Tafsir Hasyiyah Al-Shawi Syarah Tafsir Al-Jalalain: Surah Al-Baqarah ayat 7
Tafsir Hasyiyah Al-Shawi Syarah Tafsir Al-Jalalain: Surah Al-Baqarah ayat 7
Oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Shawi
Penyadur Sudono Syueb
تفسير الجلالين
خَتَمَ الله على قُلُوبِهِمْ طبع عليها واستوثق فلا يدخلها خير وعلى سَمْعِهِمْ أي مواضعه فلا ينتفعون بما يسمعونه من الحق وعلى أبصارهم غشاوة غطاء فلا يبصرون الحق وَلَهُمْ عَذَابٌ عظِيمٌ قوي دائم .
7. (Allah mengunci mati hati mereka) maksudnya menutup rapat hati mereka sehingga tidak dapat dimasuki oleh kebaikan (begitu pun pendengaran mereka) maksudnya alat-alat atau sumber-sumber pendengaran mereka dikunci sehingga mereka tidak memperoleh manfaat dari kebenaran yang mereka terima (sedangkan penglihatan mereka ditutup) dengan penutup yang menutupinya sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran (dan bagi mereka siksa yang besar) yang berat lagi tetap. Terhadap orang-orang munafik diturunkan:
حاشبة الصاوي
قَوْلُهُ: { خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ } هَذَا وَمَا بَعْدَهُ كَالْعِلَّةِ وَالدَّلِيلِ لِمَا قَبْلَهُ، وَالْمُرَادُ بِالْقُلُوبِ الْعُقُولُ وَهِيَ اللَّطِيفَةُ الرَّبَّانِيَّةُ الْقَائِمَةُ بِالشَّكْلِ الصَّنَوْبَرِيِّ قِيَامَ الْعَرَضِ بِالْجَوْهَرِ أَوْ قِيَامَ حَرَارَةِ النَّارِ بِالْفَحْمِ.
Hasyiyah Al-Shawi
Firman-Nya: { Allah telah mengunci mati hati mereka }
Ayat ini dan ayat setelahnya berfungsi sebagai alasan ('illah) dan dalil bagi ayat sebelumnya. Yang dimaksud dengan "hati" (al-qulub) di sini adalah akal (al-'uqul), yaitu substansi spiritual ketuhanan (al-lathifah ar-rabbaniyyah) yang berada di dalam jantung yang berbentuk seperti buah pinus, sebagaimana melekatnya sifat ('aradh) pada zat (jauhar) atau melekatnya panas api pada arang.
قَوْلُهُ: (طَبَعَ عَلَيْهَا) هَذَا إِشَارَةٌ إِلَى الْمَعْنَى الْأَصْلِيِّ فَأَطْلَقَهُ وَأَرَادَ لَازِمَهُ وَهُوَ عَدَمُ تَغْيِيرِ مَا فِي قُلُوبِهِمْ بِدَلِيلِ قَوْلِهِ فَلَا يَدْخُلُهَا خَيْرٌ، وَفِي الْقُلُوبِ اسْتِعَارَةٌ بِالْكِنَايَةِ، حَيْثُ شَبَّهَ قُلُوبَ الْكُفَّارِ بِمَحَلٍّ فِيهِ شَيْءٌ مَخْتُومٌ عَلَيْهِ وَطَوَى ذِكْرَ الْمُشَبَّه بِهِ، وَرَمَزَ لَهُ بِشَيْءٍ مِنْ لَوَازِمِهِ وَهُوَ الْخَتْمُ فَإِثْبَاتُهُ تَخْيِيلٌ.
Perkataannya: (Allah menutupnya)
Ini adalah isyarat kepada makna asli. Penulis menyebutkan kata aslinya (menutup) tetapi yang dimaksud adalah dampak logisnya (lazim), yaitu tidak berubahnya apa yang ada di dalam hati mereka. Dalilnya adalah perkataan selanjutnya: "Maka kebaikan tidak dapat memasukinya". Pada kata "hati" terdapat majas Istiarah Bil Kinayah, di mana hati orang-orang kafir diserupakan dengan suatu tempat yang di dalamnya terdapat sesuatu yang terkunci rapat, lalu bagian yang diserupakan (musyabbah bih) disembunyikan dan diisyaratkan dengan salah satu sifat melekatnya, yaitu "kunci/cap" (al-khatm), sehingga penetapan sifat ini disebut takhyil (imajinasi puitis).
