هُدًى بِمَعْنَى مُبَيِّنٍ طَرِيقَ الْحَقِّ مِنَ الْبَاطِلِ لِلنَّاسِ مُؤْمِنِهِمْ وَكَافِرِهِمْ فَلِمَ خَصَّ الْمُتَّقِينَ؟ أُجِيبَ بِأَنَّهُ خَصَّهُمْ بِالذِّكْرِ لِكَوْنِهِمُ انْتَفَعُوا بِثَمَرَتِهِ عَاجِلاً وَآجِلاً وَهَذَا إِنْ أُرِيدَ بِهِ الْبَيَانُ حَصَلَ وُصُولٌ لِلْمَقْصُودِ أَمْ لَا؟ وَأَمَّا إِنْ أُرِيدَ بِهِ الْوُصُولُ لِلْمَقْصُودِ فَالتَّخْصِيصُ ظَاهِرٌ، وَأَصْلُ مُتَّقِينَ مُتَّقِيِينَ اسْتُثْقِلَتِ الْكَسْرَةُ عَلَى الْيَاءِ الْأُولَى فَحُذِفَتِ الْيَاءُ فَالْتَقَى سَاكِنَانِ حُذِفَتِ الْيَاءُ لِالْتِقَاءِ السَّاكِنَيْنِ. 

Firman-Nya:
 ﴿ لِّلْمُتَّقِينَ ﴾ 
Jika Anda berkata: "Al-Qur'an adalah petunjuk dalam arti penjelas jalan yang haq (benar) dari yang batil bagi seluruh manusia, baik yang mukmin maupun yang kafir, lalu mengapa dikhususkan bagi orang-orang yang bertakwa?".Dijawab: "Orang-orang bertakwa dikhususkan dalam penyebutan karena merekalah yang mengambil manfaat dari buah petunjuk tersebut di dunia dan di akhirat." Hal ini jika yang dimaksud petunjuk adalah "penjelasan" (bayan), baik penyampaian itu sampai pada tujuan atau tidak. Adapun jika yang dimaksud dengannya adalah "sampai pada tujuan" (wushul ilal maqsud), maka pengkhususan tersebut sudah sangat jelas. Asal kata muttakin (مُتَّقِينَ) adalah muttaqiyiina (مُتَّقِيِينَ). Harakat kasrah dirasa berat pada huruf ya pertama, lalu huruf ya tersebut disukunkan sehingga bertemulah dua huruf yang sukun. Kemudian salah satu huruf ya dihapus karena bertemunya dua sukun tersebut.

قَوْلُهُ: (الصَّائِرِينَ إِلَى التَّقْوَى) أَشَارَ بِذَلِكَ إِلَى أَنَّ فِي الْكَلَامِ مَجَازاً الْأَوَّلَ أَيِ الْمُتَّقِينَ فِي عِلْمِ اللَّهِ أَوْ مَنْ يَؤُولُ إِلَى كَوْنِهِمْ مُتَّقِينَ، فَهُوَ جَوَابٌ عَنْ سُؤَالٍ مُقَدَّرٍ حَاصِلُهُ أَنَّهُمْ إِذَا كَانُوا مُتَّقِينَ فَهُمْ مُهْتَدُونَ فَلَا حَاجَةَ لَهُ. Aقَوْلُهُ: (بِامْتِثَالِ الْأَوَامِرِ) يَصِحُّ أَنْ تَكُونَ سَبَبِيَّةً أَوِ التَّصْوِيرَ. 

Kata penulis: (Orang-orang yang menuju ketakwaan) Dengan perkataan ini, ia mengisyaratkan adanya majas awal (metafora masa depan) dalam kalimat tersebut. Artinya, orang-orang yang bertakwa dalam ilmu Allah atau orang-orang yang akhirnya menjadi bertakwa. Ini adalah jawaban atas pertanyaan yang diperkirakan muncul, yang intinya: "Jika mereka sudah menjadi orang yang bertakwa, berarti mereka telah mendapat petunjuk, sehingga tidak perlu lagi diberi petunjuk."

Adapun perkataan penulis: (dengan melaksanakan berbagai perintah) boleh jadi bermakna sebab akibat atau penggambaran. 

وَقَوْلُهُ: (وَاجْتِنَابِ النَّوَاهِي) عَطْفٌ عَلَيْهِ، وَالْمَعْنَى أَنَّ امْتِثَالَّ الْأَوَامِرِ عَلَى حَسَبِ الطَّاقَةِ وَاجْتِنَابَ النَّوَاهِي جَمِيعِهَا سَبَبٌ لِلتَّقْوَى أَوْ هِيَ مُصَوَّرَةٌ بِذَلِكَ. 

Perkataan beliau: (dan menjauhi berbagai larangan) di-athaf-kan (dihubungkan) kepadanya. Maknanya adalah bahwa melaksanakan perintah sesuai dengan kemampuan dan menjauhi seluruh larangan merupakan sebab bagi takwa atau takwa digambarkan dengan hal tersebut.

قَوْلُهُ: (لِاتِّقَائِهِمْ) عِلَّةٌ لِتَسْمِيَتِهِمْ مُتَّقِينَ. 

Perkataan beliau: (karena penjagaan mereka) adalah alasan penamaan mereka sebagai orang-orang yang bertakwa.

وَقَوْلُهُ: (بِذَلِكَ) أَيِ الْمَذْكُورِ وَهُوَ امْتِثَالُ الْأَوَامِرِ وَاجْتِنَابُ النَّوَاهِي، وَهَذَا إِشَارَةٌ إِلَى تَقْوَى الْخَوَاصِّ وَتَحْتَهَا تَقْوَى الْعَوَامِّ وَهِيَ تَقْوَى الشِّرْكِ وَفَوْقَهَا تَقْوَى خَوَاصِّ الْخَوَاصِّ وَهِيَ تَقْوَى مَا يَشْغَلُ عَنِ اللَّهِ. قَالَ الْعَارِفُ:
وَلَوْ خَطَرَتْ لِي فِي سِوَاكَ إِرَادَةٌ ... عَلَى خَاطِرِي يَوْماً حَكَمْتُ بِرِدَّتِي
وَالْآيَةُ فِي حَدِّ ذَاتِهَا شَامِلَةٌ لِلْمَرَاتِبِ الثَّلَاثِ.

 Perkataan beliau: (dengan hal tersebut) yakni hal yang telah disebutkan berupa pelaksanaan perintah dan penjauhan larangan. Ini adalah isyarat kepada takwa kalangan khawash (khusus), di bawahnya terdapat takwa kalangan awam (umum) yaitu takwa dari kesyirikan, dan di atasnya terdapat takwa kalangan khawashul khawash (khususnya orang khusus) yaitu takwa dari segala sesuatu yang melalaikan dari Allah. Seorang arif (orang yang mengenal Allah) berkata: "Andai terlintas di hatiku suatu keinginan kepada selain-Engkau, dalam hatiku walau sehari, niscaya aku menghukumi diriku dengan kemurtadan." Dan ayat tersebut pada hakikatnya mencakup tiga tingkatan tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

Logika Diferensial dan Patologi Sosial Keagamaan

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa