Tafsir Hasyiyah Al-Shawi Syarah Tafsir Al-Jalalain: Surah Al-Baqarah ayat 4-5

 Tafsir Hasyiyah Al-Shawi Syarah Tafsir Al-Jalalain: Surah Al-Baqarah ayat 4-5




Oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Shawi

Penyadur Sudono Syueb

بسم تلله تلرحمن الرحيم

وَا لَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَاۤ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِا لْاٰ خِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ.٤

4. dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.

اُولٰٓئِكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.٥

5. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. 

 تفيير الجلالين

والذين يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ أي القرآن وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ أي التوراة والإنجيل وغيرهما وبالأخرة هُمْ يُوقِنُونَ يعلمون.٤

4. (Dan orang-orang yang beriman pada apa yang diturunkan kepadamu) maksudnya Alquran, (dan apa yang diturunkan sebelummu) yaitu Taurat, Injil dan selainnya (serta mereka yakin akan hari akhirat), artinya mengetahui secara pasti.

(أولئك) الموصوفون بما ذكر (على هُدًى مّن رَّبّهِمْ (وأولئك هُمُ المفلحون) الفائزون بالجنة الناجون من النار.ه

5. (Merekalah), yakni orang-orang yang memenuhi sifat-sifat yang disebutkan di atas (yang beroleh petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung) yang akan berhasil meraih surga dan terlepas dari siksa neraka.

حاشية الصاوي

قَوْلُهُ: ﴿ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ ﴾ مَعْطُوفٌ عَلَى الْمَوْصُولِ الْأَوَّلِ وَهُوَ نَوْعٌ آخَرُ لِلْمُتَّقِينَ، فَإِنَّهَا أُنْزِلَتْ فِيمَنْ كَانَ آمَنَ بِعِيسَى وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَعَبْدِ اللهِ بْنِ سَلَامٍ وَعَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ وَسَلْمَانَ وَالنَّجَاشِيِّ وَغَيْرِهِمْ. وَأَمَّا النَّوْعُ الْأَوَّلُ فَهُمْ مُشْرِكُو الْعَرَبِ الَّذِينَ لَمْ يُرْسَلْ لَهُمْ غَيْرُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَتْ فِيهِمُ الْآيَةُ الْأُولَى.

Syarah Al-Shawi

Firman-Nya: {وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ} 
(dan mereka yang4 beriman) di-athaf-kan (dihubungkan) kepada maushul (kata sambung) yang pertama. Ini adalah jenis lain dari orang-orang yang bertakwa. Ayat ini turun mengenai orang-orang yang beriman kepada Nabi Isa lalu mendapati Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, seperti Abdullah bin Salam, Ammar bin Yasir, Salman (al-Farisi), An-Najasyi (Raja Najasyi), dan selain mereka. Adapun jenis yang pertama, mereka adalah kaum musyrik Arab yang tidak diutus kepada mereka selain Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, maka ayat yang pertama turun berkenaan dengan mereka.

 قَوْلُهُ: ﴿ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ ﴾ نَزَلَ الْمُسْتَقْبَلُ مَنْزِلَةَ الْمَاضِي لِتَحَقُّقِ الْوُقُوعِ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ تَمَّ نُزُولُهُ. 

Firman-Nya:
 {بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ}
(kepada apa yang diturunkan kepadamu) bentuk yang akan datang (futur) diposisikan seperti bentuk yang telah lampau (madhi) karena kepastian terjadinya, sebab saat itu penurunan Al-Qur'an belum sepenuhnya selesai.

قَوْلُهُ: ﴿ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ﴾ أَيْ فَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ الْأَنْبِيَاءِ بِحَيْثُ يُؤْمِنُونَ بِبَعْضٍ وَيَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ. 

Firman-Nya: 
{وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ}
(dan apa yang diturunkan sebelum engkau) yakni mereka tidak membeda-bedakan antara para nabi, di mana mereka beriman kepada sebagian dan ingkar kepada sebagian yang lain.