قَوْلُهُ: (أَيْ مَوَاضِعِهِ) إِنَّمَا قَدَّرَ ذَلِكَ الْمُضَافَ لِأَنَّ السَّمْعَ مَعْنًى مِنَ الْمَعَانِي لَا يَصِحُّ إِسْنَادُ الْخَتْمِ لَهَا. وَإِفْرَادُهُ، إِمَّا لِأَنَّهُ مَصْدَرٌ لَا يُثَنَّى وَلَا يُجْمَعُ، أَوْ لِكَوْنِ الْمَسْمُوعِ وَاحِدًا، وَتَمَّ الْوَقْفُ عَلَى قَوْلِهِ: { وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ }، وَقَوْلُهُ: { وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ } خَبَرٌ مُقَدَّمٌ وَ: { غِشَاوَةٌ } مُبْتَدَأٌ مُؤَخَّرٌ جُمْلَةٌ مُسْتَأْنَفَةٌ نَظِيرُ قَوْلِهِ تَعَالَى { أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ } [الجاثية: 23] الْآيَةَ، وَالْمُرَادُ مِنَ الْغِشَاوَةِ عَدَمُ وُصُولِ النُّورِ الْمَعْنَوِيِّ لَهُمْ. فَأَطْلَقَ اللَّازِمَ وَأَرَادَ الْمَلْزُومَ وَخَصَّ الثَّلَاثَةَ لِأَنَّهَا طُرُقُ الْعِلْمِ بِاللَّهِ.
Perkataan Mushannif: (Yaitu tempat-tempat pendengarannya)
Kata sandang (mudhaf) tersebut diperkirakan ada karena "pendengaran" (as-sam'u) merupakan sebuah makna (abstrak), sehingga tidak sah menyandarkan kata "mengunci" langsung kepadanya. Adapun bentuknya yang tunggal (mufrad), itu karena kata tersebut merupakan masdar yang tidak bisa dijadikan bentuk dua (tsunai) maupun jamak, atau karena hal yang didengar itu satu. Wakaf (berhenti membaca) telah sempurna pada firman-Nya: { dan atas pendengaran mereka }.
Sedangkan firman-Nya: { Dan atas penglihatan mereka } berposisi sebagai khabar muqaddam (predikat yang didahulukan), dan { penutup } sebagai mubtada' mu'akhkhar (subjek yang diakhirkan). Ini adalah kalimat baru (jumla mustan'afah), serupa dengan firman Allah Ta'ala: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya..." [QS. Al-Jasiyah: 23]. Yang dimaksud dengan "penutup" adalah tidak sampainya cahaya maknawi (hidayah) kepada mereka. Di sini disebutkan dampak logisnya (lazim) tetapi yang dimaksud adalah sumbernya (malzum). Ketiga hal ini (hati, pendengaran, penglihatan) dikhususkan karena ketiganya merupakan jalan untuk ma'rifat (mengenal) Allah
قَوْلُهُ: { وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ } الْعَذَابُ هُوَ إِيصَالُ الْآلَامِ لِلْحَيَوَانِ عَلَى وَجْهِ الْهَوَانِ.
قَوْلُهُ: (قَوِيٌّ دَائِمٌ) إِنَّمَا فَسَّرَهُ بِذَلِكَ لِأَنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِظَمِ أَنْ يَكُونَ وَصْفًا لِلْأَجْسَامِ فَلِذَلِكَ حَوَّلَ الْعِبَارَةَ.
Firman-Nya: { Dan bagi mereka azab yang besar }
Azab adalah penyampaian rasa sakit kepada makhluk hidup dengan cara yang menghinakan.
Perkataannya: (Yang kuat lagi kekal)
Penulis menafsirkannya demikian karena pada asalnya kata "besar" (al-'izham) merupakan kata sifat untuk benda fisik (ajsam). Oleh karena itu, beliau mengalihkan redaksinya (ke makna maknawi yaitu kuat dan kekal).
قَوْلُهُ: (وَنَزَلَ فِي الْمُنَافِقِينَ) أَيْ فِي أَحْوَالِهِمْ وَهَوَانِهِمْ وَاسْتِهْزَاءِ اللَّهِ بِهِمْ وَضَرْبِ الْأَمْثَالِ فِيهِمْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِهِمْ، وَجُمْلَةُ ذَلِكَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ آيَةً آخِرُهَا { إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ } [البقرة: 20]، وَأَخَّرَهُمْ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْكَافِرِينَ ظَاهِرًا أَوْ بَاطِنًا إِشَارَةً إِلَى أَنَّهُمْ أَسْوَأُ حَالًا مِنَ الْكُفَّارِ.
Perkataan Mushannif: (Dan ayat ini turun mengenai orang-orang munafik)
Yaitu mengenai keadaan mereka, kehinaan mereka, olok-olok Allah terhadap mereka, pembuatan perumpamaan tentang mereka, dan akhir dari urusan mereka. Totalnya ada tiga belas ayat, yang diakhiri dengan firman-Nya: "Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu" [QS. Al-Baqarah: 20]. Posisi mereka diakhirkan setelah penyebutan orang-orang mukmin dan orang-orang kafir—baik secara lahir maupun batin—sebagai isyarat bahwa keadaan mereka (orang munafik) jauh lebih buruk daripada orang-orang kafir asli.
Komentar
Posting Komentar