 قَوْلُهُ: ﴿ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ ﴾ قَدَّمَ الْجَارَّ وَالْمَجْرُورَ لِإِفَادَةِ الْحَصْرِ وَأَتَى بِالْجُمْلَةِ الِاسْمِيَّةِ لِأَنَّهُ أَعْلَى مِنَ الْإِنْفَاقِ. قَوْلُهُ: (يَعْلَمُونَ) أَيْ عِلْمًا لَا شَكَّ فِيهِ وَلَا رَيْبَ، وَلِذَا اتَّصَفَ مَوْلَانَا بِالْعِلْمِ وَلَمْ يَتَّصِفْ بِالْيَقِينِ، وَفِيهِ رَدٌّ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ الْآخِرَةَ مِمَّنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِمُحَمَّدٍ.

Firman-Nya: 
﴿ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ ﴾
 (Dan mereka yakin akan adanya hari akhirat)
Didahulukannya jar wa majrur (frasa kata depan "وبالآخرة") berfungsi untuk memberikan makna pembatasan (al-hasr). Menggunakan bentuk kalimat isim (jumlah ismiyyah) karena keyakinan ini kedudukannya lebih tinggi daripada sekadar berinfak.

Kata Mushannif: (يعلمون/Mereka mengetahui)
Yaitu pengetahuan ('ilm) yang di dalamnya sama sekali tidak ada keraguan maupun kebimbangan. 

Oleh karena itu, Tuhan kita (Allah) disifati dengan sifat Al-'Ilm (Maha Mengetahui) dan tidak disifati dengan Al-Yaqin.

Di dalam ayat ini juga terdapat bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari hari akhirat, yaitu orang-orang yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad.

 قَوْلُهُ: ﴿ أُولَئِكَ ﴾ (الْمَوْصُوفُونَ بِمَا ذُكِرَ) إِنْ قُلْنَا إِنَّ قَوْلَهُ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ إِلَخْ وَصْفٌ لِلْمُتَّقِينَ كَانَ مَا هُنَا مُبْتَدَأً وَخَبَرًا بَيَانًا لِعَاقِبَةِ الْمُتَّقِينَ وَإِنْ قُلْنَا إِنَّهُ مُسْتَأْنَفٌ مُبْتَدَأٌ كَانَ مَا هُنَا خَبَرَهُ. 

Firman-Nya: 
﴿ أُولَئِكَ ﴾ 
(Mereka itulah)
(Yaitu orang-orang yang disifati dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya). Jika kita berpendapat bahwa firman-Nya "الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ..." (orang-orang yang beriman...) merupakan sifat bagi orang-orang yang bertakwa (al-muttaqin), maka kedudukan kalimat di sini adalah sebagai mubtada' (subjek) dan khabar (predikat) yang menjelaskan tentang tempat kembali (kesudahan) orang-orang yang bertakwa. Namun, jika kita berpendapat bahwa kalimat tersebut adalah kalimat baru (musta'naf) yang berkedudukan sebagai mubtada', maka kalimat di sini menjadi khabar-nya.

قَوْلُهُ: ﴿ عَلَى هُدًى ﴾ عَبَّرَ بِعَلَى إِشَارَةً إِلَى تَمَكُّنِهِمْ مِنَ الْهُدَى كَتَمَكُّنِ الرَّاكِبِ مِنَ الْمَرْكُوبِ. 
وَقَوْلُهُ: (النَّاجُونَ مِنَ النَّارِ) أَيْ اِبْتِدَاءً وَانْتِهَاءً، وَعَطْفُ الْجُمْلَتَيْنِ إِشَارَةٌ إِلَى تَغَايُرِهِمَا وَأَنَّ كُلًّا غَايَةٌ فِي الشَّرَفِ، وَأَنَّ الثَّانِيَةَ مُسَبَّبَةٌ عَنِ الْأُولَى. الْآيَاتُ مِنْ ٦ إِلَى ٧.

Firman-Nya: 
﴿ عَلَى هُدًى ﴾ 
(Tetap mendapat petunjuk)
Digunakannya kata 'ala (di atas) merupakan isyarat kuatnya kedudukan mereka dalam memegang teguh petunjuk, layaknya kuatnya posisi seorang penunggang di atas hewan tunggangannya.

Kata Mushannif: (Orang-orang yang selamat dari api neraka)
Yaitu selamat sejak awal mula hingga akhir. Diatofkannya (dihubungkannya) dua kalimat tersebut merupakan isyarat atas perbedaan keduanya, dan bahwa masing-masing kalimat mencapai puncak kemuliaan, serta kalimat yang kedua merupakan akibat (dampak) yang dihasilkan dari kalimat yang pertama.

 حاشية الصاوي

قَوْلُهُ: ﴿ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ ﴾ مَعْطُوفٌ عَلَى الْمَوْصُولِ الْأَوَّلِ وَهُوَ نَوْعٌ آخَرُ لِلْمُتَّقِينَ، فَإِنَّهَا أُنْزِلَتْ فِيمَنْ كَانَ آمَنَ بِعِيسَى وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَعَبْدِ اللهِ بْنِ سَلَامٍ وَعَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ وَسَلْمَانَ وَالنَّجَاشِيِّ وَغَيْرِهِمْ. وَأَمَّا النَّوْعُ الْأَوَّلُ فَهُمْ مُشْرِكُو الْعَرَبِ الَّذِينَ لَمْ يُرْسَلْ لَهُمْ غَيْرُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَتْ فِيهِمُ الْآيَةُ الْأُولَى.

Notasi Al-Shawi

Firman-Nya: {وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ} 
(dan mereka yang4 beriman) di-athaf-kan (dihubungkan) kepada maushul (kata sambung) yang pertama. Ini adalah jenis lain dari orang-orang yang bertakwa. Ayat ini turun mengenai orang-orang yang beriman kepada Nabi Isa lalu mendapati Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, seperti Abdullah bin Salam, Ammar bin Yasir, Salman (al-Farisi), An-Najasyi (Raja Najasyi), dan selain mereka. Adapun jenis yang pertama, mereka adalah kaum musyrik Arab yang tidak diutus kepada mereka selain Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, maka ayat yang pertama turun berkenaan dengan mereka.

 قَوْلُهُ: ﴿ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ ﴾ نَزَلَ الْمُسْتَقْبَلُ مَنْزِلَةَ الْمَاضِي لِتَحَقُّقِ الْوُقُوعِ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ تَمَّ نُزُولُهُ. 

Firman-Nya:
 {بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ}
(kepada apa yang diturunkan kepadamu) bentuk yang akan datang (futur) diposisikan seperti bentuk yang telah lampau (madhi) karena kepastian terjadinya, sebab saat itu penurunan Al-Qur'an belum sepenuhnya selesai.

قَوْلُهُ: ﴿ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ﴾ أَيْ فَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ الْأَنْبِيَاءِ بِحَيْثُ يُؤْمِنُونَ بِبَعْضٍ وَيَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ. 

Firman-Nya: 
{وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ}
(dan apa yang diturunkan sebelum engkau) yakni mereka tidak membeda-bedakan antara para nabi, di mana mereka beriman kepada sebagian dan ingkar kepada sebagian yang lain.

 قَوْلُهُ: ﴿ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ ﴾ قَدَّمَ الْجَارَّ وَالْمَجْرُورَ لِإِفَادَةِ الْحَصْرِ وَأَتَى بِالْجُمْلَةِ الِاسْمِيَّةِ لِأَنَّهُ أَعْلَى مِنَ الْإِنْفَاقِ. قَوْلُهُ: (يَعْلَمُونَ) أَيْ عِلْمًا لَا شَكَّ فِيهِ وَلَا رَيْبَ، وَلِذَا اتَّصَفَ مَوْلَانَا بِالْعِلْمِ وَلَمْ يَتَّصِفْ بِالْيَقِينِ، وَفِيهِ رَدٌّ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ الْآخِرَةَ مِمَّنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِمُحَمَّدٍ.

Firman-Nya: 
﴿ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ ﴾
 (Dan mereka yakin akan adanya hari akhirat)
Didahulukannya jar wa majrur (frasa kata depan "وبالآخرة") berfungsi untuk memberikan makna pembatasan (al-hasr). Menggunakan bentuk kalimat isim (jumlah ismiyyah) karena keyakinan ini kedudukannya lebih tinggi daripada sekadar berinfak.

Kata Mushannif: (يعلمون/Mereka mengetahui)
Yaitu pengetahuan ('ilm) yang di dalamnya sama sekali tidak ada keraguan maupun kebimbangan. 

Oleh karena itu, Tuhan kita (Allah) disifati dengan sifat Al-'Ilm (Maha Mengetahui) dan tidak disifati dengan Al-Yaqin.

Di dalam ayat ini juga terdapat bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari hari akhirat, yaitu orang-orang yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad.

 قَوْلُهُ: ﴿ أُولَئِكَ ﴾ (الْمَوْصُوفُونَ بِمَا ذُكِرَ) إِنْ قُلْنَا إِنَّ قَوْلَهُ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ إِلَخْ وَصْفٌ لِلْمُتَّقِينَ كَانَ مَا هُنَا مُبْتَدَأً وَخَبَرًا بَيَانًا لِعَاقِبَةِ الْمُتَّقِينَ وَإِنْ قُلْنَا إِنَّهُ مُسْتَأْنَفٌ مُبْتَدَأٌ كَانَ مَا هُنَا خَبَرَهُ. 

Firman-Nya: 
﴿ أُولَئِكَ ﴾ 
(Mereka itulah)
(Yaitu orang-orang yang disifati dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya). Jika kita berpendapat bahwa firman-Nya "الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ..." (orang-orang yang beriman...) merupakan sifat bagi orang-orang yang bertakwa (al-muttaqin), maka kedudukan kalimat di sini adalah sebagai mubtada' (subjek) dan khabar (predikat) yang menjelaskan tentang tempat kembali (kesudahan) orang-orang yang bertakwa. Namun, jika kita berpendapat bahwa kalimat tersebut adalah kalimat baru (musta'naf) yang berkedudukan sebagai mubtada', maka kalimat di sini menjadi khabar-nya.

قَوْلُهُ: ﴿ عَلَى هُدًى ﴾ عَبَّرَ بِعَلَى إِشَارَةً إِلَى تَمَكُّنِهِمْ مِنَ الْهُدَى كَتَمَكُّنِ الرَّاكِبِ مِنَ الْمَرْكُوبِ. 
وَقَوْلُهُ: (النَّاجُونَ مِنَ النَّارِ) أَيْ اِبْتِدَاءً وَانْتِهَاءً، وَعَطْفُ الْجُمْلَتَيْنِ إِشَارَةٌ إِلَى تَغَايُرِهِمَا وَأَنَّ كُلًّا غَايَةٌ فِي الشَّرَفِ، وَأَنَّ الثَّانِيَةَ مُسَبَّبَةٌ عَنِ الْأُولَى. الْآيَاتُ مِنْ ٦ إِلَى ٧.

Firman-Nya: 
﴿ عَلَى هُدًى ﴾ 
(Tetap mendapat petunjuk)
Digunakannya kata 'ala (di atas) merupakan isyarat kuatnya kedudukan mereka dalam memegang teguh petunjuk, layaknya kuatnya posisi seorang penunggang di atas hewan tunggangannya.

Kata Mushannif: (Orang-orang yang selamat dari api neraka)
Yaitu selamat sejak awal mula hingga akhir. Diatofkannya (dihubungkannya) dua kalimat tersebut merupakan isyarat atas perbedaan keduanya, dan bahwa masing-masing kalimat mencapai puncak kemuliaan, serta kalimat yang kedua merupakan akibat (dampak) yang dihasilkan dari kalimat yang pertama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Egi Sujana Mengalami Confuse...

Logika Diferensial dan Patologi Sosial Keagamaan

Prilaku Pilitik Ken Arok: Dari Begal Jalanan menjadi Wangsa Rajasa